Kanker servik jadi pembunuh wanita

Tahukah Anda, bahwa dalan setiap jam wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks atau lebih dikenal dengan kanker mulut rahim. Bahkan dalam setiap menit wanita di seluruh dunia meninggal karna kanker yang mematikan ini.

Beda Hormon LH dan FSH

FSH dan LH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior, sebuah kelenjar kecil yang hadir di bagian bawah otak. FSH pada dasarnya menyebabkan pematangan sel telur di dalam folikel dalam tubuh wanita.

Manfaat Bawang Putih

Khasiat atau manfaat bawang putih ternyata tidak hanya untuk menyedapkan atau sebagai bumbu masakan saja, namun ternyata banyak hal lain yg dapat di manfaatkan dari bawang puth tersebut terutamanya untuk dunia kesehatan.

Toko Kayumanis

Selamat datang di Toko Kayumanis version Online Shop Kami menjual T-shirt, kaos oblong dan jaket T-shirt, kaos oblong dan jaket yang kami jual menggunakan bahan yang berkualitas tinggi, kelebihan dari T-shirt, kaos oblong dan jaket di Toko kami dapat anda tentukan sendiri desainnya, pola ataupun grafisnya sesusai keinginan anda sehingga dapat dipastikan tidak ada T-shirt, kaos oblong dan jaket dari Toko kami yang mempunyai motif yang sama.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 25 Juni 2011

Mekanisme Proteksi Mukosa Saluran Cerna


Mukosa saluran pencemaan merupakan barier antara tubuh
dengan berbagai bahan, termasuk produk-produk pencernaan,
toksin, obat-obatan, makanan/minuman dan mikroorganisme
yang masuk lewat saluran cerna.
Dalam saluran pencemaan terdapat berbagai sistem yang
kompleks, sehingga bahan-bahan yang berguna oleh tubuh akan
diserap dan bahan-bahan yang talc berguna dinetralisir oleh
sistem tersebut.
Saluran pencernaan mengandung berbagai sistem yang secara
efektif dapat menangkap/proteksi terhadap bahan-bahan
yang masuk saluran cerna. Proteksi tersebut dilakukan oleh
adanya beberapa faktor :
1. Faktor pre-epitelial.
2. Integritas sel epitelial saluran cerna.
3. Proteksi oleh sistem imun yang terdapat lokal dalam saluran

pencernaan sendiri dan umum dalam sistem pembuluh
darah dan limfe.
Cairan musin yang dihasilkan oleh mukosa saluran cerna
disebut sebagai faktorpre-epitelial. Dalam lambung selain musin
juga dihasilkan cairan bikarbonat. Keduanya disebut sebagai
faktor pre-epitelial yang merupakan faktor proteksi paling depan
dalam saluran cerna yang letaknya meliputi secara merata
lapisan permukaan sel epitel mukosa saluran cerna(l).
Lapisan sel epitel mukosa saluran cerna merupakan proteksi
selanjutnya setelah musin dan bikarbonat. Mempertahankan
integritas dan regenerasi lapisan sel epitel sangat penting untuk
mempertahankan fungsi sekresi dan absorbsi dalam saluran
pencernaan. Keriisakan sel epitel ini dapat menimbulkan
komplikasi yang sangat berat.
Mikroorganisme dan toksin yang diproduksi oleh kumankuman
dalam saluran cerna dapat merembes ke dalam sirkulasi
umum, yang selanjutnya dapat menimbulkan sepsis dan kegagalan
fungsi berbagai organ (multiple organ failure syndrome)
yang biasanya tingkat angka kematiannya tinggi(2,3,4).
Proteksi terhadap toksin, obat-obatan dan bahan lainnya
juga dilakukan dengan adanya sistem imun yang terdapat secara
lokal dalam saluran pencernaan sendiri dan sistemik dalam
sistem peredaran darah dan limfe, beserta organ-organnya(5).
Dalam makalah ini akan dibahas secara ringkas mekanisme
proteksi tiga faktor di atas dan kaitannya dengan beberapa
keadaan patologis yang sering terjadi dalam bidang klinik.

FAKTOR PROTEKSI LAPISAN PRE-EPITELIAL
Lambung merupakan bahagian dari saluran pencernaan
sebelah atas yang banyak sekali menghadapi pemaparan bahanbahan
yang dapat merusak jaringan mukosanya, termasuk bahan
yang datang dari luar, maupun oleh asam dan enzim proteolitik
yang diproduksinya sendiri. Oleh sebab itu dalam lambung
terdapat sistem protektif yang berlapis-lapis dan sangat efektif
menangkal hal tersebut.
Cairan musin dan bikarbonat yang disekresikan oleh kelenjarkelenjar
dalam mukosa lambung disebut sebagai proteksi preepitelial.
Sedangkan dalam saluran cerna lainnya disekresikan
cairan musin oleh berbagai kelenjar-kelenjar di lapisan
mukosanya sebagai faktor proteksi dan pelincir.

1. Cairan Musin
Di dalam lambung cairan musin disekresikan dalam dua
bentuk,larut (soluble) dan tak larut (insoluble). Bagian yang larut
adalah berupa mukoprotein yang diproduksi oleh sel peptik
(chief, peptic atau principal cell) dan sel leher (mucous neck
cells); produksinya tergantung dari rangsangan nervus vagus.
Fraksi ini talc berfungsi sebagai proteksi terhadap mukosa lambung
secara langsung.
Musin yang tak larut (unstirred layer) merupakan musin gel
esofagus dan lambung sampai pada pyloric junetion. Di samping
berfungsi sebagai pelincir,
untuk proteksi secara mekanis dan kimiawi terhadap apa yang
kita makan/minum, produksi asam lambung dan pepsin sendiri.
Di usus halus lapisan unstirred layer ini berfungsi untuk
proteksi terhadap absorbsi lemak dan memudahkan absorbsi
elektrolit dan obat-obatano). . Lapisan proteksi oleh musin yang
tak larut ini di lambung begitu kuatnya sehingga bahan asam
klorida dengan konsentrasi 0,1 M sampai dengan 1 M atau air
mendidih dapat ditahan tanpa menyebabkan ulserasi di lambung.
Beberapa bahan yang tercerna dan yang diproduksi ke
dalam lumen lambung dapat menembus barier ini dan masuk ke
lapisan epitel mukosa. Termasuk bahan ini adalah alkohol (etanol),
garam, gula dalam konsentrasi beberapa kali lebih tinggi dari
konsentrasinya dalam plasma. Konsentrasi yang tinggi ini dapat
terjadi pada minuman alkohol berkadar tinggi, manisan-manisan
dan kue-kue yang sangat manis. Bahan lain yang sangat kuat
menembus barier musin ini adalah aspirin, yang efektif dalam
kon§entrasi rendah sekalipun. Regurgitasi garam empedu juga
dapat merusak barier ini dalam konsentrasi rendah.

Tembusnya barier ini, akan memudahkan baliknya lagi
asam (HCl) dengan konsentrasi tinggi dari arah lumen ke arah
lapisan epitel mukosa sehingga merusak lapisan sel epitel dengan
berbagai akibat dan menimbulkan berbagai gejala dan keluhan :
a. Merangsang motilitas lambung akibat terangsangnya sistem
saraf, bila ini kuat dapat menimbulkan rasa nyeri perut dalam
berbagai tingkat dan bermacam-macam bentuk.
b. Merangsang ekskresi pepsinogen.
c. Membebaskan histamin, dengan akibat peningkatan produksi
asam lambung.
d. Pembebasan histamin juga menyebabkan peningkatan
permeabilitas kapiler dan vasodilatasi dan selanjutnya terjadi
edema dan hiperemi, yang dapat berlanjut dengan terjadinya perdarahan.
e. Meningkatkan keasaman di sekitar lapisan sel epitelial, yang
dapat menimbulkan kegagalan transpor aktif melalui lapisan
mukosa lambung yang selanjutnya dapat merusak lipid bilayer
dan lebih lanjut dapat meracun sistem enzim di sel epitel, dengan
konsekuensi pembentukan enzim dan regenerasi sel epitel akan
terhambat dan akhirnya terjadi berbagai gangguan pada mukosa
termasuk gastritis, ulkus peptikum dengan berbagai keluhan
seperti nyeri di ulu hati, rasa mual, kembung, perih, muntah dan
muntah darah.

2. Cairan Bikarbonat
Sel-sel bagian permukaan, sel-sel leher dan sel prinsipal
kelenjar lambung mensekresikan bikarbonat kira-kira 24 mMol.
Bikarbonat ini bertujuan menetralisir keasaman di sekitar lapisan
sel epitel; suasana netral itu dibutuhkan untuk berfungsi dengan
baiknya enzim-enzim dan transpor aktif di sekeliling dan dalam
lapisan sel epitel mukosa. Di samping itu sel-sel di alas juga
memproduksi Natrium dengan konsentrasi sekitar 145 mMol.
Cairan bikarbonat dan musin yang tak larut merupakan
faktor penting untuk proteksi lapisan sel epitel terhadap enzimenzim
proteolitik dan asam lambung. Bikarbonat berfungsi untuk
menetralkan asam lambung sehingga area di permukaan
epitel saluran cerna bersifat netral, dengan demikian pepsin tak
bekerja di sekitar epitel serta HCl sendiri tak sampai merusak sel
epitel mukosa lambung.

3. Respon Mukosa Lambung terhadap Trauma
Adanya benda asing seperti toksin, bakteri atau bahan-bahan
terlalu asam atau basa yang masuk ke dalam lumen lambung,
memberikan respon cepat dan efektif oleh sistem dalam mukosa
lambung.
Mukosa lambung berusaha melokalisir bahan tersebut sehingga
kerusakan hanya terbatas dan mengenai superfisial. Respon
pertama adalah terjadinya hiperemia akibat peningkatan aliran
darah lokasi tersebut. Reaksi hiperemia menetralisir bahanbahan
asam basa atau toksin dan infeksi bakteri dan virus.
Hiperemia terjadi disebabkan banyak faktor termasuk respon
saraf dan hormonal sehingga aliran darah ke lokasi tersebut
meningkat. Bersamaan, akan terjadi peningkatan jumlah sel-sel
fagositosis, relaksasi otot,permeabilitas. Akibatnya daerah kerusakan
terlokalisir dan memudahkan perbaikan daerah yang
terkena.

FAKTOR PROTEKSI SEL EPITEL MUKOSA SALURAN
CERNA
Lapisan sel epitel sepanjang saluran cerna berfungsi
mensekresikan musin untuk pelincir dan proteksi serta enzimenzim
dan elektrolit yang dibutuhkan untuk proses pencernaan
dan absorbsi. Untuk keperluan ini sel epitel menggunakan
energinya sendiri yang sangat tergantung dari vaskularisasinya
dan zat gizi yang lengkap. Dalam keadaan normal vaskularisasi
ini sangat efektif dan sangat padat.
Lapisan sel-sel epitel saluran cema secara terus menerus
berganti dan beregenerasi setiap 1-3 hari, tergantung banyak
faktor. Pergantian dan regenerasi di daerah lambung, usus halus
dan usus besar berbeda. Pergantian dan regenerasi akan lebih
cepat dalam keadaan hipermetabolik seperti demam tinggi, stress
berat, sepsis dan dalam keadaan kelaparan. Pertumbuhan sel baru
dalam saluran cema diatur oleh banyak faktor termasuk tingkat
rata-rata penghanetrannya, jumlah mukosa yang masih baik dan
hormonal(6).

Saluran Pencernaan Pada Pasien Gawat dan Kritis
Dalam perawatan pasien gawat dan kritis saat ini, tim
perawatan masih terfokus pada perawatan intensif fungsi parupam,
fungsi jantung, ginjal dan hati, setelah keseimbangan air
dan elektrolit terpenuhi. Sebahagian masih beranggapan bahwa
saluran pencemaan tidak ada kaitannya dengan komplikasikomplikasi
berat dan hanya berfungsi dalam pencernaan dan
penyebaran makanan.
Perkembangan terbaru saat ini, meletakkan organ saluran
cema, sebagai organ sentral yang sangat panting fungsinya dan
harus sangat diperhatikan pada kasus-kasus gawat dan kritis,
untuk menghindari komplikasi berat.
Saluran cerna selain berfungsi untuk pencernaan dan penyerapan
makanan, juga berfungsi untuk barier mencegah
masuknya kuman-kuman dan endotoksin ke dalam tubuh. Pada
pasien gawat dan sangat gawat, barier paling depan yaitu sel
epitel mukosa saluran cerna melemah sehingga tubuh dapat
meracuni dirinya sendiri dari endotoksin yang dihasilkan di usus,
atau masuknya kuman ke sirkulasi darah sehingga timbul sepsis.
Masuknya endotoksin ke dalam tubuh sedikit demi sedikit dapat
menimbulkan demam, letih seperti gejala infeksi dan selanjutnya
memberikan respon peningkatan katabolisme tubuh. Keadaan
ini disebut sebagai hipermetabolik kronis(4). Hipermetabolisme
akibat endotoksin ini dapat berlanjut dengan yang lebih berat
berupa kelumpuhan berbagai organ (multiple organ failure syndrome),
dengan gejala-gejala gangguan pada hati, ginjal, jantung
dan darah(2). Angka kematian untuk "multiple organ failure" ini
bervariasi antara 30-100%. Telah dilaporkan bahwa endotoksin
yang menyebabkan komplikasi berat tersebut berasal dari
saluran pencernaan(7).
Lemahnya barier di saluran cerna dapat disebabkan tidak
cukupnya zat gizi dalam saluran pencemaan, bisa karena keadaan
penyakitnya sendiri atau operasi yang dilakukan, sehingga
saluran cerna menderita kelaparan dalam jangka waktu tertentu.
Bila kelaparannya berlanjut sampai berhari-hari, maka pertumbuhan
epitel mukosa usus terhambat dan selanjutnya
berangsur-angsur menjadi atropi, enzim-enzim dan musin yang
dihasilkan menurun, termasuk enzim proteolitik yang dihasilkan
di lambung dan usus halus yang ikut membunuh kumankuman
yang berada di sekitarnya. Bila keadaan berlanjut terus,
atropi bertambah luas, enzim-enzim proteolitik dan musin
makin menurun jumlahnya, sehingga barier paling depan dalam
saluran pencernaan makin lemah.
Untuk mempertahankan fungsi sel epitel mukosa saluran
cerna, perlu makanan dan zat gizi yang cukup dalam saluran
cerna sendiri. Pertumbuhan sel epitel saluran cerna menurun
pada starvasi pada tikus percobaan(8) dan pertumbuhan serta
perkembangan sel epitel saluran cerna tergantung dari sumber
makanan yang berada salam saluran cerna sendiri atau makanan
peroral(9,10).
Willmore dick, (1988)(11) menganjurkan pada pasien yang
hipermetabolik, seperti pada kasus-kasus bedah, trauma ataupun
sepsis, pemberian makanan sedini mungkin, kalau perlu dalam
48 jam pertama pasca bedah; dengan perkataan lain paling
lama hanya 48 jam, pasien boleh dipuasakan dan bila 48 jam
tidak dapat diberikan peroral, harus diberikan segera protein
parenteral. Hal ini bertujuan untuk mencegah rusaknya sel-sel
mukosa usus, yang fungsinya sangat penting untuk proteksi
tubuh terhadap endotoksinnya sendiri dan mencegah sepsis;
selain fungsi utamanya untuk pencernaan dan penyerapan
makanan.
Pasien yang mengalami keadaan hipermetabolik, kebutuhan
energi yang sangat meningkat sebagian besar hanya dipenuhi
dengan pemecahan protein tubuh. Karena pengaruh keseimbangan
hormonal dalam keadaan hipermetabolik terganggu,
sebahagian besar metabolisme glukosa dan lemak terhambat.
Di sini keterlambatan pemberian protein dan sumber energi
lainnya merupakan tindakan bunuh diri yang kalau sudah terjadi
kehancuran protein tubuh skeletal maupun viseral, prosesnya
berjalan progresif dan cepat. Pada tahap ini perkembangan
penyakit sudah sangat sulit dikendalikan dan biasanya tingkat
kematiannya sangat tinggi.
Pada keadaan hipermetabolik ini, pemberian makanan
sedini mungkin sangat penting dan lebih penting lagi, pemberian
makanan lewat saluran pencernaan secara dini, bila tak ada
kontra indikasi, akan melindungi dan mempertahankan fungsi
sel mukosa saluran cerna yang merupakan proteksi tubuh terhadap
endotoksin dan mikroorganisme yang berada dalam
saluran cerna.

FAKTOR PROTEKSI MELALUI SISTEM IMUN
Berbagai macam antigen masuk saluran cerna setiap hari
lewat makanan dan minuman termasuk bakteri, virus, parasit,
obat-obatan dan bahan pengawet makanan. Dalam saluran cerna
terdapat beberapa jenis sel yang sensitif terhadap antigen tertentu.
Sel-sel ini bekerja sangat efektif dalam usaha untuk proteksi
tubuh terhadap bermacām-macam antigen di atas. Patofisiologi
proteksi mukosa saluran cerna terhadap berbagai antigen telah
banyak dibicarakan.
Sel plasma yang sangat responsif terhadap antigen berada
tepat di bawah jaringan epitel dan antibodi yang dihasilkannya
ditransportasikan ke permukaan jaringan sel epitel dan bekerja
sangat efektif. Antibodi yang dihasilkan ini masih dapat bekerja
walaupun terdapat enzim-enzim proteolitik di permukaan mukosa
saluran cerna.
Di samping itu antigen yang terdapat dalam lumen saluran
cerna dapat merangsang jaringan limpoid dalam lamina propria
dan saluran cerna, selanjutnya diteruskan ke nodus limpatikus
mesentērikus (mesenteric lymph nodes), diteruskan ke duktus
thorasikus dan sistem sirkulasi umum; dan sampai di sini disebut
mature. Setelah matang (mature), limfosit-limfositnya kembali
lagi dan menetap dalam jaringan limfoid di usus, paru-paru, kelenjar
mamae, traktus genitourinarius dan female reproductive
tract. Jaringan limpoid yang telah menyebar rata ini berbeda
fungsinya dari sistem imun yang bersifat sistemik dan sering
disebut sebagai common mucosal immunologic system.
Komponen yang lain dari sistem imun dalam saluran cerna
adalah limfosit dan monosit yang terdapat di seluruh mukosa
saluran cerna. Komponennya terbagi dalam dua bagian. Yang
pertama, terdapat dalam lamina propria T,makrofag, monosit dan
sel plasma. Bagian yang kedua berada dalam jaringan epitel
(intraepithelial compartment), yang terutama mengandung
limfosit dan sebahagian kecil makrofag.
Dalam keadaan infeksi di saluran cerna, sel eosinofil dan
sel-sel polimorfonuklear juga memasuki jaringan intra epitelial.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Jumat, 24 Juni 2011

Pemeriksaan Tinja Metode Kato Katz

Pemeriksaan tinja bertujuan untuk menegakkan diagnosis pasti, ada dan tidaknya infeksi cacing, berat ringannya infeksi serta jenis telur cacing yang ada.

Bahan dan Peralatan

a) Aquadest
b) Glycerin
c) Malachite green (hijau malasit)
d) Gelas obyek
e) Cellophane tape (selofan), ukuran lebar 2,5 cm.
f) Karton ukuran tebal 2 mm dan dilubangi dengan perforator
g) Kawat saring atau kawat kasa (wire screen).
h) Pot plastik ukuran 10 – 15 cc atau kantong plastik obat.
i) Lidi atau tusuk gigi
j) Kertas minyak
k) Kertas saring atau tissue
l) Spidol tahan air
m) Tutup botol dari karet
n) Gunting logam
o) Waskom plastik kecil
p) Sabun dan deterjen
q) Handuk kecil
r) Sarung tangan karet
s) Formalin 5 – 10 %
t) Mikroskop
u) Formulir
v) Ember
w) Counter (alat penghitung)


Cara Pembagian dan Pengumpulan Tinja

a) Sebelum pot tinja dibagi perlu dilakukan wawancara tentang pengetahuan Cacingan, kebiasaan hidup sehat dengan menggunakan kuesioner pengetahuan murid sekolah dasar atau responden.

a) Setelah wawancara, responden dibagikan pot tinja yang telah diberi kode sesuai dengan kode yang tertulis pada kuesioner pengetahuan murid sekolah dasar. Bila sasarannya masyarakat maka kode yang dicantumkan ditambah alamat lengkap, desa RT dan RW. Pot tersebut diisi dengan tinjanya sendiri dan dikumpulkan pada keesokan harinya.

b) Jumlah tinja yang dimasukkan ke dalam pot / kantong plastik sekitar 100 mg (sebesar kelereng atau ibu jari tangan).

c) Spesimen harus segera diperiksa pada hari yang sama, sebab jika tidak telur cacing tambang akan rusak atau menetas menjadi larva. Jika tidak memungkinkan tinja harus diberi formalin 5-10% sampai terendam.

Metode Pemeriksaan Kato-Katz

a) Cara Membuat Larutan Kato

Yang dimaksud dengan Larutan Kato adalah cairan yang dipakai untuk merendam/memulas selofan (cellophane tape) dalam pemeriksaan tinja terhadap telur cacing menurut modifikasi teknik Kato dan Kato-Katz.

(1) Untuk membuat Larutan Kato diperlukan campuran dengan perbandingan: Aquadest 100 bagian, Glycerin 100 bagian dan Larutan malachite green 3% sebanyak 1 bagian.

(2) Timbang malachite green sebanyak 3 gram, masukkan ke dalam botol/beker glass dan tambahkan aquadest 100 cc sedikit demi sedikit lalu aduk/kocok sehingga homogen, maka akan diperoleh larutan malchite green 3%.

(3) Masukkan 100 cc aquadest ke dalam Waskom plastik kecil, lalu tambahkan 100 cc glycerin sedikit demi sedikit dan tambahkan 1 cc larutan malachite green 3%, lalu aduk sampai homogen. Maka akan didapatkan Larutan Kato 201 cc.

b) Cara merendam / memulas selofan (cellophane tape)

(1) Buatlah bingkai kayu segi empat sesuai dengan ukuran Waskom plastik kecil. Contoh: Misal bingkai untuk foto
(2) Libatkan / lilitkan selofan pada bingkai tersebut.
(3) Rendamlah selama + 18 jam dalam Larutan Kato.
(4) Pada waktu akan dipakai, guntinglah selofan yang sudah direndam sepanjang 3 cm.

c) Cara Pemeriksaan Kualitatif (modifikasi teknik Kato)

Hasil pemeriksaan tinja kualitatif berupa positif atau negatif cacingan. Prevalensi cacingan dapat berupa prevalensi seluruh jenis cacing atau per jenis cacing.

(1) Cara Membuat Preparat
(a) Pakailah sarung tangan untuk mengurangi kemungkinan infeksi berbagai penyakit.
(b) Tulislah Nomor Kode pada gelas objek dengan spidol sesuai dengan yang tertulis di pot tinja.
(c) Ambillah tinja dengan lidi sebesar kacang hijau, dan letakkan di atas gelas obyek.
(d) Tutup dengan selofan yang sudah direndam dalam larutan Kato, dan ratakan tinja di bawah selofan dengan tutup botol karet atau gelas obyek.
(e) Biarkan sediaan selama 20-30 menit.
(f) Periksa dengan pembesaran lemah 100 x (obyektif 10 x dan okuler 10x), bila diperlukan dapat dibesarkan 400 x (obyektif 40 x dan okuler 10 x).
(g) Hasil pemeriksaan tinja berupa positif atau negatif tiap jenis telur cacing.

(2) Cara Menghitung Prevalensi

(a) Prevalensi Seluruh Cacing =

Jumlah specimen positif telur minimal 1 jenis cacing x 100%
Jumlah specimen yang diperiksa

(b) Prevalensi Cacing Gelang

Jumlah specimen positif telur cacing gelang x 100%
Jumlah specimen yang diperiksa

(c) Prevalensi Cacing Cambuk

Jumlah specimen positif telur cacing cambuk x 100%
Jumlah specimen yang diperiksa

(d) Prevalensi Cacing Tambang

Jumlah specimen positif telur cacing tambang x 100%
Jumlah specimen yang diperiksa

d) Cara Pemeriksaan Kuantitatif

Pemeriksaan kuantitatif diperlukan untuk menentukan intensitas infeksi atau berat ringannya penyakit dengan mengetahui jumlah telur per gram tinja (EPG) pada setiap jenis cacing.

(1) Cara Membuat Preparat
(a) Saringlah tinja menggunakan kawat saring.
(b) Letakkan karton yang berlubang di atas slide kemudian masukkan tinja yang sudah di saring pada lubang tersebut.
(c) Ambillah karton berlubang tersebut dan tutuplah tinja dengan selofan yang sudah direndam dalam larutan Kato.
(d) Ratakan dengan tutup botol karet hingga merata. Diamkan kurang lebih sediaan selama 20 – 30 menit.
(e) Periksa di bawah mikroskop dan hitung jumlah telur yang ada pada sediaan tersebut.

(2) Cara Menghitung Telur

Hasil pemeriksaan tinja secara kuantitatif merupakan intensitas infeksi, yaitu jumlah telur per gram tinja (Egg Per Gram/EPG) tiap jenis cacing.


(a) Intensitas Cacing Gelang = Jumlah telur cacing gelang x 1000/R
Jumlah specimen positif telur Cacing Gelang


(b) Intensitas Cacing Cambuk = Jumlah telur cacing cambuk x 1000/R
Jumlah specimen positif telur Cacing Cambuk

(c) Intensitas Cacing Tambang = Jumlah telur cacing tambang x 1000/R
Jumlah specimen positif telur Cacing Tambang

Ket : R = berat tinja sesuai ukuran lubang karton (mg).
Untuk program cacingan adalah 40 mg.

Klasifikasi Intensitas Infeksi

Klasifikasi intensitas infeksi merupakan angka serangan dari masing-masing jenis cacing. Klasifikasi tersebut digolongkan menjadi tiga, yaitu ringan, sedang dan berat. Intensitas infeksi menurut jenis cacing dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1 - Klasifikasi Intensitas Infeksi Menurut Jenis Cacing

No.
Klasifikasi
Jenis Cacing
Cacing Gelang
Cacing Cambuk
Cacing Tambang
1.
Ringan
1 - 4.999
1 – 999
1 – 1.999
2.
Sedang
5.000 - 49.999
1.000 – 9.999
2.000 – 3.999
3.
Berat
> 50.000
> 10.000
> 4.000

e) Pembuangan Limbah Laboratorium

(1) Wadah dari kertas, plastik, stik/lidi diberi desinfektan (sodium hipoklorit) kemudian dibakar.


(2) Wadah dari gelas/kaca atau metal ditambahkan formalin 10%, diamkan 1 jam atau lebih kemudian cuci dengan air bersih.

(3) Kaca objek bekas pakai direndam dalam larutan yang diberi desinfektan selama kurang lebih 1 jam, kemudian cuci dengan air bersih. Gunakan lidi untuk melepas kaca penutup (“cover glass”)

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Kamis, 23 Juni 2011

Penanganan Preeklampsia Berat dan Eklampsia


Preeklampsia berat (PEB) dan eklampsia masih merupakan salah satu penyebab
utama kematian maternal dan perinatal di Indonesia. Mereka diklasifikasikan kedalam
penyakit hypertensi yang disebabkan karena kehamilan. PEB ditandai oleh adanya
hipertensi sedang-berat, edema, dan proteinuria yang masif. Sedangkan eklampsia
ditandai oleh adanya koma dan/atau kejang di samping ketiga tanda khas PEB.
Penyebab dari kelainan ini masih kurang dimengerti, namun suatu keadaan patologis
yang dapat diterima adalah adanya iskemia uteroplacentol. Diagnosis dini dan
penanganan adekuat dapat mencegah perkembangan buruk PER kearah PEB atau
bahkan eklampsia. Semua kasus PEB dan eklampsia harus dirujuk ke rumah sakit yang
dilengkapi dengan fasilitas penanganan intensif maternal dan neonatal, untuk
mendapatkan terapi definitif dan pengawasan terhadap timbulnya komplikasikomplikasi.
Kata kunci: Preeklampsia berat, eklampsia, iskemia uteroplasenta, hipertensi, edema,
proteinuri, kejang dan/atau koma.

Di Indonesia preeklampsia-eklampsia masih merupakan
salah satu penyebab utama kematian maternal dan kematian
perinatal yang tinggi. Oleh karena itu diagnosis dini preeklampsia
yang merupakan tingkat pendahuluan eklampsia,
serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk
menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan anak(1,2). Perlu
ditekankan bahwa sindrom preeklampsia ringan dengan hipertensi,
edema, dan proteinui sering tidak diketahui atau tidak
diperhatikan; pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara
rutin mencari tanda preeklampsia sangat penting dalam usaha
pencegahan preeklampsia berat dan eklampsia, di samping
pengendalian terhadap faktor-faktor predisposisi yang lain(1).
Preeklampsia-Eklampsia adalah penyakit pada wanita
hamil yang secara langsung disebabkan oleh kehamilan. Preeklampsia
adalah hipertensi disertai proteinuri dan edema akibat
kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera
setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu
bila terjadi. Eklampsia adalah timbulnya kejang pada penderita
preeklampsia yang disusul dengan koma. Kejang disini bukan
akibat kelainan neurologis(2-4). Preeklampsia-Eklampsia hampir
secara eksklusif merupakan penyakit pada nullipara. Biasanya
terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrem yaitu
pada remaja belasan tahun atau pada wanita yang berumur
lebih dari 35 tahun. Pada multipara, penyakit ini biasanya
dijumpai pada keadaan-keadaan berikut(2):
1) Kehamilan multifetal dan hidrops fetalis.
2) Penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus.
3) Penyakit ginjal.

ETIOLOGI
Sampai dengan saat ini etiologi pasti dari preeklampsia/
eklampsi masih belum diketahui.
Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etiologi
dari kelainan tersebut di atas, sehingga kelainan ini sering
dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain:

1) Peran Prostasiklin dan Tromboksan.
Pada PE-E didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler,
sehingga terjadi penurunan produksi prostasiklin (PGI 2) yang
pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan dan
fibrinolisis, yang kemudian akan diganti trombin dan plasmin.
Trombin akan mengkonsumsi antitrombin III, sehingga terjadi
deposit fibrin. Aktivasi trombosit menyebabkan pelepasan
tromboksan (TXA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme
dan kerusakan endotel.
2) Peran Faktor Imunologis.
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan
tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat
diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan
blocking antibodies terhadap antigen placenta tidak sempurna,
yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya.
Fierlie FM (1992) mendapatkan beberapa data yang mendukung
adanya sistem imun pada penderita PE-E:
1. Beberapa wanita dengan PE-E mempunyai komplek imun
dalam serum.
2. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem
komplemen pada PE-E diikuti dengan proteinuri.
Stirat (1986) menyimpulkan meskipun ada beberapa pendapat
menyebutkan bahwa sistem imun humoral dan aktivasi
komplemen terjadi pada PE-E, tetapi tidak ada bukti bahwa
sistem imunologi bisa menyebabkan PE-E.
3) Peran Faktor Genetik/Familial.
Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor genetik
pada kejadian PE-E antara lain:
1. Preeklampsia hanya terjadi pada manusia.
2. Terdapatnya kecendrungan meningkatnya frekwensi PE-E
pada anak-anak dari ibu yang menderita PE-E.
3. Kecendrungan meningkatnya frekwensi PE-E pada anak
dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE-E dan bukan pada ipar
mereka.
4. Peran Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS)
PATOFISIOLOGI
Vasokonstriksi merupakan dasar patogenesis PE-E.
Vasokonstriksi menimbulkan peningkatan total perifer resisten
dan menimbulkan hipertensi. Adanya vasokonstriksi juga akan
menimbulkan hipoksia pada endotel setempat, sehingga terjadi
kerusakan endotel, kebocoran arteriole disertai perdarahan
mikro pada tempat endotel(5). Selain itu Hubel (1989)
mengatakan bahwa adanya vasokonstriksi arteri spiralis akan
menyebabkan terjadinya penurunan perfusi uteroplasenter yang
selanjutnya akan menimbulkan maladaptasi plasenta. Hipoksia/
anoksia jaringan merupakan sumber reaksi hiperoksidase
lemak, sedangkan proses hiperoksidasi itu sendiri memerlukan
peningkatan konsumsi oksigen, sehingga dengan demikian
akan mengganggu metabolisme di dalam sel Peroksidase lemak
adalah hasil proses oksidase lemak tak jenuh yang
menghasilkan hiperoksidase lemak jenuh. Peroksidase lemak
merupakan radikal bebas. Apabila keseimbangan antara peroksidase
terganggu, dimana peroksidase dan oksidan lebih dominan,
maka akan timbul keadaan yang disebut stess oksidatif(5).
Pada PE-E serum anti oksidan kadarnya menurun dan
plasenta menjadi sumber terjadinya peroksidase lemak. Sedangkan
pada wanita hamil normal, serumnya mengandung
transferin, ion tembaga dan sulfhidril yang berperan sebagai
antioksidan yang cukup kuat. Peroksidase lemak beredar dalam
aliran darah melalui ikatan lipoprotein. Peroksidase lemak ini
akan sampai kesemua komponen sel yang dilewati termasuk
sel-sel endotel yang akan mengakibatkan rusaknya sel-sel
endotel tersebut. Rusaknya sel-sel endotel tersebut akan mengakibatkan
antara lain(2):
a) adhesi dan agregasi trombosit.
b) gangguan permeabilitas lapisan endotel terhadap plasma.
c) terlepasnya enzim lisosom, tromboksan dan serotonin
sebagai akibat dari rusaknya trombosit.
d) produksi prostasiklin terhenti.
e) terganggunya keseimbangan prostasiklin dan tromboksan.
f) terjadi hipoksia plasenta akibat konsumsi oksigen oleh
peroksidase lemak.

KRITERIA DIAGNOSIS
I) Preeklampsia berat
Apabila pada kehamilan > 20 minggu didapatkan satu/
lebih gejala/tanda di bawah ini:
1. Tekanan darah > 160/110 dengan syarat diukur dalam keadaan relaksasi (pengukuran minimal setelah istirahat 10 menit) dan tidak dalam keadaan his.
2. Proteinuria > 5 g/24 jam atau 4+ pada pemeriksaan secara kuantitatif.
3. Oliguria, produksi urine < 500 cc/24 jam yang disertai kenaikan kreatinin plasma.
4. Gangguan visus dan serebral.
5. Nyeri epigastrium/hipokondrium kanan.
6. Edema paru dan sianosis.
7. Gangguan pertumbuhan janin intrauteri.
8. Adanya Hellp Syndrome (hemolysis, Elevated liver enzyme, Low Platelet count).

Dalam rangka menurunkan angka kematian maternal dan
perinatal akibat preeklampsia-eklampsia deteksi dini dan penanganan
yang adekuat terhadap kasus preeklampsia ringan
harus senantiasa diupayakan. Hal tersebut hanya dapat
dilakukan dengan mempertajam kemampuan diagnosa para
penyelenggara pelayanan bumil dari tingkat terendah sampai
teratas, dan melakukan pemeriksaan bumil secara teratur.
Mengingat komplikasi terhadap ibu dan bayi pada kasuskasus
PEB-E, maka sudah selayaknyalah semua kasus-kasus
tersebut dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan yang memiliki
fasilitas penanganan kegawatdaruratan ibu dan neonatal.
Demikian makalah mengenai Penanganan Preeklampsia
Berat dan Eklampsia kami rangkum sebagai penyegaran bagi
rekan-rekan di daerah. Semoga tulisan ini dapat memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya.


Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 22 Juni 2011

POLUSI AIR TANAH AKIBAT LIMBAH INDUSTRI DAN RUMAH TANGGA


Manusia merupakan komponen lingkungan alam yang bersama-sama dengan
komponen alam lainnya, hidup bersama dan mengelola lingkungan dunia. Karena
manusia adalah makhluk yang memiliki akal dan pikiran, peranannya dalam
mengelola lingkungan sangat besar. Manusia dapat dengan mudah mengatur alam dan
lingkungannya sesuai dengan yang diinginkan melalui pemanfaatan ilmu dan
teknologi yang dikembangkannya. Akibat perkembangan ilmu dan teknologi yang
sangat pesat, kebudayaan manusia pun berubah dimulai dari budaya hidup berpindah-
pindah (nomad), kemudian hidup menetap dan mulai mengembangkan buah
pikirannya yang terus berkembang sampai sekarang ini.
Hasilnya berupa teknologi
yang dapat membuat manusia lupa akan tugasnya dalam mengelola bumi. Sifat dan
perilakunya semakin berubah dari zaman ke zaman. Sekarang ini manusia mulai
bersifat boros, konsumtif dan cenderung merusak lingkungannya.

Lingkungan mempunyai daya dukung dan daya lenting. Daya dukung berarti
kemampuan lingkungan untuk dapat memenuhi kebutuhan sejumlah makhluk hidup
agar dapat tumbuh dan berkembang secara wajar didalamnya. Daya lenting berarti
kemampuan untuk pulih kembali kepada keadaan setimbang. Kegiatan manusia amat
berpengaruh pada peningkatan atau penurunan daya dukung maupun daya lenting
lingkungan. Manusia dapat meningkatkan daya dukung lingkungan, tetapi karena
keterbatasan kemampuan dan kapasitas lingkungan, tidak mungkin terus ditingkatkan
tanpa batas, sehingga manusia secara sadar ataupun tidak menyebabkan
ketidaksetimbangan atau kerusakan lingkungan.

Kerusakan lingkungan diakibatkan oleh berbagai faktor, antara lain oleh
pencemaran. Pencemaran ada yang diakibatkan oleh alam, dan ada pula yang
diakibatkan oleh perbuatan manusia. Pencemaran akibat alam antara lain letusan
gunung berapi. Bahan-bahan yang dikeluarkan oleh gunung berapi seperti asap dan
awan panas dapat mematikan tumbuhan, hewan bahkan manusia. Lahar dan batu-batu
besar dapat merubah bentuk muka bumi. Pencemaran akibat manusia adalah akibat
dari aktivitas yang dilakukannya. Lingkungan dapat dikatakan tercemar jika dimasuki
atau kemasukan bahan pencemar yang dapat mengakibatkan gangguan pada mahluk
hidup yang ada didalamnya. Gangguan itu ada yang segera nampak akibatnya, dan
ada pula yang baru dapat dirasakan oleh keturunan berikutnya. Kerusakan lingkungan
akibat aktivitas manusia di mulai dari meningkatnya jumlah penduduk dari abad ke
abad.


Populasi manusia yang terus bertambah mengakibatkan kebutuhan manusia
semakin bertambah pula, terutama kebutuhan dasar manusia seperti makanan,
sandang dan perumahan. Bahan-bahan untuk kebutuhan itu semakin banyak yang
diambil dari lingkungan. Disamping itu perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) memacu proses industrialisasi, baik di negara maju ataupun negara
berkembang. Untuk memenuhi kebutahan populasi yang terus meningkatkan, harus
diproduksi bahan-bahan kebutuhan dalam jumlah yang besar melalui industri. Kian
hari kebutuhan-kebutuhan itu harus dipenuhi. Karena itu mendorong semakin
berkembangnya industri, hal ini akan menimbulkan akibat antara lain:

1. Sumber Daya Alam (SDA) yang diambil dari lingkungan semakin besar, baik
macam maupun jumlahnya.
2. Industri
mengeluarkan
limbah
yang
mencemari
lingkungan.
Populasi manusia mengeluarkan limbah juga, seperti limbah rumah tangga
yang dapat mencemari lingkungan.
3. Muncul bahan-bahan sintetik yang tidak alami (insektisida, obat-obatan, dan
sebagainya) yang dapat meracuni lingkungan.

Akibat selanjutnya lingkungan semakin rusak dan mengalami pencemaran.
Pencemaran lingkungan terbagi atas tiga jenis, berdasarkan tempat terjadinya, yaitu
pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah. Di Indonesia, kerusakan
lingkungan akibat pencemaran udara, air dan tanah sudah sangat kritis. Khususnya di
daerah Bandung dan sekitarnya, pernah terjadi bencana lingkungan seperti sampah,
banjir dan masih banyak lagi.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang jenis-jenis pencemaran dan
penyebabnya serta solusi yang ditawarkan agar kerusakan lingkungan akibat
pencemaran dapat diminimalisisi.


JENIS-JENIS PENCEMARAN


1. Pencemaran Udara

Pencemaran udara disebabkan oleh asap buangan seperti CO2, SO, SO2, CFC,
CO, dan asap rokok. Gas CO2 yang berasal dari pabrik, mesin-mesin yang
menggunakan bahan bakar fosil dan akibat pembakaran kayu. Kadar gas CO2 yang
semakin meningkat di udara tidak dapat segera di ubah menjadi oksigen oleh
tumbuhan karena banyak hutan dunia yang di tebang setiap tahunnya.
Ini merupakan
masalah global. Bumi seperti di selimuti oleh gas dan debu pencemar. Kandungan gas
CO2 yang tinggi menyebabkan cahaya matahari yang masuk ke bumi tidak dapat di
pantulkan lagi ke angkasa, sehingga suhu bumi semakin memanas. Inilah yang
disebut efek rumah kaca (Green House). Jika hal ini terus berlangsung, maka es di
kutub akan mencair dan daerah dataran rendah akan terendam air.
Gas CO dapat membahayakan orang yang mengisapnya. Jika proses
pembakaran tidak sempurna, maka akan menghasilkan karbon monoksid (CO). Gas
CO jika terhirup akan mengganggu pernapasan. Gas ini sangat reaktif sehingga
mengganggu pengingatan oksigen oleh hemoglobin dalam darah. Jika berlangsung
terus menerus, dapat mengakibatkan kematian.
Gas CFC digunakan sebagai gas pengembang, karena tidak bereaks, tidak
berbau, tidak berasa dan tidak berbahaya. Banyak di gunakan untuk mengembangkan
busa kursi, untuk AC, pendingin lemari es dan penyemprot rambut.
Tetapi, ternyataada juga keburukan dari gas ini. Gas CFC yang naik ke atas dapat mencapai stratosfer.
Di stratosfer terdapat lapisan gas ozon (O3), yang merupakan pelindung bumi dari
pengaruh radiasi ultra violet. Radiasi ultra violet dapat mengakibatkan kematian
organisme, tumbuhan menjadi kerdil, menimbulkan mutasi genetik, menyebabkan
kanker kulit dan kanker mata. Jika gas CFC mencapai lapisan ozon, akan terjadi
reaksi antara CFC dan ozon, sehingga lapisan ozon tersebut berlubang yang disebut
lubang ozon.
Gas SO dan SO2 juga dihasilkan dari hasil pembakaran fosil. Gas ini dapat
bereaksi dengan gas NO2 dan air hujan dan menyebabkan terjadinya hujan asam.
Hujan ini mengakibatkan tumbuhan dan hewan-hewan tanah mati, produksi pertanian
merosot, besi dan logam mudah berkarat, serta bangunan-bangunan jadi cepat.


2. Pencemaran Air

Pencemaran air terjadi pada sumber-sumber air seperti danau, sungai, laut dan
air tanah yang disebabkan olek aktivitas manusia. Air dikatakan tercemar jika tidak
dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. Walaupun fenomena alam, seperti gunung
meletus, pertumbuhan ganggang, gulma yang sangat cepat, badai dan gempa bumi
merupakan penyebab utama perubahan kualitas air, namun fenomena tersebut tidak
dapat disalahkan sebagai penyebab pencemaran air. Pencemaran ini dapat disebabkan
oleh limbah industri, perumahan, pertanian, rumah tangga, industri, dan penangkapan
ikan dengan menggunakan racun. Polutan industri antara lain polutan organik (limbah
cair), polutan anorganik (padatan, logam berat), sisa bahan bakar, tumpaham minyak
tanah dan oli merupakan sumber utama pencemaran air, terutama air tanah.
Disamping itu penggundulan hutan, baik untuk pembukaan lahan pertanian,
perumahan dan konstruksi bangunan lainnya mengakibatkan pencemaran air tanah.
Limbah rumah tangga seperti sampah organik (sisa-sisa makanan), sampah anorganik
(plastik, gelas, kaleng) serta bahan kimia (detergen, batu batere) juga berperan besar
dalam pencemaran air, baik air di permukaan maupun air tanah.

Polutan dalam air mencakup unsur-unsur kimia, pathogen/bakteri dan
perubahan sifat Fisika dan kimia dari air. Banyak unsur-unsur kimia merupakan
racun yang mencemari air. Patogen/bakteri mengakibatkan pencemaran air sehingga
menimbulkan penyakit pada manusia dan binatang.
Adapuan sifat fisika dan kimia
air meliputi derajat keasaman, konduktivitas listrik, suhu dan pertilisasi permukaan
air.
Di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, pencemaran air (air permukaan
dan air tanah) merupakan penyebab utama gangguan kesehatan manusia/penyakit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di seluruh dunia, lebih dari 14.000 orang
meninggal dunia setiap hari akibat penyakit yang ditimbulkan oleh pencemaran air.

Secara umum, sumber-sumber pencemaran air adalah sebagai berikut :
1. Limbah industri (bahan kimia baik cair ataupun padatan, sisa-sisa bahan bakar,
tumpahan minyak dan oli, kebocoran pipa-pipa minyak tanah yang ditimbun
dalam tanah)
2. Pengungangan lahan hijau/hutan akibat perumahan, bangunan
3. Limbah pertanian (pembakaran lahan, pestisida)
4. Limbah pengolahan kayu
5. Penggunakan bom oleh nelayan dalam mencari ikan di laut
6. Rumah tangga (limbah cair, seperti sisa mandi, MCK, sampah padatan seperti
plastik, gelas, kaleng, batu batere, sampah cair seperti detergen dan sampah
organik, seperti sisa-sisa makanan dan sayuran).
3. Pencemaran Tanah


Pencemaran ini banyak diakibatkan oleh sampah, baik yang organik maupun
nonorganik. Sampah organik dapat di uraikan oleh mikroba tanah menjadi lapisan atas
tanah yang di sebut tanah humus. Akan tetapi, sampah anorganik/nonorganik tidak
bisa diuraikan. Bahan pencemar itu tetap utuh hingga 300 tahun yang akan datang.
Zat-zat limbah yang meresap ke tanah juga tidak dapat hilang dalam jangka waktu
yang lama.
Zat-zat limbah yang masuk ke tanah di serap oleh tanaman dan tetap menetap
di dalam tubuh tumbuhan itu, karena tumbuhan tidak dapat menguraikannya. Limbah
industri yang mengotori tanah biasanya adalah pupuk yang berlebihan dan
penggunaan herbisida serta pestisida. Zat pencemar yang menetap pada tumbuhan itu,
terus berpindah melalui jalur rantai makanan dan jaring-jaring makanan. Sehingga
perpindahan itu menyebabkan adanya zat pencemar dalam setiap tubuh organisme
yang melangsungkan proses rantai makanan. Hal ini akan menimbulkan menurunnya
kualitas organisme, berupa kurangnya ketahanan terhadap gangguan dari luar.
Selain pencemaran, kerusakan lingkungan juga disebabkan oleh pengambilan
sumber daya alam dan pemanfaatannya, serta pola pertanian. Kerusakan itu antara
lain terjadinya erosi dan banjir. Kerusakan lingkungan yang menimbulkan banyak
bencana menimbulkan gagasan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya kerusakan
itu. Manusia berusaha melakukan penanggulangan kerusakan lingkungan dan
mengadakan perbaikan terhadap kerusakan itu. Pencegahan kerusakan lingkungan dan
pengusahaan kelestarian dilakukan baik oleh pemerintah maupun setiap individu.



SOLUSI PENANGANAN PENCEMARAN LINGKUNGAN
Pada prinsipnya ada tiga (3) hal yang dapat dilakukan dalam rangka
pelestarian, pencegahan, dan penanggulangan kerusakan lingkungan akibat
pencemaran, yaitu :
1. Tindakan secara administratif,
2. Tindakan dengan menggunakan teknologi,
3. Tindakan melalui edukatif/pendidikan.

1. Tindakan Secara Administratif
Penanggulangan secara administratif dilakukan oleh pemerintah, dengan
mengeluarkan berbagai peraturan dan undang-undang. Antara lain peraturan
pemerintahan yang disetujui DPR tanggal 25 februari 1982. Disahkan presiden
tanggal 11 Maret 1982 menjadi UU No. 4 tahun 1982 yang berisi ketentuan
pengelolaan lingkungan hidup ( UULH ). Sebelum membangun pabrik atau proyek
lainnya, para pengembang diharuskan melakukan analisis mengenai dampak
lingkungan ( AMDAL ).Analisis dampak dari berdirinya industri tersebut tujukan
kepada pengelolaan santasi secara luas terhadap lingkungan sekitarnya. Pemerintah
juga mengeluarkan baku mutu lingkungan, yaitu standar yang ditetapkan untuk
menentukan mutu lingkungan. Selain itu pemerintah juga mengeluarkan program
yang meliputi berbagai sektor dalam pembangunan berkelanjutan sehingga di
harapkan pembangunan dapat berlangsung lestari dengan mempertahankan fungsi
lingkungan lestari.

2. Tindakan dengan Menggunakan Teknologi
Penanggulangan secara teknologis, adalah dengan cara membangun unit
pengolahan limbah. Misalnya unit pengolah limbah yang mengolah limbah cair
sebelum dibuang ke lingkungan. Jika pengolahannya menggunakan mikroba maka
disebut pengolahan secara biologis dengan menggunakan bakteri pengurai limbah.

3. Tindakan Melalui Edukatif/Pendidikan
Penanggulangan secara edukatif adalah dengan mengadakan kegiatan
penyuluhan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya
kelestarian alam. Masyarakat rumah tangga mempunyai peranan yang cukup besar
dalam pencemaran lingkungan, khususnya air akibat sampah rumah tangga. Karena
itu perlu dipikirkan teknologi sederhana yang dapat diterapkan kepada masyarakat
untuk mengelola sampah rumah tangga secara swadaya. Sampah rumah tangga secara
umum dapat dibagi dua ada sampah anorganik seperti plastik, gelas dan kaca serta
botol kaleng dan sampah organik, seperti sisa makanan, sisa sayuran dan lain-lain.
Salah satu teknik pengolahan sampah organik rumah tangga adalah
menggunakan “KERANJANG TAKAKURA”. Keranjang Takakura (Mr. Takakura
adalah Profesor di Jepang yang sukses melakukan praktek pengolahan limbah organik
rumah tangga di Jepang) adalah media pengolahan sampah secara biologi, karena
menggunakan bakteri sebagai pengurai sampah. Keranjang Takakura sendiri adalah
keranjang wadah yang biasa digunakan tempat pakaian kotor sebelum dicuci (rigen)
yang umumnya berkapasitas 50 liter. Berikut ini cara pengolahan sampah organik
menggunakan metoda keranjang Takakura :

1. Cari keranjang berukuran 50 liter berlubang-lubang kecil (supaya tikus tidak
bisa masuk) dan tutupnya.
2. Cari doos bekas wadah air minum kemasan, atau bekas wadah super mi, asal
bisa masuk ke dalam keranjang. Doos ini untuk wadah langsung dari bahan-
bahan yang akan dikomposkan.
3. Isikan ke dalam doos ini kompos yang sudah jadi. Tebarkan kompos ke dalam
doos selapis saja setebal kurang lebih 5 cm. Lapisan kompos yang sudah jadi
ini berfungsi sebagai starter proses pengomposan, karena di dalam kompos
yang sudah jadi tersebut mengandung banyak sekali mikroba-mikroba
pengurai. Setelah itu masukkan doos tersebut ke dalam keranjang plastik.
4. Bahan-bahan yang hendak dikomposkan sudah bisa dimasukkan ke dalam
keranjang.
Bahan-bahan yang sebaiknya dikomposkan antara lain: Sisa
makanan dari meja makan: nasi, sayur, kulit buah-buahan.
Sisa sayuran
mentah dapur: akar sayuran, batang sayuran yang tidak terpakai. Sebelum
dimasukkan ke dalam keranjang, harus dipotong-potong kecil-kecil sampai
ukuran 2 cm x 2 cm.
5. Setiap hari bahkan setiap habis makan, lakukanlah proses memasukkan bahan-
bahan yang akan dikomposkan seperti tahap sebelumnya. Demikian
seterusnya. Aduk-aduklah setiap selesai memasukkan bahan-bahan yang akan
dikomposkan. Bilamana perlu tambahkan lagi selapis kompos yang sudah jadi.


Keuntungan metoda pengolahan sampah ini, doos dalam keranjang ini lama
tidak penuhnya, sebab bahan-bahan dalam doos tadi mengempis. Terkadang kompos
ini beraroma jeruk, bila kita banyak memasukkan kulit jeruk. Bila kompos sudah
berwarna coklat kehitaman dan suhu sama dengan suhu kamar, maka kompos sudah
dapat dimanfaatkan.

Hal yang perlu diperhatikan adalah upayakan agar bekas sayuran bersantan,
daging dan bahan lain yang mengandung protein tidak dimasukkan ke dalam doos.
Mengingat starter-nya telah menggunakan kompos yang sudah jadi, maka MOL
(mikroba loka) tidak digunakan.


Persoalan kerusakan lingkungan akibat industri dan rumah tangga, khususnya
di Negara berkembang seperti Indonesia sudah sangat kompleks dan sudah
menghawatirkan.
Karena itu perlu kesadaran semua pihak untuk turut menangai
pencemaran lingkungan. Pemerintah melalui kebijakan dan aturan harus mampu
mengatur industi dalam pengolahan limbah baik cair, kayu dan udara. Pihak industri
pun harus menyadari peranan pencemarannya yang sangat besar sehingga harus mau
membangun pengolahan limbah. Masyarakat pun harus mempunyai peranan yang
sangat besar dalam pengolahan limbah rumah tangga dan lingkungan sekitar sehingga
kelestarian lingkungan baik, udara, tanah maupun air dapat terjaga dengan baik.



Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan