Kanker servik jadi pembunuh wanita

Tahukah Anda, bahwa dalan setiap jam wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks atau lebih dikenal dengan kanker mulut rahim. Bahkan dalam setiap menit wanita di seluruh dunia meninggal karna kanker yang mematikan ini.

Beda Hormon LH dan FSH

FSH dan LH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior, sebuah kelenjar kecil yang hadir di bagian bawah otak. FSH pada dasarnya menyebabkan pematangan sel telur di dalam folikel dalam tubuh wanita.

Manfaat Bawang Putih

Khasiat atau manfaat bawang putih ternyata tidak hanya untuk menyedapkan atau sebagai bumbu masakan saja, namun ternyata banyak hal lain yg dapat di manfaatkan dari bawang puth tersebut terutamanya untuk dunia kesehatan.

Toko Kayumanis

Selamat datang di Toko Kayumanis version Online Shop Kami menjual T-shirt, kaos oblong dan jaket T-shirt, kaos oblong dan jaket yang kami jual menggunakan bahan yang berkualitas tinggi, kelebihan dari T-shirt, kaos oblong dan jaket di Toko kami dapat anda tentukan sendiri desainnya, pola ataupun grafisnya sesusai keinginan anda sehingga dapat dipastikan tidak ada T-shirt, kaos oblong dan jaket dari Toko kami yang mempunyai motif yang sama.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 08 Oktober 2011

GAMBARAN INTENSITAS INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTES PADA SISWA KELAS 1 – 5 Sekolah Negeri XX

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumber daya manusia yang memiliki produktifitas tinggi adalah impian dari pembangunan nasional. Pembangunan nasional mempunyai tujuan untuk mewujudkan manusia yang sehat dan mempunyai daya saing yang tinggi. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah yang mempunyai derajat kesehatan yang tinggi.

Di Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan. Salah satunya adalah penyakit kecacingan. Kecacingan dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja juga dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya.

Penyakit cacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Angka infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi ( jumlah cacing dalam perut) berbeda. Hasil survei cacingan di sekolah dasar dibeberapa propinsi pada tahun 1986-1991 menunjukan prevalensi sekitar 60% - 80% sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40 %- 60 %. Hasil survey subdit diare pada tahun 2002 dan 2003 pada 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi berkisar antara 2,2% - 96,3%. (KEPMENKES 2006)

Tingginya angka prevalensi ini disebabkan oleh buruknya sanitasi lingkungan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan kebiasaaan manusia yang mencemari lingkungan dengan buang air besar di sembarang tempat, serta iklim yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan cacing soil transmitted helmintes.

Soil transmitted helmintes seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang merupakan cacing yang dapat menyebabkan gangguan pemasukan (intake), pencernaan (disgensif), dan penyerapan (absorsi) pada manusia, yang ditularkan melalui tanah yang mengandung telur infektif dan larva infektif.

Hasil penelitian yang telah dilakukan kepada siswa-siswi kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Kecamatan Natar, Lampung Selatan menunjukkan bahwa terjadi infeksi kecacingan dengan persentase sebesar 36,96% disebabkan oleh Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang. (Bramuli, 2010).

Desa Natar adalah sebuah desa yang berada di tengah-tengah kecamatan Natar. Di desa Natar terdapat sebuah Sekolah Dasar yaitu SDN 03 Natar yang terletak di dusun Margataqwa. Hasil survei yang telah dilakukan dapat dinyatakan bahwa Siswa SDN 03 Natar memiliki kebiasaan buruk dalam melakukan aktifitasnya di sekolah diantaranya berolahraga tanpa menggunakan alas kaki, tidak memotong kuku secara teratur, tidak mencuci tangan sebelum makan serta kurang terawatnya fasilitas toilet sekolah yang digunakan oleh siswa menjadi faktor pendukung terjadinya kecacingan.

Pemeriksaan penyakit kecacingan sangat penting dalam upaya pemberantasan penyakit kecacingan. Pemeriksaan penyakit cacingan dapat dilakukan dengan berbagai metode dengan metode langsung seperti dengan menggunakan lugol, eosin atau NaCl dan metode tak langsung dengan cara pengapungan, akan tetapi pemeriksaan ini belum dapat menentukan kepadatan infeksi atau berat ringannya penyakit yang disebabakan oleh cacing tersebut, karena kedua metode tersebut hanya melakukan pemeriksaan secara kualitatif saja.

Pemeriksaan untuk mengetahui intensitas infeksi cacing dengan mengetahui jumlah telur per gram tinja ( EPG = Eggs Per Gram) adalah pemeriksaan metode kato katz. Pemeriksaan ini tidak hanya melihat dari hasil positif atau negatif, tetapi juga dapat memberi tingkat klasifikasi intensitas infeksi menurut jenis cacing yang menginfeksi.

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis ingin menyusun karya tulis ilmiah dengan judul ”GAMBARAN INTENSITAS INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTES PADA SISWA KELAS 1 – 5 SDN 03 NATAR KECAMATAN NATAR LAMPUNG SELATAN”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apakah ditemukan telur soil transmitted helmintes pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan?

2. Berapakah jumlah telur soil transmitted helmintes yang ditemukan pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan?

3. Bagaimanakah klasifikasi intensitas infeksi menurut jenis telur cacing yang menginfeksi siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan?

4. Berapakah persentase klasifikasi intensitas infeksi menurut jenis telur cacing yang menginfeksi siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan?

1.3 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada gambaran intensitas infeksi soil transmitted helmintes (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang) dengan menggunakan metode kato katz pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Dusun Margataqwa Desa Natar Kecamatan Natar Lampung Selatan

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan umum

Mengetahui gambaran intensitas infeksi soil transmitted helmintes (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang) dengan menggunakan metode kato katz pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Dusun Margataqwa Desa Natar Kecamatan Natar Lampung Selatan.

1.4.2 Tujuan khusus

1. Mengetahui adanya telur soil transmitted helmintes pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan

2. Mengetahui jumlah telur soil transmitted helmintes yang ditemukan pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan

3. Mengetahui klasifikasi intensitas infeksi menurut jenis telur soil transmitted helmintes yang menginfeksi siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan.

4. Mengetahui persentase klasifikasi intensitas infeksi menurut jenis telur cacing yang menginfeksi siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan.

1.5 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :

1.Memberikan informasi kepada masyarakat desa Natar pada umumnya dan khususnya siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar tentang tingkat infeksi kecacingan

2.Memberikan informasi kepada dinas kesehatan setempat tentang intensitas kecacingan agar dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk mengurangi penyebaran penyakit kecacingan.

3.Sebagai penambah wawasan dan penerapan ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam bidang analis kesehatan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Infeksi Kecacingan

Penyakit cacingan merupakan penyakit masyarakat luas. Hampir sebagian masyarakat kita pernah cacingan. Penyakit ini bukan hanya menyerang masyarakat yang kurang mampu dan bukan pula hanya terdapat di daerah pedesaan namun masyarakat perkotaan juga dapat terserang kecacingan.

Penyakit kecacingan disebabkan oleh banyak jenis cacing dan habitat hidupnya pun di dalam tubuh manusia berbeda antara satu jenis cacing dengan cacing lainnya. Cara penularannya juga berbagai macam ada yang melalui tanah, melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh telur cacing dan ada yang ditularkan melalui air.

Kecacingan tidak memiliki gejala klinis yang khas, sehingga sulit untuk melakukan pemberantasan penyakit ini karena penderita tidak sadar bahwa dirinya sedang mengidap cacingan. Penderita cacingan banyak mengalami kerugian akibat infeksi cacing seperti kehilangan gizi makanan, kehilangan darah dan gangguan sistem pencernaan. (Nadesul,1997)

2.1.1 Nematoda

Nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang, silindrik, tidak bersegmen dan tubuhnya bilateral simetrik. Tubuhnya sudah mempunyai saluran pencernaan. Panjang tubuh cacing ini bervariasi dari 2 millimeter hingga 1 meter. (Onggowaluyo, 2002). Nematoda memiliki jumlah spesies yang besar saat ini telah dikenal lebih dari 8.000 jenis cacing yang hidup sebagai parasit.

(Irianto, 2009)

Nematoda pada manusia digolongkan menjadi dua yaitu Nematoda intestinal/usus (soil transmitted helmintes) dan Nematoda jaringan/darah. Nematoda dapat ditularkan ke manusia dengan cara memakan telur infektif, larva menembus kulit, dan memakan larva kista dengan perantara hewan vektor (Arthropoda). (Onggowaluyo, 2002).

2.1.2 Soil Transmitted Helminted

Soil transmitted helmintes adalah cacing yang berhabitat di saluran pencernaan manusia dan hewan. Manusia merupakan hospes beberapa soil transmitted helmintes. Sebagian besar dari cacing ini adalah penyebab masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Soil transmitted helmintes ditularkan melalui tanah dan spesies yang sering ditemukan di tinja manusia adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichura, dan cacing tambang. (Margono, 2006).

2.1.3 Ascaris lumbricoides

Hospes satu-satunya Ascaris lumbricoides adalah manusia (KEMENKES, 2006). Prevalensi infeksi Ascaris lumbricoides pada masyarakat di Indonesia berkisar antara 20%-90%. Di Indonesia Ascaris lumbricoides dikenal sebagai cacing gelang. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini disebut ascariasis.

2.1.3.1 Klasifikasi Ascaris lumbricoides

Ascaris lumbricoides termasuk dalam :

Kingdom : Animalia

Filum : Nemathelminthes

Kelas : Nematoda

Sub-Kelas : Phasmida

Ordo : Rhabdidata

Sub-Ordo : Ascaridata

Familia : Ascaridoidae

Genus : Ascaris

Spesies : Ascaris lumbricoides

(Irianto,2009).

2.1.3.2 Morfologi

Cacing dewasa mempunyai ukuran paling besar di antara Jenis soil transmitted helmintes yang lain. Bentuknya silindris, dan ujung anterior lancip. Bagian anterior dilengkapi dengan tiga bibir (triplet) yang tumbuh dengan sempurna. Cacing betina panjangnya 20 - 35 cm, sedangkan cacing jantan panjangnya 15 - 31 cm. Pada cacing jantan ujung posteriornya lancip dan melengkung ke arah ventral, sedangkan pada cacing betina bagian posteriornya membulat dan lurus, dan 1/3 pada anterior tubuhnya terdapat cincin kopulasi, tubuhnya berwarna putih sampai kuning kecoklatan dan diselubungi oleh lapisan kutikula yang bergaris halus. (Onggowaluyo, 2002).


Gambar 1. Cacing Ascaris lumbricoides (perbesaran makroskopik)

A. Jantan,

B. Betina

( Prianto, 2002 )

Telur yang telah dibuahi berukuran panjang antara 60 - 75 mikron, sedangkan lebarnya berkisar antara 40 - 50 mikron, bulat oval dengan dinding telur terdiri tiga lapis yaitu : lapisan luar albuminoid, lapisan tengah hyalin, serta lapisan dalam selubung vitelin. Telur decortikasi adalah telur yang dibuahi berukuran 90x40 mikron dan berdinding tipis, berwarna coklat dengan lapisan albuminoid yang tidah teratur, pada telur yang tidak dibuahi tidak dijumpai rongga udara, dan telur yang berisi embrio. (Onggowaluyo, 2002).

B

A


Gambar 2. Telur Ascaris lumbricoides

A. Dibuahi (perbesaran 10x20)

B. Tidak Dibuahi (perbesaran 10x40)

( Prianto, 2002 )

2.1.3.3 Siklus Hidup

Pada waktu telur yang dibuahi yang dikeluarkan bersama tinja penderita. Dalam lingkungan yang sesuai, telur akan berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila telur tertelan oleh manusia, maka akan menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau limfe, lalu di alirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru, menembus dinding pembuluh darah ke dinding alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Larva ini menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan ini dan larva tertelan ke dalam esophagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih 2 bulan. (Margono, 2006)

Gambar 3. siklus hidup Ascaris lumbicoides

( Margono, 2006 )

2.1.3.4 Patogenesis dan Gejala Klinik

Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva, gangguan pada larva biasanya terjadi pada saat berada di paru - paru. Pada orang yang rentan, akan terjadi pendarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang di sertai batuk. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan seperti mual, nafsu makan berkurang serta diare. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi malabsopsi sehingga memperberat keadaan mal nutrisi, efek yang sering terjadi jika cacing-cacing ini menggumpal dalam usus adalah terjadinya obstiruksi usus (ileus).

(Margono, 2006).

2.1.3.5 Diagnosis

Selama fase intestinal, diagnosis dapat dibuat dengan menentukan telur dan cacing dewasa dalam tinja. Telur cacing ini dapat ditemukan dengan mudah pada sediaan basah langsung atau sediaan basah dari sedimen yang sudah di konsentrasikan. Cacing dewasa dapat ditemukan keluar dengan sendirinya melalui mulut karena

muntah atau melalui anus bersama dengan tinja. (Onggowaluyo, 2002).

2.1.4 Trichuris trichiura

Manusia adalah Hospes cacing Trichuris trichiura. Cacing ini bersifat kosmopolit, terutama ditemukan di daerah panas dan lembab. Seperti di Indonesia, penyakit yang disebabkan oleh cacing ini adalah trikuriasis. (Margono,2006).

2.1.4.1 Klasifikasi Trichuris trichiura

Kingdom : Animalia

Filum : Namathelminthes

Kelas : Nematoda

Sub-kelas : Aphasmida

Ordo : Enoplida

Super Famili : Trichuroidea

Famili : Trichuridea

Genus : Trichuris

Spesies : Trichuris trichiura

(irianto, 2009).

2.1.4.2 Morfologi

Cacing dewasa menyerupai cambuk, 3/5 bagian anterior tubuh halus seperti benang, pada ujungnya terdapat kepala, esofagus sempit, berdinding tipis, terdiri dari satu lapis sel. Bagian anterior ini akan menancapkan dirinya pada mukosa usus. 2/5 bagian posterior lebih tebal, berisi usus dan perangkat alat kelamin. Cacing jantan panjangnya 30 - 45 mm, bagian posterior melengkung ke depan sehingga membentuk satu lingkaran penuh. Cacing betina panjangnya 30 - 50 mm, ujung posterior tubuhnya membulat tumpul. (Natadisastra, 1999).

Gambar 4. Cacing Trichuris trichiura dewasa

A.Jantan, B. Betina (perbesaran makroskopik)

( Prianto, 2002 )

Telur dari Trichuris trichiura mempunya ukuran 50 x 25 mikron, berbentuk seperti tempayan, pada kedua kutubnya terdapat overculum semacam penutup yang jernih dan menonjol. Dindingnya terdiri atas dua lapis, bagian dalam jernih, bagian luar berwarna kecoklat-coklatan. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja, dalam keadaan belum membelah, tidak infektif.

Telur tersebut perlu pematangan pada tanah dalam waktu 3 - 6 minggu sampai telur terbentuknya telur infektif yang berisi embrio.

(Natadisastra, 1999).


Gambar 5. Telur Trichuris trichiura

(perbesaran 10x40)

( Prianto, 2002 )

2.1.4.3 Siklus Hidup

Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Telur tersebut menjadi matang dalam waktu 3 - 6 minggu dalam lingkungan yang sesuai. Telur matang adalah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk yang infektif. Cara infeksi langsung jika secara kebetulan hospes menelan telur matang. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk kedalam usus halus, setelah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon terutama sekum. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai cacing dewasa betina mengeluarkan telur kira-kira 30 - 90 hari. (Tambayong, 2000).

Gambar 6. Siklus hidup Trichuris trichiura.

( Margono, 2006 )

2.1.4.4 Patogenesis dan Gejala Klinis

Pada infeksi ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Pada infeksi berat, terutama pada anak- anak cacing tersebar diseluruh kolon dan rektum. Cacing ini memasukan kepalanya ke dalam mukosa usus hingga menimbulkan trauma serta iritasi dan peradangan pada mukosa usus. Di tempat perekatannya terjadi perdarahan disamping itu juga cacing ini juga menghisap darah hospesnya sehingga menyebabkan anemia

Penderita terutama anak – anak dengan infeksi trichuris yang berat dan menahun menunjukan gejala diare yang sering diselingi anemia dan berat badan turun.

(Supali, 2008)

2.1.4.5 Diagnosis

Gejala-gejala klinik tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa Trichuris trichiura oleh karena tidak memberikan gejala yang khas sehingga mirip dengan gejala infeksi lain. Diagnosa pasti dengan menemukan telur didalam tinja.

(Supali, 2008)

2.1.5 Epidemiologi Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura

Penyebaran geografis Ascaris lumbricoides sama dengan Trichuris trichiura. Sering kali kedua cacing ini ditemukan bersama-sama dalam dalam satu hospes. Frekuensinya tinggi di Indonesia berkisar antara 30-90%. Angka infeksi tertinggi ditemukan pada anak-anak. Faktor terpenting dalam penyebaran trikuriasis dan askariasis adalah kontaminasi tanah dengan tinja yang mengandung telur. Telur berkembang biak pada tanah liat, lembab dan teduh. (Onggowaluyo,2002).

Telur Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura tidak menetas di dalam tanah dan dapat hidup beberapa tahun khususnya telur Ascaris lumbricoides. (Margono, 2006). Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar halaman rumah, di bawah pohon, di tempat mencuci, dan di tempat pembuangan sampah. Laju infeksi dapat dicegah dengan pengobatan, pembuatan MCK (mandi, cuci, kakus) yang sehat dan teratur, penyuluhan pendidikan tentang hygiene dan sanitasi pada masyarakat, dan tidak mengggunakan tinja sebagai pupuk tanaman (Onggowaluyo, 2002).

2.1.6 Klasifikasi Cacing Tambang sp

Klasifikasi cacing Ancylostoma duodenale:

Filum : Namthelminthes

Kelas : Nematoda

Sub-kelas : Phasmidia

Ordo : Strongyuda

Super Famili : Ancylostomatidae

Famili : Ancylostomatidae

Genus : Ancylostoma

Spesies : Ancylostoma duodenale

(Natadisastra,2002)

Klasifikasi cacing Necator americanus:

Filum : Namthelminthes

Kelas : Nematoda

Sub-kelas : Phasmidia

Ordo : Strongyuda

Super Famili : Ancylostomatidae

Famili : Ancylostomatidae

Genus : Necator

Spesies : Necator americanus

(Natadisastra,2002)

2.1.6.1 Morfologi Cacing Tambang

Cacing dewasa berukuran kecil, silendrik, dan berwarna putih kelabu. Jika telah menghisap darah cacing segar berwarna kemerahan. Cacing betina berukuran (9-13) x (0,35- 60) mm dan cacing jantan (5-10) x (0,3-0,45) mm. Necator americanus mempunyai ukuran tubuh yang lebih kecil dari Ancylostoma duodenale. (Irianto, 2009)

Bentuk Necator americanus seperti huruf S, sedangkan Anchilostoma duodenale seperti huruf C. Rongga mulut kedua spesies ini lebar dan terbuka. Pada Necator americanus mulut dilengkapi dengan Gigi Kitin, sedangkan Anchilostoma duodenale dilengkapi dua pasang Gigi berbentuk lancip. Kedua cacing ini, yang jantan ujung ekornya mempunyai Bursa Kopulatriks, sedangkan yang betina ujung ekornya lurus dan lancip. (Onggowaluyo, 2002).

A B


Gambar 7. Cacing tambang dewasa

A. Cacing dewasa N.. americanus

B. Cacing Dewasa A. duodenale,

(perbesaran makroskopik)

( Prianto, 2002 )

2.1.6.2 Morfologi Telur Cacing

Telur cacing tambang mempunyai ukuran 60 x 40 mikron berbentuk oval dan tidak berwarna. Dinding luar dibatasi oleh lapisan vitelin yang halus. Terdapat ruang diantara ovum dan dinding telur yang jelas dan bening. Telur yang baru keluar bersama tinja mempunyai memiliki ovum yang mengalami segmentasi 2, 4, dan 8 sel. Telur yang keluar bersama tinja pada tanah yang cukup baik dengan suhu 23º sampai 33º C dalam waktu 24 sampai 48 jam. Setelah menetas akan keluar larva rabditiform yang berukuran (250 – 300) x 17 mikron, pada hari ke lima larva tersebut akan berubah menjadi larva filariform. (Natadisastra,1999).

Gambar 8. Telur cacing tambang

(perbesaran 10x40)

( Prianto, 2002 )

2.1.6.3 Siklus Hidup

Siklus hidup cacing tambang dimulai dengan telur cacing yang keluar bersama tinja, di dalam tanah akan menetas dalam waktu 1 - 2 hari menjadi larva rhabditiform yang tidak infektif, setelah mengalami dua kali pergantian kulit maka terbentuk larva filaform yang infektsius. Larva filariform dapat menembus kulit melalui folikel rambut, pori – pori atau kulit yang rusak. Larva yang masuk kemudian menuju ke pembulu darah vena menuju ke jantung, kemudian ke paru – paru. Larva yang berada di paru – paru akan melewati bronkus dan trakea larva tertelan masuk ke duodenum dan ileum bagian atas dalam waktu satu minggu. Setelah berganti kulit sebanyak 4 kali dalam jangka waktu 13 hari larva akan menjadi cacing dewasa. (Irianto, 2009).

Gambar 9. Siklus hidup cacing tambang

( Margono, 2006 )

2.1.6.4 Patologi Klinik

Patologi klinik cacing tambang dapat disebabkan oleh larva maupun cacing dewasanya. Larva yang masuk kedalam kulit akan menimbulkan gatal-gatal, infeksi cacing tambang dewasa akan mengakibatkan kehilangan darah, gangguan gizi, dan nekrosis jaringan usus. Seekor cacing dewasa Necator americanus sebanyak 0,1 cc per hari. Sedangkan Ancylostoma duodenale dapat menyebabkan kehilangan darah 0,34 cc per hari. Penderita yang biasanya menjadi anemia akan mengakibatkan daya tahan tubuhnya menurun. Penyakit infeksi cacing yang akut yang disertai dengan jumlah cacing yang banyak, penderita akan mengalami lemah badan, sakit perut, pucat, lesu dan terkadang disertai dengan diare yang berwarna merah sampai hitam (tergantung dengan jumlah darah yang keluar). Apabila jumlah cacing dewasa yang menginfeksi banyak maka dapat menimbulkan gejala hebat dan dapat menyebabkan kematian.

(Onggowaluyo, 2002).

2.1.6.5 Epidemiologi

Insiden tinggi ditemukan pada penduduk di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, khususnya di daerah perkebunan. Seringkali golongan pekerja perkebunan yang langsung berhubungan dengan tanah mendapat infeksi lebih dari 70%. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur dengan suhu optimum untuk N. Americanus 28oC-32oC, sedangkan untuk A. duodenale lebih rendah (23oC-25oC). Di daerah yang sangat endemik dapat dicegah dengan cara membuangan tinja dengan benar, pendidikan sanitasi dan kebersihan perseorangan perutama pada anak-anak dengan mencuci tangan sebelum makan, mencuci sayuran baik yang yang dimakan mentah atau setengah matang dan mengunakan alas kaki adalah baik untuk menghindari infeksi cacingan

(Supali, 2008).

2.1.7 Intensitas Infeksi Kecacingan

Intensitas infeksi kecacingan adalah jumlah cacing di dalam perut seseorang yang telah terinfeksi kecacingant. Intensias infeksi kecacingan dapat di klasifikasikan dalam beberapa tingkatan, yaitu klasifikasi ringan, sedang dan berat.

Setiap tingkat klasifikasi memiliki batasan yang berbeda pada setiap jenis cacing. Ascaris lumbricoides (cacing gelang) akan diklasifikasikan ringan jika jumlah telurnya 1 - 4.999 butir, diklasifikasikan sedang jika jumlah telurnya

5.000 – 49.999 butir, dan diklasifikasikan berat jika ditemukan telur lebih dari 50.000. Trichiuris trichura (cacing cambuk) akan diklasifikasikan ringan telur cacing yang ditemukan 1 – 999 butir, diklasifikasikan sedang jika jumlah telurnya 1.000 – 9.999 butir dan klasifikasi berat jika jumlah telur yang ditemukan lebih dari 10.000 butir. Cacing tambang akan dikatakan infeksi ringan telur yang ditemukan 1 – 1.999 butir, klasifikasi sedang jika jumlah telurnya 2.000 – 3.999 butir dan klasifikasi infeksi berat untuk cacing tambang bila ditemukan telur lebih dari 4000 butir telur. (KEPMENKES, 2006).

Pentingnya mengetahui intensitas infeksi kecacingan pada setiap penderita cacingan karena dapat mengetahui tingkat infeksinya. Tingkat infeksi kecacingan dapat menggambarkan bagaimana keadaan seorang penderita yang telah terinfeksi. Infeksi kecacingan pada umumnya akan mengakibatkan gangguan kesehatan mulai dari gangguan sistem pecernaan sampai anemia, sehingga makin banyak cacing yang terdapat dalam perut tentu akan mengakibatkan gejala semakin berat.

Klasifikasi intensitas kecacingan juga dapat menggambarkan distribusi epidemiologi infeksi kecacingan yang terjadi di daerah tersebut. Semakin banyak penduduk yang terinfeksi dan tingginya klasifikasi intensitas kecacingan maka akan menyebabkan meningkatnya distribusi epidemiologi.

Pemeriksaan untuk mengetahui intensitas kecacingan menggunakan metode kato katz. Metode ini dapat digunakan untuk pemeriksaan telur cacing secara langsung dengan tahap kualitatif dan kuantitatif, sehingga dapat mengetahui jumlah telur cacing soil transmitted helmintes yang ada di dalam perut penderita kemudian diklasifikasikan intensitas telurnya.

2.1.8 Metode Pemeriksaan Kato Katz

Pemeriksaan metode kato katz adalah suatu pemeriksaan sediaan tinja ditutup dan diratakan di bawah ”cellophane tape” yang telah direndam dalam larutan malactite green. Metode kato katz adalah salah satu metode pemeriksaan kecacingan secara kuantitatif.

Dari hasil perhitungan secara kuantitatif telur cacing dapat ditentukan klasifikasi intensitas infeksi ( ringan, sedang, atau berat) menurut jenis cacing yang menginfeksi dalam satuan EPG ( Eggs Per Gram), sehingga dapat menggambarkan keadaan infeksi kecacingan bahwa daerah tersebut. Pemeriksaan kuantitatif kecacingan menggunakan metode Kato Katz, lapangan pandang yang dihasilkan berwarna hijau malachite sehingga pemeriksaan ini lebih efisien untuk pemeriksaan dengan jumlah sampel yang banyak dan mempermudah dalam perhitungan telur cacing. Dalam pemeriksaan ini akan melihat lapangan pandang dengan kepekatan warna yang lebih rendah sehingga mudah untuk dilihat, dan tidak membuat mata cepat lelah.

2.2 Kerangka Teori

Soil transmitted helmintes seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang merupakan cacing yang dapat menyebabkan gangguan pemasukan (intake), pencernaan (disgensif), dan penyerapan (absorsi) pada manusia, yang ditularkan melalui tanah yang mengandung telur infektif dan larva infektif.

Telur cacing membutuhkan media tanah sebagai tempat perubahan dari telur yang dibuahi menjadi telur yang infektif. Pada cacing Ascaris lumbricoides membutuhkan waktu perubahan dari telur yang telah dibuahi menjadi infektif selama 3 minggu, cacing Trichuris trichiura membutuhkan waktu selama 3 sampai 6 minggu, sedangkan cacing tambang membutuhkan 1 – 1,5 hari untuk menetas menjadi larva rabditiform dan dalam waktu 3 hari larva rabditiform berubah menjadi larva filariform dan siap untuk meninfeksi manusia. Tanah yang lembab dengan suhu optimum lebih kurang 30o C dan tidak terkena cahaya matahari merupakan tempat yang paling cocok untuk perubahan tersebut.

Faktor penyebabkan terinfeksinya manusia oleh Soil transmitted helmintes adalah adanya sumber infeksi yang dekat dengan manusia, lingkungan sosial ekonomi, dan sanitasi lingkungan yang tidak baik seperti buang air besar di sembarang tempat, tidak mencuci tangan sebelum makan serta berjalan di tanah tanpa menggunakan alas kaki sehingga telur cacing yang infektif atau larva filariform dalan masuk ke dalam tubuh manusia.

Telur infektif jika tertelan akan menetas menjadi larva di dalam tubuh manusia dan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus halus dan menyebabkan banyak gangguan pada manusia yang merupakan hospesnya.

Para siswa sekolah dasar merupakan golongan yang paling rentan terhadap penyebaran Soil transmitted helmintes. Hal ini di buktikan dengan pemantauan terus menerus pada kelompok usia sekolah dasar di Jakarta menunjukan tingginya prevalensi cacingan pada kelompok ini, yang rata – rata mencapai 60% - 70%.

Proses infeksi terjadi jika manusia telah terinfeksi telur infektif, telur tersebut akan menetas, pada cacing Ascaris lumbricoides membutuhkan waktu 6 sampai 10 minggu, pada cacing Trichuris trichiura membutuhkan waktu 4 sampai 12 minggu dan pada cacing tambang membutuhkan 5 - 6 minggu dari proses infeksi sampai cacing dewasa betina mengeluarkan telur yang dikeluarkan bersama tinja. Telur cacing yang dikeluarkan bersama tinja adalah penanda seseorang telah terinfeksi, maka untuk menegakan diagnosa dapat dilakukan pemeriksaan kualitatif pada tinja. Jika infeksi diabaikan tentu akan membuat tingkat infeksi semakin berat karena cacing akan bertambah banyak di perut dan semakin banyak pula telur yang akan dikeluarkan, sehingga dilakukan pemeriksaan tinja kuantitatif metode Kato Katz.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan maka akan didapatkan intensitas kecacingan menurut jenis cacing dan menggambarkan infeksi yang dialami oleh penderita. (KEMENKES, 2006)

2.3 Kerangka Konsep

Berdasarkan teori yang ada, maka dapat digambarkan dalam bentuk kerangka konsep Gambaran Intensitas Infeksi Soil Transmitted Helmintes Pada Siswa Kelas 1 – 5 SDN 03 Natar Kecamatan Natar Lampung Selatan sebagai berikut.

Pemeriksaan infeksi soil transmitted helmintes secara kualitatif

Pemeriksaan infeksi soil transmitted helmintes secara kuantitatif

Klasifikasi intensitas kecacingan menurut jenis cacing soil transmitted helmintes



2.4 Definisi Operasional

No

Variabel

Definisi

Cara Ukur

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala Ukur

1.

2.

Variabel yang diteliti

Infeksi soil transmitted helmintes

Klasifikasi intensitas kecacingan

Ascaris lumbricoides

Infeksi ringan

Infeksi sedang

Infeksi berat

Trichuris trichiura

Infeksi ringan

Infeksi sedang

Infeksi berat

Cacing tambang

Infeksi ringan

Infeksi sedang

Infeksi berat

Suatu keadaan dimana ditemukan telur cacing nematodo usus (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichura, dan cacing tambang) dalam tinja.

Ditemukannnya telur cacing Ascaris lumbricoides di sampel tinja sebanyak 1-4.999 EPG

Ditemukannnya telur cacing Ascaris lumbricoides di sampel tinja sebanyak 5.000-49.999 EPG

Ditemukannnya telur cacing Ascaris lumbricoides di sampel tinja sebanyak

Infeksi berat adalah ≥ 50.000 EPG.

Ditemukan telur cacing trichuris trichura di sampel tinja sebanyak 1-999 EPG,

Ditemukan telur cacing trichuris trichura di sampel tinja sebanyak 1.000-9.999 EPG

Ditemukan telur cacing trichuris trichura di sampel tinja sebanyak ≥ 10.000 EPG.

Ditemukan telur cacing tambang di dalam sampel tinja sebanyak 1-1.999 EPG

Ditemukan telur cacing tambang di dalam sampel tinja sebanyak 2.000-3.999 EPG,

Ditemukan telur cacing tambang di dalam sampel tinja sebanyak ≥ 4.000 EPG.

Dengan pemeriksaan metode kato katz

Dengan pemeriksaan metode kato katz

Dengan pemeriksaan metode kato katz

Dengan pemeriksaan metode kato katz

Mikroskop

Mikroskop

Mikroskop

Mikroskop

1. positif

2. negatif

1. Infeksi ringan

2. Infeksi sedang

3. Infeksi berat

1.Infeksi

ringan

2.Infeksi

sedang

3.Infeksi

berat

1.Infeksi

ringan

2.Infeksi

sedang

3.Infeksi

berat

Nominal

Ordinal

Ordinal

Ordinal

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Rangcangan Penelitian

Jenis penelitian ini dilakukan secara deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang digunakan untuk memberikan gambaran tentang suatu keadaan secara objektif, Variabel yang diteliti adalah Infeksi soil transmitted helmintes dan klasifikasi intensitas kecacingan oleh cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang.

3.2 Populasi dan Sampel

3.2.1 Populasi

Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah siswa kelas 1 sampai dengan kelas 5 SDN 03 Natar dusun Margataqwa kecamatan Natar Lampung Selatan tahun 2011 yang berjumlah 104 siswa.

3.2.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi dengan kreteria ditemukan bentuk telur soil transmitted helmintes pada tinja.

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian.

3.3.1 Tempat

Penelitian ini dilakukan di SDN 03 Natar, kecamatan Natar Lampung Selatan dan pemeriksaan dilakukan di laboratorium parasitologi jurusan Analis Kesehatan.

3.3.2 Waktu

Politeknik Kesehatan Kemenkes Tanjung Karang, pada bulan April sampai Juni 2011.

3.4 Alat dan Bahan

Peralatan yang akan digunakan pada penelitian ini adalah lidi atau tusuk gigi, kertas minyak 10 x 10 cm, kertas saring atau tissue, spidol, wadah sampel, gelas objek, cellophane tape atau selofan 2,5 x 3 cm (dalam penelitian ini digantikan dengan plastik jenis mika), kawat saring atau kawat kasa, tutup botol karet, karton setebal 1,5 mm yang dilubangi dengan perforator (diameter lubang ± 6mm diperkirakan dapat menampung atau setara dengan 40 mgr sampel), bingkai kecil, sarung tangan handshoen), Waskom kecil, mikroskop, beaker glass, spatula, cawan petridish, neraca elecktrik dan kapas alkohol 70 %. Reagensia yang dipergunakan adalah larutan kato, malachite green 3%, aquadest dan glycerin. Bahan yang dipergunakan untuk pemeriksaan adalah feses atau tinja. (KEMENKES, 2006)

3.5 Prosedur Kerja Penelitian

3.5.1 Persiapan reagensia

Persiapan reagensia meliputi pembuatan larutan kato katz dan merendam selofan.

3.5.1.1 Pembuatan larutan kato

Larutan kato adalah cairan yang digunakan untuk merendam selofan atau untuk memulas cellophane tape (digantikan dengan plastik jenis mika) dalam pemeriksaan tinja. Untuk membuat larutan Kato diperlukan campuran dengan perbandingan : aquadest 100 bagian, glycerin 100 bagian, dan malacthite green 3% sebanyak 1 bagian. Cara pembuatannya adalah :

  1. Malachite green ditimbang sebanyak 3 gram, masukan kedalam beaker glass dan tambahkan aquadest 100 ml sedikit demi sedikit lalu diaduk dengan spatula hingga homogen, maka akan diperoleh malachite green 3%.
  2. Dimasukan 100 ml aquadest kedalam Waskom kecil, lalu tambahkan 100 ml glycerin sedikit demi sedikit dan tambahkan 1 ml larutan malachite green 3%, lalu diaduk sampai homogen, maka di dapatkan larutan kato 201 ml. (KEMENKES,2006)

3.5.1.2 Cara merendam cellophane tape (digantikan dengan plastik jenis mika).

Cara merendam cellophane tape (digantikan dengan plastik jenis mika), yaitu :

  1. Dibuat bingkai kayu segi empat sesuai dengan waskom plastik kecil
  2. Plastik mika dililitkan pada bingkai tersebut
  3. Direndam selama ± 18 jam dalam larutan Kato
  4. Pada waktu akan dipakai, guntinglah selofan (digantikan dengan plastik jenis mika) yang sudah direndam selama 2,5 x 3 cm.

(KEPMENKES, 2006)

3.5.2 Penanganan Sampel

Penangan sampel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Disiapkan wadah sampel yang bersih, bermulut lebar dan bertutup rapat.
  2. Sampel dimasukan pada wadah yang disediakan.
  3. Wadah sampel dimasukan ke dalam termos es selama pengiriman ke laboratorium, untuk menghindari bau yang menyebar ke lingkungan

(KEMENKES, 2006)

3.5.3 Cara Pemeriksaan Kualitatif

Cara pemeriksaan kualitatif dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Digunakan sarung tangan ( handshoen ) untuk mengurangi infeksi berbagai penyakit.
  2. Objek glass dibersihkan dengan kapas alkohol 70% untuk menghilangkan lemak.
  3. Ditulis nomor kode pada objek glass dengan spidol sesuai dengan yang ditulis diwadah sampel.
  4. Tinja diambil dengan lidi sebesar kacang hijau, dan letakan di atas gelas objek.
  5. Ditutup dengan selofan yang direndam dalam larutan kato, dan ratakan tinja di bawah selofan (digantikan dengan plastik jenis mika) dengan tutup botol karet atau objek glass.
  6. Biarkan selama ± 20 sampai 30 menit.
  7. Diperiksa dengan perbesaran lemah 100 x (objektif 10 x dan okuler 10 x), bila perlu dapat dibesarkan menjadi 400 x ( objektif 40 x dan okuler 10 x).
  8. Baca hasil pemeriksaan tinja berupa hasil positif dan negatif tiap jenis telur cacing, tanpa menghitung jumlah telurnya (KEPMENKES,2006)

3.5.4 Cara Pemeriksaan Kuantitatif

Setelah didapatkan hasil positif pada pemeriksaan kualitatif kemudian dilanjutkan ke pemeriksaan kuantitatif, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Digunakan sarung tangan ( handshoen ) untuk mengurangi infeksi berbagai penyakit.
  2. Objek glass dibersihkan dengan kapas alkohol 70 % untuk menghilangkan lemak.
  3. Ditulis nomor kode pada glass objek dengan spidol sesuai dengan yang tertulis dengan wadah sampel
  4. Tinja disaring menggunakan kawat saring untuk mengurangi sisa makanan yang kasar, ditampung hasil saringan dengan cawan petridish.
  5. Tinja diletakan karton yang berlubang (setara dengan 40 mgr berat tinja) di atas slide kemudian masukan tinja yang sudah disaring pada lubang tersebut hingga permukaannya rata dengan karton.
  6. Diangkat karton yang berlubang tersebut dan tutuplah dengan selofan (digantikan dengan plastik jenis mika) yang sudah direndam dengan larutan kato.
  7. Ratakan dengan tutup karet hingga merata.
  8. Didiamkan lebih kurang sediaan selama 20 – 30 menit.
  9. Diperiksa dengan perbesaran lemah 100 x ( objektif 10 x dan okuler 10 x), bila diperlukan dapat dibesarkan 400 x ( objektif 40 x dan okuler 10 x)
  10. Hitung jumlah tiap jenis telur cacing ( Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang) yang ada pada sediaan tersebut.

(KEMENKES,2006)

3.6 Alur Penelitian

Kerangka penelitian ini terdiri dari :



3.7 Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan berupa data primer. Data primer berupa data yang didapat dari pemeriksaan laboratorium dan kuisoner.

3.8 Analisis Data

Data yang diperoleh diklasifikasikan intensitas infeksinya dan dilakukan perhitungan persentase terhadap intensitas infeksi soil transmitted helmintes yang terjadi. Kemudian data hasil quisioner dan data kecacingan di analisis dengan Chi Square.

3.8.1 Cara Menghitung Telur

Hasil pemeriksaan secara kuantitatif merupakan intensitas infeksi, yaitu jumlah telur merupakan jumlah telur per gram tinja (EPG) tiap jenis cacing. Dengan rumus :

  1. Intensitas Ascaris lumbricoides = jumlah telur A. lumbricoides x 1000 mgr

40 mgr

  1. Intensitas trichuris trichiura = jumlah telur Trichuris trichiura x 1000 mgr

40 mgr

  1. Intensitas cacing tambang = jumlah telur cacing tambang x 1000 mgr

40 mgr

(KEMENKES, 2006)

3.8.2 Klasifikasi Intensitas Telur

Infeksi Ringan : Ascaris lumbricoides : 1 – 4.999 EPG

Trichuris Trichiura : 1 – 999 EPG

Cacing tambang : 1 – 1.999 EPG

Infeksi Sedang : Ascaris lumbricoides : 5.000 – 49.999 EPG

Trichuris Trichiura : 1.000 – 9.999 EPG

Cacing tambang : 2.000 – 3.999 EPG

Infeksi Berat : Ascaris lumbricoides : ≥ 50.000 EPG

Trichuris Trichiura : ≥ 10.000 EPG

Cacing tambang : ≥ 4.000 EPG

(KEMENKES, 2006)

3.8.3 Persentase Klasifikasi Intensitas Infeksi

Rumus perhitungan persentase Soil Transmitted Helmintes (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan Cacing tambang) klasifikasi infeksi per seluruh sampel yang diperiksa, dengan rumus:

Infeksi ringan = Jumlah sampel dalam klasifikasi ringan x 100%

Jumlah seluruh sampel

Infeksi sedang = Jumlah sampel dalam klasifikasi sedang x 100%

Jumlah seluruh sampel

Infeksi berat = Jumlah sampel dalam klasifikasi berat x 100%

Jumlah seluruh sample

(KEMENKES, 2006)

Waspada TALASEMIA sebelum menikah



Pengenalan penyakit Talasemia kepada orang yang akan menikah sangatlah penting. Sebab penyakit ini sampai saat ini belum ada obatnya dan berbagai efek akan dialami anak penderita Talasemia.
Talasemia adalan kelainan darah yang bersifat genetik. Dimana kerusakan DNA menjadi sebabnya, Dna yang rusak menyebabkan tidak optimalnya produksi sel darah merah penderitanya serta mudah rusak sehingga kerap menyebabkan anemia.
Sebagaimana orang normal, individu pembawa gen ini tidak menunjukan ciri – ciri atau gejala apapun. Masalahnya yang akan lebih serius akan terjadi bila sang pasangan merupakan pembawa juga sehingga melahirkan anak dengan talasemia mayor yang memerlukan transfusi darah selama hidupnya. Tidakana transfunsi bukan merupakan terapi penyembuhan namun hanya bersifat suportif dalam mengurangi gejela dan memiliki resiko menyebabkan penumpukan zat besi didalam tubuh.
Pasangan yang hendak menikah sebaiknya memeriksa kondisi tubuhnya, hal berguna untuk mengetahui apakah didalam tubuh mereka terdapat agen pembawa talasemia.

Talasemia dibagi menjadi 3 berdasarkan manifestasi gejalanya :
1. Talasemia ringan : penderita tidak perlu transfusi darah kalaupun harus transfusi hanya satu tahun sekali

2. Talasemia intermedia : penderita harus melakukan tranfusi 4 – 6 bulan sekali karena penderita sudah positi terserang.

3. Talasemia mayor : penderita harus melakukan tranfusi 2 minggu sekali

Penderita talassemia mayor biasanya membutuhkan 20 kantong darah setiap tahun nya yang kurang lebih membutuhkan biaya 250 juta rupiah. Namun di luar biaya yang sangat mahal juga ada efek samping dari banyaknya transfusi yang dilakukan kepada anak yaitu menumpuknya zat besi di organ limpa.
Didalam setiap kantong darah terdapat 250 – 300 mcg zat besi, jika sudah sering melakukan transfusi darah maka zat besi akan terus menumpuk di limpa, akibat penumpukan itu maka limpa akan membesar. Pada beberapa kasus jika limpa sudah terlalu besar maka organ limpa harus diangkat. Maka dari itu untuk menghidari kejadian yang tidak kita harapkan marilah kita bersama untuk melakukan skrining sebelum menikah bersama pasangan anda

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Jumat, 07 Oktober 2011

Hati – hati Dehidrasi




Tidak hanya kerusakan fungsi ginjal, dehidrasi juga dapat menyebabkan terganggunya seluruh sistem tubuh. Dehidrasi merupakan gangguan keseimbangan cairan (air) pada tubuh.
Hal ini terjadi karena penguaran cairan (air) lebih banyak dari pada pemasukannya. Struktur tubuh manusia tersusun dari 80% cairan. Ditubuh manusia yang cenderung tidak memiliki cairan hanya gigi dan rambut. Gangguan kehilangan cairan ini disertai gangguan keseimbangan elektrolit tubuh.
Kekurangan cairan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Karena saat kekurangan cairan seluruh sistem tubuh terganggu, seperti sistem metabolisme, pencernaan, aliran darah, serta syaraf. Karena itu saat dehidrasi harus segera dilakukan rehidrasi atau pemberian cairan ulang seperti air minum atau infus.
Dehidrasi ini bisa terjadi karena kekurangan natrium yaitu salah satu elektrolit yang terdapat banyak ditubuh yang sangat penting fungsinya untuk menjaga seimbangan kerja sistem tubuh. Jika cairan dalam tubuh manusia hanya 40% atau bahkan kurang maka pembuluh darah akan mengalami pengerutan (kalops). Jika sudah sampai pada tahap ini maka pemasangan infus saja harus di lakukan dokter spesialis yang mengerti tentang Vasculer.

Ada beberapa gejala dehidrasi sesuai dengan tingkatannya, yaitu
a. Dehidrasi ringan : ditandai wajah memerah, rasa sangat haus, serta klit kering serta pecah pecah. Gejala lainnya adalah volume urine berkurang dengan warna urin menjadi lebih gelap dari biasanya, pusing, kram otot terutama pada kaki dan tangan, air liur berkurang serta sering mengantuk.

b. Dehirasi sedang : ditandai dengan tekanan darah menurun, tidak sadarkan diri, kontrasi kuat pada otot lengan, kaki, perut dan punggung selain itu juga terjadi perut kembung, gagal jantung dan denyut nyadi cepat serta lemah.

c. Dehidrasi berat : ditandai dengan kesadaran berkurang, tidak buang air kecil, tangan dan kaki dingin serta menjadi lembab kemudian denyut nyadi menjadi cepat dan lemah hingga tidak teraba, tekanan darah menurun, ujung kuku, mulut, dan lidah berwarna kebiruan.

Untuk mengembalikan cairan harus tubuh yang hilang, kita harus banyak minum, minimal 2 liter perhari dengan air putih yang hiegenis.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Kamis, 06 Oktober 2011

Vitamin C cegah Asam Urat




Vitamin C ternyata tak hanya penting untuk menjaga stamina tubuh. Penenlitian terbaru membuktikan para pria dengan tingkat asupan vitamin C lebih tinggi lebih memiliki resiko lebih rendah terserang asam urat atau gout dibandingkan dengan yang kurang mengkonsumsi vitamin jenis ini. Gout adalah salah satu bentuk penyakit artritis yang terjadi dari asam urat yang mengumpul dan menyebabkan radang sendi.

Asupan vitamin C mungkin bisa menjadi pilihan berguna untuk mencegah asam urat. Pengidap asam urat pada umumnya adalah pria berumur 40 tahun ke atas, meski dalam beberapa kasus juga menyerang wanita. Gout dapat menyebabkan kerusakan sendi secara permanen.

Satu buah jeruk memiliki 70 mg vitamin C. Konsentrasi yang paling banyak ada pada suplemen vitamin C berbentuk pil. Diantara pria yang diteliti yang mengkonsumsi 1.500 mg suplemen Vitamin C setiap hari, memiliki resiko goutnya lebih rendah 45% dibandingkan dengan yang mengkonsumsi kurang dari 250 mg sehari.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 05 Oktober 2011

Tidur Siang Mengundang DIABETES




Rutin tidur siang setelah makan dapat meningkatkan resiko terserang diabetes tipe dua. Demikian hasil riset yang dilakukan di inggris. Pada penelitian terhadap 16.480 orang, ditemukan 26 % lebih mungkin terserang diabetes tipe dua dibanding yang tidak tidur siang.
Sejumlah faktor mungkin berada dibelakang hubungan ini termasuk kurangnya istrahatn malam serta aktifitas fisik, selam ini diketahui genetik dan kelebihan berat badan lebih signifikan sebagai pemicu. Namun para peneliti berargumen pola tidur siang kan mengganggu pola tidur malam yang sehat ini akan berdampak pada durasi tidur malam yang pendek yang berkaitan dengan kenaikan resiko diabetes tipe dua.
Karena tidur siang mungkin memang mengganggu efektivitas produksi insulin dalam tubuh sebagaimana mestinya.
Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas lebih beriko mengidapa diabetes tipe dua itu mungkin memiliki masalah tidur, namun pada penelitian selanjutnya ternyata resiko terbesar dari diabetes tipe dua dengan tidur malam yang mengganggu ttau tidur siang tidak sesignifikan dibanding faktor yang telah diketahui sebelumnya, seperti obesitas, berusia lebih dari 40 tahun, atau memiliki sejarah diabetes dalam keluarga.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Selasa, 04 Oktober 2011

Keajaiban TEH




Minuman teh yang selama ini kita kenal sebagai minuman sehari – hari, ternyata selain memiliki rasa yang cukup digemari juga memiliki banyak manfaat antara lain, menurunkan kadar LDL ( kolesterol jahat), menurunkan resiko penyakit kanker, menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler, mencegah serangan stroke, menurunkan berat badan dan dapat meningkatkan stamina.
Kualitas daun teh dan cara penyajian sangat menentukan baik tidaknya minuman teh tersebut. Kualitas daun teh yang berada pada 3 pucuk daun pertama, dimana bahan baku yang diambil dari 3 daun teratas dipetik tepat pada waktunya tidak terlalu tua tidak terlalu muda.
Karena kunci utama dari khasiat teh berada pada komponen bioaktifnya yang seacar optimal terkandung dalam daun teh muda dan utuh. Komponen daum teh yang bermanfaat bagi kesehatan adalah senyawa polifenol merupakan sumber antioksidan sebagai unsur yang paling potensial dalam menangkal radiakl bebas.
Penyajian yang benar adalah menyeduh teh dengan waktu tidak lebih dari 3 menit dan tidak membiarkan daun teh terendam lebih lama dari waktu tersebut. Denga cara ini anda akan menikmati rasa dan aroma teh yang optimal. Selain itu kualitas air juga mempengaruhi kualitas teh seduhan.
Mengkonsumsi 4 -6 cangkir teh sehari secara kontinue dapat memberiakan efek yang signifikan bagi kesehatan

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Senin, 03 Oktober 2011

Jangan Sepelekan Kurap



Kurap atau tineasia merupakan penyakit kulit yang disebabkan golongan jamur dermatofita. Jamur ini menyerang lapisan kulit, rambut, dan kuku. Seperti jamur pada umumnya kurap menyebabkan rasa gatal.
Penyakit ini dibagi menjadi 2, yakni
1. Tinea kruris : Kurap yang terdapat di sekitar paha
2. Tinea kurforis : Kurap yang berada pada tangan, perut, kaki dan lainnya.

Penyakit kurap daat menyerang daerah – daerah yang berbeda. Namun penyakit kulit ini menyukai daerah yang lembab seperti lipatan paha, daerah bawah perut sekitar anus atau daerah kelamin luar. Kurap juga menular menular dari satu orang ke orang lainnya, apalagi orang yang tertular sedang dalam keadaan kekebalan tubuh yang lemah.
Kelembaban yang menjadi pemicu tubuhnya jamur dapat disebabkan cuaca yang panas sehingga menimbulkan keringat. Menggunakan pakaian yang terlalu tebal dan juga kebiasaan tidak mandi sore bisa menjadi salah satu penyebab.
Kulit manusia memiliki flora normal (jamur dan bakteri) yang tidak menimbulkan penyakit. Namun jika keseimbangannya terganggu maka perkembangan flora normal akan semakin cepat dan dapat menimbulkan penyakit. Kondisi kulit yang lembab akan menimbulkan perkembangan jamur yang tidak seimbang.
Ciri – ciri kurap adalah batas terlihat jelas antara kulit sehat dan kulit yang terinfeksi. Kulit yang terinfeksi tampak bersisik dan pinggirannya membentuk garis berwarna kemerahan. Jika dibiarkan bercak akan semakin banyak. Tidak hanya itu, jika tidak diobati kurap dapat menyebabkan kulit menjadi hitang. Kehitaman itu bisa juga karena penderita seringa menggarung bagian yang terinfeksi karena merasakan gatal. Untuk pencegahan dan fase penyembuhan, penderita harus mandi secara teratur dan menggunakan pakaian yang menghisap keringat, keudian menghindari memakai pakaina yang tebal atau berakrifitas yang banyak mengeluarkan keringat.
Sementara untuk kulit yang menghitam harus dilakukan pngobatan terlebih dahulu maka kulit yangmenghitam akan hilang dengan sendirinya

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Minggu, 02 Oktober 2011

Kenali Penyebab MAAG



Penyebab maag bukan hanya pola makan yang tidak teratur. Hal lain yakni adanya mikroba yang merugikan dan mengkonsumsi obat – obatan lain dapat memicu maag. Beban pikiran yang berat, kebiasaan merokok dan mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein juga dapat menyebabnya.
Seseorang yang tidak memperhatikan kebersihan lingkungan saat makan kemungkinan dapat terkena maag ringan. Beberapa penderita yang terkena maag ternyata di lambungnya terdapat Helicobacter pylori.
Maag disebabkan oleh proses syaraf – syaraf simpatis terangsang untuk memproduksi zat asam berlebihan di dalam lambung ketika lambung kosong karena tidak ada makanan yang akan dicerna. Maag diklasifikasikan menjadi 3 yaitu
1. Maag ringan : seseorang biasanya hanya mengalami perut kembung dan sendawa
  1. Maag sedang : seseorang sering mengalami perut perih dan rasa melilit.
3. Maag berat : penderita bisa BAB berdarah dan muntah darah kalau tidak di tangani secara intensif dapat menyebabkan kematian.
Seseorang yang terkena maag dianjurkan untuk menghidari beberapa hal antara lain:
Tidak merokok, tidak meminum kopi secara berlebihan dan tidak meminum minuman beralkohol.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 01 Oktober 2011

Lebih sehat dengan DIET MEDITERANIA



Diet ala mediterania memberi banyak manfaat. Syaratnya? Harus banyak mengkonsumsi sayur dan seafood plus istirahat yang cukup. Tubuh akan lebih sehat dan harapan hidup pun akan lebih lama.
Jika menjalani dengan benar, pnyakit seperti serangan jantung, tekanan darah tinggi, hingga sejumlah tipe kanker akan menjauh. Banyak ahli nutrisi yang menganjurkan diet jenis ini. Tidak perlu repot lagi membaca buku diet , menghitung kalori, hingga mencari bahan makanan yang sulit didapat. Diet ini justru sangat lebih sederhana, namun tetap bercita rasa lezat. Lalu bagaimana dengan diet mediterania??
Sebenarnya diet ini didasari dengan pola makan tradisional negara – negara di laut mediterania, seperti Yunani, Portugis, Spanyol, Prancis, Maroko, Turki, dan Itali selatan. Masakan di setiap negara mungkin berbeda rasa dan juga teknik memasakanya. Jika diperhatikan lebih detail, ternyat ada satu kesamaan. Semuanya menggunakan buah dan sayur yang cukup banyak, ditambah dengan makanan laut, minyak zaitun, bawang putih, dan bumbu segar. Penduduk mediterania juga menggunakan sedikit daging merah dan susu. Selain itu, juga jarang menggunakan makanan manis maupun yang diawetkan.

Panjang umur
Penelitian dari monach university mendukung pendapat bahwa diet ala mediterania membuat hidup lebih lama. Dibandingkan dengan penduduk Australia, serangan jantung pada kaum migran dari penduduk yunani masih dibawah rata – rata, sedangkan penduduk Australia sebaliknya sebab tradisi bersantap mereka adalah makanan yang banyak mengandung daging merah, makanan manis dan fastfood. Makanan laut memberikan kontribusi lemak omega 3 yang baik untuk jantung.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Kamis, 29 September 2011

Jenis Tambahn Makanan

Bahan Tambahan Makanan dibedakan bedasarakan asal bahan , cara penambahan, dan aturan penggunaan, yaitu :
1. Berdasarkan asal bahan
Berdasarkan asal bahan , terbagi dalam berberapa kelompok, antara lain :
a. Bahan Alami
Bahan tambahan makanan alami diperoleh dari hasil ekstraksi bahan-bahan alami, misalnya klorofil daun sebagai pewarna, molase tebu sebagai pemanis rasa, serta daun pandan sebagai pemberi aroma. bahan alami oleh sebagian orang dipandang lebih aman dan mudah didapat, namun disisi lain zat aditif alami memiliki kelemahan, yakni kepekatannya relatif kurang stabil karena mudah terpengaruh panas dan kondisi pH, dan untuk membuatnya pun dibatahkan bahan dalam jumlah yang cukup banyak.
b. Bahan Identik Alami
bahan tambahan makanan identik alami umumnya terbuat dari bahan sintetis, bukan merupakan hasil ekstraksi atau isolasi akan tetapi struktur kimianya identik dengan bahan alami. bahan tamabhan makanan yang termasuk dalam bahan identik alami antara lain pewarna yang berasal dari karotenoid murni yang terbagi lagi menjadi santoxantin (merah), apokaroten (merah-oranye), dan beta karoten (kuning)
c. Bahan sintetis
bahan makanan tambahan sintetis, biasanya merupakan hasil sintetis secra kimia, comtoh sakarin dan siklamat yang berfungsi sebagai pemanis, polovinilpirilon (PVP) sebagai hidrokoloid. bahan sintetis memberi keuntungan, antara lain lebih stabil, lebih pekat, dan penggunaannya hanya dalam jumlah sedikit. namun dikhawatirkan akan memberi efek samping terhadap kesehatan. Bahan ada diantaranya yang dicurigai bersifat karsinogenik (dapat memicu timbulnya kanker)

2. Berdasarkan cara penambahan
a. Sengaja ditambahkan
Bahan yang sengaja ditambahkan pada saat mengolah pangan bertujuan untuk memperbaiki sifat organoleptik, memperbaiki nilai gizi, mempertahankan warna, mempertahankan kesegaran, dan mempermudah proses pengolahan. Termasuk di dalam kelompok ini antara lain pengawet, pewarna, pemanis,pemberi aroma, dan antioksidan.
b. Tidak sengaja ditambahkan
Merupakan bahan tambahan makanan yang secara tak sengaja terikut kedalam bahan pangan. bahan tersebut bersal dari residu kontaminan proses pengolahan, pengemasan, atau penyimpanan dan terus terbawa kedalam makanan yang dikonsumsi, misalnya pupuk, pestisida, kotoran serangga, atau cemaran dari pembungkus.
3. Berdasarkan aturan penggunaan
Penggolongan ini didasarkan atas faktor keamanan yang dikeluarkan oleh lembaga berwenang
a. Aman (generally recognized as safe = GRASS)
Bahan tambahan makan yang termsuk dal;am kategori aman adalah bahan yang dosis.penggunaanya relatif bebas dan tidak dibatasi. sebagai contoh, penggunaan pati sebaga pengental berdasakan penelitian, pengamatan, dan evaluasi ilmiah para ahli dinyatakan makanan .
b. Memakai aturan penggunaan (Non-GRASS)
Mengingat meningkat bahayadan ancaman yang ditimbulkan pada makanan maka penggunaan perlu diatur dengan peraturan atas undang-undang. dalam hal ini Menteri Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarakan beberapa peraturan diantaranyamenyangkut dosis maksimal penggunaan.

Rabu, 28 September 2011

Siklamat

Siklamat merupakan salah satu zat pemanis non nutritif hasil sintesis dari reaksi kimia. siklamat terdapat dalam dua macam yaitu asam dan garamnya . Natrium siklamat adalah bentuk garam yang sering digunakan sebagai pemanis sintetik.

Pemerian Siklamat
1. Natrium Siklamat
Rumus molekul : C6H12NNaO3S

Rumus bangun : - NH – SO3 – Na

Berat molekul : 201,22
Kelarutan : Larut dalam 5 bagian air, dalam 250 bagian etanol (95%) P dan dalam 25 bagian propilen glikol P, Praktis tidak larut dalam klorofom P dan dalam eter P

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur, putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau, rasa agak manis walaupun dalam larutan encer.

2. Kalsium Siklamat
Rumus molekul : C6H11NcaO3S

Rumus bangun : - NH – SO3 – Ca

Berat Molekul : 219

Kelarutan : Larut dalam 4 bagian air, dalam 50 bagian alchohol dan dalam 1,5 bagian propilen glikol ; praktis tidak larut dalam kloroformdan eter etanol.

Pemerian : Putih tidak bera atau hampir tidak brbau, hablur atauserbuk, rasa sangat manis walaupun dalam larutan encer.

2.4.2 batas Maksimum Penggunaan Siklamat

Menurut PERMENKES R o.7/Menkes/pPer/IX/1988 tentang bahan Tambahan Makanan, Batas maksimum penggunaan siklamat adalah sebagai berikut :

No
Jenis /Bahan Makanan
Batas Maksimum Penggunaan Siklamat
1
Permen Karet
500 mg/Kg dihitung sebagai asam siklamat
2
Permen
1 mg/Kg dihitung sebagai asam siklamat
3
Saus
3 mg/Kg dihitung sebagai asam siklamat
4
Eskrim dan sejenisnya
2 mg/Kg dihitung sebagai asam siklamat
5
Es lilin
3 mg/Kg dihitung sebagai asam siklamat
6
Jem dan jeli
2 mg/Kg dihitung sebagai asam siklamat
7
Minuman Ringan
3 mg/Kg dihitung sebagai asam siklamat
8
Minuman Yoghurt
3 mg/Kg dihitung sebagai asam siklamat
9
Minuman fermentasi
500 mg/Kg dihitung sebagai asam siklamat

(Depkes RI, 1988)

Toksisitas Siklamat

Kontroversi penggunaan siklamat baru muncul pada tahun 1969. Ketika itu, FDA menemukan bukti bahwa campuran siklamat dan sakarin dapat menyebabkan kanker kandung kemih, mutasi, cact lahir, dan gangguan saluran testis (Testicularis demage) pada hewan. Akhirnya FDA pada tahun itu juga melarang penggunaan siklamat .

siklamat pada dasarnya hanya boleh digunakan atau dikonsumsi khusus untuk penderita diabetes (kencing manis), sedangkan untuk makanan dan minuman konsumsi untuk anak- anak dan bukan penderita diabetes tidak diperbolehkan.
Siklamat berbahaya karena hasil metabolismenya yaitu sikloheksilamin bersifat karsinogenik sehingga ekskresi lewat urine dapat merangsang pertumbuhan tumor pada kandung kemih tikus. tumor ditemukan terdapat pada saluran kandung kemih tikus yang diberi dosis sikloheksilamin (125 mg/kg per hari ) melalui makanan selama 78 minggu .







Bahan Tambahan makanan (BTM) yang diizinkan berdasarkan Permenkes RI
Bahan Tambahan makanan (BTM) yang diizinkan berdasarkan Permenkes RI No.722/Menkes/Per/IX/1988 tentang bahan tambahan makanan adalah sebagai berikiut :
1. Antioksidan (Antioxidant)m adalh bahan tambahan makanan yang dapat mencegah atau menghambat oksidasi.
2. Antikempal (Anticaking Agent), adalah bahan tambahan makanan yang dapt mencegah menggempalnya makanan yang berupa serbuk.
3. Pengaturan keasaman (acidity regulator), adalah bahan tambahan makanan yanng dapat mengasamkan, menetralkan dan mempertahankan derajat keasaman makanan.
4. Pemanis buatan (Artificial Sweetener), adalah bahan tambahan makanan yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan, yang tidak atau hampir tidak mempunyai nilai gizi.
5. Pemutih dan pematang tepung (fluor Treatmentn Agent), adalah bahan tambahan makanan yang dapat mempercepat proses pemutihan dan atau pematanagn tepung sehingga apat memperbaiki mutu pemanggangan .
6. Pengemullsi, pemantap, pengental, (emulsifier, stabilizier, thickener), adalah bahan tambahan makanan yang dapat membantu terbentuknya atau memantapkan sisterm dispersi yang homogen pada makanan.
7. Pengawet (preservative), adalah bahan tambahan makanan yang mencegah tau menghambat fermentasi, pengasaman atzau peruraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme.
8. Pengeras (firming agent), adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperkeras atau mencegah melunaknya makanan .
9. Pewrna(colour), adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan
10. Penyedap rasa dan aroma, penguat rasa (flavour, Flavour enhancer), adalah bahan tambahan makanan yang dapat memberikan, menambah atau mempertegasa rasa dan aroma.
11. sekuestran (sequestrant), adalah bahan tambahan makanan yang dapat mengikat ion logam yang ada dalam makanan.
(Depkes RI , 1988)