Kanker servik jadi pembunuh wanita

Tahukah Anda, bahwa dalan setiap jam wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks atau lebih dikenal dengan kanker mulut rahim. Bahkan dalam setiap menit wanita di seluruh dunia meninggal karna kanker yang mematikan ini.

Beda Hormon LH dan FSH

FSH dan LH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior, sebuah kelenjar kecil yang hadir di bagian bawah otak. FSH pada dasarnya menyebabkan pematangan sel telur di dalam folikel dalam tubuh wanita.

Manfaat Bawang Putih

Khasiat atau manfaat bawang putih ternyata tidak hanya untuk menyedapkan atau sebagai bumbu masakan saja, namun ternyata banyak hal lain yg dapat di manfaatkan dari bawang puth tersebut terutamanya untuk dunia kesehatan.

Toko Kayumanis

Selamat datang di Toko Kayumanis version Online Shop Kami menjual T-shirt, kaos oblong dan jaket T-shirt, kaos oblong dan jaket yang kami jual menggunakan bahan yang berkualitas tinggi, kelebihan dari T-shirt, kaos oblong dan jaket di Toko kami dapat anda tentukan sendiri desainnya, pola ataupun grafisnya sesusai keinginan anda sehingga dapat dipastikan tidak ada T-shirt, kaos oblong dan jaket dari Toko kami yang mempunyai motif yang sama.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 10 Januari 2012

Magnesium (Mg)


· Fungsi:

Berperan penting untuk menjaga kesehatan jantung, ginjal dan otot.

· Efek jika kekurangan:

Dapat menyebabkan serangan jantung, ginjal, darah tinggi dan serangan asma.

· Efek jika kelebihan:

Dapat menyebabkan diare.

· Sumber makanan:

Kacang-kacangan, polong-polongan, sayuran berdaun hijau, gandum, jagung, tahu.

· Dosis yang dianjurkan:

320 mg/hari


lihat artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Senin, 09 Januari 2012

Tembaga (Cu)


· Fungsi:

Membentuk hemoglobin, kolagen dan menjaga kesehatan saraf.

· Efek jika kekurangan:

Anemia, radang sendi dan mudah lelah.

· Efek jika kelebihan:

Dapat menyebabkan keracunan yang ditandai dengan muntah, pusing, lemas, sakit perut dan diare. Jika terjadi terus-menerus dapat menyebabkan sakit jantung dan kerusakan hati yang berakibat pada kematian.

· Sumber makanan:

Seafood, gandum, jagung, polong-polongan.

· Dosis yang dianjurkan:

1,2 mg / hari

lihat artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Minggu, 08 Januari 2012

Kromium (Cr)


Fungsi:

Dibantu dengan vitamin B3, kromium bertugas mengatur penempatan glukosa dalam darah menuju ke sel-sel tubuh untuk kemudian diubah menjadi energi.

· Efek jika kekurangan:

Meningkatkan kadar kolesterol dan lemak dalam darah yang dapat mengakibatkan penyakit jantung, diabetes, dan obesitas.

· Efek jika kelebihan:

Menyebabkan iritasi lambung dan menghambat penyerapan tembaga oleh tubuh.

· Sumber makanan:

Roti, gandum, jagung, daging, ikan dan keju.

· Dosis yang dianjurkan:

25 mg/hari


lihat artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 07 Januari 2012

Mangan (Mn)


· Fungsi:

Penting untuk menjaga kesehatan otak, tulang, berperan dalam pertumbuhan rambut dan kuku, dan membantu menghasilkan enzim untuk metabolisme tubuh untuk mengubah karbohidrat dan protein membentuk energi yang akan digunakan.

· Efek jika kekurangan:

Beresiko terkena diabetes, osteoporosis, rematik dan kolesterol tinggi.

· Efek jika kelebihan:

Menyebabkan kadar besi dalam tubuh menurun sehingga meningkatkan resiko terkena anemia, gangguan kulit, jantung , hati, pembuluh darah dan kerusakan otak. Selain itu, mangan yang berlebihan dapat mencegah penyerapan zat tembaga untuk tubuh.

· Sumber makanan:

Telur, kacang-kacangan, polong-polongan, sayuran berdaun hijau, daging merah. Pada buah buahan terdapat pada buah strawberry, nanas, anggur.

· Dosis yang dianjurkan:

5 mg/hari


lihat artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Jumat, 06 Januari 2012

Seng (Zn)



· Fungsi:

Mempertahankan kesuburan, memperkuat daya tahan tubuh, membantu dalam proses penyembuhan dan mampu membantu tubuh agar menghasilkan sekitar 100 enzim yang diperlukan. Kekurangan enzim-enzim ini membuat metabolisme tubuh terganggu yang dapat menyebabkan berbagai penyakit. Seng juga berguna untuk kecantikan kulit yaitu dapat mencegah timbulnya jerawat, mencegah kulit kering dan membantu regenerasi kulit.

· Efek jika kekurangan:

Luka yang sulit sembuh karena lambatnya regenerasi kulit, tidak ada selera makan, lambatnya pertumbuhan, kelelahan bahkan dapat menyebabkan tidak subur pada pria.

· Efek jika kelebihan:

Jika jumlah zat ini melebihi 2000 mg di dalam tubuh dapat menghambat penyerapat zat tembaga dan folat yang juga diperlukan tubuh. Efek samping dari kelebihan zat ini antara lain pusing, muntah-muntah, sering mengantuk, berkeringat dan kadar kolesterol rendah.

· Sumber makanan:

Seng bisa didapat dari makanan seperti buncis, kacang-kacangan, keju, daging sapi, ayam dan aneka ikan laut.

· Dosis yang dianjurkan:

12 mg/hari.


lihat artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Kamis, 05 Januari 2012

Zat Besi (Fe)


· Fungsi zat besi:

Mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh dan menghilangkan racun dari tubuh.

· Efek jika kekurangan:

Bagian bawah kelopak mata berwarna pucat dan mudah lelah.

· Efek jika kelebihan:

Dapat menyebabkan pembengkakan pada hati. Zat besi dapat mencegah penyerapan obat. Sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan jika sedang mengkonsumsi suatu obat agar khasiat obat tidak terbuang percuma. Zat besi yang berlebih dapat menyebabkan pembengkakan pada hati dan mengurangi kemampuan tubuh untuk menyerap zat tembaga.

· Sumber makanan zat besi:

Hati ayam, daging ayam, daging merah, ikan dan kacang polong.

· Dosis yang dianjurkan:

8-18 mg/hari

lihat artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 04 Januari 2012

Tidur Aktif atau REM



Setiap siklus tidur tenang atau NREM akan diakhiri dengan tidur aktif atau REM (Rapid Eye Movement atau Gerakan Mata Cepat). Kebalikan dari tidur tenang, denyut nadi, pernapasan, tekanan darah dan aktivitas lainnya berlangsung dengan lebih aktif, cepat dan tidak teratur. Darah dialirkan ke otak dan gelombang otak. Anda dapat melihat seseorang mengalami periode saat saat melihat tonjolan mata bergerak ke kiri dan ke kanan karena memang pada tidur REM, mata bergerak cepat ke kiri dan ke kanan.

Pada saat tidur aktif atau REM inilah seseorang mengalami mimpi yang sebagian besar tidak akan diingat pada saat bangun dari tidur. Anda juga mengalami imobilitas yaitu tidak dapat menggerakkan otot-otot Anda. Hal ini yang berguna agar Anda tidak bergerak sesuai mimpi Anda sehingga membahayakan Anda. Biasanya seseorang mengalami mimpi kira-kira setiap 90 menit sekali dalam sebuah siklus tidur.

Periode tidur aktif berlangsung selama 25 persen dari keseluruhan periode tidur kita. Pada saat tidur aktif atau REM, tubuh memulihkan fungsi-fungsi tertentu dari otak dan juga memperbaiki mental. Pada saat ini pikiran akan memilih, mengolah, mengorganisasi, menghapus hal-hal yang tidak penting dan menyimpan keterangan yang dialami pada hari sebelumnya seperti saat seseorang merekam film dan akan mempersiapkan otak dan pikiran untuk menerima keterangan baru esok harinya. Saat tidur aktif, otak akan menghapus memori jangka pendek atau data tidak penting dan mempertahankan ingatan jangka panjang. Inilah yang membuat setelah tidur, pikiran terasa lebih segar karena tersedia lebih banyak memori otak untuk digunakan lagi.

Selain itu, selama Anda tertidur, tubuh menghasilkan sel T yang akan melawan patogen atau bibit penyakit. Dan saat tertidur, tubuh juga menghasilkan hormon leptin untuk mengatur nafsu makan.

Agar tubuh merasakan manfaat baik dari tidur, seseorang harus mengalami semua proses tidur tersebut dan dalam waktu yang cukup. Jika kita kurang tidur, akan sulit berkonsentrasi, kehilangan memori, dan kosa kata, penurunan kesanggupan berpikir analitis, dan kehilangan kreativitas. Bahkan kurang tidur bisa meningkatkan kekhawatiran dan depresi. Maka, berupayalah agar Anda cukup tidur setiap hari dan rasakan manfaatnya.



lihat artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Selasa, 03 Januari 2012

Tidur Tenang atau Non-REM


Selama siklus tidur kita akan mengalami 2 macam keadaan tidur yaitu keadaan tidur tenangdan keadaan tidur aktif. Tidur tenang sering dikenal dengan istilah tidur NREM atau Non-REM (No Rapid Eye Movement atau Tidak Ada Gerakan Mata yang Cepat).

Saat tidur tenang atau NREM atau Non-REM, tubuh seseorang akan mengalami kegiatan yang tenang. Denyut nadi, pernapasan dan tekanan darah tubuh akan bergerak lebih tenang dan teratur. Ini adalah proses di mana tubuh memulihkan tubuh. Otot-otot, kelenjar tubuh dan susunan tubuh diperbaiki. Zat-zat yang tidak berguna akan dibuang dari tubuh. Pada saat tidur tenang juga terjadi penggabungan protein-protein yang akan digunakan pada saat tidur aktif.

Pada keadaan tidur tenang atau NREM atau Non-REM, seseorang akan mengalami 4 tahap. Berikut ini tahapan yang terjadi ketika Anda mulai tertidur.

· Tidur Ringan

Saat pertama kali seseorang mulai tertidur, Anda memasuki tahap pertama di mana Anda mengalami tidur ringan atau tidur dangkal, di mana otot tubuh akan mengendur dan gelombang otak akan bergerak tidak beraturan. Pada tahap ini biasanya dimulai ketika Anda mengantuk dan tertidur. Tahap pertama berlangsung selama 30 detik sampai 7 menit pertama tidur Anda.

· Tidur Sebenarnya

Selanjutnya, Anda akan memasuki tahap kedua yaitu tidur sebenarnya, di mana gelombang otak membesar, pecahan-pecahan pikiran dan gambar-gambar mungkin bermunculan dan bergerak di pikiran kita tetapi kita tidak menyadarinya, bahkan Anda sudah tidak sadar dengan keadaan di sekeliling Anda. Tahap kedua berlangsung selama 20 persen dari seluruh waktu tidur Anda.

· Tidur Lebih Pulas

Tahap ketiga tidur Anda semakin lelap. Pada tahap ini, tubuh Anda mulai sulit dibangunkan karena sudah terlelap.

· Tidur Terpulas

Tahap keempat merupakan tahap tidur paling pulas. Pada tahap ini, otak memproduksi gelombang besar, sebagian besar darah dialirkan ke otot, terjadi pemulihan dan perbaikan fungsi tubuh. Hormon pertumbuhan dihasilkan dan terjadi proses pertumbuhan berlangsung pada tahap ini. Tahap ketiga dan keempat berlangsung selama 50 persen dari seluruh waktu tidur kita.

Jika saat tertidur, kita tidak bisa memasuki tahap ketiga dan keempat, maka kemungkinan besar saat terbangun kita akan merasa letih bahkan bisa depresi.

Selesai memasuki tahap keempat, Anda akan mengalami tahap pertama kembali, memasuki tahap kedua dan seterusnya. Siklus ini akan berulang beberapa kali. Pada umumnya pengulangan siklus ini berlangsung selama 3 sampai 5 kali. Lamanya 1 kali siklus membutuhkan waktu sekitar 90 sampai 110 menit.


lihat artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Senin, 02 Januari 2012

Liver



Fungsi utama dari hati atau liver adalah menyaring racun-racun yang ada pada darah. Selain itu, masih ada sekitar 500 fungsi lain dari hati. Jika seseorang menderita hepatitis, yang merupakan peradangan pada hati atau liver ini, dapat menghancurkan kesehatan orang tersebut secara keseluruhan karena racun tetap mengendap pada darah dan merusak atau mengganggu kerja organ lain. Akibat lainnya adalah hati menolak darah yang mengalir sehingga tekanan darah menjadi tinggi dan pecahnya pembuluh darah.

Rusaknya fungsi hari atau liver ini dapat disebabkan karena seseorang mengkonsumsi alkohol secara berlebihan atau karena termakan racun yang membebani kerja liver dan mengakibatkan fungsi hati menjadi rusak. Tetapi, pada kebanyakan kasus, hepatitis disebabkan oleh virus yang ditularkan penderita hepatitis.

Ada 5 macam virus hepatitis yang dinamai sesuai abjad. Kelima virus itu adalah virushepatitis A (VHA), virus hepatitis B (VHB), virus hepatitis C (VHC), virus hepatitis D(VHD) dan virus hepatitis E (VHE). Virus-virus ini terus berkembang dan bahkan diperkirakan sedikitnya masih ada 3 virus lagi yang dapat menyebabkan hepatitis.

Virus yang paling banyak menjangkiti manusia adalah VHB, penyebab hepatitis B. Diperkirakan 1 dari 3 orang yang ada di bumi pernah terinfeksi. Sekitar 350 juta hidup dengan virus mengendap pada tubuhnya dan berpotensi menulari orang lain. Sekitar 78% pengidap hepatitis menimpa penduduk Asia dan pulau-pulau di daerah Pasifik. Virus ini menyebabkan kematian sedikitnya 600.000 orang per tahun.

Gejala Hepatitis

Beberapa gejala yang umum dari hepatitis adalah rasa nyeri atau sakit pada perut bagian kanan, badan lemas, mual, demam dan diare. Pada beberapa kasus juga ditemukan gejala seperti akan flu dan sakit kuning yang ditandai kulit dan mata yang terlihat kuning. Tetapi, gejala penyakit hepatitis tidak selalu tampak, khususnya pada kebanyakan kasus yang menimpa anak-anak.

Virus dapat berpindah dari seorang penderita ke orang yang sehat. Jika kekebalan tubuh seseorang sedang lemah, virus akan menjangkiti tubuh orang yang sehat. Walau sebenarnya, virus dapat dibersihkan oleh antibodi manusia itu sendiri jika sistem kekebalan tubuhnya baik.

Hepatitis A

Virus hepatitis A biasa terdapat pada kotoran penderitanya. Virus dapat hidup pada air atau es batu. Cara penyebaran virus ini adalah karena meminum air yang tercemar VHA. Bisa juga karena mengkonsumsi makanan yang tidak dimasak dengan benar sehingga virus tetap hidup pada makanan atau karena orang yang mempersiapkan makanan tidak terbiasa cuci tangan dengan benar terlebih dahulu, padahal mungkin saja pada tangannya terdapat virus hepatitis A. Tidak mencuci tangan sehabis menggunakan toilet juga menyebabkan virus ada pada kotoran manusia ini akhirnya berpindah.

Hepatitis B

Penularan virus hepatitis B (VHB) biasanya melalui darah atau cairan tubuh seperti air liur, cairan vagina, atau air mani yang masuk dalam aliran darah orang sehat. Ini karena hepatitis B terdapat dalam darah dan cairan tubuh tersebut. Tranfusi darah, darah pada pisau cukur, perawatan gigi, gunting kuku, jarum suntik atau jarum yang digunakan untuk membuat tato dapat memindahkan sejumlah kecil darah yang terinfeksi virus hepatitis. Bahkan noda darah yang sudah mengering dapat menulari orang lain selama 1 minggu sejak menempel pada suatu benda. Cara lain penyebaran virus ini adalah karena terbawa dari sejak kandungan dari seorang ibu yang terinfeksi dan karena hubungan seks.

Hepatitis C

Pengindap hepatitis C biasanya ditularkan dengan cara yang hampir sama dengan penularan hepatitis B, tetapi pada kebanyakan orang adalah karena jarum suntik.

Menangangi Hepatitis

Perawatan dini harus segara dilakukan agar penderita dapat disembuhkan, karena semakin lambat ditangani, virus akan semakin merusak hati dan bahkan menjadi kanker. Tetapi, kadangkala karena tidak menampakkan gejala yang jelas, kebanyakan orang tidak menyadari kalau dalam tubuhnya sudah berdiam virus hepatitis dan terlanjur hati sudah menjadi rusak parah.

Vaksinasi dapat diberikan agar seseorang mendapatkan antibodi dari virus hepatitis A (VHA) dan virus hepatitis B (VHB). Namun, untuk hepatitis C tidak ada vaksinasi untuk mencegahnya. Walau seseorang belum terindikasi virus ini tetapi pemberian vaksin dapat mencegah virus merusak hati karena gejala hepatitis bisa saja baru muncul puluhan tahun kemudian. Pemberian vaksin khususnya perlu diberikan pada anak-anak karena kekebalan tubuh mereka lebih lemah untuk membersihkan virus hepatitis dibandingkan orang dewasa.

Jika kondisi hati sudah rusak parah, pilihannya adalah melakukan pencangkokkan hati. Tetapi, ini akan sulit karena donor hati yang ada lebih sedikit dibandingkan daftar tunggu dari penderita yang membutuhkan hati.

Penderita hepatitis seharusnya mengkonsumsi makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup agar tubuh mampu bertahan menghadapi virus ini dan mencegah jumlah virus semakin banyak yang akan menggeroti kesehatan penderitanya.

Gizi dan istirahat yang baik juga harus dipenuhi untuk semua, karena bisa saja tanpa sepengetahuan kita, virus menulari dan menyerang hati atau liver. Tetapi, dengan kekebalan tubuh yang kuat, tubuh akan mampu menangani virus hepatitis yang membahayakan ini.

lihat artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Minggu, 01 Januari 2012

Kanker Serviks


kanker serviks atau kanker leher rahim (sering juga disebut kanker mulut rahim) merupakan salah satu penyakit kanker yang paling banyak terjadi bagi kaum wanita. Setiap satu jam, satu wanita meninggal di Indonesia karena kanker serviks atau kanker leher rahim ini. Fakta menunjukkan bahwa jutaan wanita di dunia terinfeksi HPV, yang dianggap penyakit lewat hubungan seks yang paling umum di dunia.


Di Indonesia, setiap satu jam, satu wanita meninggal karena kanker serviks

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi ini merupakan faktor risiko utama kanker leher rahim. Setiap tahun, ratusan ribu kasus HPV terdiagnosis di dunia dan ribuan wanita meninggal karena kanker serviks, yang disebabkan oleh infeksi itu. Mengingat fakta yang mengerikan ini, maka berbagai tindakan pencegahan dan pengobatan telah dibuat untuk mengatasi kanker serviks atau kanker leher rahim.

Kanker serviks atau kanker leher rahim terjadi di bagian organ reproduksi seorang wanita. Leher rahim adalah bagian yang sempit di sebelah bawah antara vagina dan rahim seorang wanita. Di bagian inilah tempat terjadi dan tumbuhnya kanker serviks. Apa penyebab kanker serviks atau kanker leher rahim? Bagaimana cara pencegahannya? Serta bagaimana cara mengatasinya jika sudah terinfeksi HPV?

HPV

Kanker serviks disebabkan infeksi virus HPV (human papillomavirus) atau virus papiloma manusia. HPV menimbulkan kutil pada pria maupun wanita, termasuk kutil pada kelamin, yang disebut kondiloma akuminatum. Hanya beberapa saja dari ratusan varian HPV yang dapat menyebabkan kanker. Kanker serviks atau kanker leher rahim bisa terjadi jika terjadi infeksi yang tidak sembuh-sembuh untuk waktu lama. Sebaliknya, kebanyakan infeksi HPV akan hilang sendiri, teratasi oleh sistem kekebalan tubuh.

Penyebab dan Gejala Kanker Serviks

Kanker serviks menyerang daerah leher rahim atau serviks yang disebabkan infeksi virusHPV (human papillomavirus) yang tidak sembuh dalam waktu lama. Jika kekebalan tubuh berkurang, maka infeksi HPV akan mengganas dan bisa menyebabkan terjadinya kanker serviks. Gejalanya tidak terlalu kelihatan pada stadium dini, itulah sebabnya kanker serviks yang dimulai dari infeksi HPV dianggap sebagai "The Silent Killer".

Beberapa gejala bisa diamati meski tidak selalu menjadi petunjuk infeksi HPV. Keputihan atau mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan intim adalah sedikit tanda gejala dari kanker ini. Selain itu, adanya cairan kekuningan yang berbau di area genital juga bisa menjadi petunjuk infeksi HPV. Virus ini dapat menular dari seorang penderita kepada orang lain dan menginfeksi orang tersebut. Penularannya dapat melalui kontak langsung dan karena hubungan seks.

Ketika terdapat virus ini pada tangan seseorang, lalu menyentuh daerah genital, virus ini akan berpindah dan dapat menginfeksi daerah serviks atau leher rahim Anda. Cara penularan lain adalah di closet pada WC umum yang sudah terkontaminasi virus ini. Seorang penderita kanker ini mungkin menggunakan closet, virus HPV yang terdapat pada penderita berpindah ke closet. Bila Anda menggunakannya tanpa membersihkannya, bisa saja virus kemudian berpindah ke daerah genital Anda.

Buruknya gaya hidup seseorang dapat menjadi penunjang meningkatnya jumlah penderita kanker ini. Kebiasaan merokok, kurang mengkonsumsi vitamin C, vitamin E dan asam folat dapat menjadi penyebabnya. Jika mengkonsumsi makanan bergizi akan membuat daya tahan tubuh meningkat dan dapat mengusir virus HPV.

Risiko menderita kanker serviks adalah wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat dini, yang sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan. Faktor penyebab lainnya adalah menggunakan pil KB dalam jangka waktu lama atau berasal dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit kanker.

Sering kali, pria yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi HPV itulah yang menularkannya kepada pasangannya. Seorang pria yang melakukan hubungan seks dengan seorang wanita yang menderita kanker serviks, akan menjadi media pembawa virus ini. Selanjutnya, saat pria ini melakukan hubungan seks dengan istrinya, virus tadi dapat berpindah kepada istrinya dan menginfeksinya.

Deteksi Kanker Serviks

Bagaimana cara mendeteksi bahwa seorang wanita terinfeksi HPV yang menyebabkan kanker serviks? Gejala seseorang terinfeksi HPV memang tidak terlihat dan tidak mudah diamati. Cara paling mudah untuk mengetahuinya dengan melakukan pemeriksaan sitologis leher rahim. Pemeriksaan ini saat ini populer dengan nama Pap smear atau Papanicolaou smear yang diambil dari nama dokter Yunani yang menemukan metode ini yaitu George N. Papanicolaou. Namun, ada juga berbagai metode lainnya untuk deteksi dini terhadap infeksi HPV dan kanker serviks seperti berikut:

· IVA

IVA yaitu singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam asetat. Metode pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat. Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. Anda dapat melakukan di Puskesmas dengan harga relatif murah. Ini dapat dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat tanda yang mencurigakan, maka metode deteksi lainnya yang lebih lanjut harus dilakukan.

· Pap smear

Metode tes Pap smear yang umum yaitu dokter menggunakan pengerik atau sikat untuk mengambil sedikit sampel sel-sel serviks atau leher rahim. Kemudian sel-sel tersebut akan dianalisa di laboratorium. Tes itu dapat menyingkapkan apakah ada infeksi, radang, atau sel-sel abnormal. Menurut laporan sedunia, dengan secara teratur melakukan tes Pap smear telah mengurangi jumlah kematian akibat kanker serviks.

· Thin prep

Metode Thin prep lebih akurat dibanding Pap smear. Jika Pap smear hanya mengambil sebagian dari sel-sel di serviks atau leher rahim, maka Thin prep akan memeriksa seluruh bagian serviks atau leher rahim. Tentu hasilnya akan jauh lebih akurat dan tepat.

· Kolposkopi

Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau kejanggalan, prosedur kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar untuk mengamati bagian yang terinfeksi. Tujuannya untuk menentukan apakah ada lesi atau jaringan yang tidak normal pada serviks atau leher rahim. Jika ada yang tidak normal, biopsi — pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh — dilakukan dan pengobatan untuk kanker serviks segera dimulai.

Mengobati Kanker Serviks

Jika terinfeksi HPV, jangan cemas, karena saat ini tersedia berbagai cara pengobatan yang dapat mengendalikan infeksi HPV. Beberapa pengobatan bertujuan mematikan sel-sel yang mengandung virus HPV. Cara lainnya adalah dengan menyingkirkan bagian yang rusak atau terinfeksi dengan pembedahan listrik, pembedahan laser, atau cryosurgery (membuang jaringan abnormal dengan pembekuan).

Jika kanker serviks sudah sampai ke stadium lanjut, maka akan dilakukan terapi kemoterapi. Pada beberapa kasus yang parah mungkin juga dilakukan histerektomi yaitu operasi pengangkatan rahim atau kandungan secara total. Tujuannya untuk membuang sel-sel kanker serviks yang sudah berkembang pada tubuh.

Namun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena itu, bagaimana cara mencegah terinfeksi HPV dan kanker serviks? Berikut ini beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mencegah kanker serviks.

Mencegah Kanker Serviks

Meski kanker serviks menakutkan, namun kita semua bisa mencegahnya. Anda dapat melakukan banyak tindakan pencegahan sebelum terinfeksi HPV dan akhirnya menderitakanker serviks. Beberapa cara praktis yang dapat Anda lakukan dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

· Miliki pola makan sehat, yang kaya dengan sayuran, buah dan sereal untuk merangsang sistem kekebalan tubuh. Misalnya mengkonsumsi berbagai karotena, vitamin A, C, dan E, dan asam folat dapat mengurangi risiko terkena kanker leher rahim.

· Hindari merokok. Banyak bukti menunjukkan penggunaan tembakau dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks.

· Hindari seks sebelum menikah atau di usia sangat muda atau belasan tahun.

· Hindari berhubungan seks selama masa haid terbukti efektif untuk mencegah dan menghambat terbentuknya dan berkembangnya kanker serviks.

· Hindari berhubungan seks dengan banyak partner.

· Secara rutin menjalani tes Pap smear secara teratur. Saat ini tes Pap smear bahkan sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas dengan harga terjangkau.

· Alternatif tes Pap smear yaitu tes IVA dengan biaya yang lebih murah dari Pap smear. Tujuannya untuk deteksi dini terhadap infeksi HPV.

· Pemberian vaksin atau vaksinasi HPV untuk mencegah terinfeksi HPV.

· Melakukan pembersihan organ intim atau dikenal dengan istilah vagina toilet. Ini dapat dilakukan sendiri atau dapat juga dengan bantuan dokter ahli. Tujuannya untuk membersihkan organ intim wanita dari kotoran dan penyakit.


lihat artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 31 Desember 2011

Definisi CRP



CRP merupakan sebuah komponen penting dari sistem imun, kumpulan protein yang dibuat oleh tubuh kita ketika berhadapan dengan infeksi atau trauma utama. CRP ditemukan sekitar 70 tahun yang lalu oleh para ilmuwan dengan menyelidiki respons inflammatory manusia. Akan tetapi, peranan yang dimiliki CRP dalam penyakit jantung baru ditemukan belakangan ini.

Setiap orang menghasilkan CRP, tetapi dengan jumlah berbeda tergantung pada beberapa faktor, termasuk faktor genetik dan faktor gaya hidup. Secara umum, orang yang merokok, memiliki tekanan darah tinggi, berat badan berlebih, dan tidak mampu aktif secara fisik cenderung memiliki kadar CRP yang tinggi, sedangkan orang yang kurus dan atletis cenderung memiliki kadar CRP yang rendah. Meski demikian, hampir setengah variasi kadar CRP antara setiap orang diwariskan sehingga menunjukkan kadar yang telah diwariskan orang tua dan kakek-nenek kepada anda melalui gen-gen yang mereka memiliki. Ini tidak mengherankan karena peranan fundamental yang dimiliki CRP dalam inflamasi, sebuah proses sangat penting untuk penyembuhan luka, untuk menghilangkan bakteri dan virus, dan untuk berbagai proses kunci yang penting bagi kelangsungan hidup. Penelitian selama 10 tahun terakhir telah menunjukkan bahwa terlalu banyak inflamasi pada beberapa keadaan yang bisa memiliki efek berbahaya, khususnya pada pembuluh darah yang membawa oksigen dan gizi ke semua jaringan tubuh. Para ilmuwan sekarang ini memahami bahwa atherosklerosis (proses yang mengarah pada akumulasi kolesterol dalam pembuluh-pembuluh arteri) merupakan sebuah penyakit inflammatory pembuluh darah, seperti halnya arthritis yang merupakan penyakit inflammatory pada tulang dan sendi.

Banyak penelitian telah menemukan bahwa penanda darah yang mencerminkan proses inflammatory tersebut meningkat diantara orang-orang yang berisiko tinggi untuk mengalami penyakit jantung di masa mendatang. Inflamasi penting dalam semua fase penyakit jantung, termasuk inisiasi dini plak-plak atheroslekrotik dalam arteri, serta kerusakan akut plak-palk ini yang menghasilkan serangan jantung, dan terlalu sering, menghasilkan kematian tiba-tiba. Sampai baru-baru ini, penanda-penanda yang tersedia untuk inflamasi tidak cocok digunakan di ruang praktik dokter. Sebaliknya, CRP sangat stabil dan agak mudah untuk diukur.

Perbandingan CRP dengan “Faktor Risiko Terbaru” lainnya

CRP merupakan sebuah indikator risiko yang sangat kuat, khususnya ketika digabungkan dengan evaluasi kolesterol. Beberapa dokter memilih untuk mengukur CRP bersama dengan serangkaian faktor risiko “terbaru” yang mencakup homocystein dan lipoprotein(a). Sementara yang lainnya mengukur CRP bersama dengan tes-tes yang lebih mahal yang mengukur subfraksi kolesterol spesifik. Akan tetapi, dengan perbandingan langsung, nilai prediktif untuk CRP jauh lebih besar dibanding yang diamati untuk penanda-penanda risiko “terbaru” alternatif ini. Lebih lanjut, hanya CRP yang terbukti dapat menambah informasi prognostik yang penting terhadap informasi yang sebelumnya didapatkan dari screening kolesteorl standar.

Pada beberapa komunitas, teknik-teknik pencitraan termasuk “scan seluruh badan” yang mendeteksi kalsifikasi arteri-arteri jantung dan aorta telah didukung sebagai teknik-teknik screening. Meskipun keberadaan kalsifikasi benar-benar meningkatkan risiko kardiovaskular, scan-scan seperti ini tidak direkomendasikan oleh Asosiasi Jantung Amerika dan saat ini sangat mahal. Pertimbangan tambahan untuk teknik-teknik pencitraan ini adalah bahwa hasilnya sering disalahartikan oleh pasien dan dokter dan bisa mengarah pada intervensi koroner yang tidak seharusnya, termasuk angioplasty dan bedah bypass. Meskipun kadar CRP juga telah terbukti memberikan tambahan informasi prognostik pada semua kadar kalsium koroner, namun informasi ini harus digunakan utamanya untuk memotivasi orang-orang yang berisiko untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih ramah jantung, bukan mencari prosedur jantung intervensional yang agresif.

Bagaimana CRP mempengaruhi diabetes dan sindrom metabolik?

Berbeda dengan kolesterol LDL, CRP memprediksikan bukan hanya penyakit jantung, tetapi juga risiko untuk mengalami diabetes tipe 2. Individu-individu yang memiliki kadar CRP lebih dari 3 mg/L memiliki risiko untuk mengalami diabetes 4 hingga 6 kali lebih besar dibanding individu yang memiliki kadar CRP lebih rendah. Sebagian hubungan antara penyakit jantung dan diabetes disebabkan oleh inflamasi, dan bagi banyak pasien inflamasi tersebut selanjutnya adalah hasil dari obesitas, khususnya “obesitas sentral” atau kecenderungan untuk memusatkan berat badan di sekitar perut. Ini karena sel-sel lemak atau “adiposit” menghasilkan protein-protein duta yang membangkitkan produksi CRP itu sendiri.

Sindrom metabolik merupakan sebuah kondisi yang diketahui menyebabkan pasien rentan terhadap diabetes dan penyakit jantung. Para dokter menganggap pasien memiliki sindrom metabolik jika dia memiliki sekurang-kurangnya 3 dari 5 kondisi berikut: kolesterol HDL rendah, obesitas sentral, trigliserida tinggi, kadar gula darah meningkat, dan tekanan darah tinggi. Akan tetapi, sindrom metabolik juga mencakup beberapa kelainan yang tidak mudah diukur yang mencakup resistensi insulin dan masalah-masalah dengan pembekuan darah. Kadar CRP meningkat apabila jumlah komponen sindrom metabolik juga meningkat. Bahkan diantara orang-orang yang diketahui mengalami sindrom metabolik, kadar CRP memberikan tambahan informasi prognostik yang penting tentang risiko. Sehingga, banyak dokter sekarang ini juga mengukur CRP sebagai bagian dari proses penentuan sindrom metabolit. Praktik ini menjadi semakin umum diantara pada endokrionologis dan dokter-dokter lain yang tertarik dalam pencegahan diabetes serta penyakit jantung.


Bagaimana cara menginterpretasi hasil tes CRP?

Penginterpretasian hasil CRP cukup sederhana Semua lab harus melaporkan nilai kadar dalam satuan mg/L. Kadar CRP yang kurang dari 1 mg/L merupakan pertanda baik dan menunjukkan risiko kardiovaskular yang rendah secara keseluruhan. Kadar CRP antara 1 – 3 mg/L adalah tanda dari risiko sedang, sedangkan kadar CRP di atas 3 mg/L menunjukkan risiko vaskular yang meningkat.


Ada kemungkinan bahwa anda akan memiliki kadar CRP yang sangat tinggi (di atas 10 mg/L). Pada kasus tersebut, tes harus diulangi pada sekitar 2 hingga 3 pekan ketika karena kadar di atas 10 mg/L bisa menunjukkan adanya infeksi akut (inilah sebabnyak mengalami direkomendasikan agar evaluasi CRP dilakukan ketika anda merasa sehat-sehat saja). Jika pada pemeriksaan ulang kadar CRP tetap tinggi, maka anda sangat besar kemungkinannya termasuk kelompok yang berisiko tinggi.

Wanita postmenopausal yang menjalani terapi penggantian hormon oral (HRT) estrogen atau estrogen plus progesteron cenderungan memiliki kadar CRP yang meningkat. Para wanita dalam kelompok ini harus membahas manfaat relatif dan risiko relatif dari HRT karena penelitian-peneitian terbaru belum menunjukkan HRT dapat mengurangi risiko kardiovaskular. Penghentian HRT oral akan mengurangi kadar CRP anda. Estrogen topikal dan modulator reseptor estrogen selektif (SERMS)kelihatannya tidak meningkatkan kadar CRP.

Kadar CRP cukup mirip pada pria dan wanita. CRP rata-rata pada orang Amerika paruh-baya adalah sekitar 1,5 mg/L. Sekitar 25% dari populasi Amerika Serikat memiliki kadar CRP yang lebih besar dari 3 mg/L, batas awal untuk risiko tinggi.


Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Jumat, 30 Desember 2011

Protein C-Reaktif membantu mempredikdi resiko serangan jantung dan stroke

Protein C-Reaktif membantu mempredikdi resiko serangan jantung dan stroke

Dari 1,5 juta serangan jantung dan 600.000 stroke yang terjadi di Amerika Serikat setiap tahun, hampir setengahnya akan mengenai pria dan wanita sehat dengan kadar kolesterol yang normal atau bahkan rendah. Usia lanjut, merokok, diabetes, dan tekanan darah tinggi semuanya berkontribusi bagi risiko serangan jantung. Akan tetapi, anda mungkin memiliki anggota keluarga atau teman yang menderita serangan jantung meskipun hanya sedikit memiliki faktor-faktor risiko yang lazim ini atau bahkan tidak ada risiko semacam ini.

Dalam upaya untuk menentukan risiko serangan jantung secara lebih baik dan mencegah kejadian-kejadian klinis, banyak dokter telah mulai menjadikan pengukuran protein C-reaktif (CRP) sebagai sebuah bagian rutin dari penilaian risiko global. Pendekatan yang sederhana dan murah ini untuk pemeriksaan penyakit jantung baru-baru ini telah dibolehkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dan oleh Asosiasi Jantung Amerika. Jika diukur dengan uji CRP “sensitifitas tinggi” baru, kadar CRP yang kurang dari 1, 1 sampai 3, dan lebih dari 3 mg/L dapat membedakan antara individu dengan risiko rendah, sedang, dan tinggi untuk mengalami serangan jantung dan stroke di masa mendatang. Akan tetapi, uji CRP bukanlah pengganti untuk pemeriksaan. Justru, tes CRP harus digunakan bersama dengan kolesterol dan faktor-faktor risiko lazim lainnya untuk menentukan risiko individu. Bukti juga menunjukkan bahwa individu dengan kadar CRP tinggi berisiko untuk mengalami diabetes. Disini dijelaskan kegunaan klinis dari CRP dan menganjurkan metode-metode untuk pencegahan penyakit jantung bagi pasien-pasien yang ditemukan memiliki kadar CRP meningkat.

Definisi CRP

CRP merupakan sebuah komponen penting dari sistem imun, kumpulan protein yang dibuat oleh tubuh kita ketika berhadapan dengan infeksi atau trauma utama. CRP ditemukan sekitar 70 tahun yang lalu oleh para ilmuwan dengan menyelidiki respons inflammatory manusia. Akan tetapi, peranan yang dimiliki CRP dalam penyakit jantung baru ditemukan belakangan ini.

Setiap orang menghasilkan CRP, tetapi dengan jumlah berbeda tergantung pada beberapa faktor, termasuk faktor genetik dan faktor gaya hidup. Secara umum, orang yang merokok, memiliki tekanan darah tinggi, berat badan berlebih, dan tidak mampu aktif secara fisik cenderung memiliki kadar CRP yang tinggi, sedangkan orang yang kurus dan atletis cenderung memiliki kadar CRP yang rendah. Meski demikian, hampir setengah variasi kadar CRP antara setiap orang diwariskan sehingga menunjukkan kadar yang telah diwariskan orang tua dan kakek-nenek kepada anda melalui gen-gen yang mereka memiliki. Ini tidak mengherankan karena peranan fundamental yang dimiliki CRP dalam inflamasi, sebuah proses sangat penting untuk penyembuhan luka, untuk menghilangkan bakteri dan virus, dan untuk berbagai proses kunci yang penting bagi kelangsungan hidup. Penelitian selama 10 tahun terakhir telah menunjukkan bahwa terlalu banyak inflamasi pada beberapa keadaan yang bisa memiliki efek berbahaya, khususnya pada pembuluh darah yang membawa oksigen dan gizi ke semua jaringan tubuh. Para ilmuwan sekarang ini memahami bahwa atherosklerosis (proses yang mengarah pada akumulasi kolesterol dalam pembuluh-pembuluh arteri) merupakan sebuah penyakit inflammatory pembuluh darah, seperti halnya arthritis yang merupakan penyakit inflammatory pada tulang dan sendi.

Banyak penelitian telah menemukan bahwa penanda darah yang mencerminkan proses inflammatory tersebut meningkat diantara orang-orang yang berisiko tinggi untuk mengalami penyakit jantung di masa mendatang. Inflamasi penting dalam semua fase penyakit jantung, termasuk inisiasi dini plak-plak atheroslekrotik dalam arteri, serta kerusakan akut plak-palk ini yang menghasilkan serangan jantung, dan terlalu sering, menghasilkan kematian tiba-tiba. Sampai baru-baru ini, penanda-penanda yang tersedia untuk inflamasi tidak cocok digunakan di ruang praktik dokter. Sebaliknya, CRP sangat stabil dan agak mudah untuk diukur.

CRP dan Risiko Penyakit Kardiovaksular

Lebih dari 12 penelitian besar menunjukkan bahwa kadar normal CRP pada pria dan wanita sehat sangat berkaitan dengan risiko serangan jantung, stroke, kematian tiba-tiba akibat jantung, dan perkembangan penyakit arteri perifer di masa mendatang. Para dokter juga mengetahui bahwa kadar CRP dapat memprediksikan kejadian-kejadian koroner rekuren diantara pasien-pasien yang sebelumnya mengalami penyakit jantung dan dengan demikian prognosis pasien dalam fase akut sebuah serangan jantung terkait erat dengan kadar CRP. Akan tetapi, penggunaan CRP yang paling penting sekarang ini adalah dalam pencegahan primer, yakni, dalam pendeteksian risiko tinggi diantara orang-orang yang belum diketahui memiliki sebuah penyakit.

Orang-orang yang memiliki kadar CRP meningkat memiliki risiko 2 hingga 3 kali lebih tinggi dibanding risiko mereka yang memiliki kadar rendah. Penting agar dokter melakukan uji “sensitifitas tinggi” untuk CRP jika dia menggunakan CRP untuk tujuan penilaian risiko kradiovaskular. Ini karena tes yang lama untuk CRP, yang memadai untuk pemantauan kondisi inflammatory parah, tidak memiliki kemampuan untuk mengukur kadar secara akurat dalam rentang yang diperlukan untuk pendeteksian risiko kardiak. Untuk mengingatkan dokter tentang isu ini, banyak laboratorium pasien rawat jalan yang sekarang ini secara spesifik mencermati format permintaan lab bahwa tes yang ditawarkan adalah untuk “CRP sensitifitas tinggi” atau “hs-CRP”. Seperti tes kolesterol, tes untuk hs-CP tidak lebih dari sebuah tes darah yang sederhana dan murah. Cara paling mudah untuk menilai risiko secara keseluruhan adalah dengan menambahkan evaluasi CRP pada saat screening kolesterol dilakukan.

Mengapa CRP dan Kolesterol keduanya perlu diukur?

Kolesterol dan CRP keduanya memprediksikan risiko, tetapi anda tidak dapat memprediksikan kadar CRP anda berdasarkan kadar kolesterol saja (atau sebaliknya). Ini karena tes-tes ini mengambil komponen berbeda dari proses penyakit. Efek independen dan tambahan ini ditunjukkan pada Gambar 1, yang menunjukkan kelangsungan hidup bebas kejadian kardiovaskular untuk orang-orang yang pada awalnya sehat menurut kadar CRP dan apa yang disebut “kolesterol buruk” atau kolesterol LDL. Seperti ditunjukkan, kelangsungan hidup terburuk (risiko tertinggi) diamati diantara mereka yang memiliki kadar tinggi untuk LDL dan CRP, sedangkan kelangsungan hidup terbaik (risiko terendah) ditemukan diantara mereka yang memiliki kadar rendah dari kedua penanda ini. Akan tetapi, satu diantara empat orang akan berada pada kelompok CRP tinggi/LDL rendah. Orang-orang seperti ini berisiko lebih besar dibanding orang-orang dalam kategori CRP rendah/LDL tinggi. Tanpa evaluasi CRP, orang-orang seperti ini akan tidak teridentifikasi jika dokter semata-mata hanya bergantung pada screening kolesterol saja.

Penting untuk diketahui bahwa kadar kolesterol LDL yang tinggi tetap menjadi faktor risiko yang penting dan sehingga pengurangan kolesterol LDL secara agresif merupakan sebuah tujuan pokok dari pencegahan penyakit kardiovaskular. Akan tetapi, seperti ditunjukkan pada Gambar 2, CRP sebenarnya merupakan indikator yang lebih kuat untuk penyakit dan stroke dibanding dengan kolesterol LDL (secara keseluruhan). Sehingga, rekomendasi-rekomendasi praktik yang ada sekarang ini adalah mengukur kadar kolesterol dan CRP secara bersama-sama dan mendasarkan intervensi pada informasi gabungan yang diberikan oleh masing-masing pengukuran (lihat berikut dan Gambar 3).

Dengan banyak cara, sebuah keputusan untuk menguji CRP cukup mirip dengan keputusan untuk menguji kolesterol; pengetahuan tentang kadar yang tinggi harus memotivasi anda untuk menurunkan berat badan, melakukan diet, berolahraga, dan berhenti merokok. Semua perubahan gaya hidup ini diketahui dapat mengurangi risiko untuk mendapatkan penyakit jantung, dan semuanya mengurangi kadar CRP.


Apakah CRP spesifik untuk penyakit kradiovaskular?

Karena CRP merupakan sebuah “pereaksi fase-akut” dan meningkat selama trauma besar dan infeksi, beberapa dokter telah khawatir bahwa pengujian CRP bisa terlalu tidak spesifik untuk penggunaan klinis. Akan tetapi, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa CRP, ketika diukur dengan uji sensitifitas tinggi pada individu-individu yang stabil, agak spesifik untuk prediksi kejadian-kejadian kardiovaskular di masa mendatang. Pada salah satu penelitian terbaru, kadar CRP yang meningkat terkait dengan peningkatan mortalitas kardiovaskular 8 kali lipat, tetapi tidak memiliki nilai prediktif untuk kematian akibat penyebab lain. Penelitian-penelitian lain menunjukkan bahwa kadar CRP memprediksikan serangan jantung dan stroke, tetapi tidak memprediksikan kanker dan gangguan-gangguan utama lainnya. Sehingga, kadar CRP yang meningkat terus menerus merupakan tanda dari risiko penyakit jantung dan tanda atherosklerosis cepat yang mengenai orang-orang dengan diabetes.

Pada usia berapa seseorang harus diperiksa kadar CRP nya?

Kali pertama untuk mempertimbangkan pemeriksaan CRP adalah kemungkinan pada usia pertengahan 30an, usia sama dimana kebanyakan dokter memeriksa kadar kolesterol. Ada bukti yang mendukung bahwa kadar CRP pada usia belasan tahun dan 20an merupakan kadar yang sangat prediktif untuk kehidupan di masa-masa mendatang. Kadar CRP yang meningkat memprediksikan risiko selama 30 hingga 40 tahun yang akan datang. Ini merupakan berita baik dari sudut pandang pencegahan karena banyak waktu yang tersedia untuk melakukan perubahan-perubahan gaya hidup dan, jika perlu, melakukan intervensi-intervensi farmakologi untuk mencegah serangan jantung dan stroke pertama.

Berbeda dengan pengujian kolesterol, evaluasi CRP tidak mengharuskan anda berpuasa dan bisa dilakukan kapanpun dalam seharian.


Siapa yang harus diperiksa kadar CRP nya?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dan Asosiasi Jantung Amerika menyarnakan agar evaluasi CRP dipertimbangkan sebagai bagian dari prediksi risiko global keseluruhan untuk orang-orang yang mengkhawatirkan risiko vaksular. Tes ini sangat besar kemungkinannya memiliki pemanfaatan terbesar diantara mereka yang mengalami risiko “sedang” dimana informasi prognostik tambahan emungkinan merubah perkiraan risiko keseluruhan dan memotivasi perubahan gaya hidup. Untuk efisiensi praktik klinis dan untuk menghindari pengambilan darah yang tidak perlu, banyak dokter yang hanya menjadikan tes CRP sebagai tes tambahan bagi evaluasi kolesterol yang sudah menjadi standar. Tes CRP tidak dianggap sebagai hal yang wajib tetapi justru harus dilakukan sesuai dengan kebijaksanaan dokter.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dan Asosiasi Jantung Amerika juga mendukung penggunaan evaluasi CRP untuk mereka yang memiliki riwayat serangan jantung sebelumnya dan diantara mereka yang dirujuk ke rumah sakit akibat sindrom penyakit jantung akut. Dalam setting Ruang Darurat, pasien yang datang dengan sindrom nyeri dada juga bisa mengalami pemeriksaan kadar CRP untuk mengidentifikasi mereka yang berisiko tinggi untuk mengalami penyakit koroner

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan