Kanker servik jadi pembunuh wanita

Tahukah Anda, bahwa dalan setiap jam wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks atau lebih dikenal dengan kanker mulut rahim. Bahkan dalam setiap menit wanita di seluruh dunia meninggal karna kanker yang mematikan ini.

Beda Hormon LH dan FSH

FSH dan LH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior, sebuah kelenjar kecil yang hadir di bagian bawah otak. FSH pada dasarnya menyebabkan pematangan sel telur di dalam folikel dalam tubuh wanita.

Manfaat Bawang Putih

Khasiat atau manfaat bawang putih ternyata tidak hanya untuk menyedapkan atau sebagai bumbu masakan saja, namun ternyata banyak hal lain yg dapat di manfaatkan dari bawang puth tersebut terutamanya untuk dunia kesehatan.

Toko Kayumanis

Selamat datang di Toko Kayumanis version Online Shop Kami menjual T-shirt, kaos oblong dan jaket T-shirt, kaos oblong dan jaket yang kami jual menggunakan bahan yang berkualitas tinggi, kelebihan dari T-shirt, kaos oblong dan jaket di Toko kami dapat anda tentukan sendiri desainnya, pola ataupun grafisnya sesusai keinginan anda sehingga dapat dipastikan tidak ada T-shirt, kaos oblong dan jaket dari Toko kami yang mempunyai motif yang sama.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 25 Mei 2011

FISIOLOGI SISTEM PENCERNAKAN

Agar makanan dpt dicerna optimal dibutuhkan :
  1. Pergerakan makanan melalui saluran cerna.
  2. Sekresi getah pencernakan.
  3. Absorbsi hasil cerna, air, elektrolit.
  4. Sirkulasi darah ke organ gastrointestinal, à transport.
  5. Sistem pengatur oleh saraf & hormonal.


Beberapa penyakit pada usus besar.
  1. DIVERTIKULA :
Herniasi mukosa usus melalui tunika muskularis à terbtk kantong seperti botol.
-. Lokasi sering di kolon sigmoid.
-. Sering tidak timbul gejala, tetapi bila terinfeksi ( divertikulitis ) à perforasi usus.
-. Gejala : sering flatulen, diare, konstipasi, perasaan tidak enak di kwadran kiri bawah.
-. Komplikasi : perdarahan, perforasi, peritonitis, abses kolon, terbentuk fistula, obstruksi usus akibat striktur.


  1. RADANG KOLON NON SPESIFIK = KOLITIS ULSERATIF (KU), dan PENYAKIT CROHN (PC) :
-. Kronik, remisi dan ekserbasi.
-. Etiologi : belum jelas, ttp jelas ada hubungan genetik, ras ( kulit putih sering ).
-. Ada dugaan ke arah penyakit autoimun, ( telah ditemukan antibodi thdp sel epitel kolon ).


Perbedaan keduanya tidak jelas, gambaran klinis & PA ada perbedaan :
  1. Bgn usus yg terserang, pd KU yg kena mukosa & submukosa.
pd PC yg kena Transmural ( sampai otot ).
  1. Respon radang pd KU sering, pd PC jarang.
  2. Kolon kanan pd KU jarang kena, PC sering.
  3. Penyebaran Lesi pd KU merata, pd PC melompat-lompat.
  1. KU sering perdarahan rektum, PC jarang.
  2. Fistula anorektal pd KU jarang, pd PC sering.
  3. KU sering potensi ganas ( > 10 th ), PC jarang.
  4. Striktur pd KU kadang-kadang, PC sering.
  5. Jari tabuh pd KU jarang, PC sering.
  6. Frekuensi KU sering ( 5 X ), PC jarang.


GEJALA KLINIK :
Akut : timbul diare berdarah, nausea, vomitus, demam.
Kronik : timbul pelan-pelan, berbulan – bertahun, lebih ringan, diare sedikit darah ( 6 x sehari ), berlendir, anemia.
Komplikasi akut : Ggn cairan & elektrolit, Anemia, Megakolon ( dilatasi toksik ) akibat paralisis fungsi motorik à perforasi sering terjadi.
Komplikasi kronik : Fistula & abses rektal, rekto-vaginal.
Komplikasi lain : jadi ganas ( kanker kolon ).
Komplikasi sistemik : pioderma ganggrenosa, uveitis, arthritis, spondilitis, ankilosis, sirrhirosis hepatis.

HEMORRHOID = WASIR
Ada 2 jenis :
  1. Hemorrhoid interna ( vena Hemorrhoidalis superior & media )
  2. Hemorrhoid Eksterna ( v. Hemorrhoidalis inferior )

ETIOLOGI :
Sering konstipasi / diare / mengejan kuat.
Kongesti pelvis pd kehamilan, hipertropi prostat.
Fibroma uteri, tumor rektur & penyakit hati kronik ( sirrhosis )



H A T I = H E P A R = L I V E R
Fungsi Hati :
  1. Mengatur metabolisme :
-. KH, Lipid, Protein, Bilirubin.
-. Sekresi empedu.
  1. Detoksikasi :
-. Pembentukan ureum.
-. Hidroksilasi obat, zat-zat beracun lainnya.
3. Sistem pertahanan tubuh.

Fungsi Metabolisme KH, meliputi :
a. Glikogenesis à pembentukan glikogen dari Glukosa.
b. Glikogenolisis à perombakan glikogen à glukosa.
c. Glukoneogenesis à pembtkan glukosa dari bukan KH.

Fungsi Metabolisme Lipid :
a. Ketogenesis à pembtkan benda keton.
b. Kolesterologenesis à pembtkan kolesterol.
c. Katabolisme kolesterol à garam asam empedu
d. Katabolisme steroid.
e. Penyimpanan vitamin larut lemak.

Fungsi Metabolisme Protein :
a. Sintesis Protein plasma ( albumin, globulin ).
b. Sintesis Faktor pembekuan darah
c. Sintesis Lipoprotein : Apoprotein.

Fungsi Metabolisme Bilirubin :
-. Katabolisme Bilirubin indirek à direk à pigmen empedu.

Fungsi detoksikasi :
a. Pembentukan Ureum dari amoniak.
b. Hidroksilasi obat dan zat toksik lainnya.

Fungsi pertahanan :
-. Adanya sel kuffer dalam dinding sinusoid membunuh / fagositosis kuman yang beredar dalam darah.

STRUKTUR ANATOMIS HEPAR
Organ paling besar, banyak fungsi, warna coklat, berat 1,5 kg.
Letak dlm rongga perut atas kanan, bawah diafragma.
Permukaan atas cembung, bawah tidak rata, ada fisura transversus.
Fisura longitudinal memisahkan belahan kanan & kiri bgn atas hati, disitu terdpt ligamentum falsiforme.
Shg hati terbagi jadi 4 belahan : lobus kanan, kiri, kaudatus dan kuadratus.
Permukaan hati diselimuti peritoneum viserale, kecuali bgn posterior yg melekat pd diafragma.
Bawah peritoneum ada jaringan ikat padat ( kapsula Glison ).
Kapsul Glison pd hilus melanjutkan diri ke dlm masa hati, membtk rangka utk cabang v. porta, a. hepatika & sal empedu.


STRUKTUR MIKROSKOPIK HEPAR.
Tiap lobus terbagi lobulus-lobulus yg merupakan unit mikros-kopis dan unit fungsional hati.
Tiap lobulus btk lempeng heksagonal, terdiri dari hepatosit, btk kubus, tersusun radial, mengelilingi vena sentralis / intralobulus
Antar sel dlm lempeng terdpt kapiler “ sinusoid “
Dlm sinusoid mengalir darah dari v. porta & a. hepatika.
Dinding sinusoid terdapat sel Kuffer, sel fagositik sbg pertahanan thdp invasi bakteri / agen toksik.
Selain sinusoid terdpt kapiler empedu ( kanalikuli biliferi ) yg bersatu membtk saluran empedu interlobuler.
Saluran empedu interlobuler akan bersatu membtk duktus biliferi à d. hepatikus kanan & kiri à d. hepatikus à masuk ke kandung empedu melalui duktus sistikus à Kandung empedu à d. Koledokus à bersatu dg duktus Pankreatikus Wirsungi pada ampula Vateri à lumen Duodenum.


SIRKULASI HEPAR :
Ada 2 sumber suplai darah :
  1. A. Hepatika : cabang dari aorta abdominalis.
  2. V. Porta : vena dari alat pencernakan.
1/3 dari a. hepatika, 2/3 dari v. porta.
Volume total darah lewat hati per menit à 1.500 cc.
V. sentralis bersatu à v. sublobularis à bersatu jadi v. hepa-tika kanan & kiri à v. hepatika à v. cava inferior
A. Hepatika, bercabang à a. interlobularis à kapiler masuk ke sinusoid, bersama dg kapiler v. porta.

Jadi dlm sinusoid terjadi pencampuran darah arteri & darah vena.

Dari sinusoid darah masuk ke vena sentralis à vena sub-interlobularis à v. hepatika kanan & kiri à v. hepatika dst.


KANDUNG EMPEDU
Kantong, bentuk alpukat, letak bawah lobus kanan hati.
Empedu disekresi hati tiap hari & dialirkan ke kanalikuli à ber-satu dlm d. biliferi à d. hepatikus kanan & kiri à d. hepatikus komunis à bergabung dg d. sistikus à d. Koledokus, dst.


FUNGSI KANDUNG EMPEDU :
  1. Menyimpan, memekatkan empedu sebelum disalurkan ke Duodenum, volume kandung empedu = 45 cc.
  2. Secara berkala kandung memompakan empedu ke duodenum
Melalui kontraksi simultan ototnya dg spingter Oddii.
Rangsang kontraksi : dari masuknya kismus asam dlm duodenum, dan adanya lemak dlm makanan.


PANKREAS :
Bntk panjang, ramping : 6 inchi, lebar 1,5 inchi.
Letak retroperitoneal, dibagi 3 segmen :
a. Kaput.
b. Korpus.
c. Kauda.
Kaput pd lengkungan duodenum, kauda sp limpa.
Pankreas dibtk dari 2 sel dasar yg punya fungsi beda :
  1. Sel eksokrin berkelompok membtk asini, menghasilkan getah pankreas.
  2. Sel endokrin membtk pulau Langerhans à Insulin dan Glukagon.
  3. Saluran utama Pankreas : d. Wirsungi menerima sekret dari cabang kecil-kecil dari tiap asini.
  4. D. Wirsungi berjalan dari kauda sampai kaput, bermuara pd ampula Vateri.
  5. D. tambahan : d. Santorini, berjalan dari kaput pankreas ke duodenum.
  6. Emzim yg dihasilkan ( lihat usus halus ).
  7. Fungsi Insulin & Glukagon mengatur kadar gula darah, ( mekanismenya lihat Biokimia ).

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Selasa, 24 Mei 2011

MITOSIS DAN MEIOSIS




Mitosis
Mitosis merupakan periode pembelahan sel yang berlangsung pada jaringan titik tumbuh (meristem), seperti pada ujung akar atau pucuk tanaman. Proses mitosis terjadi dalam empat fase, yaitu profase, metafase, anafase, dan telofase. Fase mitosis tersebut terjadi pada sel tumbuhan maupun hewan. Terdapat perbedaan mendasar antara mitosis pada hewan dan tumbuhan. Pada hewan terbentuk aster dan terbentuknya alur di ekuator pada membran sel pada saat telofase sehingga kedua sel anak menjadi terpisah.
Profase. Pada awal profase, sentrosom dengan sentriolnya mengalami replikasi dan dihasilkan dua sentrosom. Masing-masing sentrosom hasil pembelahan bermigrasi ke sisi berlawanan dari inti. Pada saat bersamaan, mikrotubul muncul diantara dua sentrosom dan membentuk benang-benang spindle, yang membentuk seperti bola sepak. Pada sel hewan, mikrotubul lainnya menyebar yang kemudian membentuk aster. Pada saat bersamaan, kromosom teramati dengan jelas, yaitu terdiri dua kromatid identik yang terbentuk pada interfase. Dua kromatid identek tersebut bergabung pada sentromernya. Benang-benang spindel terlihat memanjang dari sentromer
Metafase. Masing-masing sentromer mempunyai dua kinetokor dan masing-masing kinetokor dihubungkan ke satu sentrosom oleh serabut kinetokor. Sementara itu, kromatid bersaudara begerak ke bagian tengah inti membentuk keping metafase
Anafase. Masing-masing kromatid memisahkan diri dari sentromer dan masing-masing kromosom membentuk sentromer. Masing-masing kromosom ditarik oleh benang kinetokor ke kutubnya masing-masing
Telofase. Ketika kromosom saudara sampai ke kutubnya masing-masing, mulainya telofase. Kromosom saudara tampak tidak beraturan dan jika diwarnai, terpulas kuat dengan pewarna histologi
Tahap berikutnya terlihat benang-benang spindle hilang dan kromosom tidak terlihat (membentuk kromatin; difuse). Keadaan seperti ini merupakan karakteristik dari interfase. Pada akhirnya membran inti tidak terlihat diantara dua anak inti
Sitokinesis. Selama fase akhir pembelahan mitosis, muncul lekukan membran sel dan lekukan makin dalam yang akhirnya membagi sel tetua menjadi dua sel anak. Sitokinesis terjadi karena dibantu oleh protein aktin dan myosin (Campbell et al. 1999).

Meiosis
Meiosis hanya terjadi pada fase reproduksi seksual atau pada jaringan nuftah. Pada meiosis, terjadi perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi pengurangan jumlah kromosom induk terhadap sel anak. Disamping itu, pada meiosis terjadi dua kali periode pembelahan sel, yaitu pembelahan I (meiosis I) dan pembelahan II (meiosis II). Meiosis I dan meiosis II terjadi pada sel tumbuhan. Demikian juga pada sel hewan terjadi meiosis I dan meiosis II. Baik pada pembelahan meiosis I dan II, terjadi fase-fase pembelahan seperti pada mitosis. Oleh karena itu dikenal adanya profase I, metafase I, anafase I , telofase I, profase II, metafase II, anafase II, dan telofase II. Akibat adanya dua kali proses pembelahan sel, maka pada meiosis, satu sel induk akan menghasilkan empat sel baru, dengan masing-masing sel mengandung jumlah kromosom setengah dari jumlah kromosom sel induk.
Close
SIKLUS SEL DAN PEMBELAHAN SEL

Kegiatan yang terjadi dari satu pembelahan sel ke pembelahan berikutnya disebut siklus sel atau daur sel. Siklus sel mencakup dua fase yaitu interfase dan fase mitosis atau fase pembelahan.



A. Interfase
Interfase terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap G1, S dan G2. G1 dimana terjadi aktivitas biosintesa yang tinggi.Sel sedang aktif mensintesa ARN (transkripsi) dan protein (transisi) serta membentuk sitoplasma baru, yang nantinya merupakan bahan untuk membina sel anak. Peristiwa ini mendorong inti dan sitoplasma membesar. Lama G1 30-40% dari waktu daur.
Tahap S yaitu merupakan tahap replikasi dan transkripsi DNA, Dengan demikian sel anak mengandung bahan genetis yang sama dengan sel induk. Lamanya juga 30-40% dari waktu satu daur
Tahap G2 merupakan tahap persiapan diri sel untuk membelah. . Nukleus masih nyata dibungkus membran inti mengandung satu atau lebih nucleolus. Dua sentrosom muncul di luar inti, terbentuk selama awal interfase melalui proses replikasi dari sentrosom tunggal. Mikrotubul meluas dari sentrosom dalam susunan radial dinamakan aster). Kromosom telah menduplikasi (selama fase S) tetapi dalam keadaan ini tidak dapat dibedakan sendiri-sendiri, karena masih dalam bentuk serabut kromatin yang terkemas longgar. Pada periode ini semua bahan sitoplasma dan organel menjadi rangkap dua. Lamanya 10-20% dari waktu daur.

]Siklus sel diatur oleh tiga macam molekul sebagai faktor pengontrol yaitu:
1. S-fase activator yang mengaktifkan fase S dan terdapat hanya pada sitoplasma fase S yang bekerja memulai sintesis DNA (menginduksi untuk memulia terjadinya replikasi DNA).
2. M-fase promoting factor yang hanya ada pada sitoplasma fase M yang menyebabkan kondensasi kromosom
3. M-fase delaying faktor

B. Mitosis
Fase mitosis terdiri dari profase, prometafase, metaphase, anaphase dan telofase. Tahapan pembelahan inti ini masing-masing tidak sama waktunya. Fase mitosis atau fase pembelahan terdiri dari karyokinesis atau pembelahan nukleus dan sitokinesis atau pembelahan sitoplasma

Pada periode profase terjadi perubahan pada nukleus dan sitoplasma. Pada nukleus, nukleuli menghilang. Serabut-serabut kromatin menjadi lebih menggulung rapat dan melipat sehingga kian pendek dan tebal berubah menjadi kromosom, yang besar dan tampak jelas. Kromosom kemudian berduplikasi menjadi dua kromatid anak yang sama, dan kemudian bergabung pada sentromer. Spindle mitosis terbentuk di sitoplasma, tersusun dari mikrotubul dan bergabung dengan protein, tersusun teratur di antara dua sentrosom. Selama profase sentrosom bergerak berlawanan satu sama lain dan nampaknya bergerak sepanjang permukaan inti melalui pemanjangan berkas mikrotubul diantara dua sentrosom.

Menjelang metafase, beberapa ujung mikrotubul gelendong mitotic menempel pada setiap kinetokor yang berada di dekatnya.Membran inti terpotong-potong. Mikrotubul dari spindle sekarang dapat masuk ke dalam inti dan berhubungan dengan kromosom yang telah menjadi lebih padat. Berkas mikrotubul dinamakan serabut spindel, yang meluas dari setiap kutub kearah ekuator sel. Setiap kromatid dari kromosom kini memiliki struktur khusus yang dinamakan kinetokor, yang terletak pada daerah sentromer. Mikrotubul yang menambat pada kinetokor dinamakan mikrotubul-kinetokor. Struktur ini menyebabkan kromosom bergerak. Mikrotubul yang lain, mikrotubul-nonkinetokor, tersusun radier dari kutub menuju ke ekuator sel tanpa menambat pada kromosom.

Pada metaphase, mikrotubul kinetokor memegang peranan penting yaitu mengatur letak dan arah kromosom terhadap sumbu gelendong mitotic dan mengatur dan menggerakkan kromosom ke bidang ekuatorial. Sentrosom berada pada kedua kutub sel yang berlawanan. Kromosom berada pada bidang metaphase, bidang yang mempunyai jarak yang sama antara spindle kedua kutub. Spindel sentromer dari semua kromosom lurus satu sama lain pada bidang metaphase. Untuk setiap kromosom, kinetokor dari permukaan kromatid anak berlawanan kutub sel. Karena itu kromatid yang sama dari setiap kromosom menambat pada mikrotubul-kinetokor yang tersusun radier dari kutub yang berlawanan dari sel induk.
Pada anafase terjadi pemisahan kromatida kromosom. Pada fase ini terjadi tarikan ke kutub sehingga kromatid terpisah. Sentromer dari setiap kromosom mengganda, sehingga setiap kromatid memiliki sentromer sendiri-sendiri. Setiap kromatid sekarang dianggap sebagai calon kromosom. Spindle mulai menggerakkan kromatid menuju kutub sel yang berlawanan. Hal ini dikarenakan mikrotubul kinetokor menambat pada sentromer. Mikrotubul kinetokor memendek ketika kromosom mendekati kutub sel. Pada saat yang bersamaan kutub dari sel juga bergerak lebih jauh. Akhir dari anafase kedua kutub sel sama jaraknya dan merupakan kumpulan dari kromosom.

Pada fase telofase, mikrotubul nonkinetokor selalu memanjang dan anak inti mulai terbentuk pada kedua kutub sel, dan kromosom berada dalam keadaan terhimpun. Membran inti terbentuk dari potongan-potongan membran inti sel induk dan bagian lain dari system endomembran.
Sitokinesis terjadi pada saat anaphase dan telofase. Pada sel hewan, tanda pertama yang terlihat adalah melekuknya selaput sel selama anaphase. Pelekukan terjadi di daerah sekat metaphase atau bidang ekuatorial.

Sitokinesis pada sel tumbuhan berlangsung dengan cara yang berbeda. Sitoplasma dibagi dua oleh pembentukan dinding sel baru di dalam sel induk. Sekat sel mulai terbentuk di bidang antara dua nukeus anakan. Sekat sel berhubungan dengan sisa mikrotubul kutub gelendong mitotic yang membentuk suatu struktur yang disebut fragmoplas. Struktur ini mengandung dua perangkat mikrotubul yang berhadapan. Vesikuli kecil yang berasal dari kompleks golgi dan berisi prazat dinding sel tersusun sepanjang mikrotubul disebelah menyebelah fragmoplast dan diangkut kearah bidang ekuatorial yang selanjutnya membentuk sekat sel.
Sitokinesis terdiri atas dua macam, yaitu:


1. Disjunctive
Sitokinesis yang disjunctive, menghasilkan sel-sel anak yang lepas-lepas. Contoh: profiliferasi limfosit dalam reaksi immune, sehingga terbentuk klon. Sel tidak berhubungan / berlekatan satu sama lain


2. Astral
Sitokinesis astral menghasilkan sel-sel anak yang masih berhubungan / berlekatan. Contoh: cleavage pada zygote membentuk blastula. Tiap sel dalam blastula (blastomer) masih berlekatan dan berhubungan. Hubungan antara sel bersebelahan berupa gap junction, yang merupakan tempat keluar masuk / transport berbagai bahan bermolekul kecil, ion, air, dan juga terjadi perimbangan muatan listrik.








Meiosis

Selain mitosis, terdapat pula jenis pembelahan sel lainnya yaitu secara meiosis. Meiosis hanya terjadi pada fase reproduksi seksual atau pada jaringan nuftah. Pada meiosis, terjadi perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi pengurangan jumlah kromosom induk terhadap sel anak. Disamping itu, pada meiosis terjadi dua kali periode Akibat adanya dua kali proses pembelahan sel, maka pada meiosis, satu sel induk akan menghasilkan empat sel baru, dengan masing-masing sel mengandung jumlah kromosom setengah dari jumlah kromosom sel induk. Berikut ini fase meiosis ;


1. Meiosis I
Interfase I
Meiosis didahului oleh interfase, dimana setiap kromosom mengalami proses replikasi. Proses ini menyerupai pada replikasi kromososm mitosis. Untuk setiap kromosom, stiap kromatid ( anak) menyerupai sifat genetik yang sama menambat pada sntromer. Ada sepasang sentriol (pada sel hewan) juga mengalami replikasi untuk membentuk dua pasang.


Profase I
Profase meiosis I dibagi atas 5 sub-tahap: leptoten, zigoten, pakiten, diloten, dan diakinesis.

1. Leptoten
Kromatin terpilin menjadi kromosom. Terdapat 2 pasang kromosom homolog
2. Zigoten
Kromosom homolog mengandeng; sebelah berasal dari kromosom induk (kromosom matroklin) dan sebelah lain dari kromosom bapak (kromosom patroklin). Dibeberapa tempat terjadi persilangan (chiasma; jamak: chiasmata).
3. Pakiten
Kromosom homolog mengandeng rapat sepanjang lengannya, dari pangkal ke ujung terbentuk tetrade.
4. Diploten
Setiap kromosom membelah longitudinal membentuk dua kromatid, sentromer masih satu terjadi chiasmata pada beberapa tempat natara kromatid homolog; dari chiasmata timbul crossing over.
5. Diakinesis
Kromosam (kromatid) mencapai pilinan maksimal, sehingga mencapai besar maksimal pula. Kromosom homolog merenggang, nukleus menghilang, selapu inti hancur, sentriol menganda dan setiap pasang menuju kutub berseberangan.

Metafase I
Selaput inti menghilang, serat gelondong terbentuk anatara kedua pasang sentriol, yang terdiri dari: mikrotubuli dan mikrofilia. Kromosom (berpasangan homolog) bergerak ke bidang ekuator.
Anafase I
Sel memanjang dari kutub ke kutub. Kromosom homolog berpisah ke kutub berseberangan dan kromatid belum terbentuk.
Telofase I
Selaput inti terbentuk kembali. Sepasang sentriol berada dipinggir luar selaput. Cytokinesis terjadi, sehingga sel induk menjadi sel anak. Gametosit I pada akhir meiosis I menjadi gametosit II.
2. Meiosis II
Profase II
Masanya pendek sekali. Selaput inti hilang. Sentriol mengganda dan menuju ke kutub berseberangan inti. Kromatid disetiap kromosom belum terpisah. Sentromer masih satu.

Metafase II
Serat gelondong terbentuk antara pasangan sentriol. Kromosom (sepasang kromatid) yang menggatung pada serat gelondong lewat sentromer pindah ke bidang equator.
Anafase II
Sel memanjang dari kutub ke kutub menurut poros serat gelondong. Sentromer pada setiap pasangan kromatid membelah sehingga kromatid bersaudara lepas. Kromatid berpisah dan bergerak ke kutub berseberangan.
Telofase II
Kromatid terbuka kembali pilinannya, terlepas-lepas, menjadi jala halus: kromatin. Selaput inti terbentuk kembali. Nukleolus muncul, melekat pada kromatin. Terjadi sitokinesis, sehingga dari dua gametosit II terbentuk 4 gametid. Gametid mengandung kromosom separuh dari sel induk, dari 2N pada gametosit I, menjadi 1N pada gametid.
Dengan proses transformasi gametid nanti akan berubah menjadi gamet, yakni sel benih matang. Meiosis menghasilkan gamet yang mengandung bahan genetis yang:
1. Separuh dari bahan gametogonium
2. Bervariasi, karena terjadinya crossing over pada profase

Perbedaan mitosis dan meiosis
No Pembeda Mitosis Meiosis
1 sel yang terlibat semua sel tubuh mitosis hanya sel kelamin aja
2 jumlah sel anakan 2 sel anak 4 sel anak
3 jumlah/ set kromosom 2n / diploid n / haploid
4 tahap 1 kali proses 2 kali proses
5. pindah silang tidak ada spesifikasi saat profase I (diploten)

Senin, 23 Mei 2011

ANATOMI SISTEM PEMCERNAKANANATOMI SISTEM PEMCERNAKAN


Bagian – bagian sistem pencernakan :

  1. Mulut
  2. Faring ( tekak )
  3. Oesofagus ( Kerongkongan )
  4. Ventrikulus ( Gaster, Lambung )
  5. Usus Halus (Duodenum,Yeyunum, Illeum)
  6. Usus besar ( kolon )
  7. Rektum
  8. Anus.


MULUT
Struktur Anatomi :
-. Bgn Luar sempit, antara gigi, gusi dan pipi.
-. Bgn dalam rongga mulut luas, dibatasi tulang maksila, palatum, & mandibula, serta lidah di dasar rongga mulut.
-. Gigi utk mengunyah, gigi sulung ( 20 ), gigi tetap ( 32 ).
-. Lidah utk mengaduk makanan & terdapat indera pengecap cita-rasa makanan.
-. Lidah : radiks, dorsum, apeks lingua, belakang radiks terdpt epiglotis utk menutup jalan nafas, waktu menelan.
-. Kelenjar saliva mulut : Parotis, Sub-mandibularis & Sublingualis à mengandung amilase, & sedikit lipase.
-. Dinding mulut luar : kulit, dlm : mukosa, yg menghasilkan lendir.


Faring
Saluran berbtk kerucut lebar di atas, merupakan persimpangan jalan nafas dan makanan.
Dinding : muskulomembranosa ( membran berotot ).
Panjang dari dasar tengkorak sp setinggi rawan krikoid / VC-6.
Rongga faring : Nasofaring, Orofaring, Laringofaring.
Lapisan mukosa, fibrosa, & otot.
Otot konstriktor : berkonstraksi sewaktu terangsang makanan, mendorong makanan ke oesofagus ( deglutitio = menelan ).
Di lengkung fauses ( lengkung pangkal faring ) terdpt kelenjar limfoid ( Tonsil ), mengandung & menghasilkan limfosit sbg sistem pertahanan.
Duktus Eustachius menghubungkan rongga telinga tengan dan faring, bermuara di nasofaring.


OESOFAGUS
Saluran menghubungkan faring dg lambung, 25 cm.
Struktur t.d. 3 lapis : dari dalam ke luar,
a. Mukosa, & sub-mukosa.
b. Otot à sirkuler dan longitudinal.
c. Lapis serosa, jaringan ikat longgar.
Fungsi menyalurkan makanan dari faring ke lambung.
Menelan :
Makanan dibentuk bolus dlm mulut oleh lidah, didorong lidah masuk faring, ( palatum mole menutup nares posterior, epiglotis menutup laring ), M. konstriktor faring kontraksi mendorong makanan ke oesofagus.


VENTRIKULUS = LAMBUNG = GASTER
Bagian-bagian lambung :
  1. Bgn Kardiak : terdapat orifisium kardiak ( muara oesofagus ).
  2. Bgn Fundus : di bgn atas, jika kosong sering berisi udara.
  3. Bgn Corpus : di tengah.
  4. Bgn Pilorus ( anthrum pilorik ), bermuara pd orifisium pilorik ke dalam duodenum.
Struktur dinding lambung :
  1. Lapis peritoneum / serosa ( paling luar ).
  2. Lapis otot : longitudinal, sirkuler, & oblik. Serabut sirkuler pd pilorus membtk spingter pilorus.
  3. Lapis sub mukosa.
  4. Lapis mukosa.
Membran mukosa lambung berlapis epitel silindris, banyak menyusun kelenjar yg menghasilkan mukus, sekretnya bersifat alkalis.
Di lapis mukosa terdpt :
-. Sel parietale yang menghasilkan HCL yg bersifat asam.
-. Sel chief / zimogen yg menghasilkan enzim Pepsin.
-. Sel G menghasilkan hormon gastrin.
Catu darah untuk lambung berasal dari : a. gastrika & a. lienalis, cabang dari aorta abdominalis.
Sistem saraf : Parasimpatis dari N. Vagus, Simpatis dari plexus seliaka.
Enzim pencernakan : Enzim Pepsin ( Protein à Pepton )
Enzim Renin membekukan Caseinogen à Casein ( beku ) dicerna lebih lanjut oleh Pepsin.
Sekresi getah lambung :
-. Rangsangan saraf : dg melihat, mencium, merasakan.
-. Rangsangab kimiawi : makanan dlm lambung à dinding lambung terangsang à H. Gastrin.
Sekresi getah lambung dpt dihambat oleh sistem simpatis, misal ggn emosi, marah, takut à timbul mual.
Mukosa lambung juga menghasilkan intrinsik faktor Castle, yg membantu absorbsi vit B12. Jika kurang à An. Pernisiosa.


FUNGSI LAMBUNG
  1. Menampung makanan sementara.
  2. Mencairkan, & mengasamkan makanan.
  3. Mencerna protein à pepton.
  4. Membekukan susu ( Caseinogen à Casein ).
  5. Mencerna sedikit lemak.
  6. Membentuk faktor intrinsik Castle.
  7. Menyalurkan khime ( makanan cair ) ke duodenum secara bertahap.

USUS HALUS
Mulai dari orifisium pilorik s/d valvuka iliosekalis / Baukhini. bersambung dg usus besar.( 2,5 meter hidup, 6 meter mati ).

Usus halus dibagi :
  1. Duodenum = 25 cm, btk sepatu kuda, lengkungan menge-lilingi kepala Pankreas.
-. Saluran Empedu & Pankreas bermuara di Duodenum pada satu lobang “ ampula Vateri = ampula hepatopankreatika “
  1. Yeyunum : 2/5 bgn atas.
  2. Illium : 3/5 bgn baeah dari usus halus.
Dinding usus halus :
  1. Lapis serosa ( luar ) dari peritoneum veserale.
  2. Lapis otot : longitudinal & sirkuler.
  3. Lapis sub-mukosa & mukosa.
  4. Dinding sub-mukosa : jaringan ikat longgar, penuh pembuluh darah, saluran limfe, kelenjar & pleksus saraf Meisner.
  5. Di duodenum ada kelenjar Brunner à sekret alkali utk melin-dungi dari bolus makanan yg asam dari lambung.
  6. Di mukosa Duodenum ada bgn membukit dsbt “papilla Vateri” tempat muara sal. Empedu ( d. Koledokus ) dan sal. Pankreas ( Wirsungi )
  7. Dinding mukosa membentuk kerutan “ valvulae koniventes “ menambah luas permukaan sekresi & absorbsi, agar makanan tidak terlalu cepat berjalan, kesempatan mencerna & absorbsi.
  8. Juga terdpt lipatan Lieberkuhn dg kelenjar Lieberkuhn, menghasilkan getah usus ( sukus enterikus ).
  9. Terdpt nodula jaringan limfe à kelenjar soliter, jika bergerom-bol membtk plaques Payeri “
Fungsi usus halus : mencerna makanan & absorbsi sari.
Dlm Duodenum mengalir bbrp getah usus :
  1. Empedu : utk emulgator lemak, alkalis, menetralkan makanan dari lambung.
  2. Getah Pankreas : berisi 3 jenis enzim.
a. Amilase à mencerna KH.
b. Lipase à mencerna Lipid à asam lemak + gliserol.
c. Tripsin ( protease ) à protein à pepton / peptida.
Tripsin disekresi dlm btk Tripsinogen ( belum aktif ) à diaktifkan oleh Enterokinase à Tripsin.
Selain Tripsin : Kinotripsin, & Elastase.


YEYUNUM & ILIUM
Yeyunum & ileum melekat pd dinding posterior abdomen oleh lipatan peritoneum yg berbtk kipas “ Mesenterium “
Dari pangkal mesenterium dimasuki pembuluh darah, saluran limfe, & saraf, yg melayani Yeyunum & Ileum.
Batas Yeyunum-Ileum tidak jelas, berakhir pada muara “ Orifisi-um Ileosekalis “, yg berotot “ spingter Ileosekalis “, dg kelep “ valvula Ileosekalis Baukhini “.
Getah usus ( Sukus enterikus ) mengandung enzim :
a. Enterokinase : mengaktifkan Tripsinogen à Tripsin.
b. Erepsin : menyempurnakan peptida à asam amino.
c. Laktase, Sukrase, maltase, menyempurnakan disakarida à monosakarida ( glukosa, fruktosa, galaktosa, manosa ).


ABSORBSI NUTRIENT
Protein dicerna à AA, diserap epitelium usus à masuk kapiler darah vena usus halus à vena Porta à ke Hati.
KH diserap dlm btk monosakarida oleh epitel vili à masuk kapiler vena à vena Porta à ke Hati.
Lipid diserap dlm btk Gliserol, AL, Kolesterol, lisofosfolipid à esterifikasi dlm epitel usus ( C > 12 ) masuk ke sistem lakteal à sisterna chili à duktus toraksikus à vena subklavia sinistra.


USUS BESAR = INTESTINUM MAYOR
Panjang 1,5 meter, diameter 6,5 cm mulai dari sekum sampai kanalis ani.
Dibagi : Sekum, Kolon, Rektur & Anus.
Sekum : Ada katup Ileosekal, & Apendiks ( umbai cacing ).
Fungsi katup ileosekal mengontrol aliran kismus dari Ileum ke Sekum. Apendiks panjang 6,5 cm, fungsi sbg pertahanan thdp infeksi ( banyak kelenjar limfoid ), mudah peradangan.
Kolon dibagi : asendens, transversum, desendens, & sigmoid.
Tempat kolon membtk kelokan : fleksura hepatika ( kanan dan fleksura lienalis ( kiri )
Kolon sigmoid : lanjutan kolon desendens, membtk huruf S, berada dlm rongga pelvis.
Ujung bawah belok ke kanan saat sambung dg rektum à ingat waktu masukkan enema miring ke kiri.
Panjang kolon asendens = 13 cm, transversum = 38 cm, desendens = 25 cm, sigmoid = 10 cm.
Rektum : dari ujung sigmoid sp anus, panjang = 15 cm.
1 inchi dari rektum = kanalis ani dg spincter ani eksternus & internus.
LAPISAN USUS BESAR : dari dalam,
  1. Mukosa & submukosa.
  2. Otot sirkuler
  3. Otot longitudinal.
  4. Lapis serosa ( jaringan ikat longgar ).
Lapis longitudinal pd kolon tidak sempurna à terkumpul dlm 3 pita “ taenia koli “à sampai sigmoid distal à pd rektum otot longitudinal sempurna.
Panjang taenis lebih pendek drpd usus à usus tampak berkerut membtk kantong “ haustra “
Apendikses Epiploika = kantong kecil peritoneum yg berisi lemak, melekat sepanjang taenia koli.
Lapis mukosa usus besar tebal, tak bervilli.


SUPLAI DARAH
  1. Kanan : sekum, kolon asendens, 2/3 kolon transversum mendpt darah dari a. mesenterika superior.
  2. Kiri : 1.3 kolon transversum, kolon desendens, sigmoid, rektum proksimal mendpt darah dari a. mesenterika inferior.
  3. Suplai tambahan rektum dari : a. sakralis media, a. hemor-rhoidalis superior & media.
  4. Anus dari arteria hemorrhoidalis inferior.
Alir balik / Vena :
Vena dari kolon, dan rektum superior, melalui v. mesenterika superior, v. mesenteri inferior dan v. hemorrhoidalis superior. Yang semuanya mengalir ke vena Porta, à terus ke hati.
Vena hemorrhoidalis media & inferior masuk ke v. Iliaka.
Ada anastomose antar vena hemorrhoidalis à shg jika tekanan v. Porta naik -> timbul varikses pd vena hemorrhoidalis ini.


PERSAYARAFAN :
  1. Usus besar dipelihara oleh sistem otonom, kecuali spincter ani eksterna oleh kontrol volunter ( sadar).
  2. Parasimpatis dari N. Vagus : daerah kolon sp bgn tengah kolon transversum, dsitalnya oleh saraf pelvikus sakralis.
  1. Simpatis dari medula spinalis y.i. saraf splangnikus.
  2. Rangsang simpatis à menghambat sekresi & kontraksi, serta perangsangan spingter ani internus.


FUNGSI USUS BESAR :
  1. Ansorbsi air & mineral.
  2. Sigmoid sbg reservoir feses.
  3. Sekresi mukus alkalis utk melumasi feses.
  4. Tempat bakteri koli mensintesis vit. K.
  5. Pembusukan sisa makanan à peptida, indol, skatol, fenol, asam lemak, gas ( NH3, CO2, H2, H2S, CH4 ).
  6. Pembuangan kotoran, setelah feses masuk rektum à merangsang rektum à refleks defekasi.
PERITONEUM = SELAPUT PERUT
TERDIRI 2 BAGIAN :
  1. Peritoneum parietal : melapisi dinding rongga abdomen.
  2. Peritoneum viserale : melapisi semua organ dalam abdomen.
Ruangan antar dua bagian = ruang peritoneum.
Pd laki-laki merupakan kantonr tertutup, pd wanita terbuka berhubungan dengan udara luar via tuba uterina.
Peritoneum banyak lipatan & kantong : lipatan besar “ omentum mayor “ disebelah depan lambung.
Lipatan kecil “ omentum minor “ meliputi hati, kurvatura minor lambung, ke atas abdomen membtk “ mesenterium “ usus halus.


FUNGSI PERITONEUM :
  1. Menutupi sbgn organ dlm abdomen & pelvis.
  2. Pembatas yg halus shg organ yg ada dlm rongga peritoneum tidak saling bersesekan.
  3. Menjaga kedudukan & mempertahankan hubungan organ thdp dinding posterior abdomen.
  4. Tempat saluran limfe, pembuluh darah, saraf menuju organ dlm abdomen ( usus, lambung, limfa, hati ) dan melindungi terhadap infeksi.
Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Minggu, 22 Mei 2011

SINTESIS PROTEIN




Ekspresi gen adalah proses yang menerjemahkan informasi yang dikodekan dalam gen menjadi urutan asam amino selama sintesa protein. Sewaktu ekspresi gen, informasi genetik ditransfer secara teliti dari DNA melalui RNA untuk menghasilkan polipeptida dari urutan asam amino yang spesifik. Ekspresi gen merupakan proses sintesa protein yang terdiri dari dua tahap: transkripsi dan translasi.


Materi genetik organisme tersimpan di dalam inti
Berupa untai double stranded yang disebut kromosom
Kromosom ini merupakan DNA (dalam prokaryot berupa untai yang diskontinyu atau sirkuler)
Kromosom dibentuk oleh susunan pasangan asam nukleat
Setiap pasangan yang komplement dihubungkan oleh ikatan hidrogen
Urutan pasangan basa pada DNA dengan panjang tertentu akan mengkode satu jenis protein (urutan pasang basa ini disebut gen)

Penyimpanan dan transfer informasi genetik

Semua informasi yang mengkode struktur dan fungsi sel tersimpan pada DNA
Pada E. coli, kromosomnya mengandung sekitar 5 juta pasang basa nitrogen
Beberapa ratus pasang basa membentuk unit yang mengkode 1 protein (disebut gen)
Pasangan specifik (A dengan T, G dengan C)
Bila satu gen dibentuk oleh 500 pasang basa, maka jumlah gen yang dikandung oleh kromosom E. coli yang membawa 5 juta pasang basa adalah sebanyak 10.000 gen.
Secara teoritis E. coli dapat menghasilkan 10.000 jenis protein
Transfer materi genetik

Informasi genetik ini harus ditransfer oleh sel kepada sel anaknya
Informasi pada DNA akan mengarahkan sel untuk melakukan replikasi dan sintesa protein
Dalam kedua proses ini DNA akan berperan sebagai cetakan (template)
Urutan basa yang terdapat pada polimer baru akan komplement dengan yang terdapat pada DNA asal.
Pada proses replikasi akan dihasilkan DNA baru
Pada sintesa protein, polimer yang dihasilkan adalah mRNA

Replikasi DNA

Replikasi dimulai dari lokasi spesifik pada kromosom yang berbentuk sirkuler
Mula-mula akan melibatkan kerja enzim yang memecah ikatan hidrogen yang menghubungkan pasangan basa pada double stranded DNA, memisahkan kedua strand dan menstabilkannya
Akibatnya akan terbentuk basa-basa yang terekspose (dua replication forks)
Kemudian, enzim DNA polimerase bergerak disepanjang replication forks dengan arah 5’ ke 3’ untuk membentuk DNA baru
Penambahan basa nitrogen komplement secara sinambung hanya terjadi pada satu strand
Pada strand yang lain akan terjadi penambahan basa komplement secara diskontinyu
Akibatnya akan terdapat celah-celah pada DNA baru dengan strand ini sebagai template
Untuk menutup celah-celah tersebut, maka sel akan melibatkan enzim ligase
Dua kromosom baru yang terbentuk akan membawa 50% komponen (satu strand) kromosom induknya
Mekanisme replikasi seperti ini disebut dengan replikasi semikonservatif

Sintesa protein

Melibatkan dua proses utama
– Transkripsi: sintesa RNA dari DNA
– Translasi: menterjemahkan kode yang dibawa oleh mRNA

Transkripsi
– Agar dapat terjadi transkripsi maka sel harus mempunyai nukleotida dengan ikatan posfat ber-energi tinggi dalam jumlah yang memadai
– Proses ini diawali oleh pemutusan ikatan hidrogen pada DNA
– Hanya satu strand dari DNA akan berperan sebagai template
– Selanjutnya enzim RNA polimerase akan berikatan pada strand DNA yang berperan sebagai template
– Segera setelah terikat pada template pada basa pertama, maka nukleotida yang sesuai (komplement) akan segera bergabung dengan kompleks enzim-basa DNA
– Setelah terbentuk ikatan antara basa nitrogen tersebut, maka enzim RNA polimerase akan bergerak ke basa berikutnya pada DNA
– Hal yang sama seperti diatas diulang dan pada tahap ini akan diikuti oleh terbentuknya ikatan antara phosfat dari nukleotida yang kedua denganbagian ribosa dari nukleotida yang pertama
– Hal ini diikuti oleh lepasnya pyrophosphat (dua molekul phosfat sisa)
– Proses tersebut terus berulang, sehingga terjadi pemanjangan molekul RNA sampai terbentuk RNA yang lengkap
– Ada 3 jenis RNA yang disintesis untuk dipakai dalam sintesa protein pada tahap berikutnya (mRNA, tRNA, dan rRNA)
Translasi
– Merupakan proses yang sangat penting dalam pertumbuhan sel bakteri
– Akan mengkonsumsi sebanyak 80 – 90% energi seluler
– Selama proses, akan tersedia RNA dan asam amino dalam jumlah yang cukup
– Proses diawali oleh terikatnya mRNA pada ribosom pada start kodon
– tRNA yang membawa antikodon akan masuk pada aktif site pada kompleks mRNA dan robosom
– Asam amino yang dibawa oleh tRNA akan berikatan satu sama lain, sehingga terjadi pemanjangan rantai polipeptida
– Kompleks mRNA kemudian bergerak 1 kodon diikuti oleh lepasnya tRNA yang pertama
– Dari sini akan terbentuk satu aktif site lagi yang siap menerima tRNA baru dengan asam aminonya.
– Proses berulang terus sampai terbentuk protein yang lengkap

Regulasi metabolisme

Regulasi diperlukan untuk menghemat energi
Energi akan digunakan oleh sel hanya bila diperlukan
Oleh karena itu, dalam perjalanan evolusinya sel mengembangkan mekanisme apakah sel akan menjalankan atau menghentikan reaksi biokimia
Alasan lain, sel hanya mempunyai tempat yang sangat terbatas untuk menyimpan materi yang disintesis secara berlebih
Untuk mempelajari mekanisme kontrol pada organisme, biasanya dipakai bakteri, dengan alasan:
– Biaya pembiakannya murah
– Banyak generasi dihasilkan dalam waktu singkat
– Mutasi dapat diamati dalam waktu singkat (regenerasinya cepat)
Mekanisme regulasi dilakukan dengan cara:
– Mengatur aktivitas enzim secara langsung (menentukan kecepatan reaksi dari enzim yang sudah ada)
– Menagtur laju sintesis enzim tertentu (mengatur expresi gen)
Mekanisme yang sudah diketahui:
– Feed back inhibition
– Enzyme induction
– Enzyme repression

Feed back inhibition
– Sering disebut dengan end product inhibition
– Phenomena ini dapat diamati pada kultur bakteri pada medium yang mengandung asam amino tertentu
– Contoh: Sintesis asam amino threonin
Ada dua kelompok enzyme berdasarkan apakah enzim tersebut diproduksi secara terus menerus atau disintesis pada saat ada substratnya:
– Enzim konstitutif
– Enzim induktif
Ezim induksi (Enzim pendegradasi laktosa)
– Pertama kali penjelasan mekanisme kontrol pada pevel molekuler diberikan oleh Jacob dan Monod pada th. 1961
– Melibatkan beberapa genes: gen regulator (I), gen promotor (P) dan gen operator (O), dan gen struktural (x,y,z)
Enzim repression
– Mengatur proses anabolisme
– Sintesis dilakukan pada substrat yang diperlukan dalam pertumbuhan
– Contoh trp operon
Bila dalam media telah tersedia tryptopan, maka senyawa ini akan berperan sebagai repressor dengan cara berikatan pada protein yang dihasilkan oleh gen regulator
Kompleks ini akan terikat pada gen promotor, dan menghalangi disintesanya enzim untuk sintesa tryptopan
Bila dalam medium tidak ada tryptopan, maka protein yang dihasilkan oleh gen regulator menjadi tidak aktif, sehingga proses repression tidak terjadi
Sintesa enzim untuk membentuk tryp terjadi
Proses repressi juga terjadi pada E. coli yg ditumbuhkan pada medium yang mengandung glukosa dan laktosa

Sebagai substansi hereditas sekarang dikenal sebagai asam nukleat yaitu :

• ADN (Deoxiribose Nucleic Acid).
• ARN (Ribose Nucleic Acid).

DNA
terdiri dari dua pita yang saling terpilin (Double Stranded DNA = DS-DNA)  dikenal dengan istilah "DOUBLE HELIX" yang modelnya pertama kali dibuat oleh JAMES D. WATSON (Amerika Serikat) dan FRANCIS CRICK (Inggris) tahun 1953, diperbaiki modelnya oleh WILKINS.
Jika DNA melakukan TRANSKRIPSI bentuknya adalah SINGLE STRANDED (SS-DNA). DNA tersusun dari banyak sekali NUKLEOTIDA.

BATU "NUKLEOTIDA" TERDIRI DARI

- Satu molekul gula (dalam hal ini adalah "deoksiribosa" atau "ribosa").
- Satu molekul fosfat.
- Satu molekul basa nitrogen (basa nitrogen terdiri dari dua jenis yaitu)
a. PURIN ADENIN dan GUANIN.
b. PIRIMIDIN  TIMIN, SITOSIN dan URASIL.

Satu molekul gula dan satu molekul basa disebut NUKLEOSIDA" "
SIFAT YANG MEMBEDAKAN
ADN
ARN
Gula yang menyusun
Deoksiribosa
Ribosa
Bentuk normal
ds den ss
ds = double stranded
ss = single stranded
ss
Basa PURIN
Basa PIRIMIDIN
Guanin, Adenin
Timin, Sitosin
Guanin, Adenin
Urasil, Sitosin
Jenis/macam
Hanya satu
Ada tiga :
- ARN duta
- ARN transport
- ARN ribosorn
Tempat
Inti
Inti Sitoplasma dan Ribosom
Kadar
Tetap
Berubah, tergantung aktifitas sintesis protein


URUTAN SINTESIS PROTEIN

1. TRANSKRIPSI - ss-ADN membentuk ss-ARN yaitu ARN-duta yang membawa informasi genetik
untuk sintesa protein.

2. FASE INISIASI - ARN-duta sampai di ribosom dan ARN-r mengkode asam amino sesuai dengan
informasi genetik yang dibawa ARN-d. ARN-t membawa asam amino yang sesuai
ke ribosom.

3. FASE TRANSLASI ~ ARN-d sebagai "cetakan" mulai bekerja menterjemahkan kode triplet (kodon) yang sesuaidengan antikodon pada ARN-t.

4. FASE ELONGASI ~ ARN-d menggabungkan asam amino - asam amino yang sesuai menjadi protein.

S. FASE TERMINASI ~ kodon yang berisi "NONSENSE CODE" akan bertindak sebagai terminator (penghen-tianproses).

Kadang-kadang terjadi kesalahan dalam membaca kodon sehingga salah menterjemah asam amino ~ protein yangdihasilkan salah ~ menimbulkan kelainan.

Misalnya ANEMIA karena hemoglobin mengandung asam amino VALIN atau LISIN, seharusnya hemoglobin yangnormal mengandung ASAM GLUTAMAT.

Kode genetika dipelajari oleh NIRENBERG dan KHORANA.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 21 Mei 2011

Pohon Rekayasa Genetika, Ciptakan Kemitraan Berbahaya dalam Perubahan Iklim



Koalisi Hutan Global menyelenggarakan acara side event pada hari Rabu, 5 Desember 2007, saat berlangsungya Konferensi Perubahan Iklim PBB di Nusa Dua, Bali, dengan tajuk “Strategi yang berlawanan: mempromosikan bahan bakar agro dan mengurangi penggundulan hutan”. Presentasi ini mengangkat tema besar tentang kontradiksi antara pengembangan dan produksi bahan bakar agro (agrofuels) dan pengurangan tingkat penggundulan hutan dan perusakan hutan di negara-negara berkembang yang dikenal dengan konsep REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation), juga pentingnya menjaga hak-hal masyarakat lokal.
Pembicara pertama merupakan salah seorang aktivis lingkungan yang juga peneliti dari Paraguay yang mempresentasikan bagaimana usaha untuk promosi serta pengembangan bahan bakar agro yang dipercaya dapat mengurangi emisi karbon dan memiliki dampak yang sangat kuat dan besar terhadap perusakan dan penggundulan hutan, karena terjadinya Euphoria bahan bakar agro yang dapat memberikan pemasukan yang besar sehingga lahan hutan berubah menjadi lahan untuk kebutuhan bahan bakar agro. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari salah seorang peneliti dari Koalisi Hutan Global yang mengangkat persoalan bagaimana generasi kedua dari bahan bakar biologis (biofuels) akan merusak hutan alam dan juga malah memperburuk pemanasan global. Biofuel generasi kedua yang saat ini dipromosikan adalah ethanol yang terbuat dari selulosa. Pertanyaan utamanya adalah apakah etanol selulosa ini merupakan sebuah solusi atau masalah besar lainnya?
Konferensi ini dibuka dengan paparan mengenai bagaimana generasi kedua dari biofuel ini, yaitu biofuel yang berasal dari sumber-sumber selulosa seperti pohon dsb dilahirkan. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran dan perhatian akan terjadinya
kompetisi antara pemenuhan kebutuhan makanan dan bahan bakar yang terjadi dalam bentuk perebutan tata guna lahan. Hal ini diperkuat dengan dokumentasi yang sangat baik dari perusakan hutan-hutan tropis yang sangat parah seperti hutan Amazon, untuk penanaman kedelai, sebagai reaksi langsung dari meningkatnya kebutuhan akan biofuel. Maka berkembanglah wacana tentang generasi kedua biofuel. Global Forest Coalition (GFC) berargumen bahwa pemanfaatan selulosa terutama yang berasal dari pohon akan memperbesar masalah yang ada, bahkan membuat persoalan baru. Menurut GFC, industri bioteknologi melihat ethanol dari bahan selulosa ini sebagai kesempatan untuk mempromosikan penemuan mereka berupa pohon ‘frankentree’, yaitu pohon-pohon yang dikembangkan melalui rekayasa genetik, sebagai jawaban atas nama membantu menyelesaikan masalah pemanasan global. GFC berargumen bahwa industri bioteknologi ini memperkuat dirinya bersama perusahaan agrobisnis dan perusahaan minyak untuk menciptakan kemitraan yang berbahaya.
Menurut GFC, agrofuels ini merupakan hegemoni yang diciptakan oleh Amerika Serikat, dengan argumen-argumen sebagai berikut :
· Departemen energi Amerika Serikat telah berinvestasi secara besar-besaran di dalam apa yang disebut sebagai agrofuel ’generasi kedua’ termasuk ethanol selulosa yang berasal dari rekayasa genetis terhadap pepohonan. Salah satu fasilitas riset yang mendukung adalah Oak Ridge National Laboratory, tempat dikembangkannya bom atom.
· Center Intelligent Agency (CIA) terlibat dalam pengembangan ini.
· Biofuels menjadi salah satu cara yang paling baru yang digunakan oleh Amerika Serikat untuk tetap mengontrol serta mengelola suplai energi dunia dan juga untuk tetap mempromosikan agenda global mereka tentang dominasi korporasi.
Beberapa fakta yang dideskripsikan dengan baik oleh GFC adalah sebagai berikut :
· Salah satu dari daerah hutan terluas di AS bagian tenggara, ditutupi oleh perkebunan pinus. Daerah ini menjadi salah satu produsen terbesar pulp untuk kertas.
· Saat ini ada aktifitas untuk mengubah perkebunan pinus ini menjadi sumber biofuels untuk ethanol selulosa. Negara bagian Georgia bahkan ingin menjadi ’Saudi Arabia’ dari biofuels, dengan menggunakan perkebunan pinus mereka menjadi sumber biofuels.
· Transformasi perkebunan pinus dari sumber pulp menjadi sumber biofuels akan sangat mengurangi jumlah pulp yang tersedia untuk kebutuhan kertas.
· Pemenuhan untuk kebutuhan pulp ini akan mencari sumber yang lain. Permintaan akan tetap, sehingga pemenuhannya akan dipenuhi dari AS atau perusahaan-perusahaan akan mendapatkannya dari daerah lain.
Dari segala akibat dan ancaman agrofuels terhadap hutan dan kelompok tradisional yang hidup dari hasil hutan, menurut GFC, ethanol selulosa adalah ancaman terbesar, karena timbulnya permintaan yang sangat besar terhadap kayu yang akan menimbulkan perubahan orientasi pemanfaatan kayu dari pasar kertas menjadi pasar agrofuels. Timbulnya kebutuhan yang besar terhadap kayu ini akan mengakibatkan beberapa hal seperti: penebangan atau penebangan liar terhadap hutan-hutan asli, dan juga ekspansi perkebunan pohon-pohon monokultur. Di mana? Di hutan-hutan alam, ekosistem yang lain (seperti padang rumput), di kawasan yang dihuni oleh kelompok-kelompok masyarakat lokal.
Organisme Berbahaya
Salah satu hal yang juga diperhatikan oleh GFC adalah adanya penciptaan sebuah organisme, dimana ethanol selulosa ini memerlukan penggunaan modifikasi genetik serta penggunaan organisme baru. Yang kita tidak tahu adalah akibat yang akan terjadi pada lingkungan jika ketika organisme ini secara tidak sengaja terlepaskan. Contohnya, saat ini ada perusahaan-perusahaan yang sedang mengembangkan enzim untuk mencerna kayu untuk ethanol selulosa. Perusahaan-perusahaan ini juga sedang mengembangkan pohon dengan enzim melalui rekayasa gentik yang dapat mencerna dirinya sendiri. Kita bisa sama-sama membayangkan betapa bahayanya ketika enzim ini dilepaskan di hutan.
Hal berikutnya yang menjadi perhatian adalah adanya invasi ’makhluk asing’ pada hutan-hutan. Siapakah ’makhluk asing’ tersebut? Mereka adalah pohon-pohon yang telah direkayasa secara genetis. Contoh yang paling nyata adalah rekayasa genetik terhadap Eucalyptus agar menjadi lebih tahan terhadap suhu dingin. Yang akan terjadi adalah kemungkinan invasi ’makhluk asing’ berupa pohon dengan rekayasa genetik ini ke wilayah-wilayah lain, yang akan mengancam ekosistem hutan yang ada. ArborGEN sebuah perusahaan rekayasa genetik dari AS telah menerima ijin dari USDA (badan pembangunan AS) untuk mencoba hasil test Eucalyptus mereka dan mengembangkan biji Eucalyptus tersebut, dan perusahaan ini sedang meminta ijin yang sama kepada pemerintah Brazil. Persoalannya adalah akan terjadi kontaminasi terhadap hutan berupa pohon-pohon dengan rekayasa genetik.
Memperburuk Pemanasan Global
Menurut laporan yang dibuat oleh World Resources Institute dan juga US EPA (Badan Perlindungan Lingkungan AS), hutan tropis dapat menyimpan karbon dengan jumlah empat kali lebih banyak daripada perkebunan. Maka perubahan dari hutan asli kepada perkebunan akan memperburuk pemanasan global. Alasannya adalah perkebunan dengan pohon yang telah direkayasa secara genetis akan mengurangi lignin sehingga menaikkan selulosa pohon, mempercepat pertumbuhan, tahan terhadap dingin (Eucalyptus), tahan terhadap serangga, menghasilkan produk lebih banyak (perkebunan sawit).
Persoalannya adalah pohon-pohon tersebut lebih cepat melepaskan CO2 dibandingkan pohon-pohon yang asli. Studi dan pembuatan model yang dilakukan oleh Universitas DUKE pada tahun 2004 menghasilkan temuan bahwa hutan di North Carolina, Amerika bagian tenggara dapat menyebarkan benihnya sampai ke Canada bagian timur, lebih dari 1200 kilometer. Hal ini menggambarkan potensi ancaman pohon-pohon dengan rekayasa genetik terhadap hutan asli. Kontaminasi hutan asli oleh pohon-pohon yang direkayasa secara genetis akan merusak dan mengganggu ekosistem hutan dan akan meningkatkan tingkat kematian hutan asli, kehilangan keanekaragaman hayati, dan bahkan memperburuk pemanasan global.
Salah satu kasusnya adalah kebakaran hutan yang terjadi di California baru-baru ini, dimana perkebunan pinus di California terbakar hebat dan ada usaha untuk menggantinya dengan perkebunan Eucalyptus yang telah direkayasan secara genetis. Sementara pohon eucalyptus merupakan pohon yang sangat mudah terbakar. Efek lainnya adalah cadangan air tanah yang akan berkurang, karena perkebunan Eucalyptus terbukti telah mengkonsumsi air permukaan serta air tanah yang menyebabkan situasi kekeringan.
Maka, ketika karbon yang dilepaskan melalui deforestasi serta kebakaran hutan dimasukkan dalam faktor penghitungan, biofuels yang berbasis kayu bukan lagi menjadi solusi bagi perubahan iklim, tetapi malah menjadi masalah.
Salah satu efek lain yang akan timbul adalah pengaruh terhadap masyarakat lokal / tradisional. Di mana masyarakat dengan pengetahuan lokal mereka untuk bertahan hidup harus menyesuaikan diri dengan hutan yang ’baru’. Juga studi terakhir menemukan bahwa pohon Eucalyptus merupakan rumah yang baik bagi jamur patogen yang cukup mematikan, yaitu Cryptococcus Gattii.
Belajar dari pengalaman tersebut di atas, maka kita perlu terus menjadi kritis terhadap kebijakan-kebijakan energi yang dikembangkan saat ini. Di satu sisi, perubahan iklim memang menjadi isu dan persoalan yang penting, juga persoalan kebutuhan energi. Tetapi juga harus dikritisi selalu, bahwa pemenuhan kebijakan energi ini harus dapat menjaga ekosistem yang ada dan juga membawa manfaat pada masyarakat lokal dan tradisional, bukan malah mengancam.
Dalam konteks ini, dibutuhkan sebuah penguatan-penguatan terutama di bidang riset dan teknologi di tingkat lokal, yang dilakukan oleh peneliti-peneliti lokal dengan melibatkan masyarakat lokal dan tradisional, sehingga ilmu tentang perubahan iklim dan energi itu sendiri akan bermanfaat buat masyarakat lokal dan ekosistem.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Jumat, 20 Mei 2011

Kesehatan masyarakat menurut blum dipengruhi oleh 4 faktor utama



1. Keempat faktor tersebut terdiri dari
faktor perilaku/gaya hidup (life style),
Perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan sangat memegang peranan penting untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Hal ini dikarenakan budaya hidup bersih dan sehat harus dapat dimunculkan dari dalam diri masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Diperlukan suatu program untuk menggerakan masyarakat menuju satu misi Indonesia Sehat 2010. Sebagai tenaga motorik tersebut adalah orang yang memiliki kompetensi dalam menggerakan masyarakat dan paham akan nilai kesehatan masyarakat. Masyarakat yang berperilaku hidup bersih dan sehat akan menghasilkan budaya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat.
Pembuatan peraturan tentang berperilaku sehat juga harus dibarengi dengan pembinaan untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat. Sebab, apabila upaya dengan menjatuhkan sanksi hanya bersifat jangka pendek. Pembinaan dapat dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat sebagai role model harus diajak turut serta dalam menyukseskan program-program kesehatan.

faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya),
Berbicara mengenai lingkungan sering kali kita meninjau dari kondisi fisik. Lingkungan yang memiliki kondisi sanitasi buruk dapat menjadi sumber berkembangnya penyakit. Hal ini jelas membahayakan kesehatan masyarakat kita. Terjadinya penumpukan sampah yang tidak dapat dikelola dengan baik, polusi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab. Upaya menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab semua pihak untuk itulah perlu kesadaran semua pihak.
Puskesmas sendiri memiliki program kesehatan lingkungan dimana berperan besar dalam mengukur, mengawasi, dan menjaga kesehatan lingkungan masyarakat. namun dilematisnya di puskesmas jumlah tenaga kesehatan lingkungan sangat terbatas padahal banyak penyakit yang berasal dari lingkungan kita seperti diare, demam berdarah, malaria, TBC, cacar dan sebagainya.
Disamping lingkungan fisik juga ada lingkungan sosial yang berperan. Sebagai mahluk sosial kita membutuhkan bantuan orang lain, sehingga interaksi individu satu dengan yang lainnya harus terjalin dengan baik. Kondisi lingkungan sosial yang buruk dapat menimbulkan masalah kejiwaan.

faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya)
Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang berkualitas sangatlah dibutuhkan. Masyarakat membutuhkan posyandu, puskesmas, rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya untuk membantu dalam mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan. Terutama untuk pelayanan kesehatan dasar yang memang banyak dibutuhkan masyarakat. Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang kesehatan juga mesti ditingkatkan.
Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat sangat besar perananya. sebab di puskesmaslah akan ditangani masyarakat yang membutuhkan edukasi dan perawatan primer. Peranan Sarjana Kesehatan Masyarakat sebagai manager yang memiliki kompetensi di bidang manajemen kesehatan dibutuhkan dalam menyusun program-program kesehatan. Utamanya program-program pencegahan penyakit yang bersifat preventif sehingga masyarakat tidaka banyak yang jatuh sakit.
Banyak kejadian kematian yang seharusnya dapat dicegah seperti diare, demam berdarah, malaria, dan penyakit degeneratif yang berkembang saat ini seperti jantung karoner, stroke, diabetes militus dan lainnya. penyakit itu dapat dengan mudah dicegah asalkan masyarakat paham dan melakukan nasehat dalam menjaga kondisi lingkungan dan kesehatannya.
faktor genetik (keturunan).
Nasib suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Oleh sebab itu kita harus terus meningkatkan kualitas generasi muda kita agar mereka mampu berkompetisi dan memiliki kreatifitas tinggi dalam membangun bangsanya.
Dalam hal ini kita harus memperhatikan status gizi balita sebab pada masa inilah perkembangan otak anak yang menjadi asset kita dimasa mendatang. Namun masih banyak saja anak Indonesia yang status gizinya kurang bahkan buruk. Program pemberian makanan tambahan di posyandu masih perlu terus dijalankan, terutamanya daeraha yang miskin dan tingkat pendidikan masyarakatnya rendah. Pengukuran berat badan balita sesuai dengan kms harus rutin dilakukan. Hal ini untuk mendeteksi secara dini status gizi balita. Bukan saja pada gizi kurang kondisi obesitas juga perlu dihindari. Bagaimana kualitas generasi mendatang sangat menentukan kualitas bangas Indonesia mendatang.

Keempat faktor tersebut saling berinteraksi yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat kesehatan masyarakat. Diantara faktor tersebut faktor perilaku manusia merupakan faktor determinan yang paling besar dan paling sukar ditanggulangi, disusul dengan faktor lingkungan. Hal ini disebabkan karena faktor perilaku yang lebih dominan dibandingkan dengan faktor lingkungan karena lingkungan hidup manusia juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat.

berperan dalam kegitan promosi kesehatan terhadap masyarakat
2. Memberikan penyuluhan tentang bahaya dari sisa hasil pembakaran kendaraan bermotor yang telah akrab penggunaannya dalam kehidupan sehari – hari, dengan cara memberikan pengertian apa saja sisa gas pembakaran dari kendaraan bermotor, apasaja yang terkandung didalamnya, apa efek samping yang terjadi jika kita terkontaminasi dengan bahan tersebut, bagaimana cara mencegahnya dan bagaimana cara menangulanginya agar tidak mengganggu kesehatan masyarakat.

Gaya hidup masyarakat saat ini banyak yang merugikan kesehatan masyakat itu sendiri,
3. Merokok
Minum minuman berakohol
Memakan makanan instant
Membuang sampah yang tidak pada tempatnya
Pengunaan kendraan bermotor yang berlebihan yang mengakibatkan polusi udara
Penggunaan internet yang televisi yang berlebihan.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan