Senin, 06 Juni 2011

ANAK - ANAK JUGA BISA KEPUTIHAN

Orangtua terkadang tidak mengenali tanda-tanda keputihan pada bayi dan anak mereka. Padahal, bila tidak ditangani dengan tepat, dalam beberapa minggu, masalah keputihan itu bisa menimbulkan komplikasi penyakit, infeksi akan meluas ke kelenjar-kelenjar di dalam kelamin dan organ reproduksi lain. Untuk itu wajib hukumnya para orang tua mewaspadai gejala yang ditimbulkan.

Dengan memahami gejala, penyebab keputihan pada bayi dan anak, maka akanh mencegah terjadinya keputihan serta mencegah agar tidak terulang. Masalah keputihan bisa dideteksi dengan melihat apakah anak sering buang air kecil berlebihan di celana atau ada cairan berlebihan sekitar kelamin.
Dalam postingan kali ini akan diuraikan faktor-faktor dari luar yang menyebabkan keputihan pada anak, yaitu: faktor infeksi dan non infeksi. Faktor infeksi bisa disebabkan karena infeksi bakteri (Haemophilus influenzae, Shigella eischeria coli, Chlamydia trachomatis, dan sebagainya), jamur (candida), parasit (Trichomonas vaginalis, Oxyuris enterobius vermicularis) dan cacing kremi. Sedangkan faktor non infeksi, terkadang tanpa disadari menjadi penyebab keputihan tersebut, yaitu:
  • Masuknya benda asing ke vagina baik sengaja maupun tidak. Pada bayi, hal ini biasanya terjadi bila kapas atau tisu yang dipakai untuk membersihkan kotoran ada yang tertinggal. Sementara pada anak, benda asing yang masuk biasanya pasir karena anak-anak suka duduk dan bermain di atasnya, manik-manik, biji-bijian, atau bubuk krayon dan sejenis.
  • Akibatnya terjadi peradangan pada vulva (lubang luar vagina) atau pada liang vagina yang kemudian menimbulkan keputihan.
  • Cebok tidak bersih. Anak bayi dan batita biasanya masih diceboki, sehingga sisa kotoran yang tertinggal bisa dibersihkan secara seksama. Namun setelah agak besar, biasanya anak sudah malu dan orang tua pun menganggapnya bisa cebok sendiri. Padahal, mungkin ceboknya tidak bersih benar. Akibatnya terjadi infeksi yang menyebabkan keputihan.
  • Daerah sekitar kemaluan lembab. Contohnya setelah buang air kecil, daerah kemaluan anak tidak dikeringkan secara seksama sehingga celana dalamnya basah dan menimbulkan kelembaban di sekitarnya. Ditambah sisa air seni yang dapat menyebabkan iritasi dan gatal, sehingga nantinya muncul reaksi keputihan.
  • Menahan buang air kecil karena asyik bermain. Akibatnya, air kencing menetes sedikit-sedikit yang membuat daerah itu rawan iritasi, lembab, dan gatal.
  • Duduk dan jongkok sembarangan di tanah atau di lantai. Oleh karena vaginanya belum menutup sempurna, maka mudah saja jamur, bakteri, dan benda asing masuk ke daerah itu.
  • Menggaruk daerah vagina dengan tangan yang kotor. Ini terjadi kalau anak merasa gatal di daerah itu. Akibatnya bibit penyakit di tangan pindah ke vagina dan menyebabkan keputihan.
Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

0 komentar: