Kanker servik jadi pembunuh wanita

Tahukah Anda, bahwa dalan setiap jam wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks atau lebih dikenal dengan kanker mulut rahim. Bahkan dalam setiap menit wanita di seluruh dunia meninggal karna kanker yang mematikan ini.

Beda Hormon LH dan FSH

FSH dan LH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior, sebuah kelenjar kecil yang hadir di bagian bawah otak. FSH pada dasarnya menyebabkan pematangan sel telur di dalam folikel dalam tubuh wanita.

Manfaat Bawang Putih

Khasiat atau manfaat bawang putih ternyata tidak hanya untuk menyedapkan atau sebagai bumbu masakan saja, namun ternyata banyak hal lain yg dapat di manfaatkan dari bawang puth tersebut terutamanya untuk dunia kesehatan.

Toko Kayumanis

Selamat datang di Toko Kayumanis version Online Shop Kami menjual T-shirt, kaos oblong dan jaket T-shirt, kaos oblong dan jaket yang kami jual menggunakan bahan yang berkualitas tinggi, kelebihan dari T-shirt, kaos oblong dan jaket di Toko kami dapat anda tentukan sendiri desainnya, pola ataupun grafisnya sesusai keinginan anda sehingga dapat dipastikan tidak ada T-shirt, kaos oblong dan jaket dari Toko kami yang mempunyai motif yang sama.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 23 Juni 2011

Penanganan Preeklampsia Berat dan Eklampsia


Preeklampsia berat (PEB) dan eklampsia masih merupakan salah satu penyebab
utama kematian maternal dan perinatal di Indonesia. Mereka diklasifikasikan kedalam
penyakit hypertensi yang disebabkan karena kehamilan. PEB ditandai oleh adanya
hipertensi sedang-berat, edema, dan proteinuria yang masif. Sedangkan eklampsia
ditandai oleh adanya koma dan/atau kejang di samping ketiga tanda khas PEB.
Penyebab dari kelainan ini masih kurang dimengerti, namun suatu keadaan patologis
yang dapat diterima adalah adanya iskemia uteroplacentol. Diagnosis dini dan
penanganan adekuat dapat mencegah perkembangan buruk PER kearah PEB atau
bahkan eklampsia. Semua kasus PEB dan eklampsia harus dirujuk ke rumah sakit yang
dilengkapi dengan fasilitas penanganan intensif maternal dan neonatal, untuk
mendapatkan terapi definitif dan pengawasan terhadap timbulnya komplikasikomplikasi.
Kata kunci: Preeklampsia berat, eklampsia, iskemia uteroplasenta, hipertensi, edema,
proteinuri, kejang dan/atau koma.

Di Indonesia preeklampsia-eklampsia masih merupakan
salah satu penyebab utama kematian maternal dan kematian
perinatal yang tinggi. Oleh karena itu diagnosis dini preeklampsia
yang merupakan tingkat pendahuluan eklampsia,
serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk
menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan anak(1,2). Perlu
ditekankan bahwa sindrom preeklampsia ringan dengan hipertensi,
edema, dan proteinui sering tidak diketahui atau tidak
diperhatikan; pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara
rutin mencari tanda preeklampsia sangat penting dalam usaha
pencegahan preeklampsia berat dan eklampsia, di samping
pengendalian terhadap faktor-faktor predisposisi yang lain(1).
Preeklampsia-Eklampsia adalah penyakit pada wanita
hamil yang secara langsung disebabkan oleh kehamilan. Preeklampsia
adalah hipertensi disertai proteinuri dan edema akibat
kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera
setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu
bila terjadi. Eklampsia adalah timbulnya kejang pada penderita
preeklampsia yang disusul dengan koma. Kejang disini bukan
akibat kelainan neurologis(2-4). Preeklampsia-Eklampsia hampir
secara eksklusif merupakan penyakit pada nullipara. Biasanya
terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrem yaitu
pada remaja belasan tahun atau pada wanita yang berumur
lebih dari 35 tahun. Pada multipara, penyakit ini biasanya
dijumpai pada keadaan-keadaan berikut(2):
1) Kehamilan multifetal dan hidrops fetalis.
2) Penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus.
3) Penyakit ginjal.

ETIOLOGI
Sampai dengan saat ini etiologi pasti dari preeklampsia/
eklampsi masih belum diketahui.
Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etiologi
dari kelainan tersebut di atas, sehingga kelainan ini sering
dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain:

1) Peran Prostasiklin dan Tromboksan.
Pada PE-E didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler,
sehingga terjadi penurunan produksi prostasiklin (PGI 2) yang
pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan dan
fibrinolisis, yang kemudian akan diganti trombin dan plasmin.
Trombin akan mengkonsumsi antitrombin III, sehingga terjadi
deposit fibrin. Aktivasi trombosit menyebabkan pelepasan
tromboksan (TXA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme
dan kerusakan endotel.
2) Peran Faktor Imunologis.
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan
tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat
diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan
blocking antibodies terhadap antigen placenta tidak sempurna,
yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya.
Fierlie FM (1992) mendapatkan beberapa data yang mendukung
adanya sistem imun pada penderita PE-E:
1. Beberapa wanita dengan PE-E mempunyai komplek imun
dalam serum.
2. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem
komplemen pada PE-E diikuti dengan proteinuri.
Stirat (1986) menyimpulkan meskipun ada beberapa pendapat
menyebutkan bahwa sistem imun humoral dan aktivasi
komplemen terjadi pada PE-E, tetapi tidak ada bukti bahwa
sistem imunologi bisa menyebabkan PE-E.
3) Peran Faktor Genetik/Familial.
Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor genetik
pada kejadian PE-E antara lain:
1. Preeklampsia hanya terjadi pada manusia.
2. Terdapatnya kecendrungan meningkatnya frekwensi PE-E
pada anak-anak dari ibu yang menderita PE-E.
3. Kecendrungan meningkatnya frekwensi PE-E pada anak
dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE-E dan bukan pada ipar
mereka.
4. Peran Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS)
PATOFISIOLOGI
Vasokonstriksi merupakan dasar patogenesis PE-E.
Vasokonstriksi menimbulkan peningkatan total perifer resisten
dan menimbulkan hipertensi. Adanya vasokonstriksi juga akan
menimbulkan hipoksia pada endotel setempat, sehingga terjadi
kerusakan endotel, kebocoran arteriole disertai perdarahan
mikro pada tempat endotel(5). Selain itu Hubel (1989)
mengatakan bahwa adanya vasokonstriksi arteri spiralis akan
menyebabkan terjadinya penurunan perfusi uteroplasenter yang
selanjutnya akan menimbulkan maladaptasi plasenta. Hipoksia/
anoksia jaringan merupakan sumber reaksi hiperoksidase
lemak, sedangkan proses hiperoksidasi itu sendiri memerlukan
peningkatan konsumsi oksigen, sehingga dengan demikian
akan mengganggu metabolisme di dalam sel Peroksidase lemak
adalah hasil proses oksidase lemak tak jenuh yang
menghasilkan hiperoksidase lemak jenuh. Peroksidase lemak
merupakan radikal bebas. Apabila keseimbangan antara peroksidase
terganggu, dimana peroksidase dan oksidan lebih dominan,
maka akan timbul keadaan yang disebut stess oksidatif(5).
Pada PE-E serum anti oksidan kadarnya menurun dan
plasenta menjadi sumber terjadinya peroksidase lemak. Sedangkan
pada wanita hamil normal, serumnya mengandung
transferin, ion tembaga dan sulfhidril yang berperan sebagai
antioksidan yang cukup kuat. Peroksidase lemak beredar dalam
aliran darah melalui ikatan lipoprotein. Peroksidase lemak ini
akan sampai kesemua komponen sel yang dilewati termasuk
sel-sel endotel yang akan mengakibatkan rusaknya sel-sel
endotel tersebut. Rusaknya sel-sel endotel tersebut akan mengakibatkan
antara lain(2):
a) adhesi dan agregasi trombosit.
b) gangguan permeabilitas lapisan endotel terhadap plasma.
c) terlepasnya enzim lisosom, tromboksan dan serotonin
sebagai akibat dari rusaknya trombosit.
d) produksi prostasiklin terhenti.
e) terganggunya keseimbangan prostasiklin dan tromboksan.
f) terjadi hipoksia plasenta akibat konsumsi oksigen oleh
peroksidase lemak.

KRITERIA DIAGNOSIS
I) Preeklampsia berat
Apabila pada kehamilan > 20 minggu didapatkan satu/
lebih gejala/tanda di bawah ini:
1. Tekanan darah > 160/110 dengan syarat diukur dalam keadaan relaksasi (pengukuran minimal setelah istirahat 10 menit) dan tidak dalam keadaan his.
2. Proteinuria > 5 g/24 jam atau 4+ pada pemeriksaan secara kuantitatif.
3. Oliguria, produksi urine < 500 cc/24 jam yang disertai kenaikan kreatinin plasma.
4. Gangguan visus dan serebral.
5. Nyeri epigastrium/hipokondrium kanan.
6. Edema paru dan sianosis.
7. Gangguan pertumbuhan janin intrauteri.
8. Adanya Hellp Syndrome (hemolysis, Elevated liver enzyme, Low Platelet count).

Dalam rangka menurunkan angka kematian maternal dan
perinatal akibat preeklampsia-eklampsia deteksi dini dan penanganan
yang adekuat terhadap kasus preeklampsia ringan
harus senantiasa diupayakan. Hal tersebut hanya dapat
dilakukan dengan mempertajam kemampuan diagnosa para
penyelenggara pelayanan bumil dari tingkat terendah sampai
teratas, dan melakukan pemeriksaan bumil secara teratur.
Mengingat komplikasi terhadap ibu dan bayi pada kasuskasus
PEB-E, maka sudah selayaknyalah semua kasus-kasus
tersebut dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan yang memiliki
fasilitas penanganan kegawatdaruratan ibu dan neonatal.
Demikian makalah mengenai Penanganan Preeklampsia
Berat dan Eklampsia kami rangkum sebagai penyegaran bagi
rekan-rekan di daerah. Semoga tulisan ini dapat memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya.


Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 22 Juni 2011

POLUSI AIR TANAH AKIBAT LIMBAH INDUSTRI DAN RUMAH TANGGA


Manusia merupakan komponen lingkungan alam yang bersama-sama dengan
komponen alam lainnya, hidup bersama dan mengelola lingkungan dunia. Karena
manusia adalah makhluk yang memiliki akal dan pikiran, peranannya dalam
mengelola lingkungan sangat besar. Manusia dapat dengan mudah mengatur alam dan
lingkungannya sesuai dengan yang diinginkan melalui pemanfaatan ilmu dan
teknologi yang dikembangkannya. Akibat perkembangan ilmu dan teknologi yang
sangat pesat, kebudayaan manusia pun berubah dimulai dari budaya hidup berpindah-
pindah (nomad), kemudian hidup menetap dan mulai mengembangkan buah
pikirannya yang terus berkembang sampai sekarang ini.
Hasilnya berupa teknologi
yang dapat membuat manusia lupa akan tugasnya dalam mengelola bumi. Sifat dan
perilakunya semakin berubah dari zaman ke zaman. Sekarang ini manusia mulai
bersifat boros, konsumtif dan cenderung merusak lingkungannya.

Lingkungan mempunyai daya dukung dan daya lenting. Daya dukung berarti
kemampuan lingkungan untuk dapat memenuhi kebutuhan sejumlah makhluk hidup
agar dapat tumbuh dan berkembang secara wajar didalamnya. Daya lenting berarti
kemampuan untuk pulih kembali kepada keadaan setimbang. Kegiatan manusia amat
berpengaruh pada peningkatan atau penurunan daya dukung maupun daya lenting
lingkungan. Manusia dapat meningkatkan daya dukung lingkungan, tetapi karena
keterbatasan kemampuan dan kapasitas lingkungan, tidak mungkin terus ditingkatkan
tanpa batas, sehingga manusia secara sadar ataupun tidak menyebabkan
ketidaksetimbangan atau kerusakan lingkungan.

Kerusakan lingkungan diakibatkan oleh berbagai faktor, antara lain oleh
pencemaran. Pencemaran ada yang diakibatkan oleh alam, dan ada pula yang
diakibatkan oleh perbuatan manusia. Pencemaran akibat alam antara lain letusan
gunung berapi. Bahan-bahan yang dikeluarkan oleh gunung berapi seperti asap dan
awan panas dapat mematikan tumbuhan, hewan bahkan manusia. Lahar dan batu-batu
besar dapat merubah bentuk muka bumi. Pencemaran akibat manusia adalah akibat
dari aktivitas yang dilakukannya. Lingkungan dapat dikatakan tercemar jika dimasuki
atau kemasukan bahan pencemar yang dapat mengakibatkan gangguan pada mahluk
hidup yang ada didalamnya. Gangguan itu ada yang segera nampak akibatnya, dan
ada pula yang baru dapat dirasakan oleh keturunan berikutnya. Kerusakan lingkungan
akibat aktivitas manusia di mulai dari meningkatnya jumlah penduduk dari abad ke
abad.


Populasi manusia yang terus bertambah mengakibatkan kebutuhan manusia
semakin bertambah pula, terutama kebutuhan dasar manusia seperti makanan,
sandang dan perumahan. Bahan-bahan untuk kebutuhan itu semakin banyak yang
diambil dari lingkungan. Disamping itu perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) memacu proses industrialisasi, baik di negara maju ataupun negara
berkembang. Untuk memenuhi kebutahan populasi yang terus meningkatkan, harus
diproduksi bahan-bahan kebutuhan dalam jumlah yang besar melalui industri. Kian
hari kebutuhan-kebutuhan itu harus dipenuhi. Karena itu mendorong semakin
berkembangnya industri, hal ini akan menimbulkan akibat antara lain:

1. Sumber Daya Alam (SDA) yang diambil dari lingkungan semakin besar, baik
macam maupun jumlahnya.
2. Industri
mengeluarkan
limbah
yang
mencemari
lingkungan.
Populasi manusia mengeluarkan limbah juga, seperti limbah rumah tangga
yang dapat mencemari lingkungan.
3. Muncul bahan-bahan sintetik yang tidak alami (insektisida, obat-obatan, dan
sebagainya) yang dapat meracuni lingkungan.

Akibat selanjutnya lingkungan semakin rusak dan mengalami pencemaran.
Pencemaran lingkungan terbagi atas tiga jenis, berdasarkan tempat terjadinya, yaitu
pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah. Di Indonesia, kerusakan
lingkungan akibat pencemaran udara, air dan tanah sudah sangat kritis. Khususnya di
daerah Bandung dan sekitarnya, pernah terjadi bencana lingkungan seperti sampah,
banjir dan masih banyak lagi.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang jenis-jenis pencemaran dan
penyebabnya serta solusi yang ditawarkan agar kerusakan lingkungan akibat
pencemaran dapat diminimalisisi.


JENIS-JENIS PENCEMARAN


1. Pencemaran Udara

Pencemaran udara disebabkan oleh asap buangan seperti CO2, SO, SO2, CFC,
CO, dan asap rokok. Gas CO2 yang berasal dari pabrik, mesin-mesin yang
menggunakan bahan bakar fosil dan akibat pembakaran kayu. Kadar gas CO2 yang
semakin meningkat di udara tidak dapat segera di ubah menjadi oksigen oleh
tumbuhan karena banyak hutan dunia yang di tebang setiap tahunnya.
Ini merupakan
masalah global. Bumi seperti di selimuti oleh gas dan debu pencemar. Kandungan gas
CO2 yang tinggi menyebabkan cahaya matahari yang masuk ke bumi tidak dapat di
pantulkan lagi ke angkasa, sehingga suhu bumi semakin memanas. Inilah yang
disebut efek rumah kaca (Green House). Jika hal ini terus berlangsung, maka es di
kutub akan mencair dan daerah dataran rendah akan terendam air.
Gas CO dapat membahayakan orang yang mengisapnya. Jika proses
pembakaran tidak sempurna, maka akan menghasilkan karbon monoksid (CO). Gas
CO jika terhirup akan mengganggu pernapasan. Gas ini sangat reaktif sehingga
mengganggu pengingatan oksigen oleh hemoglobin dalam darah. Jika berlangsung
terus menerus, dapat mengakibatkan kematian.
Gas CFC digunakan sebagai gas pengembang, karena tidak bereaks, tidak
berbau, tidak berasa dan tidak berbahaya. Banyak di gunakan untuk mengembangkan
busa kursi, untuk AC, pendingin lemari es dan penyemprot rambut.
Tetapi, ternyataada juga keburukan dari gas ini. Gas CFC yang naik ke atas dapat mencapai stratosfer.
Di stratosfer terdapat lapisan gas ozon (O3), yang merupakan pelindung bumi dari
pengaruh radiasi ultra violet. Radiasi ultra violet dapat mengakibatkan kematian
organisme, tumbuhan menjadi kerdil, menimbulkan mutasi genetik, menyebabkan
kanker kulit dan kanker mata. Jika gas CFC mencapai lapisan ozon, akan terjadi
reaksi antara CFC dan ozon, sehingga lapisan ozon tersebut berlubang yang disebut
lubang ozon.
Gas SO dan SO2 juga dihasilkan dari hasil pembakaran fosil. Gas ini dapat
bereaksi dengan gas NO2 dan air hujan dan menyebabkan terjadinya hujan asam.
Hujan ini mengakibatkan tumbuhan dan hewan-hewan tanah mati, produksi pertanian
merosot, besi dan logam mudah berkarat, serta bangunan-bangunan jadi cepat.


2. Pencemaran Air

Pencemaran air terjadi pada sumber-sumber air seperti danau, sungai, laut dan
air tanah yang disebabkan olek aktivitas manusia. Air dikatakan tercemar jika tidak
dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. Walaupun fenomena alam, seperti gunung
meletus, pertumbuhan ganggang, gulma yang sangat cepat, badai dan gempa bumi
merupakan penyebab utama perubahan kualitas air, namun fenomena tersebut tidak
dapat disalahkan sebagai penyebab pencemaran air. Pencemaran ini dapat disebabkan
oleh limbah industri, perumahan, pertanian, rumah tangga, industri, dan penangkapan
ikan dengan menggunakan racun. Polutan industri antara lain polutan organik (limbah
cair), polutan anorganik (padatan, logam berat), sisa bahan bakar, tumpaham minyak
tanah dan oli merupakan sumber utama pencemaran air, terutama air tanah.
Disamping itu penggundulan hutan, baik untuk pembukaan lahan pertanian,
perumahan dan konstruksi bangunan lainnya mengakibatkan pencemaran air tanah.
Limbah rumah tangga seperti sampah organik (sisa-sisa makanan), sampah anorganik
(plastik, gelas, kaleng) serta bahan kimia (detergen, batu batere) juga berperan besar
dalam pencemaran air, baik air di permukaan maupun air tanah.

Polutan dalam air mencakup unsur-unsur kimia, pathogen/bakteri dan
perubahan sifat Fisika dan kimia dari air. Banyak unsur-unsur kimia merupakan
racun yang mencemari air. Patogen/bakteri mengakibatkan pencemaran air sehingga
menimbulkan penyakit pada manusia dan binatang.
Adapuan sifat fisika dan kimia
air meliputi derajat keasaman, konduktivitas listrik, suhu dan pertilisasi permukaan
air.
Di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, pencemaran air (air permukaan
dan air tanah) merupakan penyebab utama gangguan kesehatan manusia/penyakit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di seluruh dunia, lebih dari 14.000 orang
meninggal dunia setiap hari akibat penyakit yang ditimbulkan oleh pencemaran air.

Secara umum, sumber-sumber pencemaran air adalah sebagai berikut :
1. Limbah industri (bahan kimia baik cair ataupun padatan, sisa-sisa bahan bakar,
tumpahan minyak dan oli, kebocoran pipa-pipa minyak tanah yang ditimbun
dalam tanah)
2. Pengungangan lahan hijau/hutan akibat perumahan, bangunan
3. Limbah pertanian (pembakaran lahan, pestisida)
4. Limbah pengolahan kayu
5. Penggunakan bom oleh nelayan dalam mencari ikan di laut
6. Rumah tangga (limbah cair, seperti sisa mandi, MCK, sampah padatan seperti
plastik, gelas, kaleng, batu batere, sampah cair seperti detergen dan sampah
organik, seperti sisa-sisa makanan dan sayuran).
3. Pencemaran Tanah


Pencemaran ini banyak diakibatkan oleh sampah, baik yang organik maupun
nonorganik. Sampah organik dapat di uraikan oleh mikroba tanah menjadi lapisan atas
tanah yang di sebut tanah humus. Akan tetapi, sampah anorganik/nonorganik tidak
bisa diuraikan. Bahan pencemar itu tetap utuh hingga 300 tahun yang akan datang.
Zat-zat limbah yang meresap ke tanah juga tidak dapat hilang dalam jangka waktu
yang lama.
Zat-zat limbah yang masuk ke tanah di serap oleh tanaman dan tetap menetap
di dalam tubuh tumbuhan itu, karena tumbuhan tidak dapat menguraikannya. Limbah
industri yang mengotori tanah biasanya adalah pupuk yang berlebihan dan
penggunaan herbisida serta pestisida. Zat pencemar yang menetap pada tumbuhan itu,
terus berpindah melalui jalur rantai makanan dan jaring-jaring makanan. Sehingga
perpindahan itu menyebabkan adanya zat pencemar dalam setiap tubuh organisme
yang melangsungkan proses rantai makanan. Hal ini akan menimbulkan menurunnya
kualitas organisme, berupa kurangnya ketahanan terhadap gangguan dari luar.
Selain pencemaran, kerusakan lingkungan juga disebabkan oleh pengambilan
sumber daya alam dan pemanfaatannya, serta pola pertanian. Kerusakan itu antara
lain terjadinya erosi dan banjir. Kerusakan lingkungan yang menimbulkan banyak
bencana menimbulkan gagasan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya kerusakan
itu. Manusia berusaha melakukan penanggulangan kerusakan lingkungan dan
mengadakan perbaikan terhadap kerusakan itu. Pencegahan kerusakan lingkungan dan
pengusahaan kelestarian dilakukan baik oleh pemerintah maupun setiap individu.



SOLUSI PENANGANAN PENCEMARAN LINGKUNGAN
Pada prinsipnya ada tiga (3) hal yang dapat dilakukan dalam rangka
pelestarian, pencegahan, dan penanggulangan kerusakan lingkungan akibat
pencemaran, yaitu :
1. Tindakan secara administratif,
2. Tindakan dengan menggunakan teknologi,
3. Tindakan melalui edukatif/pendidikan.

1. Tindakan Secara Administratif
Penanggulangan secara administratif dilakukan oleh pemerintah, dengan
mengeluarkan berbagai peraturan dan undang-undang. Antara lain peraturan
pemerintahan yang disetujui DPR tanggal 25 februari 1982. Disahkan presiden
tanggal 11 Maret 1982 menjadi UU No. 4 tahun 1982 yang berisi ketentuan
pengelolaan lingkungan hidup ( UULH ). Sebelum membangun pabrik atau proyek
lainnya, para pengembang diharuskan melakukan analisis mengenai dampak
lingkungan ( AMDAL ).Analisis dampak dari berdirinya industri tersebut tujukan
kepada pengelolaan santasi secara luas terhadap lingkungan sekitarnya. Pemerintah
juga mengeluarkan baku mutu lingkungan, yaitu standar yang ditetapkan untuk
menentukan mutu lingkungan. Selain itu pemerintah juga mengeluarkan program
yang meliputi berbagai sektor dalam pembangunan berkelanjutan sehingga di
harapkan pembangunan dapat berlangsung lestari dengan mempertahankan fungsi
lingkungan lestari.

2. Tindakan dengan Menggunakan Teknologi
Penanggulangan secara teknologis, adalah dengan cara membangun unit
pengolahan limbah. Misalnya unit pengolah limbah yang mengolah limbah cair
sebelum dibuang ke lingkungan. Jika pengolahannya menggunakan mikroba maka
disebut pengolahan secara biologis dengan menggunakan bakteri pengurai limbah.

3. Tindakan Melalui Edukatif/Pendidikan
Penanggulangan secara edukatif adalah dengan mengadakan kegiatan
penyuluhan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya
kelestarian alam. Masyarakat rumah tangga mempunyai peranan yang cukup besar
dalam pencemaran lingkungan, khususnya air akibat sampah rumah tangga. Karena
itu perlu dipikirkan teknologi sederhana yang dapat diterapkan kepada masyarakat
untuk mengelola sampah rumah tangga secara swadaya. Sampah rumah tangga secara
umum dapat dibagi dua ada sampah anorganik seperti plastik, gelas dan kaca serta
botol kaleng dan sampah organik, seperti sisa makanan, sisa sayuran dan lain-lain.
Salah satu teknik pengolahan sampah organik rumah tangga adalah
menggunakan “KERANJANG TAKAKURA”. Keranjang Takakura (Mr. Takakura
adalah Profesor di Jepang yang sukses melakukan praktek pengolahan limbah organik
rumah tangga di Jepang) adalah media pengolahan sampah secara biologi, karena
menggunakan bakteri sebagai pengurai sampah. Keranjang Takakura sendiri adalah
keranjang wadah yang biasa digunakan tempat pakaian kotor sebelum dicuci (rigen)
yang umumnya berkapasitas 50 liter. Berikut ini cara pengolahan sampah organik
menggunakan metoda keranjang Takakura :

1. Cari keranjang berukuran 50 liter berlubang-lubang kecil (supaya tikus tidak
bisa masuk) dan tutupnya.
2. Cari doos bekas wadah air minum kemasan, atau bekas wadah super mi, asal
bisa masuk ke dalam keranjang. Doos ini untuk wadah langsung dari bahan-
bahan yang akan dikomposkan.
3. Isikan ke dalam doos ini kompos yang sudah jadi. Tebarkan kompos ke dalam
doos selapis saja setebal kurang lebih 5 cm. Lapisan kompos yang sudah jadi
ini berfungsi sebagai starter proses pengomposan, karena di dalam kompos
yang sudah jadi tersebut mengandung banyak sekali mikroba-mikroba
pengurai. Setelah itu masukkan doos tersebut ke dalam keranjang plastik.
4. Bahan-bahan yang hendak dikomposkan sudah bisa dimasukkan ke dalam
keranjang.
Bahan-bahan yang sebaiknya dikomposkan antara lain: Sisa
makanan dari meja makan: nasi, sayur, kulit buah-buahan.
Sisa sayuran
mentah dapur: akar sayuran, batang sayuran yang tidak terpakai. Sebelum
dimasukkan ke dalam keranjang, harus dipotong-potong kecil-kecil sampai
ukuran 2 cm x 2 cm.
5. Setiap hari bahkan setiap habis makan, lakukanlah proses memasukkan bahan-
bahan yang akan dikomposkan seperti tahap sebelumnya. Demikian
seterusnya. Aduk-aduklah setiap selesai memasukkan bahan-bahan yang akan
dikomposkan. Bilamana perlu tambahkan lagi selapis kompos yang sudah jadi.


Keuntungan metoda pengolahan sampah ini, doos dalam keranjang ini lama
tidak penuhnya, sebab bahan-bahan dalam doos tadi mengempis. Terkadang kompos
ini beraroma jeruk, bila kita banyak memasukkan kulit jeruk. Bila kompos sudah
berwarna coklat kehitaman dan suhu sama dengan suhu kamar, maka kompos sudah
dapat dimanfaatkan.

Hal yang perlu diperhatikan adalah upayakan agar bekas sayuran bersantan,
daging dan bahan lain yang mengandung protein tidak dimasukkan ke dalam doos.
Mengingat starter-nya telah menggunakan kompos yang sudah jadi, maka MOL
(mikroba loka) tidak digunakan.


Persoalan kerusakan lingkungan akibat industri dan rumah tangga, khususnya
di Negara berkembang seperti Indonesia sudah sangat kompleks dan sudah
menghawatirkan.
Karena itu perlu kesadaran semua pihak untuk turut menangai
pencemaran lingkungan. Pemerintah melalui kebijakan dan aturan harus mampu
mengatur industi dalam pengolahan limbah baik cair, kayu dan udara. Pihak industri
pun harus menyadari peranan pencemarannya yang sangat besar sehingga harus mau
membangun pengolahan limbah. Masyarakat pun harus mempunyai peranan yang
sangat besar dalam pengolahan limbah rumah tangga dan lingkungan sekitar sehingga
kelestarian lingkungan baik, udara, tanah maupun air dapat terjaga dengan baik.



Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Senin, 20 Juni 2011

Dampak Pemberian ASI Eksklusif terhadap Penurunan Kesuburan seorang Wanita


Air Susu Ibu (ASI) memberi segala kebutuhan makanan
bayi, baik dari segi gizi, imunologis, maupun psikologis. ASI
juga memberi perlindungan obstetrik dan kontraseptif pada ibu.
Di beberapa negara sedang berkembang seperti Indonesia,
efek kontraseptif dari laktasi adalah salah satu cara pengaturan
kesuburan seorang wanita. Penelitian menunjukkan bahwa
pemberian ASI dapat mempengaruhi lamanya amenorrhea dan
frekuensi ovulasi. Tingginya frekuensi pemberian ASI, lamanya
setiap pemberian, dan kurangnya frekuensi pemberian
makanan tambahan akan menurunkan kemung kinan terjadinya
ovulasi.
Pada wanita postpartum yang tidak memberikan ASInya,
Luteinizing Hormon (LH) dan Follicle Stimulating Hormon
(FSH) akan menurun sensitivitasnya terhadap Gonadotropin
Releasing Hormone (GnRH) setidaknya 3 sampai 4 minggu
setelah persalinan dibandingkan wanita dengan siklus ovarium
yang normal. Sementara pada wanita yang memberikan
ASInya ovulasi tidak terjadi akibat pengaruh hormon Prolaktin;
pada wanita tersebut meskipun kadar Prolaktin telah
kembali normal seringkali amenorea tetap terjadi, diduga hal
ini disebabkan olah berkurangnya produksi GnRH oleh
hipotalamus.
Penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya
ovulasi menurun hingga 1-5% pada pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan pertama postpartum, dan apabila pemberian
ASI dilanjutkan hingga bayinya berusia 2 tahun maka efek
kontrasepsi yang didapatnya hampir setara dengan penggunaan
sistem kalender ataupun sanggama terputus. Tetapi mengandalkan
proses laktasi saja sebagai metode kontrasepsi tentunya
tidak tepat karena pada 6% wanita yang menyusui bayinya
dan tidak menggunakan kontrasepsi dapat terjadi kehamilan.

ASI EKSKLUSIF
World Health Organization (WHO) merekomendasikan
bahwa semua bayi harus mendapat Air Susu Ibu (ASI) secara
eksklusif sejak lahir, sesegera mungkin (setengah hingga 1 jam
sejak lahir) sampai setidaknya usia 4 bulan dan bila mungkin
hingga usia 6 bulan. Yang dimaksudkan dengan ASI eksklusif
adalah pemberian ASI melulu tanpa disertai makanan atau
minuman tambahan yang lain. ASI harus diberikan sebanyak
dan sesering yang diinginkan oleh bayi, siang maupun malam,
setidaknya 8 kali.
Howie pada tahun 1981 menemukan bahwa ovulasi tidak
akan terjadi apabila laktasi yang ketat dipertahankan. Terdapat
berbagai penelitian dan konsensus internasional tentang hubungan
antara laktasi dan penurunan ovulasi tersebut. Di tahun
1988 di Bellagio, Italia, para ahli dari seluruh dunia mempelajari
bukti-bukti ilmiah yang berkaitan dengan efek laktasi
terhadap infertilitas. Mereka menyimpulkan bahwa para wanita
yang tidak menggunakan kontrasepsi tetapi memberi ASI
eksklusif atau hampir eksklusif dan mengalami amenorea,
maka kemungkinan terjadinya kehamilan kurang dari 2%
dalam 6 bulan pertama postpartum (Concensus Statement
1988, Kennedy et al 1989). Berlanjut dari konsensus tersebut,
dilakukan berbagai penelitian untuk membuktikannya. Di
tahun 1988 di Chili dilakukan penelitian terhadap 422 wanita
postpartum; pada 221 wanita (56%) yang mengandalkan LAM
(Lactational Amenorrhoea Method) sebagai satu-satunya
metode kontrasepsi selama 6 bulan rasio kumulatif terjadinya
kehamilan adalah 0,45%, 1 kehamilan terjadi pada bulan ke 6
dan 3 kehamilan lainnya terjadi pada wanita yang telah
berhenti menggunakan metode LAM (Perez et al 1992).
Penelitian-penelitian lainnya di Mesir (Hefnawi et al 1977),
Bangladesh (Weis 1993), Ecuador (Wade et al, 1994), Rwanda
(Cooney et al 1996) mendukung efektivitas LAM tetapi tidak
mengukurnya.
Penelitian yang paling cermat tentang LAM sebagai metode
kontrasepsi telah dilakukan dalam tiga uji klinik. Yang
pertama yang dilakukan oleh Perez seperti yang telah disebutkan
di atas, yang kedua yang dilakukan oleh Kazi dkk, 1995,
di Pakistan dan yang ketiga dilakukan oleh Ramos di Philipina
1996. Mereka melaporkan bahwa rasio kehamilan tiap 100
wanita dalam jangka waktu 6 bulan penggunaan metode tersebut
secara tepat adalah 0,58 di Pakistan dan 0,97 di
Philipina. Penelitian ini memberi bukti yang meyakinkan
bahwa LAM adalah sungguh metode kontrasepsi yang efektif,
asalkan ketiga kriteria tersebut di bawah ini terpenuhi:

1. Ibu memberikan ASI eksklusif atau hampir eksklusif pada
bayinya. Pemberian harus mengikuti kemauan bayi (on
demand) baik siang mapun malam, dengan jarak tidak lebih
dari 6 jam antara pemberian ASI berikutnya.
Pemberian ASI yang tidak eksklusif ditandai dengan peningkatan
terjadinya ovulasi sebelum timbulnya menstruasi dan
berkurangnya lama amenorea.
2. Apabila setelah lebih dari 8 minggu postpartum timbul
menstruasi, maka kemungkinan ibu dapat mengalami kehamilan
akan meningkat. Untuk mendapatkan perlindungan kontraseptif
maka dianjurkan untuk menggunakan metode keluarga
berencana alternatif lainnya (sambil meneruskan pemberian
ASI untuk keperluan bayinya). Tetapi tidak selalu bahwa
perdarahan pervaginam dalam waktu 8 minggu postpartum
pada wanita yang memberikan ASI eksklusif berarti
kembalinya kesuburan (Visness dkk 1997).
3. Apabila bayi telah berusia 6 bulan lebih, kemungkinan
terjadinya kehamilan maningkat, bahkan bila ibu tetap
memberi ASI. Oleh karena itu ibu dianjurkan untuk memakai
metode lain yang lebih efektif. Penelitian juga dilakukan terhadap wanita Australia yang
menyusui dalam jangka waktu lama, aktivitas ovarium
ditentukan dengan mengukur progesteron dalam saliva, dan
ekskresi estrogen dan pregnandiol (Lewis et al 1991, Short et
al 1991). Mereka menyimpulkan bahwa LAM memberi
perlindungan kontraseptif yang aman dalam jangka waktu 6
bulan postpartum, bahkan pada wanita dengan gizi baik di
negara ber-kembang. Diaz dkk (1992) di Chili meneliti peran
anovulasi dan defek fase luteal terhadap infertilitas akibat
laktasi. Di-simpulkan bahwa, meskipun terjadi ovulasi, kondisi
endokrin yang abnormal pada fase luteal pertama memberikan
per-lindungan yang efektif pada wanita selama amenorea
laktasi dalam jangka waktu 6 bulan postpartum. Setelah fase
luteal membaik maka wanita itu mempunyai risiko hamil.

ANTAGONISME LAKTASI TERHADAP OVULASI
Selama masa laktasi, kadar prolaktin akan tetap tinggi
sebagai respon terhadap rangsang isapan bayi yang
berlangsung terus menerus. Kadar prolaktin yang tinggi
tersebut akan berefek pada otak dan ovarium.
Di otak, prolaktin yang sampai di hipothalamus akan
menimbulkan hambatan sekresi GnRH. Sedangkan kadar
estrogen, yang semula sangat tinggi selama persalinan karena
sekresi dari plasenta, akan mengalami penurunan setelah
terlepasnya plasenta; penurunan ini ternyata tidak mampu
merangsang hipothalamus untuk memacu sekresi GnRH, hal
ini mengisyaratkan adanya penurunan sensitivitas
hipothalamus terhadap mekanisme umpan balik positif oleh
estrogen selama laktasi (sebaliknya justru meningkatkan
umpan balik negatif); sementara di hipofisis anterior akan
terjadi penurunan sensi-tivitas terhadap rangsang oleh
hipothalamus. Akibatnya, kadar FSH dan LH akan rendah,
seperti pada awal masa folikuler dari siklus menstruasi(8).
Pada seorang wanita yang memberikan ASI eksklusif,
selama 6-8 minggu masa laktasi akan terjadi penurunan respon
LH terhadap GnRH, sementara respon FSH tetap normal,
meskipun demikian pada ovarium tidak terjadi fase folikuler
dan tidak terjadi sintesis estrogen. Sintesis estrogen akan
dimulai secara bertahap sejak bulan ke 4 postpartum pada
wanita yang memberikan ASInya, tetapi keadaan ini bervariasi
antara ibu menyusui yang satu dengan yang lainnya.
Pemberian GnRH atau hormon gonadotropin eksogen dalam
jumlah besar ternyata mampu merangsang perkembangan
folikel ovarium dan pembentukan hormon estrogen. Hal ini
meng-isyaratkan bahwa pada ovarium terjadi penurunan
sensitivitas terhadap hormon gonadotropin, mungkin karena
reseptor gonadotropin pada ovarium ditempati oleh prolaktin,
atau karena hambatan fungsi sel-sel theka oleh prolaktin. Hal
ini menerangkan efek kadar prolaktin yang tinggi terhadap
ovarium.
Jadi dapat disimpulkan bahwa prolaktin merupakan penyebab
utama anovulasi pada laktasi atau amenorea pada
laktasi, atas dasar efek penghambatan di tingkat otak maupun
ovarium sebagai berikut:

1. Penurunan sensitivitas hipothalamus terhadap umpan balik
positif dari estrogen.
2. Hambatan sekresi GnRH oleh hipothalamus.
3. Penurunan sekresi gonadotropin.
4. Penurunan sensitivitas ovarium terhadap gonadotropin.
Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas terdapat alternatif
penghambatan ovulasi yang lain oleh prolaktin yaitu
hambatan sintesis progesteron oleh sel-sel granulosa dan
perubahan rasio testosteron: dihidrotestosteron oleh prolaktin
sehingga berakibat penurunan zat-zat teraromatisasi yang
berarti peningkatan kadar zat antiestrogen lokal.
Kadar prolaktin yang tinggi menyebabkan umpan balik
positif jalur pendek terhadap sekresi dopamin oleh
hipothalamus. Kadar dopamin yang tinggi akan menurunkan
sekresi GnRH.Antara efek di otak dan di ovarium, tampaknya efek
hambatan ovulasi oleh prolaktin selama laktasi paling dominan
adalah penyebab di otak.
Lactational Amenorrhea (LAM) memberi efek pencegahan
yang baik terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan
selama 6 bulan pertama postpartum, bahkan pada wanita
dari negara-negara sedang berkembang dengan status gizi yang
baik. Menurut Diaz (1992), meskipun terjadi ovulasi, status
hormonal pada fase luteal yang pertama setelah ke-hamilan
dan persalinan belum kembali normal sehingga tetap
merupakan pencegahan yang efektif terhadap kemungkinan
terjadinya kehamilan(3). Sementara menurut Chatterton
(Sciarra, 1997) LAM tidak memberikan perlindungan total
terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan, sehingga pada
wanita yang tidak menggunakan metode kontrasepsi selain
LAM dapat terjadi kehamilan meskipun tanpa didahului
timbulnya menstruasi sejak persalinan (3-15%)(10).
Probabilitas kumulatif terjadinya kehamilan digambarkan
dalam bentuk grafik oleh Short dkk, dengan kemungkinan
terjadinya kehamilan dalam 1 tahun sejak postpartum pada
wanita yang memberi ASI tapi tidak menggunakan kontrasepsi
lain adalah kecil pada 6 bulan pertama, tetapi kemungkinan itu
akan meningkat dengan cepat dan menjadi sama dengan wanita
yang tidak memberi ASI dan tidak menggunakan kontrasepsi
pada waktu sekitar 18 bulan postpartum. Hal ini berbanding
terbalik dengan persentase wanita dengan LAM, yang dengan
bertambahnya bulan-bulan postpartum akan makin jarang
jumlah wanita yang tetap berada dalam kondisi Lactational
Amenorhhea (LAM).
Kemungkinan terjadinya kehamilan tetap kecil (7%)
dalam tahun pertama postpartum apabila setelah timbul
menstruasi yang pertama, wanita tersebut menggunakan
metode kontrasepsi yang efektif.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN
MENCEGAH OVULASI DENGAN LAKTASI
Lactational Amenorrhea (LAM) merupakan metode
kontrasepsi yang efektif setidaknya dalam 6 bulan pertama
postpartum, dalam arti mencegah timbulnya ovulasi, apabila
pemberian ASI dilakukan secara eksklusif, setiap kali bayi
menginginkannya, baik siang maupun malam, dengan interval
tidak lebih dari 6 jam(3). Seperti telah dibicarakan sebelumnya,
kelancaran pemberian ASI tersebut dipengaruhi oleh banyak
hal, yaitu:

1. Rangsang sekresi pada permulaan pemberian ASI.
2. Kesinambungan sekresi ASI.
3. Pengeluaran ASI dari alveoli ke puting susu dan kemudian ke mulut bayi.
4. Kemampuan bayi untuk mengisap dan mencerna ASI.
Disebutkan bahwa laktasi tergantung pada rasa percaya
diri ibu; jika ibu mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu
memberikan ASI yang dibutuhkan oleh bayinya maka makin
besar kemungkinan keberhasilannya dalam menyusui. Seperti
telah dibahas sebelumnya bahwa permulaan sekresi ASI dan
kesinambungan sekresi ASI oleh sel-sel acinus kelenjar
mammae sangat tergantung pada pelepasan prolaktin dalam
jumlah yang cukup. Sekresi prolaktin oleh kelenjar hipofisis
dipacu oleh tingginya frekuensi isapan oleh bayi, dan dihambat
oleh rasa takut, cemas, nyeri, serta frekuensi menyusui
yang rendah dan tidak teratur.
Sering terjadi bahwa ibu merasa ASI yang diberikannya
tidak mencukupi kebutuhan bayinya, sehingga ibu meminta
nasehat pada orang lain, baik anggota keluarga, teman, atau
bahkan dokter. Maka dalam hal ini nasehat yang diberikan
pada ibu tersebut mempunyai makna yang sangat penting.
Kadangkala bahkan dokter memberikan nasehat yang tidak
tepat, misalnya dengan membatasi frekuensi pemberian ASI
dengan maksud agar tidak melelahkan ibu, membatasi lamanya
tiap kali pemberian ASI hanya 10 menit saja dengan tujuan
untuk menghindari erosi pada puting, dan menganjurkan ibu
untuk menimbang berat bayinya sebelum dan sesudah
menyusui dengan tujuan mengetahui banyaknya ASI yang
disusukan pada bayinya. Hal-hal seperti ini justru menambah
kecemasan pada ibu dan membatasi keleluasaan ibu dalam
menyusui, yang berakibat penekanan terhadap refleks let
down.
Selain itu pada masa ini anak-anak jarang menyaksikan
ibunya menyusui adik bayinya, sehingga di saat mereka
dewasa mereka tidak mempunyai contoh yang baik tentang
proses menyusui sebagai suatu proses yang alamiah. Maraknya
iklan dan promosi susu formula menimbulkan pemikiran baru
yang salah bahwa memberi susu formula jauh lebih
menguntungkan daripada memberi ASI. Pemberian susu
formula atau makanan tambahan sesaat sebelum bayi
mendapat ASI akan menyebabkan bayi merasa kenyang
terlebih dahulu, dan kurang aktif dalam mengisap ASI. Hal ini
akan mengurangi frekuensi refleks prolaktin dan refleks let
down.
Pada akhirnya, hal-hal tersebut di atas akan berakibat
pacuan terhadap produksi ASI menurun dan terjadi kegagalan
menyusui akibat penurunan jumlah ASI dan diikuti dengan
penghentian pemberian ASI.
Dukungan dari masyarakat dan keluarga serta tenaga
medis terhadap ibu yang menyusui dengan nasehat-nasehat
yang tepat dan tidak saling bertentangan akan membantu
mencegah penghentian laktasi yang terlalu dini.
Amenorea postpartum dapat berlangsung lebih lama
akibat malnutrisi pada ibu. Pada wanita yang sedang menyusui
ke-butuhan energinya meningkat dua kali lipat dibandingkan
sebelum periode laktasi, karena itu dengan porsi makanan yang
sama dengan sebelum menyusui dapat terjadi kese-imbangan
energi yang negatif, yang berakibat amenorea yang
berkepanjangan.
Pada masa laktasi terjadi pula peningkatan kebutuhan
kalsium untuk pembuatan ASI, yang menimbulkan peningkatan
absorbsi kalsium dan terjadinya dekalsifikasi tulang. Hal
ini memungkinkan terjadinya defisiensi kalsium relatif, yang
menimbulkan efek yang cukup berarti pada sekresi hormon
seperti hormon-hormon gonadotropin, yang dalam pelepasannya
memerlukan kerja dari protein kinase.
Jadi selain faktor internal dari ibu, faktor eksternal juga
ikut berpengaruh terhadap kelancaran pemberian ASI. Apabila
pemberian ASI sudah tidak lagi eksklusif maka kesuburan
seorang wanita akan segera kembali seperti sediakala sebelum
kehamilannya.
Menyusui adalah suatu proses alamiah yang besar artinya
bagi kesejahteraan bayi, ibu, dan keluarga. Alam telah menciptakan
bahwa dengan menyusui maka kesuburan ibu akan
menurun, dan penurunan kesuburan ini dapat menghindari
kehamilan berikut dalam interval waktu yang singkat. Dengan
demikian ibu dapat mencurahkan perhatian sepenuhnya dan
kasih sayang bagi pertumbuhan bayinya, meringankan beban
keluarga dengan menghindari faktor risiko pada kehamilan
berikutnya, dan memberi kesempatan pada ibu untuk memulihkan
kondisinya setelah kehamilan dan persalinan.
Penurunan kesuburan ini terjadi akibat hambatan laktasi
terhadap ovulasi yang disebabkan oleh antagonisme antara
hormon-hormon yang mempengaruhi laktasi dengan hormonhormon
yang menimbulkan ovulasi. Hambatan itu terletak di
sentral maupun di perifer. Efek sentral atau di otak tampaknya
merupakan hambatan yang paling berperan dalam mencegah
ovulasi yaitu dengan adanya penurunan sensitivitas hipothalamus
terhadap umpan balik positif dari estrogen, hambatan
sekresi GnRH oleh hipothalamus, dan penurunan sekresi
gonadotropin oleh dominasi hormon prolaktin. Sementara efek
di perifer atau di ovarium adalah menurunnya sensitivitas
ovarium terhadap gonadotropin. Hal ini meskipun mempunyai
peran dalam pencegahan ovulasi tetapi efeknya tidak terlalu
berpengaruh, terbukti dengan adanya pemberian gonadotropin
eksogen dapat menekan laktasi dan memulihkan kembali
kesuburan seorang wanita.
Efek kontrasepsi dari laktasi atau yang dikenal dengan
istilah Lactation Amenorrhea (LAM) sangat tergantung dari
eksklusivitas pemberian ASI. Yang dimaksud dengan pemberian
ASI secara eksklusif adalah pemberian ASI kepada bayi
sejak sedini mungkin, setiap saat bayi menginginkannya,
sebanyak yang dibutuhkan oleh bayi, baik siang maupun
malam, tanpa diselingi pemberian susu formula atau makanan
tambah-an. Pemberian ASI eksklusif dapat menjamin kesinambungan
sekresi prolaktin yang merupakan hormon antagonis
terhadap ovulasi. Pemberian ASI eksklusif pada umumnya
dapat dilakukan hingga 6 bulan postpartum, selanjutnya bayi
perlu mendapat makanan tambahan; hal ini menyebabkan
pemberian ASI menjadi tidak eksklusif yang berarti
kembalinya kesuburan seorang wanita. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa dengan LAM angka kejadian kehamilan
dalam 6 bulan pertama postpartum adalah kurang dari 2% atau
setara dengan penggunaan metode kontrasepsi efektif terpadu.
Sedangkan apabila setelah 6 bulan ibu melanjutkan dengan
metode kontrasepsi yang efektif, maka kemungkinan terjadinya
kehamilan dalam 1 tahun postpartum adalah 7% saja.
Dengan demikian LAM merupakan salah satu metode
kontrasepsi yang diakui, bahkan WHO di tahun 1998
mengeluarkan pegangan bagi penggunaan LAM sebagai salah
satu metode kontrasepsi bagi negara-negara di mana menyusui
dalam jangka waktu yang panjang merupakan hal yang lazim,
melalui Maternal and Newborn Health/Safe Motherhood Unit.
Pengakuan WHO ini berdasarkan banyak penelitian pendahuluan
tentang bukti-bukti bahwa LAM memang layak
diperhitungkan sebagai salah satu metode kontrasepsi.
Konferensi di Bellagio, Italia tahun 1995 mengukuhkan
dukungan terhadap LAM dan pemberian ASI eksklusif.
Petunjuk tentang penggunaan LAM disertai pula dengan
anjuran untuk meng-gunakan metode kontrasepsi segera
setelah masa 6 bulan postpartum dilewati.
Bagi seorang dokter penting untuk memahami mekanisme
hormonal yang terjadi selama laktasi dan selama ovulasi dan
bagaimana kedua hal tersebut dapat saling menghambat.
Dengan demikian kita dapat memberi nasehat yang tepat dan
bermanfaat bagi pasien yang ingin mencegah terjadinya kehamilan
segera setelah persalinan tetapi tidak mau menggunakan
metode kontrasepsi. Dengan dasar pengetahuan tentang LAM
pula kita dapat menganjurkan pada ibu kapan sebaiknya ibu
mulai menggunakan metode kontrasepsi yang efektif.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 18 Juni 2011

Exercises untuk Nyeri Pinggang Bawah pada Ibu Hamil


Tulang belakang merupakan bagian sentral tubuh manusia
yang mempunyai hubungan dengan struktur jaringan lainnya
seperti jaringan pengikat sendi dan otot. Fungsi tulang
belakang di samping sebagai penyangga juga memberikan
perlindungan dan merupakan sendi gerak yang memungkinkan
tulang belakang bergerak.
Pada kehamilan timbul rasa nyeri di pinggang bawah
akibat pengaruh hormon yang menimbulkan gangguan pada
substansi dasar bagian penyangga dan jaringan penghubung
sehingga mengakibatkan menurunnya elastisitas dan
fleksibilitas otot; selain itu juga disebabkan oleh faktor
mekanika yang mempengaruhi kelengkungan tulang belakang
oleh perubahan sikap statis dan penambahan beban pada saat
ibu hamil.
Di antara 180 Ibu hamil yang diteliti, 87 (± 48%) orang
mempunyai keluhan nyeri pinggang bawah; 36 orang di
antaranya mempunyai keluhan yang bersifat refered pain pada
satu tungkai dan 18 orang lainnya mengenai pada kedua
tungkai yang dikenal dengan ischias dalam kehamilan. Untuk
menyelesaikan masalah tersebut, salah satu cara adalah dengan
melakukan beberapa teknik latihan.
Dilihat dari strukturnya, fungsi tulang belakang meliputi
fungsi statis, kinetis, keseimbangan dan perlindungan. Fungsi
statis tulang belakang adalah mempertahankan posisi tegak
melawan gravitasi dengan energi sekecil mungkin melalui
suatu mekanisme sehingga tampak sikap tubuh tertentu. Dalam
fungsi pergerakkan tulang belakang merupakan rangkaian dari
alat gerak yang memungkinkan terjadinya gerak terarah dan
bertujuan. Fungsi keseimbangan aktif dalam mempertahankan
titik berat tubuh pada posisi tetap, yaitu setinggi tulang sakrum
saat berdiri, terutama oleh proprioSeptor jaringan lunak
sendi facet yang memberikan arah perubahan sikap dan otot
tubuh. Sebagai fungsi perlindungan, melindungi organ dan
jaringan penting seperti kepala, sumsum tulang belakang, akar
syaraf, ganglion dan pembuluh darah. Otot-otot yang sangat
berpengaruh langsung maupun tidak langsung pada keluhan
nyeri pinggang bawah sangatlah kompleks.
Pada kehamilan, akan terjadi perubahan pelvis menjadi
sedikit berputar ke depan karena pengaruh hormonal dan laxity
ligament. Pada keadaan hiperekstensi tulang belakang, terjadi
pergesekan antara kedua facet dan menjadikan tumpuan berat
badan, sehingga permukaan sendi tertekan; keadaan ini akan
menimbulkan rasa nyeri, kadang-kadang dapat mengiritasi
saraf ischiadicus; dan apabila terjadi penyempitan pada
bantalan tulang belakang, nyeri akan bertambah hebat.
Keadaan ini akan menimbulkan ketidakseimbangan kekuatan
antara otot perut dan otot punggung.
Sendi yang membentuk tulang belakang dan panggul
sebagian merupakan sendi sindesmosis. Sendi sakroiliak
berbentuk huruf L, permukaan sendinya tidak simetris, tidak
rata dan posisinya hampir dalam bidang sagital serta
permukaan tulang sakrum lebih cekung. Gerakan yang terjadi
adalah rotasi dalam jarak gerak terbatas, yang dikenal dengan
nama Nutasi dan Konter Nutasi. Pelvis menerima beban dari
tulang belakang dengan distribusi gaya merupakan ring
tertutup. Pada kehamilan gerak sendi ini dapat meningkat
karena pengaruh hormonal. Panggul dan sakrum yang bergerak
ke depan menyebabkan posisi sendi sakroiliaka juga berubah,
dikombinasi dengan adanya laxity akan menyebabkan keluhankeluhan
pada sendi yang lain.
Dari penjelasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa faktor penyebab yang paling dominan menyebabkan
Nyeri Pinggang Bawah saat kehamilan adalah oleh adanya
ketidakseimbangan kerja otot bagian belakang dan bagian
depan.
Dengan bertambahnya usia kehamilan maka jelas bahwa
pertambahan sudut lengkungan tulang belakang juga semakin
meningkat yang dikenal dengan nama Sway Back; terjadi gerak
pelvis ke depan sehingga menyebabkan jaringan pengikat sendi
menegang dan bilamana posisi yang salah tersebut berlangsung
lama akan menimbulkan ketegangan pada jaringan ikat sendi
dan otot, sehingga menimbulkan kelelahan pada otot-otot perut.

CARA MENGATASI NYERI PINGGANG BAWAH
SAAT KEHAMILAN
Untuk mengatasi nyeri pinggang bawah yang timbul pada
ibu hamil, perlu dilakukan beberapa teknik latihan, sebagai berikut:
1) Persiapan latihan.
− Pakaian pasien sebaiknya menggunakan pakaian latihan.
− Posisi pasien diatur sedemikian rupa dengan rileks.
2) Sebelum melakukan latihan perlu dilakukan gerakangerakan
kecil pemanasan pada pinggang dan tungkai
secara pelan dan lembut.
3) Pelaksanaan.
Latihan ini dilakukan 5 sampai dengan 7 detik dan diulang
10 kali setiap session latihan. Namun harus juga diperhatikan
kemampuan dan daya tahan pasien, apabila pasien merasa lelah
maka harus diistirahatkan.
4) Tujuan latihan ini adalah:
a) Untuk mengurangi rasa nyeri pada pinggang bawah.
b) Merileksasikan otot-otot belakang pinggang.
c) Memelihara jarak gerak sendi pelvic dan lumbosacral.
d) Memperkuat otot-otot perut dan dasar panggul dalam
membantu proses pendorongan bayi ke luar.

Latihan 1.
Duduklah bersila pada lantai, punggung dilemaskan.
Lakukanlah sikap duduk seperti ini sebanyak mungkin. Posisi
ini akan membantu memperkuat otot-otot paha. Bila merasa
lelah setelah duduk seperti ini, rentangkan kedua tungkai
sebentar, lalu goyang-goyangkan dan kembali ke sikap bersila itu.

Latihan 2.
Duduklah di lantai dan rapatkan kedua telapak kaki anda
satu sama lain, kemudian tariklah kaki/tumit sedekat mungkin
dengan badan anda. Letakkan tangan pada masing-masing paha
dan lakukanlah penekanan secara perlahan-lahan. Akan terasa
otot-otot di sebelah dalam paha tertarik.

Latihan 3.
Berbaring terlentang, kedua lengan berada di sisi tubuh.
Lakukan pernapasan bersih dalam-dalam. Kini angkatlah
tungkai kanan perlahan-lahan, rapatkanlah jari-jari kaki anda,
dan bernapas perlahan-lahan lewat hidung. Perhatikan agar
kedua sendi lutut tetap lurus, lalu bengkokkan kaki, turunkan
tungkai perlahan-lahan dan bersamaan gerakan ini hembuskan
napas lewat mulut dan bibir. Ulangi latihan ini pada tungkai
yang kiri. Perhatikan agar gerak pernapasan selaras dengan
gerakan mengangkat dan menurunkan tungkai; rapatkan jarijari
kaki pada saat tungkai diangkat dan bengkokkan kaki
kepada saat diturunkan, jagalah agar kedua tungkai selalu dalam sikap lurus.

Latihan 4.
Berbaring terlentang, rentangkan kedua lengan tegak lurus
terhadap badan. Lakukanlah pernapasan bersih dalam-dalam.
Kemudian angkat tungkai kanan, rapatkan jari-jari kaki dan
tarik napas lewat hidung. Lanjutkan prosedur ini dengan
membengkokan kaki anda, dan turunkan tungkai ke sebelah
kanan sementara menghembuskan napas keluar lewat mulut.
Rentangkan tungkai sedapat mungkin mendekati lengan yang
terentang. Kemudian rapatkan jari-jari kaki, tarik napas lewat
hidung dan angkatlah tungkai, bengkokkan kaki dan turunkan
tungkai ke lantai sementara menghembuskan napas keluar
lewat mulut. Ulangi proses ini pada tungkai kiri. Perhatikan
agar bagian panggul yang berlawanan dengan tungkai yang
digerakkan tetap datar dan menempel pada lantai.

Latihan 5.
Berbaring terlentang dan tekuk kedua lutut sehingga
telapak kaki melekat rapat pada lantai. Rapatkan punggung
termasuk kedua belah bahu pada lantai. Bersamaan dengan itu,
tariklah otot-otot perut sebelah bawah dan biarkan pantat anda
sedikit terangkat dari lantai, kemudian lepaskan. Latihan ini
harus dilakukan dengan pernapsan yang teratur, mulailah
menarik napas, lalu hembuskan keluar perlahan-lahan lewat
mulut; sementara menghembuskan napas rapatkanlah
punggung pada lantai, tegangkan otot-otot perut; tarik napas
ketika melemaskan punggung dan perut.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Kamis, 16 Juni 2011

ERITROPOETIN



Eritrosit berfungsi mengangkut oksigen ke jaringan hingga produksi eritrosit sedikit banyak ditentukan juga oleh kadar oksigenisasi jaringan. Eritropoetin, suatu hormon yang secara langsung mempengaruhi aktifitas sumsum tulang sangat peka terhadap perubahan kadae oksigen dalam jaringan. Bagaimana mekanismenya sehingga perubahan oksigenisasi jaringan menyebabkan perubahan kadar eritropoetin, tidak diketahui dengan pasti.Walaupun eritropoetin tidak dibentuk dan disimpan di ginjal, fungsi ginjal dan oksigenisasi jaringan ginjal menentukan kadar eritropoetin.
Ternyata hipoksia jaringan menyebabkan ginjal mensekresi suatu enzim, yaitu factor eritropoetik yang bereaksi dengan protein yang ada dalam sirkulasi dan membentuk eritropoetin yang aktif.

Segala sesuatu yang menurunkan oksigenisasi ginjal mengakibatkan peningkatan kadar eritropoetin, apabila fungsi ginjal itu adekuat. Kadar hemoglobin yang rendah, gangguan pelepasan oksigen oleh hemoglobin, gangguan pertukaran oksigen pada pernafasan, dan hambatan aliran darah merupakan hal yang sering menyebabkan hipoksia jaringan. Kadar eritropoetin biasa tinggi pada anemia, hemoglobinopati, penyakit paru dan pada gangguan sirkulasi yang hebat. Bila sumsum tulang mampu mengadakan respon terhadap keadaan itu maka produksi eritrosit akan meningkat. Pada sebagaian anemia dan hemoglobinopati, sifat penyakit ini mencegah respon eritropoetik yang tepat, penyakit paru atau vascular yang berat sering menunjukan hyperplasia eritrosit.

Eritropoetin mempercepat produksi eritrosit pada hampir semua stadiaterutama pada saat dimana sel induk membelah diri dan berdiferensasi untuk membentuk eritoisit. Selain mempercepat pembelahan sel eritropoetin juga memudahkaninkorporasi besi, mempercepat matur sel dan memperpendek waktu yang dibutuhkan sel untuk masuk ke sirkulasi. Peningkatan jumlah retikulosit atau eritrosit berinti merupakan indikasi bahwa sumsum tulang bereaksi terhadap hipoksia.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 15 Juni 2011

DAMPAK CACINGAN PADA MASYARAKAT


Prevalensi dan Intensitas Infeksi


Penyakit Cacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Angka infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi (jumlah cacing dalam perut) berbeda. Hasil survei Cacingan di Sekolah Dasar di beberapa propinsi pada tahun 1986-1991 menunjukkan prevalensi sekitar 60% - 80%, sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40% - 60%. Hasil Survei Subdit Diare pada tahun 2002 dan 2003 pada 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi berkisar antara 2,2% - 96,3%.


Kerugian akibat Cacingan

Cacingan mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif), penyerapan (absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara kumulatif, infeksi cacing atau Cacingan dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja, dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya. Kerugian kalori/protein dan darah tersebut bila dihitung dengan jumlah penduduk 220.000.000 dapat diperkirakan sebagai berikut.


kerugian karena Cacing Gelang

Di Indonesia dengan jumlah penduduk 220.000.000, prevalensi cacingan 60 % dan jumlah rata-rata cacing per orang 6 ekor cacing maka kerugian karbohidrat karena

cacing gelang sehari diperkirakan dengan rumus: (Jumlah Penduduk x Prevalensi x Rata-rata jumlah cacing/orang x Kehilangan karbohidrat oleh 1 ekor cacing/hari).

(220.000.000 x 60% x 6 x 0,14 gram) : 1. 000 = 110.880 kg karbohidrat per hari

Karena 0,8 gram karbohidrat setara dengan 1 gram beras, maka kerugian beras setara dengan 138.660 kg beras per hari. Bila dihitung dalam rupiah dengan harga beras Rp. 3.000/kg, maka kerugian uang yang diperkirakan adalah :

138.660 kg beras x 365 hr x Rp.3.000,- = Rp. 151.767.000.000,- per tahun

Jika seekor cacing menghabiskan 0.035 gram protein sehari, maka perkiraan protein yang hilang untuk seluruh penduduk:

( 220.000.000 x 60% x 6 x 0,035 gram ) : 1.000 = 27.720 kg protein per hari )

Karena 1 gram daging sapi mengandung 0,19 gram protein, maka kerugian daging sapi adalah 145.895 kg per hari. Bila dihitung dengan rupiah, dimana harga daging sapi 30.000/ kg, maka kerugian uang yang diperkirakan :

145.895 kg x 365 hr x Rp.30.000 = Rp. 1.597.550.250.000,- per tahun

Jumlah anak usia sekolah tingkat dasar diperkirakan 21 % dari jumlah penduduk, dengan demikian kerugian yang diakibatkan oleh Cacingan pada anak usia tersebut adalah sebagai berikut:

Karbohidrat = 21% x Rp. 151.767.000.000,- = Rp. 31.871.070.000,-
Protein = 21% x Rp 1.597.550.250.000, = Rp. 335.485.552.500,-


Kerugian Karena Cacing Tambang

Perkiraan jumlah kehilangan darah yang disebabkan oleh cacing tambang perhari adalah :

220.000.000 x 10% x 0,2cc x 50 ekor = 220.000.000 cc darah = 220.000 liter darah per hari


Untuk satu tahun penderita Cacingan akan kehilangan darah sebanyak :

220.000 liter x 365 hr = 80.300.000 liter darah per tahun

Jumlah anak usia sekolah tingkat dasar diperkirakan 21% dari jumlah penduduk, dengan demikian kerugian yang diakibatkan oleh Cacingan pada anak usia tersebut adalah :

21% x 80.300.000 ltr = 16.863.000 liter darah per tahun


Kerugian Karena Cacing Cambuk

Perkiraan jumlah kehilangan darah disebabkan cacing cambuk sehari sebanyak:

220.000.000 x 40 % x 0,005 cc x100 = 44.000.000 cc darah = 44.000 liter darah per hari

Kehilangan darah selama setahun :

44.000 liter x 365 hari = 16.060.000 liter darah per tahun

Jumlah anak usia sekolah tingkat dasar diperkirakan 21 % dari jumlah penduduk, dengan demikian kerugian yang diakibatkan oleh Cacingan pada anak usia tersebut adalah:

21% x 16.060.000 ltr = 3.372.600 liter darah per tahun

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Selasa, 14 Juni 2011

Endoskopi dengan Teknologi Pewarnaan

Peralatan endoskopi kini makin canggih. Untuk memudahkan para ahli mendeteksi keluhan pasien, seperti ada tumor, kini metode endoskopi memakai teknologi pewarnaan, sehingga penyakitnya terlihat jelas. Apakah Anda pernah mendengar pemeriksaan endoskopi? Atau bahkan Anda pernah melakukan hal seperti itu?

Endoskopi adalah suatu prosedur di bidang ilmu kedokteran untuk mengamati organ dalam tubuh manusia hidup. Prosedur ini sudah dimulai sejak awal abad-19. Kendati demikian, tampaknya cara tersebut masih belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Selama ini endoskopi identik untuk diagnosis penyakit maag kronis. Sehingga nama ini sudah populer di kalangan masyarakat awam, terutama yang menderita penyakit maag.

Namun sebenarnya tidak demikian, karena endoskopi juga bisa dilakukan untuk mendeteksi penyakit paru-paru, dan bahkan laparaskopi pun termasuk dalam endoskopi.

Endoskopi sebenarnya sudah masuk ke Indonesia pada 1958, dengan kepeloporan Pang dalam penggunaan laparoskop untuk disertasinya. Kini, kondisinya jelas jauh berbeda dengan satu abad lalu.

Peralatan yang dipakai untuk melakukan prosedur tersebut sudah mengalami perubahan yang sangat pesat. Sehingga peran endoskopi sebagai sarana diagnosis penyakit maupun pengobatan juga ikut berkembang.

Endoskopi telah dipergunakan oleh beberapa tenaga spesialis di berbagai bidang ilmu kedokteran, seperti spesialis penyakit dalam, spesialis penyakit paru, bedah, THT dan lainnya.

Sekarang dokter ahli penyakit dalam sedang mengembangkan endoskopi dengan teknologi pewarnaan. Sesuai dengan perkembangan peralatan yang makin baik dan teknologi elektris yang makin maju.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan