Kamis, 28 April 2011

Membedah Konsep Blum Dan Paradigma Sehat


Konsep hidup sehat H.L.Blum sampai saat ini masih relevan untuk diterapkan. Kondisi sehat secara holistik bukan saja kondisi sehat secara fisik melainkan juga spiritual dan sosial dalam bermasyarakat. Untuk menciptakan kondisi sehat seperti ini diperlukan suatu keharmonisan dalam menjaga kesehatan tubuh. H.L Blum menjelaskan ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Keempat faktor tersebut merupakan faktor determinan timbulnya masalah kesehatan.
Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor perilaku/gaya hidup (life style), faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya), faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetik (keturunan). Keempat faktor tersebut saling berinteraksi yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat kesehatan masyarakat. Diantara faktor tersebut faktor perilaku manusia merupakan faktor determinan yang paling besar dan paling sukar ditanggulangi, disusul dengan faktor lingkungan. Hal ini disebabkan karena faktor perilaku yang lebih dominan dibandingkan dengan faktor lingkungan karena lingkungan hidup manusia juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat.
Di zaman yang semakin maju seperti sekarang ini maka cara pandang kita terhadap kesehatan juga mengalami perubahan. Apabila dahulu kita mempergunakan paradigma sakit yakni kesehatan hanya dipandang sebagai upaya menyembuhkan orang yang sakit dimana terjalin hubungan dokter dengan pasien (dokter dan pasien). Namun sekarang konsep yang dipakai adalah paradigma sehat, dimana upaya kesehatan dipandang sebagai suatu tindakan untuk menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan individu ataupun masyarakat (SKM dan masyarakat).
Dengan demikian konsep paradigma sehat H.L. Blum memandang pola hidup sehat seseorang secara holistik dan komprehensif. Masyarakat yang sehat tidak dilihat dari sudut pandang tindakan penyembuhan penyakit melainkan upaya yang berkesinambungan dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Peranan Sarjana Kesehatan Masyarakat dalam hal ini memegang kendali dominan dibandingkan peranan dokter. Sebab hubungan dokter dengan pasien hanya sebatas individu dengan individu tidak secara langsung menyentuh masyarakat luas. Ditambah lagi kompetensi dalam memanagement program lebih dikuasai lulusan SKM sehingga dalam perkembangannya SKM menjadi ujung tombak program kesehatan di negara-negara maju.
Untuk negara berkembang seperti Indonesia justru, paradigma sakit yang digunakan. Dimana kebijakan pemerintah berorientasi pada penyembuhan pasien sehingga terlihat jelas peranan dokter, perawat dan bidan sebagai tenaga medis dan paramedis mendominasi. Padahal upaya semacam itu sudah lama ditinggalkan karena secara financial justru merugikan Negara. Anggaran APBN untuk pendanaan kesehatan di Indonesia semakin tinggi dan sebagian besar digunakan untuk upaya pengobatan seperti pembelian obat, sarana kesehatan dan pembangunan gedung. Seharusnya untuk meningkatan derajat kesehatan kita harus menaruh perhatian besar pada akar masalahnya dan selanjutnya melakukan upaya pencegahannya. Untuk itulah maka upaya kesehatan harus fokus pada upaya preventif (pencegahan) bukannya curative (pengobatan).
Namun yang terjadi anggaran untuk meningkatkan derajat kesehatan melalui program promosi dan preventif dikurangi secara signifikan. Akibat yang ditimbulkan adalah banyaknya masyarakat yang kekurangan gizi, biaya obat untuk puskesmas meningkat, pencemaran lingkungan tidak terkendali dan korupsi penggunaan askeskin. Dampak sampingan yang terjadi tersebut dapat timbul karena kebijakan kita yang keliru.
KONSEP BLUM
Semua Negara di dunia menggunakan konsep Blum dalam menjaga kesehatan warga negaranya. Untuk Negara maju saat ini sudah fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sehingga asupan makanan anak-anak mereka begitu dijaga dari segi gizi sehingga akan melahirkan keturunan yang berbobot. Kondisi yang berseberangan dialami Indonesia sebagai Negara agraris, segala regulasi pemerintah tentang kesehatan malah fokus pada penanggulangan kekurangan gizi masyarakatnya. Bahkan dilematisnya banyak masyarakat kota yang mengalami kekurangan gizi. Padahal dari hasil penelitian membuktikan wilayah Indonesia potensial sebagai lahan pangan dan perternakan karena wilayahnya yang luas dengan topografi yang mendukung. Ada apa dengan pemerintah?. Satu jawaban yang pasti seringkali dalam analisis kesehatan pemerintah kurang mempertimbangkan pendapat ahli kesehatan masyarakat (public health) sehingga kebijakan yang dibuat cuma dari sudut pandang kejadian sehat-sakit.

Dalam konsep Blum ada 4 faktor determinan yang dikaji, masing-masing faktor saling keterkaitan berikut penjelasannya :
1. Perilaku masyarakat
Perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan sangat memegang peranan penting untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Hal ini dikarenakan budaya hidup bersih dan sehat harus dapat dimunculkan dari dalam diri masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Diperlukan suatu program untuk menggerakan masyarakat menuju satu misi Indonesia Sehat 2010. Sebagai tenaga motorik tersebut adalah orang yang memiliki kompetensi dalam menggerakan masyarakat dan paham akan nilai kesehatan masyarakat. Masyarakat yang berperilaku hidup bersih dan sehat akan menghasilkan budaya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat.
Pembuatan peraturan tentang berperilaku sehat juga harus dibarengi dengan pembinaan untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat. Sebab, apabila upaya dengan menjatuhkan sanksi hanya bersifat jangka pendek. Pembinaan dapat dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat sebagai role model harus diajak turut serta dalam menyukseskan program-program kesehatan.
2. Lingkungan
Berbicara mengenai lingkungan sering kali kita meninjau dari kondisi fisik. Lingkungan yang memiliki kondisi sanitasi buruk dapat menjadi sumber berkembangnya penyakit. Hal ini jelas membahayakan kesehatan masyarakat kita. Terjadinya penumpukan sampah yang tidak dapat dikelola dengan baik, polusi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab. Upaya menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab semua pihak untuk itulah perlu kesadaran semua pihak.
Puskesmas sendiri memiliki program kesehatan lingkungan dimana berperan besar dalam mengukur, mengawasi, dan menjaga kesehatan lingkungan masyarakat. namun dilematisnya di puskesmas jumlah tenaga kesehatan lingkungan sangat terbatas padahal banyak penyakit yang berasal dari lingkungan kita seperti diare, demam berdarah, malaria, TBC, cacar dan sebagainya.
Disamping lingkungan fisik juga ada lingkungan sosial yang berperan. Sebagai mahluk sosial kita membutuhkan bantuan orang lain, sehingga interaksi individu satu dengan yang lainnya harus terjalin dengan baik. Kondisi lingkungan sosial yang buruk dapat menimbulkan masalah kejiwaan.
3. Pelayanan kesehatan
Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang berkualitas sangatlah dibutuhkan. Masyarakat membutuhkan posyandu, puskesmas, rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya untuk membantu dalam mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan. Terutama untuk pelayanan kesehatan dasar yang memang banyak dibutuhkan masyarakat. Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang kesehatan juga mesti ditingkatkan.
Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat sangat besar perananya. sebab di puskesmaslah akan ditangani masyarakat yang membutuhkan edukasi dan perawatan primer. Peranan Sarjana Kesehatan Masyarakat sebagai manager yang memiliki kompetensi di bidang manajemen kesehatan dibutuhkan dalam menyusun program-program kesehatan. Utamanya program-program pencegahan penyakit yang bersifat preventif sehingga masyarakat tidaka banyak yang jatuh sakit.
Banyak kejadian kematian yang seharusnya dapat dicegah seperti diare, demam berdarah, malaria, dan penyakit degeneratif yang berkembang saat ini seperti jantung karoner, stroke, diabetes militus dan lainnya. penyakit itu dapat dengan mudah dicegah asalkan masyarakat paham dan melakukan nasehat dalam menjaga kondisi lingkungan dan kesehatannya.
4. Genetik
Seperti apa keturunan generasi muda yang diinginkan ???. Pertanyaan itu menjadi kunci dalam mengetahui harapan yang akan datang. Nasib suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Oleh sebab itu kita harus terus meningkatkan kualitas generasi muda kita agar mereka mampu berkompetisi dan memiliki kreatifitas tinggi dalam membangun bangsanya.
Dalam hal ini kita harus memperhatikan status gizi balita sebab pada masa inilah perkembangan otak anak yang menjadi asset kita dimasa mendatang. Namun masih banyak saja anak Indonesia yang status gizinya kurang bahkan buruk. Padahal potensi alam Indonesia cukup mendukung. oleh sebab itulah program penanggulangan kekurangan gizi dan peningkatan status gizi masyarakat masih tetap diperlukan. Utamanya program Posyandu yang biasanya dilaksanakan di tingkat RT/RW. Dengan berjalannya program ini maka akan terdeteksi secara dini status gizi masyarakat dan cepat dapat tertangani.
Program pemberian makanan tambahan di posyandu masih perlu terus dijalankan, terutamanya daeraha yang miskin dan tingkat pendidikan masyarakatnya rendah. Pengukuran berat badan balita sesuai dengan kms harus rutin dilakukan. Hal ini untuk mendeteksi secara dini status gizi balita. Bukan saja pada gizi kurang kondisi obesitas juga perlu dihindari. Bagaimana kualitas generasi mendatang sangat menentukan kualitas bangas Indonesia mendatang.
ANALISIS PROSES PEMBELAJARAN DAN PENGUASAAN KOMPETENSI DI KELAS, LABORATORIUM DAN LAHAN PRAKTIK OLEH MAHASISWA JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES PALEMBANG

Analisis Proses Pembelajaran

Perencanaan Proses Pembelajaran
Sebelum pelaksanaan kegiatan proses pembelajaran dimulai, harus dibuat perencanaan berupa prosedur kerja, penetapan tujuan. Dengan dibuatnya perencanaan yang baik sehingga akan mudah menentukan langkah yang akan diambil untuk pelaksanaan proses pembelajaran. Perencanaan proses pembelajaran harus berdasarkan kurikulum, berpedoman pada kalender akademik untuk menyusun jadwal pelaksanaan proses pembelajaran, Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester. Tanpa adanya perencanaan sebelum suatu kegiatan dimulai tidak akan dapat mencapai tujuan pendidikan dan tujuan institusional sesuai dengan harapan. Tujuan pengajaran, pengalaman-pengalaman belajar, alat-alat pelajaran dan cara-cara penilaian yang direncanakan dan digunakan dalam pendidikan. Program pendidikan yang direncanakan sebelum kegiatan dimulai, dan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan diharapkan akan dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Jadi perencanaan yang matang sangat diperlukan dalam melakukan sesuatu hal yang ingin dicapai agar dapat mencapai tujuan secara maksimal. Apabila perencanaan tidak baik maka pencapaian tujuan tidak berjalan dengan semestinya karena tidak adanya pedoman dalam melaksanakan pekerjaan.

Pengorganisasian Proses Pembelajaran
Pengorganisasian proses pembelajaran sangat perlu dilakukan dengan baik karena dengan adanya pengorganisasian proses pembelajaran, adanya panduan berupa kerangka acuan, pembagian tugas mengajar, pencapaian kompetensi yang harus disesuaikan dengan latar belakang pendidikan dosen yang bersangkutan. Cara penilaian kompetensi yang dicapai melalui evaluasi pada akhir sesi pembelajaran dan pada akhir semester, evaluasi dilakukan oleh institusi dan lahan praktik.

Pelaksanaan Proses Pembelajaran di Kelas
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas hampir tidak bermasalah kecuali mata kuliah keterampilan dasar praktik klinik, dalam proses pembelajaran dengan beban studi 3 SKS. 1 SKS untuk teori dan 2 SKS untuk praktik laboratorium, untuk teori alokasi waktu yang tersedia 60 menit/ minggu selama 16 kali pertemuan. Kompetensi yang harus dicapai sangat tidak seimbang dengan alokasi waktu yang tersedia. Misalnya saja kebutuhan dasar manusia dalam kontek pelayanan kebidanan ada 10 keterampilan yang harus dicapai oleh mahasiswa. Disini bukan saja mahasiswa yang merasa kewalahan tetapi juga tim dosen yang mengajar mata kuliah keterampilan dasar praktik klinik.

Untuk dapat menguasai suatu keterampilan seseorang harus sering mencoba melakukan hal tersebut agar terampil. Karena tanpa sering melakukannya akan sangat mudah lupa. Seperti pepatah lama yang lebih kurang berbunyi ?aku mendengar aku lupa, aku melihat aku mengetahui, aku mengerjakan aku bisa,? demikian juga dengan keterampilan dasar praktik klinik, harus tersedianya waktu yang cukup untuk mencoba agar terampil dalam menguasai kompetensi yang harus dicapai.

Pelaksanaan Proses Pembelajaran di laboratorium
Proses pembelajaran di laboratorium adalah suatu wahana untuk melakukan suatu keterampilan dengan mensimulasikan, demonstrasi, role play dengan mendekatkan keadaan pada situasi nyata. Proses pembelajaran di laboratorium sebetulnya dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah laboratorium kelas dimana mahasiswa melakukan proses pembelajaran yang berlangsung di institusi dengan menggunakan alat peraga. Sedangkan kelompok kedua adalah laboratorium klinik, dimana proses pembelajaran dilaksanakan di lahan praktik. Disini mahasiswa menjalani praktikkum dibawah bimbingan dosen pengasuh mata kuliah. Dengan demikian diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan praktikkum pada kondisi yang sebenarnya. Poltekkes Jurusan Kebidanan Palembang dalam menerapkan proses pembelajaran di laboratorium, hanya menjalani proses pembelajaran laboratorium kelas. Untuk laboratorium klinik tidak dilaksanakan, laboratorium klinik dilaksanakan bersamaan dengan praktik klinik kebidanan. Selain dari alat peraga perlu meninjau kembali alokasi waktu yang ditetapkan apakah mahasiswa sudah merasa cukup dengan alokasi waktu yang ada atau perlu pengayaan (remedial). Proses pembelajaran di laboratorium untuk mata kuliah keterampilan dasar praktik klinik dengan beban studi 2 SKS, alokasi waktu yang tersedia 2 x 2 x 60 menit/minggu/ semester, dan hanya diberikan dalam satu semester. Sebelumnya mata kuliah keterampilan dasar praktik klinik dengan beban studi 5 SKS dan diberikan dalam 2 semester, sehingga beban mengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran dapat dicapai. Alokasi waktu yang tersedia sesuai dengan jumlah kompetensi yang ingin dicapai.

Pelaksanaan Proses Pembelajaran di lahan Praktik
Pelaksanaan proses pembelajaran dilahan praktik mata kuliah kebidanan komunitas memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik yang diarahkan kepada pencapaian keterampilan dalam mengkaji kondisi dan sarana pelayanan kesehatan dimasyarakat. Mengelola pelayanan kebidanan dimasyarakat, serta mengorganisir peran serta masyarakat dalam meningkatkan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di masyarakat.

Diharapkan dengan adanya praktik klinik dilahan praktik mahasiswa yang telah melewati masa proses pembelajaran di kelas dan laboratorium, dapat menguasai kompetensi yang diharapkan. Dengan demikian dapat menghasilkan lulusan yang berkompeten. Meningkatkan mutu pendidikan dan akan menambah nilai tersendiri bagi institusi pendidikan dimata masyarakat.

Penilaian
Evaluasi hasil belajar mahasiswa dalam suatu mata kuliah sekurang-kurangnya merupakan gabungan dari tiga penilaian antara lain: Ujian Tengah Semester (UTS), tugas (pekerjaan rumah, pembuatan makalah, dan lain-lain), Kuiz (baik yang dipersiapkan maupun yang tidak dipersiapkan), laporan hasil praktikum (partisipasi, kerja lapangan/laboratorium), Ujian praktikum, Ujian Akhir Semester (UAS). Pedoman penilaian dengan menggunakan Pedoman Acuan Patokan (PAP), dan Pedoman Acuan Norma (PAN). Penilaian hasil belajar dinyatakan dengan hurup A,B,C,D dan E yaitu masing-masing bernilai 4,3,2,1 dan 0 (Depkes 1996). Penyelenggaraan penilaian dimaksudkan selain sebagai alat ukur penguasaan kompetensi dan pemahaman ilmu serta kemampuan penerapan mahasiswa dibidang profesinya, juga sebagai umpan balik terhadap penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan baik program reguler maupun khusus.

Analisis Output Proses Pembelajaran
Penguasaan Kompetensi
Dalam penguasaan kompetensi mata kuliah keterampilan dasar praktik klinik, baik mahasiswa maupun dosen merasakan alokasi waktu dalam proses pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan kompetensi yang akan dicapai, karena dalam pelaksanaan proses pembelajaran mata kuliah keterampilan dasar praktik klinik, dengan beban studi 3 SKS teori dan praktik laboratorium dirasakan oleh mahasiswa dan tenaga dosen sangat singkat. Untuk mata kuliah kebidanan komunitas penguasaan kompetensi sudah cukup baik karena kebidanan komunitas langsung praktik kepada pasien. Praktik laboratorium kelas hanya mengisi format pengkajian pasien, setelah dapat mengkaji kebutuhan pasien, mahasiswa menjalani proses pembelajaran laboratorium klinik di Puskesmas dibawah bimbingan dosen mata kuliah. Mata kuliah promosi kesehatan mahasiswa merasa waktunya cukup dan merasa menguasai kompetensi yang diharapkan. Pada proses pembelajaran laboratorium mahasiswa diberi penugasan penyuluhan informal secara mandiri langsung kepada masyarakat, misalnya kepada pengunjung apotik.

Kesimpulan
Komponen Input
  1. Dosen :
    Dosen tetap yang berlatar belakang profesi sama dengan mahasiswa didikannya (bidan) tidak seimbang, lebih banyak dosen yang berlatar belakang perawat, sebaiknya dosen tetap yang latar belakang pendidikannya belum sesuai dengan mahasiswa didikannya dikirim untuk mengikuti pelatihan atau pendidikan tambahan, agar dosen tersebut dapat diberdayakan dengan maksimal.
  2. Instruktur Klinik:
    Poltekkes jurusan kebidanan Palembang hendaknya menjalin komunikasi dengan lahan praktik, sebelum proses pembelajaran dilahan praktik dimulai harus ada kesepakan kerja yang jelas dan dapat diterima oleh kedua belah pihak yang tertuang dalam MoU(Memorandum of Understanding).
  3. Mahasiswa:
    Pengorganisasian proses pembelajaran harus dibuat sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, seperti kartu hasil studi hendaknya dikeluarkan sebelum mahasiswa melakukan registrasi untuk semester berikutnya. Dengan adanya pengorganisasian yang baik kita dapat mengevaluasi proses pembelajaran secara keseluruhan, dengan adanya evaluasi diharapkan adanya perbaikan dalam pelaksanaan proses pembelajaran kedepan.
  4. Alat Peraga:
    Dalam proses pembelajaran baik dikelas, dilaboratorium maupun lahan praktik, alat peraga sangat dibutuhkan untuk menunjang proses pembelajaran, agar mahasiswa dapat dengan mudah mentransfer materi atau kompetensi yang diajarkan oleh dosen. Dengan demikian penguasaan kompetensi dapat tercapai.
  5. GBPP (Garis Besar Program Pengajaran):
    Dalam pelaksanaan proses pembelajaran hendaknya sebelum proses pembelajaran dimulai, Koordinator I harus mengarahkan dan mengkoordinasikan penanggung jawab mata kuliah agar GBPP dapat diterjemahkan kedalam silabus. Dengan adanya silabus pelaksanaan proses pembelajaran akan berjalan dengan semestinya karena dosen sudah ada panduan yang tetap.
  6. Standar Kompetensi:
    Standar kompetensi di Poltekkes jurusan kebidanan Palembang, dari kurikulum sudah dibuat dalam bentuk buku keterampilan yang harus dibawa pada saat mahasiswa menjalani proses pembelajaran dilahan praktik.
  7. Dana:
    Dana hendaknya Poltekkes jurusan kebidanan Palembang harus mengevaluasi kebutuhan dana, sesuai dengan kebutuhan dalam menunjang jalannya proses pembelajaran. Seperti melengkapi sarana dan prasarana belajar baik hardware maupun software, memperhatikan besarnya honor dosen apakah masih sesuai untuk saat ini.
Komponen Proses
  1. Perencanaan proses pembelajaran:
    Perencanaan proses pembelajaran disusun bersamaan saat awal semester berjalan. Seharusnya sebelum proses pembelajaran dimulai hendaknya disusun perencanaan yang matang, adanya penentuan tujuan-tujuan yang harus dicapai. Adanya prosedur kerja sehingga pada saat proses pembelajaran berlangsung sudah tahu apa yang akan dikerjakan.
  2. Pengorganisasian proses pembelajaran:
    Di Poltekkes jurusan kebidanan Palembang pengorganisasian dalam proses pembelajaran belum berjalan dengan semestinya. Sebaiknya pengorganisasian harus betul-betul dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, dengan adanya pengorganisasian yang baik diharapkan proses pembelajaran dalam hal ini evaluasi dapat dijalankan setiap saat demi untuk peningkatan mutu pendidikan.
  3. Proses Pembelajaran di Kelas:
    Proses pembelajaran dikelas sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan tuntutan kurikulum, hanya saja hambatan disini adalah dosen tidak tetap dari luar institusi, Poltekkes jurusan kebidanan Palembang kesulitan dalam memberikan honor yang sesuai dan tepat waktu. Hal ini mengakibatkan dosen banyak yang malas dan mengundurkan diri karena honor tidak sesuai dengan jasa yang mereka berikan.
  4. Proses pembelajaran dilaboratorium:
    Hambatan dalam pelaksanaan proses pembelajaran dilaboratorium, adalah alokasi waktu yang tersedia tidak sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai, alat peraga banyak yang kurang, sehingga membuat kesulitan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Sebaiknya Poltekkes jurusan kebidanan Palembang mengusahakan untuk melengkapi alat peraga sebagai penunjang proses pembelajaran dilaboratorium.
  5. Proses Pembelajaran dilahan praktik:
    Poltekkes jurusan kebidanan Palembang dalam menjalankan proses pembelajaran dilahan praktik sangat tergantung dengan beban studi praktik klinik kebidanan, padahal untuk menerapkan dan menguasai kompetensi yang diharapkan dibutuhkan waktu yang cukup panjang. Karena proses pembelajaran dilahan praktik harus disesuaikan dengan kondisi dilahan praktik. Misalnya kompetensi yang akan kita kuasai harus disesuaikan dengan pasien yang ada saat itu.
  • Komponen Output
    Penguasaan Kompetensi:
    Dalam penguasaan kompetensi mahasiswa dan instruktur klinik mengatakan bahwa, waktu untuk proses pembelajaran dilahan praktik sangat singkat, Sebaiknya Poltekkes jurusan kebidanan Palembang harus memberi kelonggaran waktu untuk proses pembelajaran dilahan praktik. Dengan adanya penambahan waktu praktik klinik maka diharapkan mahasiswa dapat dengan leluasa untuk mendapatkan kompetensi yang harus mereka capai.

    Saran
    Bagi Badan PPSDM Kesehatan: Guna peningkatan mutu sumber daya manusia, dalam hal ini institusi pendidikan sebagai pencetak sumber daya manusia yang berkualitas, hendaknya Badan PPSDM Kesehatan dapat memprogramkan agar adanya tugas belajar bagi dosen, untuk menambah kualifikasi tenaga dosen yang belum memenuhi syarat. Adanya pelatihan-pelatihan bagi dosen mata kuliah agar adanya inovasi didalam mengajar. Dengan adanya penelitian ini diharapkan Badan PPSDM Kesehatan dapat meninjau kembali kebijakan dalam hal ini yang berkaitan dengan proses pembelajaran, demi tercapai lulusan yang berkualitas.


Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan
Reaksi:

0 komentar: