Kanker servik jadi pembunuh wanita

Tahukah Anda, bahwa dalan setiap jam wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks atau lebih dikenal dengan kanker mulut rahim. Bahkan dalam setiap menit wanita di seluruh dunia meninggal karna kanker yang mematikan ini.

Beda Hormon LH dan FSH

FSH dan LH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior, sebuah kelenjar kecil yang hadir di bagian bawah otak. FSH pada dasarnya menyebabkan pematangan sel telur di dalam folikel dalam tubuh wanita.

Manfaat Bawang Putih

Khasiat atau manfaat bawang putih ternyata tidak hanya untuk menyedapkan atau sebagai bumbu masakan saja, namun ternyata banyak hal lain yg dapat di manfaatkan dari bawang puth tersebut terutamanya untuk dunia kesehatan.

Toko Kayumanis

Selamat datang di Toko Kayumanis version Online Shop Kami menjual T-shirt, kaos oblong dan jaket T-shirt, kaos oblong dan jaket yang kami jual menggunakan bahan yang berkualitas tinggi, kelebihan dari T-shirt, kaos oblong dan jaket di Toko kami dapat anda tentukan sendiri desainnya, pola ataupun grafisnya sesusai keinginan anda sehingga dapat dipastikan tidak ada T-shirt, kaos oblong dan jaket dari Toko kami yang mempunyai motif yang sama.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 20 Juni 2011

Dampak Pemberian ASI Eksklusif terhadap Penurunan Kesuburan seorang Wanita


Air Susu Ibu (ASI) memberi segala kebutuhan makanan
bayi, baik dari segi gizi, imunologis, maupun psikologis. ASI
juga memberi perlindungan obstetrik dan kontraseptif pada ibu.
Di beberapa negara sedang berkembang seperti Indonesia,
efek kontraseptif dari laktasi adalah salah satu cara pengaturan
kesuburan seorang wanita. Penelitian menunjukkan bahwa
pemberian ASI dapat mempengaruhi lamanya amenorrhea dan
frekuensi ovulasi. Tingginya frekuensi pemberian ASI, lamanya
setiap pemberian, dan kurangnya frekuensi pemberian
makanan tambahan akan menurunkan kemung kinan terjadinya
ovulasi.
Pada wanita postpartum yang tidak memberikan ASInya,
Luteinizing Hormon (LH) dan Follicle Stimulating Hormon
(FSH) akan menurun sensitivitasnya terhadap Gonadotropin
Releasing Hormone (GnRH) setidaknya 3 sampai 4 minggu
setelah persalinan dibandingkan wanita dengan siklus ovarium
yang normal. Sementara pada wanita yang memberikan
ASInya ovulasi tidak terjadi akibat pengaruh hormon Prolaktin;
pada wanita tersebut meskipun kadar Prolaktin telah
kembali normal seringkali amenorea tetap terjadi, diduga hal
ini disebabkan olah berkurangnya produksi GnRH oleh
hipotalamus.
Penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya
ovulasi menurun hingga 1-5% pada pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan pertama postpartum, dan apabila pemberian
ASI dilanjutkan hingga bayinya berusia 2 tahun maka efek
kontrasepsi yang didapatnya hampir setara dengan penggunaan
sistem kalender ataupun sanggama terputus. Tetapi mengandalkan
proses laktasi saja sebagai metode kontrasepsi tentunya
tidak tepat karena pada 6% wanita yang menyusui bayinya
dan tidak menggunakan kontrasepsi dapat terjadi kehamilan.

ASI EKSKLUSIF
World Health Organization (WHO) merekomendasikan
bahwa semua bayi harus mendapat Air Susu Ibu (ASI) secara
eksklusif sejak lahir, sesegera mungkin (setengah hingga 1 jam
sejak lahir) sampai setidaknya usia 4 bulan dan bila mungkin
hingga usia 6 bulan. Yang dimaksudkan dengan ASI eksklusif
adalah pemberian ASI melulu tanpa disertai makanan atau
minuman tambahan yang lain. ASI harus diberikan sebanyak
dan sesering yang diinginkan oleh bayi, siang maupun malam,
setidaknya 8 kali.
Howie pada tahun 1981 menemukan bahwa ovulasi tidak
akan terjadi apabila laktasi yang ketat dipertahankan. Terdapat
berbagai penelitian dan konsensus internasional tentang hubungan
antara laktasi dan penurunan ovulasi tersebut. Di tahun
1988 di Bellagio, Italia, para ahli dari seluruh dunia mempelajari
bukti-bukti ilmiah yang berkaitan dengan efek laktasi
terhadap infertilitas. Mereka menyimpulkan bahwa para wanita
yang tidak menggunakan kontrasepsi tetapi memberi ASI
eksklusif atau hampir eksklusif dan mengalami amenorea,
maka kemungkinan terjadinya kehamilan kurang dari 2%
dalam 6 bulan pertama postpartum (Concensus Statement
1988, Kennedy et al 1989). Berlanjut dari konsensus tersebut,
dilakukan berbagai penelitian untuk membuktikannya. Di
tahun 1988 di Chili dilakukan penelitian terhadap 422 wanita
postpartum; pada 221 wanita (56%) yang mengandalkan LAM
(Lactational Amenorrhoea Method) sebagai satu-satunya
metode kontrasepsi selama 6 bulan rasio kumulatif terjadinya
kehamilan adalah 0,45%, 1 kehamilan terjadi pada bulan ke 6
dan 3 kehamilan lainnya terjadi pada wanita yang telah
berhenti menggunakan metode LAM (Perez et al 1992).
Penelitian-penelitian lainnya di Mesir (Hefnawi et al 1977),
Bangladesh (Weis 1993), Ecuador (Wade et al, 1994), Rwanda
(Cooney et al 1996) mendukung efektivitas LAM tetapi tidak
mengukurnya.
Penelitian yang paling cermat tentang LAM sebagai metode
kontrasepsi telah dilakukan dalam tiga uji klinik. Yang
pertama yang dilakukan oleh Perez seperti yang telah disebutkan
di atas, yang kedua yang dilakukan oleh Kazi dkk, 1995,
di Pakistan dan yang ketiga dilakukan oleh Ramos di Philipina
1996. Mereka melaporkan bahwa rasio kehamilan tiap 100
wanita dalam jangka waktu 6 bulan penggunaan metode tersebut
secara tepat adalah 0,58 di Pakistan dan 0,97 di
Philipina. Penelitian ini memberi bukti yang meyakinkan
bahwa LAM adalah sungguh metode kontrasepsi yang efektif,
asalkan ketiga kriteria tersebut di bawah ini terpenuhi:

1. Ibu memberikan ASI eksklusif atau hampir eksklusif pada
bayinya. Pemberian harus mengikuti kemauan bayi (on
demand) baik siang mapun malam, dengan jarak tidak lebih
dari 6 jam antara pemberian ASI berikutnya.
Pemberian ASI yang tidak eksklusif ditandai dengan peningkatan
terjadinya ovulasi sebelum timbulnya menstruasi dan
berkurangnya lama amenorea.
2. Apabila setelah lebih dari 8 minggu postpartum timbul
menstruasi, maka kemungkinan ibu dapat mengalami kehamilan
akan meningkat. Untuk mendapatkan perlindungan kontraseptif
maka dianjurkan untuk menggunakan metode keluarga
berencana alternatif lainnya (sambil meneruskan pemberian
ASI untuk keperluan bayinya). Tetapi tidak selalu bahwa
perdarahan pervaginam dalam waktu 8 minggu postpartum
pada wanita yang memberikan ASI eksklusif berarti
kembalinya kesuburan (Visness dkk 1997).
3. Apabila bayi telah berusia 6 bulan lebih, kemungkinan
terjadinya kehamilan maningkat, bahkan bila ibu tetap
memberi ASI. Oleh karena itu ibu dianjurkan untuk memakai
metode lain yang lebih efektif. Penelitian juga dilakukan terhadap wanita Australia yang
menyusui dalam jangka waktu lama, aktivitas ovarium
ditentukan dengan mengukur progesteron dalam saliva, dan
ekskresi estrogen dan pregnandiol (Lewis et al 1991, Short et
al 1991). Mereka menyimpulkan bahwa LAM memberi
perlindungan kontraseptif yang aman dalam jangka waktu 6
bulan postpartum, bahkan pada wanita dengan gizi baik di
negara ber-kembang. Diaz dkk (1992) di Chili meneliti peran
anovulasi dan defek fase luteal terhadap infertilitas akibat
laktasi. Di-simpulkan bahwa, meskipun terjadi ovulasi, kondisi
endokrin yang abnormal pada fase luteal pertama memberikan
per-lindungan yang efektif pada wanita selama amenorea
laktasi dalam jangka waktu 6 bulan postpartum. Setelah fase
luteal membaik maka wanita itu mempunyai risiko hamil.

ANTAGONISME LAKTASI TERHADAP OVULASI
Selama masa laktasi, kadar prolaktin akan tetap tinggi
sebagai respon terhadap rangsang isapan bayi yang
berlangsung terus menerus. Kadar prolaktin yang tinggi
tersebut akan berefek pada otak dan ovarium.
Di otak, prolaktin yang sampai di hipothalamus akan
menimbulkan hambatan sekresi GnRH. Sedangkan kadar
estrogen, yang semula sangat tinggi selama persalinan karena
sekresi dari plasenta, akan mengalami penurunan setelah
terlepasnya plasenta; penurunan ini ternyata tidak mampu
merangsang hipothalamus untuk memacu sekresi GnRH, hal
ini mengisyaratkan adanya penurunan sensitivitas
hipothalamus terhadap mekanisme umpan balik positif oleh
estrogen selama laktasi (sebaliknya justru meningkatkan
umpan balik negatif); sementara di hipofisis anterior akan
terjadi penurunan sensi-tivitas terhadap rangsang oleh
hipothalamus. Akibatnya, kadar FSH dan LH akan rendah,
seperti pada awal masa folikuler dari siklus menstruasi(8).
Pada seorang wanita yang memberikan ASI eksklusif,
selama 6-8 minggu masa laktasi akan terjadi penurunan respon
LH terhadap GnRH, sementara respon FSH tetap normal,
meskipun demikian pada ovarium tidak terjadi fase folikuler
dan tidak terjadi sintesis estrogen. Sintesis estrogen akan
dimulai secara bertahap sejak bulan ke 4 postpartum pada
wanita yang memberikan ASInya, tetapi keadaan ini bervariasi
antara ibu menyusui yang satu dengan yang lainnya.
Pemberian GnRH atau hormon gonadotropin eksogen dalam
jumlah besar ternyata mampu merangsang perkembangan
folikel ovarium dan pembentukan hormon estrogen. Hal ini
meng-isyaratkan bahwa pada ovarium terjadi penurunan
sensitivitas terhadap hormon gonadotropin, mungkin karena
reseptor gonadotropin pada ovarium ditempati oleh prolaktin,
atau karena hambatan fungsi sel-sel theka oleh prolaktin. Hal
ini menerangkan efek kadar prolaktin yang tinggi terhadap
ovarium.
Jadi dapat disimpulkan bahwa prolaktin merupakan penyebab
utama anovulasi pada laktasi atau amenorea pada
laktasi, atas dasar efek penghambatan di tingkat otak maupun
ovarium sebagai berikut:

1. Penurunan sensitivitas hipothalamus terhadap umpan balik
positif dari estrogen.
2. Hambatan sekresi GnRH oleh hipothalamus.
3. Penurunan sekresi gonadotropin.
4. Penurunan sensitivitas ovarium terhadap gonadotropin.
Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas terdapat alternatif
penghambatan ovulasi yang lain oleh prolaktin yaitu
hambatan sintesis progesteron oleh sel-sel granulosa dan
perubahan rasio testosteron: dihidrotestosteron oleh prolaktin
sehingga berakibat penurunan zat-zat teraromatisasi yang
berarti peningkatan kadar zat antiestrogen lokal.
Kadar prolaktin yang tinggi menyebabkan umpan balik
positif jalur pendek terhadap sekresi dopamin oleh
hipothalamus. Kadar dopamin yang tinggi akan menurunkan
sekresi GnRH.Antara efek di otak dan di ovarium, tampaknya efek
hambatan ovulasi oleh prolaktin selama laktasi paling dominan
adalah penyebab di otak.
Lactational Amenorrhea (LAM) memberi efek pencegahan
yang baik terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan
selama 6 bulan pertama postpartum, bahkan pada wanita
dari negara-negara sedang berkembang dengan status gizi yang
baik. Menurut Diaz (1992), meskipun terjadi ovulasi, status
hormonal pada fase luteal yang pertama setelah ke-hamilan
dan persalinan belum kembali normal sehingga tetap
merupakan pencegahan yang efektif terhadap kemungkinan
terjadinya kehamilan(3). Sementara menurut Chatterton
(Sciarra, 1997) LAM tidak memberikan perlindungan total
terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan, sehingga pada
wanita yang tidak menggunakan metode kontrasepsi selain
LAM dapat terjadi kehamilan meskipun tanpa didahului
timbulnya menstruasi sejak persalinan (3-15%)(10).
Probabilitas kumulatif terjadinya kehamilan digambarkan
dalam bentuk grafik oleh Short dkk, dengan kemungkinan
terjadinya kehamilan dalam 1 tahun sejak postpartum pada
wanita yang memberi ASI tapi tidak menggunakan kontrasepsi
lain adalah kecil pada 6 bulan pertama, tetapi kemungkinan itu
akan meningkat dengan cepat dan menjadi sama dengan wanita
yang tidak memberi ASI dan tidak menggunakan kontrasepsi
pada waktu sekitar 18 bulan postpartum. Hal ini berbanding
terbalik dengan persentase wanita dengan LAM, yang dengan
bertambahnya bulan-bulan postpartum akan makin jarang
jumlah wanita yang tetap berada dalam kondisi Lactational
Amenorhhea (LAM).
Kemungkinan terjadinya kehamilan tetap kecil (7%)
dalam tahun pertama postpartum apabila setelah timbul
menstruasi yang pertama, wanita tersebut menggunakan
metode kontrasepsi yang efektif.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN
MENCEGAH OVULASI DENGAN LAKTASI
Lactational Amenorrhea (LAM) merupakan metode
kontrasepsi yang efektif setidaknya dalam 6 bulan pertama
postpartum, dalam arti mencegah timbulnya ovulasi, apabila
pemberian ASI dilakukan secara eksklusif, setiap kali bayi
menginginkannya, baik siang maupun malam, dengan interval
tidak lebih dari 6 jam(3). Seperti telah dibicarakan sebelumnya,
kelancaran pemberian ASI tersebut dipengaruhi oleh banyak
hal, yaitu:

1. Rangsang sekresi pada permulaan pemberian ASI.
2. Kesinambungan sekresi ASI.
3. Pengeluaran ASI dari alveoli ke puting susu dan kemudian ke mulut bayi.
4. Kemampuan bayi untuk mengisap dan mencerna ASI.
Disebutkan bahwa laktasi tergantung pada rasa percaya
diri ibu; jika ibu mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu
memberikan ASI yang dibutuhkan oleh bayinya maka makin
besar kemungkinan keberhasilannya dalam menyusui. Seperti
telah dibahas sebelumnya bahwa permulaan sekresi ASI dan
kesinambungan sekresi ASI oleh sel-sel acinus kelenjar
mammae sangat tergantung pada pelepasan prolaktin dalam
jumlah yang cukup. Sekresi prolaktin oleh kelenjar hipofisis
dipacu oleh tingginya frekuensi isapan oleh bayi, dan dihambat
oleh rasa takut, cemas, nyeri, serta frekuensi menyusui
yang rendah dan tidak teratur.
Sering terjadi bahwa ibu merasa ASI yang diberikannya
tidak mencukupi kebutuhan bayinya, sehingga ibu meminta
nasehat pada orang lain, baik anggota keluarga, teman, atau
bahkan dokter. Maka dalam hal ini nasehat yang diberikan
pada ibu tersebut mempunyai makna yang sangat penting.
Kadangkala bahkan dokter memberikan nasehat yang tidak
tepat, misalnya dengan membatasi frekuensi pemberian ASI
dengan maksud agar tidak melelahkan ibu, membatasi lamanya
tiap kali pemberian ASI hanya 10 menit saja dengan tujuan
untuk menghindari erosi pada puting, dan menganjurkan ibu
untuk menimbang berat bayinya sebelum dan sesudah
menyusui dengan tujuan mengetahui banyaknya ASI yang
disusukan pada bayinya. Hal-hal seperti ini justru menambah
kecemasan pada ibu dan membatasi keleluasaan ibu dalam
menyusui, yang berakibat penekanan terhadap refleks let
down.
Selain itu pada masa ini anak-anak jarang menyaksikan
ibunya menyusui adik bayinya, sehingga di saat mereka
dewasa mereka tidak mempunyai contoh yang baik tentang
proses menyusui sebagai suatu proses yang alamiah. Maraknya
iklan dan promosi susu formula menimbulkan pemikiran baru
yang salah bahwa memberi susu formula jauh lebih
menguntungkan daripada memberi ASI. Pemberian susu
formula atau makanan tambahan sesaat sebelum bayi
mendapat ASI akan menyebabkan bayi merasa kenyang
terlebih dahulu, dan kurang aktif dalam mengisap ASI. Hal ini
akan mengurangi frekuensi refleks prolaktin dan refleks let
down.
Pada akhirnya, hal-hal tersebut di atas akan berakibat
pacuan terhadap produksi ASI menurun dan terjadi kegagalan
menyusui akibat penurunan jumlah ASI dan diikuti dengan
penghentian pemberian ASI.
Dukungan dari masyarakat dan keluarga serta tenaga
medis terhadap ibu yang menyusui dengan nasehat-nasehat
yang tepat dan tidak saling bertentangan akan membantu
mencegah penghentian laktasi yang terlalu dini.
Amenorea postpartum dapat berlangsung lebih lama
akibat malnutrisi pada ibu. Pada wanita yang sedang menyusui
ke-butuhan energinya meningkat dua kali lipat dibandingkan
sebelum periode laktasi, karena itu dengan porsi makanan yang
sama dengan sebelum menyusui dapat terjadi kese-imbangan
energi yang negatif, yang berakibat amenorea yang
berkepanjangan.
Pada masa laktasi terjadi pula peningkatan kebutuhan
kalsium untuk pembuatan ASI, yang menimbulkan peningkatan
absorbsi kalsium dan terjadinya dekalsifikasi tulang. Hal
ini memungkinkan terjadinya defisiensi kalsium relatif, yang
menimbulkan efek yang cukup berarti pada sekresi hormon
seperti hormon-hormon gonadotropin, yang dalam pelepasannya
memerlukan kerja dari protein kinase.
Jadi selain faktor internal dari ibu, faktor eksternal juga
ikut berpengaruh terhadap kelancaran pemberian ASI. Apabila
pemberian ASI sudah tidak lagi eksklusif maka kesuburan
seorang wanita akan segera kembali seperti sediakala sebelum
kehamilannya.
Menyusui adalah suatu proses alamiah yang besar artinya
bagi kesejahteraan bayi, ibu, dan keluarga. Alam telah menciptakan
bahwa dengan menyusui maka kesuburan ibu akan
menurun, dan penurunan kesuburan ini dapat menghindari
kehamilan berikut dalam interval waktu yang singkat. Dengan
demikian ibu dapat mencurahkan perhatian sepenuhnya dan
kasih sayang bagi pertumbuhan bayinya, meringankan beban
keluarga dengan menghindari faktor risiko pada kehamilan
berikutnya, dan memberi kesempatan pada ibu untuk memulihkan
kondisinya setelah kehamilan dan persalinan.
Penurunan kesuburan ini terjadi akibat hambatan laktasi
terhadap ovulasi yang disebabkan oleh antagonisme antara
hormon-hormon yang mempengaruhi laktasi dengan hormonhormon
yang menimbulkan ovulasi. Hambatan itu terletak di
sentral maupun di perifer. Efek sentral atau di otak tampaknya
merupakan hambatan yang paling berperan dalam mencegah
ovulasi yaitu dengan adanya penurunan sensitivitas hipothalamus
terhadap umpan balik positif dari estrogen, hambatan
sekresi GnRH oleh hipothalamus, dan penurunan sekresi
gonadotropin oleh dominasi hormon prolaktin. Sementara efek
di perifer atau di ovarium adalah menurunnya sensitivitas
ovarium terhadap gonadotropin. Hal ini meskipun mempunyai
peran dalam pencegahan ovulasi tetapi efeknya tidak terlalu
berpengaruh, terbukti dengan adanya pemberian gonadotropin
eksogen dapat menekan laktasi dan memulihkan kembali
kesuburan seorang wanita.
Efek kontrasepsi dari laktasi atau yang dikenal dengan
istilah Lactation Amenorrhea (LAM) sangat tergantung dari
eksklusivitas pemberian ASI. Yang dimaksud dengan pemberian
ASI secara eksklusif adalah pemberian ASI kepada bayi
sejak sedini mungkin, setiap saat bayi menginginkannya,
sebanyak yang dibutuhkan oleh bayi, baik siang maupun
malam, tanpa diselingi pemberian susu formula atau makanan
tambah-an. Pemberian ASI eksklusif dapat menjamin kesinambungan
sekresi prolaktin yang merupakan hormon antagonis
terhadap ovulasi. Pemberian ASI eksklusif pada umumnya
dapat dilakukan hingga 6 bulan postpartum, selanjutnya bayi
perlu mendapat makanan tambahan; hal ini menyebabkan
pemberian ASI menjadi tidak eksklusif yang berarti
kembalinya kesuburan seorang wanita. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa dengan LAM angka kejadian kehamilan
dalam 6 bulan pertama postpartum adalah kurang dari 2% atau
setara dengan penggunaan metode kontrasepsi efektif terpadu.
Sedangkan apabila setelah 6 bulan ibu melanjutkan dengan
metode kontrasepsi yang efektif, maka kemungkinan terjadinya
kehamilan dalam 1 tahun postpartum adalah 7% saja.
Dengan demikian LAM merupakan salah satu metode
kontrasepsi yang diakui, bahkan WHO di tahun 1998
mengeluarkan pegangan bagi penggunaan LAM sebagai salah
satu metode kontrasepsi bagi negara-negara di mana menyusui
dalam jangka waktu yang panjang merupakan hal yang lazim,
melalui Maternal and Newborn Health/Safe Motherhood Unit.
Pengakuan WHO ini berdasarkan banyak penelitian pendahuluan
tentang bukti-bukti bahwa LAM memang layak
diperhitungkan sebagai salah satu metode kontrasepsi.
Konferensi di Bellagio, Italia tahun 1995 mengukuhkan
dukungan terhadap LAM dan pemberian ASI eksklusif.
Petunjuk tentang penggunaan LAM disertai pula dengan
anjuran untuk meng-gunakan metode kontrasepsi segera
setelah masa 6 bulan postpartum dilewati.
Bagi seorang dokter penting untuk memahami mekanisme
hormonal yang terjadi selama laktasi dan selama ovulasi dan
bagaimana kedua hal tersebut dapat saling menghambat.
Dengan demikian kita dapat memberi nasehat yang tepat dan
bermanfaat bagi pasien yang ingin mencegah terjadinya kehamilan
segera setelah persalinan tetapi tidak mau menggunakan
metode kontrasepsi. Dengan dasar pengetahuan tentang LAM
pula kita dapat menganjurkan pada ibu kapan sebaiknya ibu
mulai menggunakan metode kontrasepsi yang efektif.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 18 Juni 2011

Exercises untuk Nyeri Pinggang Bawah pada Ibu Hamil


Tulang belakang merupakan bagian sentral tubuh manusia
yang mempunyai hubungan dengan struktur jaringan lainnya
seperti jaringan pengikat sendi dan otot. Fungsi tulang
belakang di samping sebagai penyangga juga memberikan
perlindungan dan merupakan sendi gerak yang memungkinkan
tulang belakang bergerak.
Pada kehamilan timbul rasa nyeri di pinggang bawah
akibat pengaruh hormon yang menimbulkan gangguan pada
substansi dasar bagian penyangga dan jaringan penghubung
sehingga mengakibatkan menurunnya elastisitas dan
fleksibilitas otot; selain itu juga disebabkan oleh faktor
mekanika yang mempengaruhi kelengkungan tulang belakang
oleh perubahan sikap statis dan penambahan beban pada saat
ibu hamil.
Di antara 180 Ibu hamil yang diteliti, 87 (± 48%) orang
mempunyai keluhan nyeri pinggang bawah; 36 orang di
antaranya mempunyai keluhan yang bersifat refered pain pada
satu tungkai dan 18 orang lainnya mengenai pada kedua
tungkai yang dikenal dengan ischias dalam kehamilan. Untuk
menyelesaikan masalah tersebut, salah satu cara adalah dengan
melakukan beberapa teknik latihan.
Dilihat dari strukturnya, fungsi tulang belakang meliputi
fungsi statis, kinetis, keseimbangan dan perlindungan. Fungsi
statis tulang belakang adalah mempertahankan posisi tegak
melawan gravitasi dengan energi sekecil mungkin melalui
suatu mekanisme sehingga tampak sikap tubuh tertentu. Dalam
fungsi pergerakkan tulang belakang merupakan rangkaian dari
alat gerak yang memungkinkan terjadinya gerak terarah dan
bertujuan. Fungsi keseimbangan aktif dalam mempertahankan
titik berat tubuh pada posisi tetap, yaitu setinggi tulang sakrum
saat berdiri, terutama oleh proprioSeptor jaringan lunak
sendi facet yang memberikan arah perubahan sikap dan otot
tubuh. Sebagai fungsi perlindungan, melindungi organ dan
jaringan penting seperti kepala, sumsum tulang belakang, akar
syaraf, ganglion dan pembuluh darah. Otot-otot yang sangat
berpengaruh langsung maupun tidak langsung pada keluhan
nyeri pinggang bawah sangatlah kompleks.
Pada kehamilan, akan terjadi perubahan pelvis menjadi
sedikit berputar ke depan karena pengaruh hormonal dan laxity
ligament. Pada keadaan hiperekstensi tulang belakang, terjadi
pergesekan antara kedua facet dan menjadikan tumpuan berat
badan, sehingga permukaan sendi tertekan; keadaan ini akan
menimbulkan rasa nyeri, kadang-kadang dapat mengiritasi
saraf ischiadicus; dan apabila terjadi penyempitan pada
bantalan tulang belakang, nyeri akan bertambah hebat.
Keadaan ini akan menimbulkan ketidakseimbangan kekuatan
antara otot perut dan otot punggung.
Sendi yang membentuk tulang belakang dan panggul
sebagian merupakan sendi sindesmosis. Sendi sakroiliak
berbentuk huruf L, permukaan sendinya tidak simetris, tidak
rata dan posisinya hampir dalam bidang sagital serta
permukaan tulang sakrum lebih cekung. Gerakan yang terjadi
adalah rotasi dalam jarak gerak terbatas, yang dikenal dengan
nama Nutasi dan Konter Nutasi. Pelvis menerima beban dari
tulang belakang dengan distribusi gaya merupakan ring
tertutup. Pada kehamilan gerak sendi ini dapat meningkat
karena pengaruh hormonal. Panggul dan sakrum yang bergerak
ke depan menyebabkan posisi sendi sakroiliaka juga berubah,
dikombinasi dengan adanya laxity akan menyebabkan keluhankeluhan
pada sendi yang lain.
Dari penjelasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa faktor penyebab yang paling dominan menyebabkan
Nyeri Pinggang Bawah saat kehamilan adalah oleh adanya
ketidakseimbangan kerja otot bagian belakang dan bagian
depan.
Dengan bertambahnya usia kehamilan maka jelas bahwa
pertambahan sudut lengkungan tulang belakang juga semakin
meningkat yang dikenal dengan nama Sway Back; terjadi gerak
pelvis ke depan sehingga menyebabkan jaringan pengikat sendi
menegang dan bilamana posisi yang salah tersebut berlangsung
lama akan menimbulkan ketegangan pada jaringan ikat sendi
dan otot, sehingga menimbulkan kelelahan pada otot-otot perut.

CARA MENGATASI NYERI PINGGANG BAWAH
SAAT KEHAMILAN
Untuk mengatasi nyeri pinggang bawah yang timbul pada
ibu hamil, perlu dilakukan beberapa teknik latihan, sebagai berikut:
1) Persiapan latihan.
− Pakaian pasien sebaiknya menggunakan pakaian latihan.
− Posisi pasien diatur sedemikian rupa dengan rileks.
2) Sebelum melakukan latihan perlu dilakukan gerakangerakan
kecil pemanasan pada pinggang dan tungkai
secara pelan dan lembut.
3) Pelaksanaan.
Latihan ini dilakukan 5 sampai dengan 7 detik dan diulang
10 kali setiap session latihan. Namun harus juga diperhatikan
kemampuan dan daya tahan pasien, apabila pasien merasa lelah
maka harus diistirahatkan.
4) Tujuan latihan ini adalah:
a) Untuk mengurangi rasa nyeri pada pinggang bawah.
b) Merileksasikan otot-otot belakang pinggang.
c) Memelihara jarak gerak sendi pelvic dan lumbosacral.
d) Memperkuat otot-otot perut dan dasar panggul dalam
membantu proses pendorongan bayi ke luar.

Latihan 1.
Duduklah bersila pada lantai, punggung dilemaskan.
Lakukanlah sikap duduk seperti ini sebanyak mungkin. Posisi
ini akan membantu memperkuat otot-otot paha. Bila merasa
lelah setelah duduk seperti ini, rentangkan kedua tungkai
sebentar, lalu goyang-goyangkan dan kembali ke sikap bersila itu.

Latihan 2.
Duduklah di lantai dan rapatkan kedua telapak kaki anda
satu sama lain, kemudian tariklah kaki/tumit sedekat mungkin
dengan badan anda. Letakkan tangan pada masing-masing paha
dan lakukanlah penekanan secara perlahan-lahan. Akan terasa
otot-otot di sebelah dalam paha tertarik.

Latihan 3.
Berbaring terlentang, kedua lengan berada di sisi tubuh.
Lakukan pernapasan bersih dalam-dalam. Kini angkatlah
tungkai kanan perlahan-lahan, rapatkanlah jari-jari kaki anda,
dan bernapas perlahan-lahan lewat hidung. Perhatikan agar
kedua sendi lutut tetap lurus, lalu bengkokkan kaki, turunkan
tungkai perlahan-lahan dan bersamaan gerakan ini hembuskan
napas lewat mulut dan bibir. Ulangi latihan ini pada tungkai
yang kiri. Perhatikan agar gerak pernapasan selaras dengan
gerakan mengangkat dan menurunkan tungkai; rapatkan jarijari
kaki pada saat tungkai diangkat dan bengkokkan kaki
kepada saat diturunkan, jagalah agar kedua tungkai selalu dalam sikap lurus.

Latihan 4.
Berbaring terlentang, rentangkan kedua lengan tegak lurus
terhadap badan. Lakukanlah pernapasan bersih dalam-dalam.
Kemudian angkat tungkai kanan, rapatkan jari-jari kaki dan
tarik napas lewat hidung. Lanjutkan prosedur ini dengan
membengkokan kaki anda, dan turunkan tungkai ke sebelah
kanan sementara menghembuskan napas keluar lewat mulut.
Rentangkan tungkai sedapat mungkin mendekati lengan yang
terentang. Kemudian rapatkan jari-jari kaki, tarik napas lewat
hidung dan angkatlah tungkai, bengkokkan kaki dan turunkan
tungkai ke lantai sementara menghembuskan napas keluar
lewat mulut. Ulangi proses ini pada tungkai kiri. Perhatikan
agar bagian panggul yang berlawanan dengan tungkai yang
digerakkan tetap datar dan menempel pada lantai.

Latihan 5.
Berbaring terlentang dan tekuk kedua lutut sehingga
telapak kaki melekat rapat pada lantai. Rapatkan punggung
termasuk kedua belah bahu pada lantai. Bersamaan dengan itu,
tariklah otot-otot perut sebelah bawah dan biarkan pantat anda
sedikit terangkat dari lantai, kemudian lepaskan. Latihan ini
harus dilakukan dengan pernapsan yang teratur, mulailah
menarik napas, lalu hembuskan keluar perlahan-lahan lewat
mulut; sementara menghembuskan napas rapatkanlah
punggung pada lantai, tegangkan otot-otot perut; tarik napas
ketika melemaskan punggung dan perut.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Kamis, 16 Juni 2011

ERITROPOETIN



Eritrosit berfungsi mengangkut oksigen ke jaringan hingga produksi eritrosit sedikit banyak ditentukan juga oleh kadar oksigenisasi jaringan. Eritropoetin, suatu hormon yang secara langsung mempengaruhi aktifitas sumsum tulang sangat peka terhadap perubahan kadae oksigen dalam jaringan. Bagaimana mekanismenya sehingga perubahan oksigenisasi jaringan menyebabkan perubahan kadar eritropoetin, tidak diketahui dengan pasti.Walaupun eritropoetin tidak dibentuk dan disimpan di ginjal, fungsi ginjal dan oksigenisasi jaringan ginjal menentukan kadar eritropoetin.
Ternyata hipoksia jaringan menyebabkan ginjal mensekresi suatu enzim, yaitu factor eritropoetik yang bereaksi dengan protein yang ada dalam sirkulasi dan membentuk eritropoetin yang aktif.

Segala sesuatu yang menurunkan oksigenisasi ginjal mengakibatkan peningkatan kadar eritropoetin, apabila fungsi ginjal itu adekuat. Kadar hemoglobin yang rendah, gangguan pelepasan oksigen oleh hemoglobin, gangguan pertukaran oksigen pada pernafasan, dan hambatan aliran darah merupakan hal yang sering menyebabkan hipoksia jaringan. Kadar eritropoetin biasa tinggi pada anemia, hemoglobinopati, penyakit paru dan pada gangguan sirkulasi yang hebat. Bila sumsum tulang mampu mengadakan respon terhadap keadaan itu maka produksi eritrosit akan meningkat. Pada sebagaian anemia dan hemoglobinopati, sifat penyakit ini mencegah respon eritropoetik yang tepat, penyakit paru atau vascular yang berat sering menunjukan hyperplasia eritrosit.

Eritropoetin mempercepat produksi eritrosit pada hampir semua stadiaterutama pada saat dimana sel induk membelah diri dan berdiferensasi untuk membentuk eritoisit. Selain mempercepat pembelahan sel eritropoetin juga memudahkaninkorporasi besi, mempercepat matur sel dan memperpendek waktu yang dibutuhkan sel untuk masuk ke sirkulasi. Peningkatan jumlah retikulosit atau eritrosit berinti merupakan indikasi bahwa sumsum tulang bereaksi terhadap hipoksia.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 15 Juni 2011

DAMPAK CACINGAN PADA MASYARAKAT


Prevalensi dan Intensitas Infeksi


Penyakit Cacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Angka infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi (jumlah cacing dalam perut) berbeda. Hasil survei Cacingan di Sekolah Dasar di beberapa propinsi pada tahun 1986-1991 menunjukkan prevalensi sekitar 60% - 80%, sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40% - 60%. Hasil Survei Subdit Diare pada tahun 2002 dan 2003 pada 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi berkisar antara 2,2% - 96,3%.


Kerugian akibat Cacingan

Cacingan mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif), penyerapan (absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara kumulatif, infeksi cacing atau Cacingan dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja, dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya. Kerugian kalori/protein dan darah tersebut bila dihitung dengan jumlah penduduk 220.000.000 dapat diperkirakan sebagai berikut.


kerugian karena Cacing Gelang

Di Indonesia dengan jumlah penduduk 220.000.000, prevalensi cacingan 60 % dan jumlah rata-rata cacing per orang 6 ekor cacing maka kerugian karbohidrat karena

cacing gelang sehari diperkirakan dengan rumus: (Jumlah Penduduk x Prevalensi x Rata-rata jumlah cacing/orang x Kehilangan karbohidrat oleh 1 ekor cacing/hari).

(220.000.000 x 60% x 6 x 0,14 gram) : 1. 000 = 110.880 kg karbohidrat per hari

Karena 0,8 gram karbohidrat setara dengan 1 gram beras, maka kerugian beras setara dengan 138.660 kg beras per hari. Bila dihitung dalam rupiah dengan harga beras Rp. 3.000/kg, maka kerugian uang yang diperkirakan adalah :

138.660 kg beras x 365 hr x Rp.3.000,- = Rp. 151.767.000.000,- per tahun

Jika seekor cacing menghabiskan 0.035 gram protein sehari, maka perkiraan protein yang hilang untuk seluruh penduduk:

( 220.000.000 x 60% x 6 x 0,035 gram ) : 1.000 = 27.720 kg protein per hari )

Karena 1 gram daging sapi mengandung 0,19 gram protein, maka kerugian daging sapi adalah 145.895 kg per hari. Bila dihitung dengan rupiah, dimana harga daging sapi 30.000/ kg, maka kerugian uang yang diperkirakan :

145.895 kg x 365 hr x Rp.30.000 = Rp. 1.597.550.250.000,- per tahun

Jumlah anak usia sekolah tingkat dasar diperkirakan 21 % dari jumlah penduduk, dengan demikian kerugian yang diakibatkan oleh Cacingan pada anak usia tersebut adalah sebagai berikut:

Karbohidrat = 21% x Rp. 151.767.000.000,- = Rp. 31.871.070.000,-
Protein = 21% x Rp 1.597.550.250.000, = Rp. 335.485.552.500,-


Kerugian Karena Cacing Tambang

Perkiraan jumlah kehilangan darah yang disebabkan oleh cacing tambang perhari adalah :

220.000.000 x 10% x 0,2cc x 50 ekor = 220.000.000 cc darah = 220.000 liter darah per hari


Untuk satu tahun penderita Cacingan akan kehilangan darah sebanyak :

220.000 liter x 365 hr = 80.300.000 liter darah per tahun

Jumlah anak usia sekolah tingkat dasar diperkirakan 21% dari jumlah penduduk, dengan demikian kerugian yang diakibatkan oleh Cacingan pada anak usia tersebut adalah :

21% x 80.300.000 ltr = 16.863.000 liter darah per tahun


Kerugian Karena Cacing Cambuk

Perkiraan jumlah kehilangan darah disebabkan cacing cambuk sehari sebanyak:

220.000.000 x 40 % x 0,005 cc x100 = 44.000.000 cc darah = 44.000 liter darah per hari

Kehilangan darah selama setahun :

44.000 liter x 365 hari = 16.060.000 liter darah per tahun

Jumlah anak usia sekolah tingkat dasar diperkirakan 21 % dari jumlah penduduk, dengan demikian kerugian yang diakibatkan oleh Cacingan pada anak usia tersebut adalah:

21% x 16.060.000 ltr = 3.372.600 liter darah per tahun

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Selasa, 14 Juni 2011

Endoskopi dengan Teknologi Pewarnaan

Peralatan endoskopi kini makin canggih. Untuk memudahkan para ahli mendeteksi keluhan pasien, seperti ada tumor, kini metode endoskopi memakai teknologi pewarnaan, sehingga penyakitnya terlihat jelas. Apakah Anda pernah mendengar pemeriksaan endoskopi? Atau bahkan Anda pernah melakukan hal seperti itu?

Endoskopi adalah suatu prosedur di bidang ilmu kedokteran untuk mengamati organ dalam tubuh manusia hidup. Prosedur ini sudah dimulai sejak awal abad-19. Kendati demikian, tampaknya cara tersebut masih belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Selama ini endoskopi identik untuk diagnosis penyakit maag kronis. Sehingga nama ini sudah populer di kalangan masyarakat awam, terutama yang menderita penyakit maag.

Namun sebenarnya tidak demikian, karena endoskopi juga bisa dilakukan untuk mendeteksi penyakit paru-paru, dan bahkan laparaskopi pun termasuk dalam endoskopi.

Endoskopi sebenarnya sudah masuk ke Indonesia pada 1958, dengan kepeloporan Pang dalam penggunaan laparoskop untuk disertasinya. Kini, kondisinya jelas jauh berbeda dengan satu abad lalu.

Peralatan yang dipakai untuk melakukan prosedur tersebut sudah mengalami perubahan yang sangat pesat. Sehingga peran endoskopi sebagai sarana diagnosis penyakit maupun pengobatan juga ikut berkembang.

Endoskopi telah dipergunakan oleh beberapa tenaga spesialis di berbagai bidang ilmu kedokteran, seperti spesialis penyakit dalam, spesialis penyakit paru, bedah, THT dan lainnya.

Sekarang dokter ahli penyakit dalam sedang mengembangkan endoskopi dengan teknologi pewarnaan. Sesuai dengan perkembangan peralatan yang makin baik dan teknologi elektris yang makin maju.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Senin, 13 Juni 2011

Jenis dan Efek bahan tambahan makanan bagi Kesehatan




Jenis dan Efek bagi Kesehatan
a. Bahan Pengawet
Bahan pengawet ada dua macam yaitu zat pengawet anorganik dan zat pengawet organik. Zat pengawet anorganik yang sering dipakai adalah sulfite,, hydrogen peroksida. Zat pengawet organik yang sering dipakai adalah asam sorbet, asam propionate, asam benzoate, asam asetat, dan epoksida. Zat pengawet organic digunakan dalam bentuk asam dan garam (Cahyadi,2006).
Efek bahan pengawet terhadap kesehatan :
(1). Asam benzoate dan natrium benzoate bisa menimbulkan reaksi alergi dan penyakit saraf. Pada penderita asma dan orang yang menderita urticaria sangat sensitive terhadap asam benzoate , jika dikonsumsi dalam jumlah besar akan mengiritasi lambung.
(2). Natrium dan kalium propionate menimbulkan migraine.
(3). Natrium dan kalium nitrit dapat menyebabkan efek seperti kegagalan reproduksi, perubahan sel darah, tumor pada saluran pernapasan, dan menimbulkan efek toksik pada manusia di jaringan lemak. Nitrit dan nitrat bersifat karsinogenik.
(4). Kalium dan natrium sulfite dapat mengganggu pernapasan pada anak, mengganggu pencernaan, mengganggu metabolisme vitamin A dan B, metabolisme kalsium.

b. Pewarna
Pewarna dibagi dua jenis yaitu pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami didapatkan dari hewan dan tumbuhan, diantaranya klorofil, mioglobin,, hemoglobin, anthosianin, flavonoid,, tannin,, betalain, quinon, xanthon serta karotenoid. Pewarna sintesis yang diizinkan di Indonesia diantaranya amaranth, biru berlian (brilianth blue), Tartrazine. Pewarna sintesis yang dilarang digunakan adalah Rhodamine B (Cahyadi,2006).
Efek pewarna terhadap kesehatan :
(1). Amaranth dapat menimbulkan tumor, reaksi alergi pada pernapasan, menyebabkan hiperaktif pada anak – anak.
(2). Allura merah dapat memicu kanker limpa.
(3). Caramel dapat menimbulkan efek pada system saraf dan menyebabkan penyakit pada system kekebalan.
(4). Indigotine dapat meningkatkan sensitivitas pada penyakit yang disebabkan oleh virus, serta mengakibatkan hipersentivitas pada anak – anak.
(5). Erythrosin menimbulkan reaksi alergi pada pernapasan, hiperaktif pada anak – anak dan efek yang kurang baik pada otak dan perilaku.
(6). Buterr yellow dapat menyebabkan tumor hati.

c. Bahan Pemanis
Dilihat dari sumber pemanis bahan pemanis dapat dikelompokkan menjadi pamanis alami dan pemanis buatan (sintetis). Pemanis alami biasanya dari tanaman. Tanaman penghasil pemanis yang utama adalah tebu dan bit. Bahan pemanis yang dihasilkan dari kedua tanaman tersebut dikenal sebagai gula alam atau sukrosa. Beberapa bahan pemanis alam yang sering digunakan adalah sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, D- glukosa, D-fruktosa, sorbitol, manitol, gliserol, glisina.
Pemanis sintetis adalah bahan tambahan yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan tetapi tidak memiliki nilai gizi. Beberapa pemanis sintetis yang telah dikenal dan banyak digunakan adalah sakarin, siklamat, aspartam, dulsin, sorbitol sintetis, nitro-propoksi –anilin. Pemanis sintetis ditujukan khusus untuk makanan dan minuman olahan khusus berkalori rendah dan bagi penderita diabetes mellitus dan bukan untuk produk konsumsi umum apalagi untuk anak – anak sekolah dasar (Cahyadi,2006).
Efek terhadap kesehatan :
(1). Aspartam dapat mengakibatkan penyakit feniketonuria, memicu sakit kepala, pusing – pusing, dapat mengubah fungsi otak dan perilaku.
(2). Siklamat bersifat karsinogenik
(3). Sakarin memicu terjadinya kanker kantong kemih dan menimbulkan rasa pahit getir dan terputusnya plasenta
(4). Xylitol bersifat karsinogenik

d. Penyedap Rasa dan Aroma
Bahan penyedap terdiri dari dua macam yaitu penyedap alami dan penyedap sintetis.
Penyedap alami terdiri dari :

(1). Bumbu , herba dan daun
Bumbu adalah jenis bahan yang bersifat pungent dan dalam jumlah sedikit sudah efektif sebagai penyedap. Contohnya merica, pala, jahe, cengkih. Herba (sebangsa rumput) dan daun digunakan dalam bentuk segar dan kering . Contohnya sereh, daun salam, daun pandan.
(2). Minyak essensial
Minyak essensial didefinisikan sebagai zat aromatic yang terbentuk minyak cair, padat atau setengah padat yang terdapat pada tanaman. Zat aromatikdalam bumbu maupun herba sebagian besar berupa minyak essensial. Minyak essensial dihasilkan dari bagian – bagian tanaman seperti bunga (cengkih) biji (merica, adas,ketumbar).
(3). Oleoresin
Oleoresin dibuat dari proses pemisahan zat pelarut yang bersifat volatile terhadap bumbu atau herba yang telah digiling. Oleoresin merupakan cairan kental, kadang berwarna.
(4). Penyedap dari sari buah
Sari buah sebagian besar adalah air, mempunyai komponen aroma asam, warna dan bahan paddat seperti gula, pectin dan mineral.
(5). Ekstrak tanaman
Penyedap dapat dihasilkan dari ekstrak tanaman. Contohnya ekstrak kopi,, cokelat, vanili.
Penyedap sintetis adalah komponen atau zat yang dibuat menyerupai aroma penyedap alami. Contohnya adalah monosodium glutamate, asetal dehida ( menyerupai aroma buah) (Cahyadi,2006).
Efek penyedap terhadap kesehatan:
(1). Kafein merangsang system saraf, pada anak – anak menyebabkan heperaktif dan memicu kanker pancreas.
(2). Monosodium glutamate menyebabkan sakit kepala, memicu jantung berdebar, mudah lemah, menyebabkan mati rasa (Chinese Restaurant Syndrome), menyebabkan asma, kerusakan saraf , efek psikologi.

e. Antikempal
Antikempal adalah zat aditif yang dapat mencegah mengempalnya makanan yang berupa serbuk dan tepung. Antikempal dapat dikelompokkan menjadi garam stearat (garam – garam alumunium dan ammonium), kalsium fosfat, kalium dan natrium ferosianida, magnesium oksida, garam – garam asam silikat dari alumunium, magnesium, kalsium dan campuran alumunium (Cahyadi,2006).
Efek terhadap kesehatan :
(1). Kalium ferrosianida menghambat penyerapan oksigen pada darah.
(2). Alumunium natrium silikat berbahaya pada pasien sakit tulang dan kerusakan ginjal

f. Antioksidan
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat memperlambat oksidasi dalam bahan. Penggunaan pada bahan makanan dengan kadar lemak tinggi, lemak hewani, minyak nabati, makanan berkadar lemak randah, produk daging, produk ikan, produk lain – lain. Antioksidan terdiri dari dua yaitu antioksidan alami dan antioksidan sintetis. Yang termasuk antioksidan alami adalah tokoferol, kathekin, asam askorbat. Antioksidan sintetis diantaranya Butil Hidroksianisol, Butil Hidroksitoluen , propil gallat (Cahyadi,2006).
Efek tehadap kesehatan :
Penggunaan secara berlebihan dapat menyebabkan lemah otot, mual,- mual, pusing – pusing , kehilangan kesadaran sedangkan penggunaan dosis rendah secara terus menerus menyebabkan tumor kandung kemih, kanker sekitar lambung, dan kanker paru- paru.
(1). Asam askorbat berlebihan menyebabkan diare, erosi gigi dan batu ginjal.
(2). Propel gallat menyebabkan iritasi lambung dan kulit, memberikan efek negative terhadap penderita asma atau yang sensitive terhadap aspirin. Tidak diizinkan untuk makanan bayi atau anak kecil.
(3). Butil Hidroksianisol menyebabkan terganggunya metabolisme lemak yang terdapat dalam tubuh. Tidak diperkenankan untuk makanan bayi dan anak kecil.
(4). Butil Hidroksitoluen dapat menyebabkan kulit menjadi kasar, dosis tinggi menyebabkan liver membesar.
(5). Butil Hidroksianisol dan Butil Hidroksitoluen menyebabkan kelainan kromosom pada orang yang alergi terhadap aspirin.

g. Pengemulsi, Pemantap dan Pengental
Pengemulsi adalah suatu bahan yang dapat mengurangi kecepatan tegangan permukaan dan tegangan antar dua fase yang dalam keadaan normal tidak saling melarutkan, menjadi dapat bercampur dan selanjutnya membentuk emulsi. Contohnya adalah lesitin, saponin, asam stearat.
Secara umum bahan pengental dan pembentuk gel yang larut dalam air disebut gom. Gom sebagian besar terdapat pada bahan makanan alami dibutuhkan sebagai bahan penting yang dapat berfungsi sebagai bahan pengantal , pembentuk gel, pembentuk lapisan tipis, pemantap emulsi. Contohnya adalah pectin, gelatin, algin (Cahyadi,2006).

Efek terhadap kesehatan :
(1). Karboksimetil selulosa dapat menyebabkan gangguan pada usus dan bersifat karsinogenik.
(2). Saponin mengakibatkan efek pada masa kehamilan dan gangguan darah.
(3). Karagenan memicu luka pada hati, efek pada system imun, karsinogenik dan menyebabkan bisul pada perut.
(4). Sodium laktat dapat menimbulkan keracunan pada anak – anak karena anak tidak tahan pada laktosa.
(5). Potassium laktat dapat menimbulkan keracunan tertentu pada anak – anak karena anak – anak tidak tahan terhadap laktosa.
(6). Asam sitrat dikonsumsi berlebihan menyebabkan erosi pada gigi dan menyebabkan iritasi lokal.
(7). Sodium sitrat dapat mengubah sekresi urin sehingga apabila dalam pemberian obat dapat menyebabkan pemberian obat kurang efektif bekerja atau bahkan menjadi racun.
(8). Kalsium disodium menimbulkan gangguan penyerapan logam – logam mineral yang diperlukan tubuh seperti besi, seng, Cu.
(9). Asam alginate menghambat proses penyerapan mineral.

h. Pengatur Keasaman
Pengatur keasaman (asidulan) merupakan senyawa kimia yang bersifat asam. Asidulan bertindak sebagai penegas rasa dan warna, mencegah pertumbuhan mikrobia, memperoleh rasa asam yang tajam, pengontrol pH. Pengatur keasaman yang sering digunakan adalah asam asetat, asam laktat, asam sitrat, asam malat, asam tartrat dan asam fosfat (Cahyadi,2006).
Efek terhadap kesehatan :
(1). Korosif pada selaput lendir mulut, kerongkongan disertai sakit dan sukar menelan. Dapat menyebabkan jaringan mati dan perubahan warna dari putih menjadi kelabu kemudian menghitam.
(2). Sakit di daerah lambung
(3). Luka yang bergelembung. Gelembung yang terjadi pada kulit dapat pecah dan terjadi peradangan.

i. Pemutih, Pematang Tepung, dan Pengeras
Pemutih dan pematang tepung merupakan bahan tambahan yang digunakan pada bahan tepung dan produk olahannya dengan maksud warna putih tepung tetap terjaga, memperbaiki mutu selama proses pengolahan. Sedangkan pengeras digunakan untuk memperkeras atau mencegah pelunakan makanan. Contoh pemutih dan pematang tepung adalah asam askorbat, dan pengeras adalah garam – garam alumunium (Cahyadi,2006).
Efek terhadap kesehatan :
(1). Asam askorbat dapat menyebabkan diare.
(2). Garam-garam alumunium dapat menyebabkan kerusakan saraf
(3). Garam – garam kalsium menyebabkan hiperkalsemia.