Sabtu, 31 Desember 2011

Definisi CRP



CRP merupakan sebuah komponen penting dari sistem imun, kumpulan protein yang dibuat oleh tubuh kita ketika berhadapan dengan infeksi atau trauma utama. CRP ditemukan sekitar 70 tahun yang lalu oleh para ilmuwan dengan menyelidiki respons inflammatory manusia. Akan tetapi, peranan yang dimiliki CRP dalam penyakit jantung baru ditemukan belakangan ini.

Setiap orang menghasilkan CRP, tetapi dengan jumlah berbeda tergantung pada beberapa faktor, termasuk faktor genetik dan faktor gaya hidup. Secara umum, orang yang merokok, memiliki tekanan darah tinggi, berat badan berlebih, dan tidak mampu aktif secara fisik cenderung memiliki kadar CRP yang tinggi, sedangkan orang yang kurus dan atletis cenderung memiliki kadar CRP yang rendah. Meski demikian, hampir setengah variasi kadar CRP antara setiap orang diwariskan sehingga menunjukkan kadar yang telah diwariskan orang tua dan kakek-nenek kepada anda melalui gen-gen yang mereka memiliki. Ini tidak mengherankan karena peranan fundamental yang dimiliki CRP dalam inflamasi, sebuah proses sangat penting untuk penyembuhan luka, untuk menghilangkan bakteri dan virus, dan untuk berbagai proses kunci yang penting bagi kelangsungan hidup. Penelitian selama 10 tahun terakhir telah menunjukkan bahwa terlalu banyak inflamasi pada beberapa keadaan yang bisa memiliki efek berbahaya, khususnya pada pembuluh darah yang membawa oksigen dan gizi ke semua jaringan tubuh. Para ilmuwan sekarang ini memahami bahwa atherosklerosis (proses yang mengarah pada akumulasi kolesterol dalam pembuluh-pembuluh arteri) merupakan sebuah penyakit inflammatory pembuluh darah, seperti halnya arthritis yang merupakan penyakit inflammatory pada tulang dan sendi.

Banyak penelitian telah menemukan bahwa penanda darah yang mencerminkan proses inflammatory tersebut meningkat diantara orang-orang yang berisiko tinggi untuk mengalami penyakit jantung di masa mendatang. Inflamasi penting dalam semua fase penyakit jantung, termasuk inisiasi dini plak-plak atheroslekrotik dalam arteri, serta kerusakan akut plak-palk ini yang menghasilkan serangan jantung, dan terlalu sering, menghasilkan kematian tiba-tiba. Sampai baru-baru ini, penanda-penanda yang tersedia untuk inflamasi tidak cocok digunakan di ruang praktik dokter. Sebaliknya, CRP sangat stabil dan agak mudah untuk diukur.

Perbandingan CRP dengan “Faktor Risiko Terbaru” lainnya

CRP merupakan sebuah indikator risiko yang sangat kuat, khususnya ketika digabungkan dengan evaluasi kolesterol. Beberapa dokter memilih untuk mengukur CRP bersama dengan serangkaian faktor risiko “terbaru” yang mencakup homocystein dan lipoprotein(a). Sementara yang lainnya mengukur CRP bersama dengan tes-tes yang lebih mahal yang mengukur subfraksi kolesterol spesifik. Akan tetapi, dengan perbandingan langsung, nilai prediktif untuk CRP jauh lebih besar dibanding yang diamati untuk penanda-penanda risiko “terbaru” alternatif ini. Lebih lanjut, hanya CRP yang terbukti dapat menambah informasi prognostik yang penting terhadap informasi yang sebelumnya didapatkan dari screening kolesteorl standar.

Pada beberapa komunitas, teknik-teknik pencitraan termasuk “scan seluruh badan” yang mendeteksi kalsifikasi arteri-arteri jantung dan aorta telah didukung sebagai teknik-teknik screening. Meskipun keberadaan kalsifikasi benar-benar meningkatkan risiko kardiovaskular, scan-scan seperti ini tidak direkomendasikan oleh Asosiasi Jantung Amerika dan saat ini sangat mahal. Pertimbangan tambahan untuk teknik-teknik pencitraan ini adalah bahwa hasilnya sering disalahartikan oleh pasien dan dokter dan bisa mengarah pada intervensi koroner yang tidak seharusnya, termasuk angioplasty dan bedah bypass. Meskipun kadar CRP juga telah terbukti memberikan tambahan informasi prognostik pada semua kadar kalsium koroner, namun informasi ini harus digunakan utamanya untuk memotivasi orang-orang yang berisiko untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih ramah jantung, bukan mencari prosedur jantung intervensional yang agresif.

Bagaimana CRP mempengaruhi diabetes dan sindrom metabolik?

Berbeda dengan kolesterol LDL, CRP memprediksikan bukan hanya penyakit jantung, tetapi juga risiko untuk mengalami diabetes tipe 2. Individu-individu yang memiliki kadar CRP lebih dari 3 mg/L memiliki risiko untuk mengalami diabetes 4 hingga 6 kali lebih besar dibanding individu yang memiliki kadar CRP lebih rendah. Sebagian hubungan antara penyakit jantung dan diabetes disebabkan oleh inflamasi, dan bagi banyak pasien inflamasi tersebut selanjutnya adalah hasil dari obesitas, khususnya “obesitas sentral” atau kecenderungan untuk memusatkan berat badan di sekitar perut. Ini karena sel-sel lemak atau “adiposit” menghasilkan protein-protein duta yang membangkitkan produksi CRP itu sendiri.

Sindrom metabolik merupakan sebuah kondisi yang diketahui menyebabkan pasien rentan terhadap diabetes dan penyakit jantung. Para dokter menganggap pasien memiliki sindrom metabolik jika dia memiliki sekurang-kurangnya 3 dari 5 kondisi berikut: kolesterol HDL rendah, obesitas sentral, trigliserida tinggi, kadar gula darah meningkat, dan tekanan darah tinggi. Akan tetapi, sindrom metabolik juga mencakup beberapa kelainan yang tidak mudah diukur yang mencakup resistensi insulin dan masalah-masalah dengan pembekuan darah. Kadar CRP meningkat apabila jumlah komponen sindrom metabolik juga meningkat. Bahkan diantara orang-orang yang diketahui mengalami sindrom metabolik, kadar CRP memberikan tambahan informasi prognostik yang penting tentang risiko. Sehingga, banyak dokter sekarang ini juga mengukur CRP sebagai bagian dari proses penentuan sindrom metabolit. Praktik ini menjadi semakin umum diantara pada endokrionologis dan dokter-dokter lain yang tertarik dalam pencegahan diabetes serta penyakit jantung.


Bagaimana cara menginterpretasi hasil tes CRP?

Penginterpretasian hasil CRP cukup sederhana Semua lab harus melaporkan nilai kadar dalam satuan mg/L. Kadar CRP yang kurang dari 1 mg/L merupakan pertanda baik dan menunjukkan risiko kardiovaskular yang rendah secara keseluruhan. Kadar CRP antara 1 – 3 mg/L adalah tanda dari risiko sedang, sedangkan kadar CRP di atas 3 mg/L menunjukkan risiko vaskular yang meningkat.


Ada kemungkinan bahwa anda akan memiliki kadar CRP yang sangat tinggi (di atas 10 mg/L). Pada kasus tersebut, tes harus diulangi pada sekitar 2 hingga 3 pekan ketika karena kadar di atas 10 mg/L bisa menunjukkan adanya infeksi akut (inilah sebabnyak mengalami direkomendasikan agar evaluasi CRP dilakukan ketika anda merasa sehat-sehat saja). Jika pada pemeriksaan ulang kadar CRP tetap tinggi, maka anda sangat besar kemungkinannya termasuk kelompok yang berisiko tinggi.

Wanita postmenopausal yang menjalani terapi penggantian hormon oral (HRT) estrogen atau estrogen plus progesteron cenderungan memiliki kadar CRP yang meningkat. Para wanita dalam kelompok ini harus membahas manfaat relatif dan risiko relatif dari HRT karena penelitian-peneitian terbaru belum menunjukkan HRT dapat mengurangi risiko kardiovaskular. Penghentian HRT oral akan mengurangi kadar CRP anda. Estrogen topikal dan modulator reseptor estrogen selektif (SERMS)kelihatannya tidak meningkatkan kadar CRP.

Kadar CRP cukup mirip pada pria dan wanita. CRP rata-rata pada orang Amerika paruh-baya adalah sekitar 1,5 mg/L. Sekitar 25% dari populasi Amerika Serikat memiliki kadar CRP yang lebih besar dari 3 mg/L, batas awal untuk risiko tinggi.


Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Reaksi:

0 komentar: