Kanker servik jadi pembunuh wanita

Tahukah Anda, bahwa dalan setiap jam wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks atau lebih dikenal dengan kanker mulut rahim. Bahkan dalam setiap menit wanita di seluruh dunia meninggal karna kanker yang mematikan ini.

Beda Hormon LH dan FSH

FSH dan LH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior, sebuah kelenjar kecil yang hadir di bagian bawah otak. FSH pada dasarnya menyebabkan pematangan sel telur di dalam folikel dalam tubuh wanita.

Manfaat Bawang Putih

Khasiat atau manfaat bawang putih ternyata tidak hanya untuk menyedapkan atau sebagai bumbu masakan saja, namun ternyata banyak hal lain yg dapat di manfaatkan dari bawang puth tersebut terutamanya untuk dunia kesehatan.

Toko Kayumanis

Selamat datang di Toko Kayumanis version Online Shop Kami menjual T-shirt, kaos oblong dan jaket T-shirt, kaos oblong dan jaket yang kami jual menggunakan bahan yang berkualitas tinggi, kelebihan dari T-shirt, kaos oblong dan jaket di Toko kami dapat anda tentukan sendiri desainnya, pola ataupun grafisnya sesusai keinginan anda sehingga dapat dipastikan tidak ada T-shirt, kaos oblong dan jaket dari Toko kami yang mempunyai motif yang sama.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 07 Juli 2011

Manfaat Buah-Buahan Alami Bagi Tubuh



Buah adalah salah satu jenis makanan yang memiliki kandungan gizi, vitamin dan mineral yang pada umumnya sangat baik untuk dikonsumsi setiap hari. Dibandingkan dengan suplemen obat-obatan kimia yang dijual di toko-toko, buah jauh lebih aman tanpa efek samping yang berbahaya serta dari sisi harga umumnya jauh lebih murah dibanding suplemen yang memiliki fungsi yang sama.
Di bawah ini kita dapat melihat kandungan, khasiat dan manfaat sehat dari beberapa jenis buah yang ada di bumi :
1. BUAH TOMAT (TOMATO)
- tomat mengandung vitamin A, B1 dan C.
- tomat dapat membantu membersihkan hati hati dan darah kita.
- tomat dapat mencegah beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. gusi berdarah.
b. rabun senja / kotok ayam.
c. penggumpalan darah.
d. usus buntu.
e. kanker prostat dan kanker payudara.
2. BUAH PEPAYA (PAPAYA)
- pepaya mengandung vitamin C dan provitamin A.
- pepaya dapat membantu memecah serat makanan dalam sistem pencernaan.
- pepaya dapat mebuat lancar saluran pencernaan makanan.
- pepaya dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menyembuhkan luka.
b. menghilangkan infeksi.
c. menghilangkan alergi
3. BUAH PISANG (BANANA)
- pisang mengandung vitamin A, B1, B2 dan C.
- pisang dapat membantu mengurangi asam lambung.
- pisang bisa membantu menjaga keseimbangan air dalam tubuh.
- pisang dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. gangguan pada lambung.
b. penyakit jantung dan stroke
c. stress
d. menurunkan kadar koleterol dalam darah.
4. BUAH MANGGA (MANGO)
- mangga mengandung vitamin A, E dan C.
- mangga dapat bertindak sebagai disinfektan.
- mangga dapat membersihkan darah.
- mangga dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. bau badan / bb / bau tubuh yang tidak enak.
b. menurunkan panas tubuh saat demam.
5. BUAH STRAWBERRY (STRAWBERRY)
- stoberi mengandung provitamin A, vitamin B1, B dan C.
- stobery mengandung antioksidan untuk melawan zat radikal bebas.
- strawbery memiliki kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. mengobati gangguan kesehatan pada kandung kemih.
b. menjadi anti virus
c. menjadi anti kanker
6. BUAH APEL (APPLE)
- apel mengandung vitamin A, B dan C.
- aple dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
- apel mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menjadi zat anti kanker.
b. mengurangi nafsu makan yang terlalu besar.
7. BUAH JERUK (ORANGE)
- jeruk mengandung vitamin A, B1, B2 dan C.
- jeruk mengandung antikanker bagi tubuh.
- jeruk dapat mencegah dan mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. mengobati sariawan.
b. menurunkan resiko terkena kardiovaskuler, kanker, dan katarak.
8. BUAH PEAR / PIR (PEAR)
- pear mengandung vitamin C dan provitamin A.
- pear mengandung anti oksidan yang baik untuk menjaga kesehatan.
- pear dapat mencegah beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menurunkan demam / panas tubuh.
b. mengencerkan dan menhilangkan dahak pada batuk berdahak.
9. BUAH JAMBU BIJI MERAH / JAMBU MERAH (GUAVA)
- jambu merah mengandung vitamin C yang sangat banyak.
- jambu merah mengandung zat antioxidan dan antikanker.
- jambu merah mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menurunkan kadar kolesterol darah
b. mengobati infeksi.
c. menjaga mengobati sariawan.
d. memperlancar peredaran darah.
e. melancarkan saluran pencernaan.
f. mencegah konstipasi.
10. BUAH SEMANGKA (WATERMELON)
- semangka mengandung vitamin C dan provitamin A.
- semangka dapat menjadi antialergi.
- semangka mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
seperti :
a. menurunkan kadar kolesterol.
b. mencegah dan menahan serangan jantung.
11. BUAH MELON (HONEYDEW)
- melon mengandung vitamin C dan provitamin A.
- melon mengandung zat anti kanker dan anti oksidan.
- melon mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. mencegah darah menggumpal.
b. membersihkan kulit.
c. menlancarkan saluran pencernaan.
d. menurunkan kadar kolestrerol.
12. BUAH WORTEL (CARROT)
- wortel kaya akan vitamin A.
- wortel baik untuk menjaga kesehatan mata.
- wortel mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. meningkatkan kekebalan dan ketahanan tubuh jasmani.
b. menjaga hati tetap sehat.
13. BUAH BELIMBING (STAR FRUIT)
- belimbing mengandung vitamin C dan provitamin A.
- belimbing dapat membantu memperlancar pencernaan makanan.
- belimbing mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menurunkan tekanan darah.
b. menurunkan kadar / tingkat kolesterol dalam tubuh.
14. BUAH NANAS (PINEAPPLE)
- nanas mengandung vitamin B dan C.
- nanas dapat mencegah terkena serangan jantung dan stroke / struk.
- nenas dapat mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menyembuhkan luka.
b. menyembuhkan infeksi pada saluran pencernaan.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 06 Juli 2011

khasiat buah mangga


Di balik rasanya yang enak dan segar, mangga juga kaya berbagai vitamin, mineral, serat, dan karbohidrat. Buah yang sekarang ini sedang musim, mengandung pula aktioksidan yang tugasnya melawan radikal bebas, penyebab berbagai macam penyakit degeneratif, seperti kanker, tekanan darah tinggi, dan jantung koroner.

Tanaman mangga berbunga pada bulan Juli-Agustus, dan buah dipanen pada bulan September-Desember. Buah mangga umumnya dipanen setelah tua, yang ditandai oleh bagian pangkal buah yang membengkak rata dan warnanya mulai menguning. Berikut ini keuntungan buah mangga bagi kesehatán:

1. Sumber Serat
Kandungan serat dalam buah mangga sekitar 1,8 persen, memberikan kontribusi yang cukup terhadap kebutuhan serat manusia. Serat pangan memiliki peran fisiologis terhadap usus. Kurangnya konsumsi serat dapat menyebabkan timbulnya penyakit degeneratif, seperti aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah), jantung koroner, diabetes melitus, hiperkolesterolemia (kelebihan kolesterol), hipertensi, hiperlipidemia (kelebihan lemak), dan kanker usus.

Serat pangan buah mangga terdiri dari serat pangan larut, yaitu pektin dan serat pangan tidak larut, yaitu selulosa. Masing-masing jenis serat pangan ini sangat penting bagi kesehatan manusia.

Fungsi utama serat pangan larut:

* Memperlambat kecepatan pencernaan dalam usus, sehingga aliran energi ke tubuh menjadi berkurang,
* Memberi perasaan kenyang yang lebih lama,
* Memperlambat penyerapan glukosa, sehingga membutuhkan sedikit insulin untuk mengubah glukosa menjadi energi,
* Membantu mengendalikan berat badan dengan memperlambat munculnya rasa lapar,
* Meningkatkan kesehatan saluran pencernaan dengan cara meningkatkan motilitas atau pergerakan usus besa
* Mengurangi risiko penyakit jantung,
* Mengikat asam empedu,
* Mengikat lemak dan kolesterol, kemudian mengeluarkannya melalui feses.

Fungsi utama serat pangan tidak larut air:

* Mempercepat waktu transit (waktu tinggal) makanan dalam usus dan meningkatkan berat fses,
* Memperlancar proses buang air besar dan
* Mengurangi risiko wasir, divertikulosis, dan kanker usus besar.


2. Sumber Antioksidan
Kemampuan antioksidatif dari buah mangga dihasilkan oleh berbagai senyawa yang terdapat di dalamnya, yaitu betakaroten, senyawa fenolik, lupeol, vitamin C, E, serta beberapa mineral seperti Cu, Zn, Mn, dan Se. Senyawa-senyawa tersebut dapat melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, seperti kanker. Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dihasilkan oleh berbagai proses kimia normal tubuh, radiasi matahari atau kosmis, asap rokok, dan pengaruh lingkungan lainnya. Radikal ini apabila tidak dinetralkan oleh senyawa antioksidan, dapat menyerang partikel dan molekul lain dalam tubuh, menyebabkan perubahan mendasar pada materi genetis dan bagian-bagian penting sel lainnya.

Berdasarkan hasil evaluasi aktivitas antioksidan dan beberapa buah tropis, diketahui bahwa mangga memiliki aktivitas penangkapan terhadap radikal hidroksil (OH-) yang sangat kuat, serta dapat melindungi deoksiribosa lebih baik dibandingkan dengan antioksidan sintetik (BHA dan BHT). Penelitian juga menunjukkan bahwa mangga memiliki kemampuan menangkap HOCI lebih kuat daripada pisang (Murcia et al, 2001).

3. Sumber Vitamin C
Kandungan vitamin C mangga cukup layak diperhitungkan. Jika setiap 100 gram mangga masak rata-rata dapat memasok vitamin C sebanyak 41 mg, dengan mengonsumsi mangga ranum 150 gram, kecukupan vitamin C yang dianjurkan untuk laki-laki dan perempuan dewasa per hari (masing-masing 60 mg) dapat terpenuhi. Di samping berfungsi sebagal antioksidan, vitamin C memiliki fungsi menjaga dan memelihara kesehatan pembuluh-pembuluh kapiler, kesehatan gigi dan gusi. Vitamin C membantu penyerapan zat besi dan dapat menghambat produksi nitrosamin, zat pemicu kanker. Vitamin C juga membantu penyembuhan luka.

4. Sumber Kalium
Kalium terdapat dalam jumlah besar pada buah mangga. Tiap 100 gram mangga mengandung kalium 156 mg. Dengan mengonsumsi buah mangga minimal 250 gram, kecukupan kalium sebanyak 400 mg per hari dapat terpenuhi. Kalium mempunyai fungsi meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, dan membantu tekanan darah. Konsumsi kalium yang memadai dapat mengurangi efek natrium dalam meningkatkan tekanan darah dan secara bebas memberikan kontribusi terhadap penurunan risiko terkena stroke.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Minggu, 03 Juli 2011

Pengambilan Tes Pap yang Benar dan Permasalahannya


Pemeriksaan sitologi ginekologi adalah pemeriksaan
sitologi eksfoliatif yang mengamati sel-sel yang dieksfoliasi
dari genitalia seorang wanita. Cara ini bukanlah cara yang baru
melainkan sudah dikenal sejak tahun 1943 saat Papaniculaou
dan Traut menerbitkan buku Diagnosis of Uterine Cancer by
the Vaginal Smear. Kegunaan diagnostik sitologi selain untuk
deteksi keganasan (tes Pap), juga dapat digunakan untuk
evaluasi peradangan, identifikasi jasad renik, evaluasi sitohormonal
dan pengamatan lanjut terapi.
Sejak lebih dari 60 tahun yang lalu tes Pap telah digunakan
sebagai sarana diagnostik kanker serviks. Bahkan di negaranegara
maju yang sudah melakukan program skrining tes Pap,
angka kematian kanker serviks menurun 50-60%.

KETEPATAN DIAGNOSIS
Ketepatan sitologi ginekologi tes Pap cukup baik untuk
mendiagnosis kelainan pada traktus genitalis. Laboratorium
sitologi yang berpengalaman mendapat korelasi lebih dari 90%
dengan hasil histopatologi dari biopsi, terutama bila kelainan
tersebut adalah displasia berat atau karsinoma in situ,; namun
demikian tes Pap juga mempunyai angka kesalahan yang
disebut negatif palsu yaitu dilaporkan negatif tetapi sebenarnya
positif. Hasil negatif palsu ini berkisar: 5-50%, yang meliputi
62% akibat kesalahan pengambilan sampel, 15% akibat
kesalahan skrining dan 23% karena kesalahan interpretasi.
Kesalahan diagnostik tersebut, disebabkan oleh karena:

1. Pengambilan sediaan
Adekuasi sediaan
Pengambilan yang tidak adekuat dapat menyebabkan hasil
negatif palsu; ini sering disebabkan karena tidak terambilnya
sel-sel dari daerah peralihan.
Hal ini dapat terjadi karena alat pengusap tidak mencapai
daerah peralihan atau cara mengusap serviks yang tidak baik,
dan kurang memperhatikan topografi daerah peralihan atau
secara biologis sel-sel belum tampak. Sering pula terjadi pada
keadaan menopause di mana sambungan skuamo-kolumner
berada jauh di dalam kanalis servikalis atau lesinya kecil
sehingga tidak ikut terambil pada pengusapan. Adekuasi sediaan
yang memuaskan tetapi terganggu atau adekuasi yang tidak
memuaskan dapat terjadi pada sediaan apus yang terlalu tipis
dan hanya mengandung sangat sedikit sel, demikian pula pada
sediaan apus yang terlampau tebal dan tidak dioleskan merata,
sel bertumpuk-tumpuk sehingga menyulitkan pemeriksaan.
Teknik pengambilan sediaan berperan penting dalam kemungkinan
terjadinya kesalahan pada Pap smear, oleh karena itu
harus diperhatikan hal-hal tersebut di bawah ini:
Pengambil sediaan harus kompeten
Keahlian yang baik dan menggunakan teknik/kriteria
pengambilan Tes Pap yang benar
Pelatihan rutin
Audit untuk adekuasi sampel
Adekuasi memuaskan adalah dijumpainya komponen
daerah peralihan yaitu sel-sel endoserviks atau sel-sel metaplasia
dan sel-sel skuamosa secara mikroskopik.
Adekuasi memuaskan tetapi terganggu atau adekuasi tidak
memuaskan antara lain disebabkan oleh adanya radang padat
atau darah ataupun tidak ditemukannya sel-sel endoserviks,
fiksasi yang tidak baik, ditemukan hanya sedikit sel.
Untuk menghindari tidak terambilnya sel-sel endoserviks
dianjurkan untuk menggunakan gabungan Cytobrush dan Spatula
Ayre. Pada prinsipnya adalah alat yang dapat mencapai
daerah peralihan (zona transformasi), asal dari perubahan
neoplastik tersebut terjadi. Penggunaan Cytobrush dapat menampilkan
95,3% sel endoserviks.
Alat yang digunakan untuk pengambilan sampel
bervariasi. Variasi alat-alat di bawah ini dalam memindahkan
sel epitel pada kaca benda:
6,5% dengan kapas lidi/spatula
8,4% dengan cervix brush
18,1% gabungan cytobrush dengan spatula

Fiksasi
Fiksasi secepatnya penting karena dapat terjadi artefak
akibat pengeringan udara. Fiksasi bertujuan agar sel-sel tidak
mengalami kerusakan.
Kesalahan yang sering terjadi:
Sediaan apus telah kering sebelum difiksasi (terlalu lama
di luar, tidak segera direndam di dalam cairan fiksatif)
Cara fiksatif tidak mempergunakan alkohol 96%
Penggunaan hairspray yang disemprotkan pada jarak terlalu
dekat sehingga sebagian sel-sel akan tersapu dan sel tidak
terfiksasi dengan baik.
Masalah yang banyak dihadapi saat ini adalah besarnya
hasil negatif palsu akibat pengambilan sediaan yang tidak
layak, namun demikian dengan cara pelaporan sistem Bethesda
dimana adekuasi sediaan diperhatikan pula, hal ini akan
menurunkan hasil negatif palsu; untuk adekuasi yang tidak
memuaskan, direkomendasikan untuk diulang, terutama pada
usia tua/menopause, wanita-wanita dengan risiko tinggi. Akan
tetapi untuk wanita yang sudah pernah melakukan tes Pap dan
hasilnya negatif selama 2 kali berturut-turut setiap tahunnya,
dapat diulang satu tahun lagi. Hasil tes Pap tiga tahun sekali
atau satu tahun sekali pada wanita yang hasil Tes Papnya
negatif 2 kali berturut-turut ternyata tidak berbeda bermakna.

2. Laboratorium
Kesalahan di laboratorium seperti kesalahan dalam
pewarnaan sediaan dan kesalahan skrining serta kesalahan
inter-pretasi juga dapat mengakibatkan hasil positif palsu yang
tinggi. Suatu laboratorium sitologi yang baik tidak akan
memberikan hasil negatif palsu lebih dari 10%, untuk
laboratorium sitologi dalam kaitannya dengan kesalahankesalahan
tersebut, maka sebaiknya selalu memperhatikan
pengawasan kualitas antara lain dengan:
Melakukan pemeriksaan ulang (review) dari 10% hasil
sitologi normal, baik diulang secara manual atau dengan
bantuan komputer (Pap Net).
Pendidikan untuk meningkatkan kualitas.
Pemeriksaan sitologi sekaligus dengan pemeriksaan
kolposkopi juga merupakan suatu pengawasan kualitas.
Kesalahan lain yang juga dapat terjadi adalah karena
kesalahan pasien yang sebelum pemeriksaan sudah mencuci
vagina, mengalami keputihan yang hebat atau saat itu sedang
mengalami perdarahan/haid atau menggunakan preparat
vagina.
Alat-alat yang diperlukan untuk pengambilan tes Pap:
1) Formulir konsultasi sitologi
2) Spatula Ayre yang dimodifikasi dan Cytobrush
3) Kaca benda yang di satu sisinya telah diberi tanda/ label
4) Spekulum cocor bebek (Grave’s) kering
5) Tabung berisi larutan fiksasi alkohol 96%

Cara pengambilan sediaan
1). Isi formulir dengan lengkap dan sesuaikan dengan nomor
urut pengambilan.
2). Pasang spekulum cocor bebek untuk menampilkan serviks.
3). Cytobrush dimasukkan ke dalam kanalis servikalis dan
diputar 180º searah jarum jam.
4). Spatula dengan ujung pendek diusapkan 360º pada permukaan
serviks.
5). Cytobrush diusapkan pada kaca benda berlawanan arah
jarum jam dan spatula juga digeserkan pada kaca benda yang
sama dan telah diberi label (dengan pensil gelas) di sisi kirinya.
Penggeseran meliputi seluruh panjang gelas sediaan dan
hendaknya digeserkan sekali saja.
6). Kaca benda segera dimasukkan dalam larutan fiksasi
alkohol 96%. Sediaan difiksasi minimal selama 30 menit.
7). Sediaan kemudian dikeringkan dengan menggunakan pengering
udara. Bila fasilitas pewarnaan jauh dari tempat
praktek, sediaan dapat dimasukkan dalam amplop/pembungkus
yang dapat menjamin kaca sediaan tidak pecah.
8). Pewarnaan sediaan dikerjakan di laboratorium sitologi.
Pewarnaan sediaan sitologi yang dipakai adalah pewarnaan
Papanicolaou yang terdiri dari pewarnaan inti dengan Hematoxylin
dan sitoplasma dengan orange G dan EA. Prinsip
pewarnaan Papanicolaou adalah melakukan pewarnaan, hidrasi
dan dehidrasi sel.
Pengambilan sediaan yang baik, fiksasi dan pewarnaan
sediaan yang baik serta pengamatan mikroskopik yang cermat,
merupakan langkah yang memadai dalam menegakkan
diagnosis.
Untuk mengatasi jebakan-jebakan dalam pemeriksaan Pap
smear, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Fiksasi segera, bila diperlukan dapat menggunakan dua
kaca benda
Bersihkan mukus sebelum pengambilan Pap smear
Hindari membersihkan dengan NaCl 0,9% karena akan
membuat sediaan hiposeluler
Gunakan spatula terlebih dahulu sebelum cytobrush untuk
menghindari darah
Pap smear rutin tidak diambil saat haid
Rotasi spatula tidak melebihi 360º untuk menghindari
trauma pada sel normal sehingga menyerupai sel atipik
Pulaskan material dari spatula dengan gerakan yang halus,
tekanan kontinyu untuk menghindari penumpukan material
Ketika menggunakan brush, masukkan ke dalam ostium
dengan tekanan yang lunak (gentle) dan putar sampai 90-180º.
Putarkan brush sepanjang kaca benda dengan memutar
pegangan.
Isi informasi klinis pasien dengan lengkap, yaitu antara lain:
umur, haid terakhir, status kehamilan, riwayat hasil Pap smear
sebelumnya
Sebaiknya biopsi dari Pap Smear abnormal diperiksa secara
simultan oleh ahli patologi yang sama. Korelasi sitopatologi
adalah kunci dari patologi serviks, terutama pada kasus-kasus
sangat sulit. Cara yang paling mudah adalah mengirim biopsi
ke laboratorium yang sama dengan laboratorium yang memeriksa
Pap smear, atau bila terpaksa mengirim ke dua laboratorium
yang berbeda, maka sertakan hasil Pap smearnya.
Sebagai pengambil Pap smear, sebaiknya selalu mengacu
pada korelasi dengan hasil biopsi.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 02 Juli 2011

Penggunaan Laser dalam Akupunktur

Kata Laser berasal dari kata Light Amplification by Stimulated
Radiation (Penguatan sinar oleh radiasi yang distimulasi).
Sinar Laser ditemukan pada tahun 1960 oleh Theodore Maiman;
satu tahun kemudian Leon Goldman mulai memakainya untuk
pengobatan. Pada saat ini penggunaan Laser telah meluas dalam
berbagai bidang kedokteran.
Pada mulanya yang digunakan adalah sinar Laser berenergi
tinggi sebagai alai pembedahan, misalnya untuk koagulasi, pemotongan
dan penguapan jaringan. Khasiat Laser energi rendah
dilaporkan pertama kalinya oleh Prof. Endre Mester pada tahun
1967 dalam penelitiannya tentang efek karsinogenik Laser terhadap
jaringan tikus percobaan yang sudah dicabuti bulunya.
Dan ternyata setelah penyinaran ditemukan pertumbuhan bulu
pada tikus percobaan lebih cepat dibanding kelompok tikus yang
tidak disinari Laser. Laser energi rendah telah dipergunakan dalam
berbagai bidang kedokteran seperti : ortopedi, akupunktur,
neurologi, rematologi, rehabilitasi medik, dermatologi dan lainlain.

SIFAT-SIFAT SINAR LASER
Laser merupakan realisasi efek yang telah diantisipasi oleh
Einstein. Partikel atom atau molekul yang dapat bergerak bergelombang
dapat distimulasi oleh suatu sumber energi. Keadaan
demikian dalam beberapa kasus dapat berlangsung lebih lama
daripada normal (10–8 detik). Apabila suatu gelombang sinar
dengan panjang gelombang tertentu bertemu dengan atom atau
molekul dalam keadaan terstimulasi sistem itu akan kembali
kepada keadaan asal, dan radiasi tersebut akan memperkuat
gelombang sinar. Maka dengan memasukkan suatu medium
Laser (padat, cair, atau gas) kepada energi dari sumber yang
Disampaikan pada Simposium Akupunktur di Bandung, tanggal 28 September
1991
sesuai sejumlah yang mencukupi dari sistem molekul akan terstimulasi.
Radiasi yang dihasilkan akan direfleksikan bolakbalik
antara dua cermin resonator sepanjang garis sumbu yang
tetap sampai memperkuat energinya sendiri dengan memadai,
dan kemudian menembus melalui cermin resonator yang hanya
merefleksikan sebagian saja.
Sinar yang dihasilkan oleh proses di atas mempunyai tiga
sifat khas yaitu :
1. Monokromatis
Hanya satu panjang gelombang tertentu yang diperkuat
atau diamplifikasi.
2. Koheren
Karena adanya efek amplifikasi maka terdapat hubungan
fase yang tetap di antara berbagai bagian dari sinar Laser, dan
karena itu sangat tahan terhadap gangguan (interferensi); dengan
kata lain semua gelombang dalam sinar Laser berosilasi secara
seragam.
3. Penyebaran yang minimal
Karena sinar yang diperkuat hanyalah sinar yang berada di
dekat sumbu cermin resonator, sinar yang dipancarkan sebagian
besarparalel. Dan dengan demikian dapatdimungkinkan dengan
bantuan lensa atau cermin untuk memfokuskannya pada titik
fokus yang sangat kecil (diameter dari 3–10 panjang gelombang).

EFEK SINAR LASER PADA JARINGAN
1. Efek fisiomaterialis
a. Absorpsi
Sinar Laser diabsorpsi dalam berbagai derajat oleh berbagai
jenis jaringan yang hidup, sesuai dengan komposisi jaringan,
jumlah air yang dikandungnya dan sebagainya. Efek absorpsi
banyak terganwng pada panjang gelombang yang digunakan.
Efek berikut akan terjadi berturut-turut tergantung pada output
generator Laser, panjang iradiasi dan sifat jaringan yang diradiasi
:
– pemanasan lokal jaringan : percepatan dari proses fisiologis
dan peningkatan kecepatan pembelahan sel dan lain-lain.
– dehidrasi dan konstriksi jaringan; proses ini umumnya reversibel.
– destruksi ireversibel dari protein (koagulasi).
– termolisis (karbonisasi).
– penguapan jaringan.
b. Penyebaran
Karen jaringan mempunyai sifat optik yang berbeda, maka
sinar Laser tidak bergerak sebagai garis lurus seperti di udara,
tetapi timbul proses penyebaran sehingga arah sinar sering berubah.
Penyebaran ini mempunyai akibat bahwa meskipun hanya
daerah terbatas yang diradiasi, namun jaringan sekitarnya akan
selalu terpengaruh dalam batas tertentu.

2. Efek fisiobiologik
Ditemukan bahwa sinar Laser energi rendah (seperti He Ne)
dapat digunakan untuk mempercepat penyembuhan ulkus yang
resisten secara bermakna. Hal ini mungkin dapat diterangkan
dengan teori yang dikembangkan oleh A. Popp; dinyatakannya
bahwa sinar dan suara bertanggungjawab untuk distribusi dan
sebagian besar informasi yang dibutuhkan oleh sistem sel sibernetik,
internal dan ekstemal dalam organisme bersangkutan.
Pertukaran informasi demikian hanya dapat terjadi secara optik
dalam range merah atau infra merah, di mana substansi sel
mempunyai transparansi terbesar.
Oleh koherensi dan kemudahan kontrol, kemurnian dan
selektifitasnya, sinar Laser dapat membantu merestorasi struktur
gelombang dan sel yang terganggu kembali ke keadaan normal
yang sehat.

TERAPI AKUPUNKTUR DENGAN LASER
Telah dilakukan berbagai percobaan untuk menggunakan
Laser dalam pengobatan akupunktur seperti He Ne Laser (selain
itu terdapat pula Laser jenis lain seperti Nd Yg Laser, Argon
Laser, dan lain-lain). Ditemukan bahwa penyinaran 1 mW He Ne
Laser dapat menormalisasi tahanan kulit dalam beberapa detik.
Laser He Ne menghasilkan sinar merah dengan panjang gelombang
632,8 nM. Penyelidikan di Ludwig Boltzman Institute
menunjukkan perubahan biokimiawi dalam urine sesudah penyinaran
Laser pada titik III,36 (Cu San Li) yang sesuai dengan
penusukan jarum. Disimpulkan bahwa perangsangan Laser
adalah melalui energi elektromagnetik. He Ne Laser menembus
jaringan 0,8 mm secara langsung dan 8–10 mm secara tidak
langsung.
Berdasarkan penelidan ditemukan bahwa Laser dapat digunakan
untuk perangsangan titik akupunktur khususnya pada
anak-anak, pada pasien yang sangat sensitif terhadap jarum atau
pasien yang terinfeksi, atau untuk perangsangan titik yang sangat
nyeri apabila dilakukan penusukan jarum seperti titik VIII,1
(Yung Cuen). Efek samping yang dapat terjadi pada penyinaran
Laser adalah rasa pusing, nyeri kepala atau mual. Apabila hal
ini berlangsung lebih dari 5 – 10 menit, pengobatan dengan
Laser harus dihentikan. Hal lain yang harus diperhatikan adalah
bahwa mata sangat rawan terhadap penyinaran Laser karena
sistem lensa dapat memfokuskan sinar Laser sehingga dapat
menRakibatkan kerusakan pada retina. Oleh karena iw perlu
kehati-hatian yang tinggi untuk menghindarkan efek samping
tersebut baik bagi pasien maupun bagi pengobat.
Lama penyinaran Laser pada suatu titik akupunktur tergantung
pada beberapa hal seperti output, lokasi titik dan sebagainya.
Pada prinsipnya diperlukan energi Laser yang cukup
untuk dapat memberikan rangsangan dalam organisme, di lain
flak tidak menyebabkan destruksi lokal dari jaringan. Pala
umumnya lama penyinaran berkisar antara 15 detik sampai
beberapa menit. Pada anak-anak lama penyinaran lebih singkat
daripada dewasa. Dan suatu penelitian didapatkan bahwa dosis
efektif terendah yang pernah dicatat adalah 1 menit dengan
output 1 mW. Dinyatakan pula bahwa untuk akupunktur telinga
dibutuhkan waktu 1 menit dengan output 3 mW agar tercapai
dosis penyinaran yang cukup, sedangkan untuk akupunktur
tubuh selama 1–5 menit. Peningkatan dosis penyinaran tidak
selalu diikuti dengan peningkatan efektifitas.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Jumat, 01 Juli 2011

Produksi Antibodi Klon Tunggal dan Aplikasinya dalam Bidang Kedokteran Nuklir

Kemajuan dalam bidang bioteknologi yaitu ditemukannya
teknologi hibridoma untuk memproduksi antibodi klon tunggal,
merupakan salah satu terobosan yang sangat berharga dalam
biomedik. Dengan ditemukannya antibodi klon tunggal berarti
bahwa gagasan penggunaan antibodi dalam pencarian sasaran
tumor sekaligus sebagai penyembuh tumor, segera menjadi kenyataan.
Memang akhir-akhir ini antibodi klon tunggal sangat
populer terutama dalam dunia kedokteran.
Dalam kedokteran nuklir, telah diaplikasikan beberapa jenis
antibodi klon tunggal yang dikaitkan dengan penggunaan teknik
radioimmunoassay (RIA) dan immunoradiometric assay (IRMA)
serta untuk diagnosis in vivo melalui teknik imaging. Oleh
karena antibodi klon tunggal ini bekerjanya sangat spesifik
(unik), maka sangat menguntungkan baik dalam diagnosis maupun
terapi. Dalam RIA dan IRMA, penggunaan antibodi klon
tunggal dapat mengatasi masalah reaksi silang (cross reaction).
Penelitian dan pengembangan masih terus berlangsung untuk
memecahkan berbagai masalah. Usaha dan uji coba yang sedang
banyak dilaksanakan antara lain adalah pencarian pembuatan
antibodi klon tunggal yang benar-benar murni dalam skala produksi,
pemilihan radionuklida dan teknik penandaan yang cocok,
pemilihan antigen yang sesuai, serta pemilihan metode pemasukan
ke dalam tubuh pasien yang cfektif.

PRODUKSI ANTIBODI KLON TUNGGAL
Dalam tubuh hewan tingkat unggi terdapat limfosit B yang
menghasilkan protein spesifik yang beredar dalam plasma yang
disebut antibodi atau immunoglobulin (Ig). Bila zat asing yang
bermolekul besar dengan bobot molekul 1000 – 10000 seperti
protein dan polisakarida masuk ke dalam tubuh, maka akan
dihasilkan antibodi terhadap antigen tersebut. Antigen dapat pula
berupa molekul kecil yang disebut hapten misalnya suatu toksin
yang bersenyawa dengan senyawa bermolekul besar seperti
serum albumin. Ig mempunyai daerah pengikatan atau binding
site yang spesifik terhadap suatu determinan pada antigen.
Setiap limfosit B menghasilkan Ig tunggal yang spesifik hanya
untuk satu determinan pada antigen.
Cara konvensional untuk memperoleh antibodi adalah
dengan menyuntikkan vaksin pada hewan percobaan. Setelah
beberapa waktu dan hewan tersebut cukup banyak mengandung
antibodi, darah hewan diambil lalu antibodinya diisolasi. Antibodi
yang dihasilkan dengan tara konvensional ini tidak murni,
karena ternyata antigen yang paling murni sekalipun masih
mengandung lebih dari satu determinan. Oleh sebab itu, walaupun
imunisasi dilakukan dengan menggunakan antigen yang
murni, tetap akan dihasilkan antibodi yang poliklonal yang
terdiri dari campuran berbagai macam antibodi yang mempunyai
binding site berbeda-beda. Seandainya limfosit B dapat diambil
dan dapat diklonisasi dalam kultur jaringan, maka dapat dihasilkan
molekul antibodi yang mempunyai satu spesifisitas (monospesifik)
yang popular disebut antibodi klon tunggal. Sayangnya
sel yang dapat memproduksi antibodi ini tidak dapat tumbuh
atau hidup dalam kultur jaringan. Kemungkinan untuk memproduksi
antibodi klon tunggal baru terbuka setelah ditemukannya
teori hibridoma.
Lahirnya teknologi hibridoma dimulai dan pengamatan
Georges Köhler dan Cesar Milstein dari Cambridge, Inggris
pada tahun 1975. Sel mieloma tikus yang merupakan sel kanker,
dapat memproduksi Ig nonspesifik tapi identik dalam jumlah
banyak dalam kultur jaringan. Berdasarkan pengamatan tersebut,
lalu dicoba dilakukan penggabungan (fusi) sel mieloma
dengan limfosit B hewan yang telah dipaksa membuat antibodi
khusus karena hewannya telah diimunkan dengan penyuntikan
antigen. Hasil penggabungan ini ternyata dapat hidup dalam
kultur jaringan. Dalam media polietilen glikol (PEG), dapat
menghasilkan klon yang mempunyai sifat sel limfosit sebagai
penghasil antibodi yang monospesifik dan sifat hidup tak terbatas
dari sel mieloma. Selanjutnya sel-sel hibridoma diselidiki;
sel yang membentuk antibodi tertentu tadi diteruskan pembiakannya,
maka dapat dihasilkan antibodi klon tunggal secara
terus menerus. Penemuan teknologi hibridoma ini dinilai sebagai
suatu terobosan paling penting dalam perkembangan
biomedik pada dasawarsa tahun 1970-an. Berkat jasa dan
penemuannya tersebut, Georges Kbhler dan Cesar Milstein
memperoleh hadiah Nobel untuk bidang kedokteran pada tahun
1984.
Umumnya pada pembuatan sel hibridoma digunakan sejenis
tikus yang disebut murine, menghasilkan antibodi klon tunggal
dari hibridoma manusia-murin yang disebut human anti murine
antibodies, (HAMA) untuk tujuan klinis. Pada saat ini telah
dikembangkan pembuatan antibodi klon tunggal dari hibridoma
manusia-manusia, karena antibodi dari murine merupakan benda
asing bagi tubuh manusia, sehingga akan menimbulkan reaksi
alergi bagi tubuh.manusia.
Sel hibridoma terutama menghasilkan IgG, yang mempunyai
bobot molekul sekitar 15.000. Molekul IgG terdiri dari
2 rantai asam amino panjang yang disebut rantai H (heavy) dan
2 rantai asam amino pendek disebut rantai L (light). Kekompakan
molekul terjadi karena adanya jembatan disulfida yang
mengikat kedua rantai tersebut. IgG terdiri dari 2 fragmen yaitu
fragmen F~ dan Fab. Fragmen Fe ini merupakan bagian dari IgG
yang tetap dan sama untuk semua molekul IgG dari subelass
tertentu, dan bagian ini yang mengaktifkan komponen-komponen
sistem imun. Ragmen Fab mempunyai 2 tempat pengikatan
antigen atau antigenic binding site, disebut daerah
variabel, yang unik untuk setiap antibodi klon tunggal. Bagian
ini merupakan bagian yang menentukan kespesifikan suatu
antibodi.
Sel hibridoma mengandung kromosom dari sel mieloma
dan sel limfosit, setiap kromosom menghasilkan molekul antibodi
hibridoma dengan rantai H dan L dari sel induk yang
berbeda. Dalam seleksi pembuatan antibodi klon tunggal, harus
dicari klon hibridoma yang kromosomnya hanya mengandung
rantai H dan L dari limfosit yang diimunisasi. Oleh sebab itu,
pada pembuatan antibodi klon tunggal ini, sebaiknya sel mieloma
diambil dari spesies yang sama dengan spesies asal limfosit B.
Fragmen F~ dari molekul antibodi diduga merupakan penyebab
terjadinya reaksi alergi, fragmen ini harus dihilangkan yaitu
dengan cara hidrolisis dengan enzim pepsin, untuk memperoleh
fragmen F(ab)2. Bila digunakan enzim papain akan diperoleh 2
fragmen Fab yang monovalen yang mempunyai aviditas yang
lebih rendah dari F(ab)2 yang divalen. Untuk mengatasi timbulnya
reaksi alergi pada pembuatan antibodi klon tunggal yang
berasal dari sel hibridoma hewan, dapat digunakan enzim pepsin
untuk memperoleh fragmen F(ab)2 tanpa adanya fragmen Fc.

APLIKASI DALAM KEDOKTERAN NUKLIR
Penggunaan antibodi klon tunggal dalam bidang kedokteran
khususnya 'kedokteran nuklir, tidak hanya terbatas untuk keperluan
terapi akan tetapi juga untuk diagnosis baik in vitro
maupun in vivo. Vaksin bioteknologi pertama yang diaplikasikan
secara luas, adalah vaksin untuk mencegah penyakit hepatitis B
yang dikenal dengan nama rekombivax. Kemudian muncul antibodi
klon tunggal yang diberi nama orthoclone OKT3 untuk
mencegah reaksi penolakan pasca pencangkokan ginjal. Akhirakhir
ini telah banyak dihasilkan antibodi klon tunggal terutama
untuk diagnosis dan terapi penyakit kanker.
Dalam penggunaannya di bidang kedokteran nuklir, terutama
untuk diagnosis dan terapi, antibodi klon tunggal harus
ditandai dengan isotop radioaktif. Prinsip penggunaan teknik ini
cukup sederhana. Antibodi klon tunggal terhadap tumor ganas
tertentu yang bertanda radioaktif pemancar sinar gamma (misalnya
123I), bila disuntikkan ke dalam tubuh pasien yang diduga
menderita tumor tersebut, akan terbawa oleh aliran darah dan
akhirnya terakumulasi pada jaringan tumor. Dalam hal ini, anti-
bodi anti tumor berikatan secara spesifik dengan jaringan tumor
yang berfungsi sebagai antigen. Oleh karena antibodi yang digunakan
monospesifik, maka antibodi yang disuntikkan hanya
akan terakumulasi pada jaringan tumor, tidak terjadi penyebaran
keradioaktifan pada jaringan lain. Dengan menggunakan suatu
alat (kamera gamma) yang diletakkan di luar tubuh, lokasi tumor
dengan metastasisnya dapat diamati secara jelas, tanpa harus
melakukan biopsi atau cara lain. Jika yang dikaitkan dengan
antibodi klon tunggal tadi suatu pemancar sinar alfa yang jarak
tempuhnya pendek dan dipilih yang mempunyai linear energy
transfer (LET) yang tinggi, maka pengumpulan antibodi selain
memberi kesempatan penyembuhan secara imunoterapi, juga
dibantu oleh penyembuhan lewat penyinaran (radioterapi). Secara
garis besar penggunaan antibodi klon tunggal untuk diagnosis
dan terapi dalam kedokteran nuklir, dapat digambarkan sebagai
berikut :
Jenis antibodi klon tunggal yang telah banyak beredar untuk
diagnosis dan terapi penyakit kanker antara lain adalah CEA, CA
19-9, CA 15-3 dan CA 125 untuk diagnosis kanker leher rahim.
Penggunaan antibodi klon tunggal untuk diagnosis dan terapi
penyakit kanker telah menarik banyak ahli dari Persatuan Ahli
Kanker Internasional. Para ahli berpendapat bahwa penemuan
monoklonal antibodi membuka harapan untuk diagnosis dan
penyembuhan penyakit kanker secara sempurna. Penelitian ke
arah diperolehnya penemuan-penemuan baru untuk memerangi
penyakit kanker, giat dikerjakan di berbagai pusat penelitian di
seluruh dunia. Para ahli meramalkan bahwa dalam beberapa
tahun mendatang akan ada gelombang baru dalam biomedik,
yaitu terapi kanker dengan menggunakan antibodi klon tunggal.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Kamis, 30 Juni 2011

Skrining Kanker Serviks dengan Metode Skrining Alternatif: IVA



Jumlah penderita kanker serviks, menduduki peringkat
teratas di antara penyakit kanker pada pria dan wanita di
Indonesia. Keadaan ini berbeda dengan di negara maju, umumnya
kanker serviks sudah menurun jumlahnya berkat program skrining kanker serviks.
Di Indonesia masalah banyaknya kasus kanker serviks,
diperburuk lagi dengan banyaknya (>70%) kasus yang sudah
berada pada stadium lanjut ketika datang ke Rumah Sakit(1,2).
Beberapa negara maju telah berhasil menekan jumlah kasus
kanker serviks, baik jumlah maupun stadiumnya. Pencapaian
tersebut terutama berkat adanya program skrining massal
antara lain dengan Tes Pap. Namun di Indonesia kebijakan
penerapan program skrining kanker serviks kiranya masih
tersangkut dengan banyak kendala, antara lain luasnya wilayah
negara yang terdiri dari beribu pulau dan juga kurangnya
sumber daya manusia sebagai pelaku skrining, khususnya
kurangnya tenaga ahli patologi anatomik/sistologi dan stafnya,
teknisi sitologi/skriner.
Bila andalan skrining kanker serviks adalah metode Tes
Pap, dengan mengkaji masalah yang ada di Indonesia, kiranya
belum dapat diperkirakan perlu berapa dekade lagi untuk dapat
mewujudkan program skrining massal kanker serviks dengan Tes Pap di Indonesia.
Masalah kanker serviks di Indonesia sangat khas yaitu
banyak, dan ditemukan pada stadium lanjut. Kondisi ini terjadi
juga di beberapa negara berkembang, atau di negara miskin.
Agar tercapai hasil pengobatan kanker serviks yang lebih baik,
salah satu faktor utama adalah penemuan stadium lebih awal.
Pengobatan kanker serviks pada stadium lebih dini, hasilnya
lebih baik, mortalitas akan menurun.
Menengarai masalah yang ada, timbul gagasan untuk
melakukan skrining kanker serviks dengan metode yang lebih
sederhana, antara lain yaitu dengan IVA (Inspeksi Visual
dengan Asam Asetat). IVA adalah pemeriksaan skrining kanker
serviks dengan cara inspeksi visual pada serviks dengan aplikasi
asam asetat (IVA). Dengan metode inspeksi visual yang
lebih mudah, lebih sederhana, lebih mampu laksana, maka
skrining dapat dilakukan dengan cakupan lebih luas, diharapkan
temuan kanker serviks dini akan bisa lebih banyak.
Kemampuan tersebut telah dibuktikan oleh berbagai penelitian.

AKURASI TES PAP
Telah diakui bahwa pemeriksaan Tes Pap mampu menurunkan
kematian akibat kanker serviks di beberapa negara,
walaupun tentu ada kekurangan. Sensitivitas Tes Pap untuk
mendeteksi NIS berkisar 50-98%(5,6) sedang negatif palsu
antara 8-30% untuk lesi skuamosa(7,8) 40% untuk adenomatosa. Adapun Spesifisitas Tes Pap adalah 93%, nilai prediksi positif adalah 80,2% dan nilai prediksi negatif adalah
91,3%. Harus hati-hati justru pada lesi serviks invasif, karena
negatif palsu dapat mencapai 50%, akibat tertutup darah,
adanya radang dan jaringan nekrotik(7,9). Fakta ini menunjukkan
bahwa pada lesi invasif kemampuan pemeriksa melihat
serviks secara makroskopik sangat diperlukan.

MENGAPA PERLU METODE SKRINING ALTERNATIF
DI INDONESIA
Pemikiran perlunya metode skrining alternatif dilandasi
oleh fakta, bahwa temuan sensitivitas dan spesifisitas Tes Pap
bervariasi dari 50-98%. Selain itu juga kenyataannyaa skrining
massal dengan Tes Pap belum mampu dilaksanakan antara lain
karena keterbatasan ahli patologi/sitologi dan teknisi sitologi.
Data dari sekretariat IAPI (Ikatan Ahli Patologi Indonesia)
menunjukkan bahwa jumlah ahli patologi 178 orang pada tahun
1999 yang tersebar baru di 13 provinsi di Indonesia(10) dan
jumlah skriner yang masih kurang dari 100 orang(11) pada tahun
1999.
Sementara itu Indonesia mempunyai sejumlah bidan;
jumlah bidan di desa 55.000 dan bidan praktek swasta (BPS)
kurang sebanyak 16.000(1997)(12). Bidan adalah tenaga
kesehatan yang dekat dengan masalah kesehatan wanita, yang
potensinya perlu dioptimalkan, khususnya untuk program
skrining kanker serviks. Juga adanya fakta bahwa di antara
petugas kesehatan termasuk bidan, kemampuan dan kewaspadaan
terhadap kanker serviks masih perlu diberdayakan.

Kolposkopi
Pemeriksaan melihat porsio (juga vagina dan vulva)
dengan pembesaran 10-15x.; untuk menampilkan porsio, dipulas
terlebih dahulu dengan asam asetat 3-5%. Pada porsio
dengan kelainan (infeksi HPV atau NIS) terlihat bercak putih
atau perubahan corakan pembuluh darah.
Kolposkopi dapat berperan sebagai alat skrining awal,
namun ketersediaan alat ini terbatas karena mahal.Oleh karena
itu alat ini lebih sering digunakan dalam prosedur pemeriksaan
lanjut dari hasil Tes Pap abnormal.

Servikografi
Pemeriksaan kelainan di porsio dengan membuat foto
pembesaran porsio setelah dipulas dengan asam asetat 3-5%
yang dapat dilakukan oleh bidan. Hasil foto serviks dikirim ke
ahli ginekologi (yang bersertifikat untuk menilai).

Pap Net (dengan komputerisasi)
Pada dasarnya pemeriksaan Pap Net berdasarkan pemeriksaan
slide Tes Pap. Bedanya untuk mengidentifikasi sel abnormal
dilakukan secara komputerisasi. Slide hasil Tes Pap
yang mengandung sel abnormal dievaluasi ulang oleh ahli
patologi/sitologi.
Pusat komputerisasi Pap Net yaitu New York, Amsterdam
dan Hongkong. Saat ini di jaringan Pap Net yang ada di
Indonesia slidenya dikirim ke Hongkong.

Tes DNA - HPV
Telah dibuktikan bahwa lebih 90% kondiloma serviks, NIS
dan kanker serviks mengandung DNA-HPV. Hubungannya
dinilai kuat dan tiap tipe HPV mempunyai hubungan patologi
yang berbeda. Tipe 6 dan 11 termasuk tipe HPV risiko rendah
jarang ditemukan pada karsinoma invasif kecuali karsinoma
verukosa. Sementara itu tipe 16, 18, 31 dan 45 tergolong tipe
HPV risiko tinggi. HPV typing dilakukan dengan hibridasi
DNA(14).

Kajian kualitas berbagai metode skrining alternatif
Tiap-tiap metode skrining dapat dikaji dari segi efektifitas,
kepraktisan metode, mampu laksana dan kemudahan tersedianya
sarana.

IVA SEBAGAI METODE SKRINING ALTERNATIF
YANG SESUAI UNTUK INDONESIA
Mengkaji masalah penanggulangan kanker serviks yang
ada di Indonesia dan adanya pilihan metode yang mudah diujikan
di berbagai negara, agaknya metode IVA (inspeksi visual
dengan aplikasi asam asetat) layak dipilih sebagai metode
skrining alternatif untuk kanker serviks. Pertimbangan tersebut
didasarkan oleh pemikiran, bahwa metode skrining IVA itu.
Mudah, praktis dan sangat mampu laksana.
Dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bukan dokter
ginekologi, dapat dilakukan oleh bidan di setiap tempat pemeriksaan
kesehatan ibu.
Alat-alat yang dibutuhkan sangat sederhana.
Metode skrining IVA sesuai untuk pusat pelayanan sederhana.

Pelaksanaan skrining IVA
Untuk melaksanakan skrining dengan metode IVA,
dibutuhkan tempat dan alat sebagai berikut:
Ruangan tertutup, karena pasien diperiksa dengan posisi
litotomi.
Meja/tempat tidur periksa yang memungkinkan pasien
berada pada posisi litotomi.
Terdapat sumber cahaya untuk melihat serviks
Spekulum vagina
Asam asetat (3-5%)
Swab-lidi berkapas
Sarung tangan

Teknik IVA
Dengan spekulum melihat serviks yang dipulas dengan
asam asetat 3-5%. Pada lesi prakanker akan menampilkan
warna bercak putih yang disebut aceto white epithelum.

Porsio sebelum dipulas Gambaran bercak putih
dengan asam asetat pada lesi pra-kanker
Dengan tampilnya porsio dan bercak putih dapat disimpulkan
bahwa tes IVA positif, sebagai tindak lanjut dapat dilakukan
biopsi. Andaikata penemuan tes IVA positif oleh bidan,
maka di beberapa negara bidan tersebut dapat langsung
melakukan terapi dengan cryosergury. Hal ini tentu mengandung
kelemahan-kelemahan dalam menyingkirkan lesi invasif.

Kategori pemeriksaan IVA
Ada beberapa kategori yang dapat dipergunakan, salah
satu kategori yang dapat dipergunakan adalah:
1. IVA negatif = Serviks normal.
2. IVA radang = Serviks dengan radang (servisitis), atau
kelainan jinak lainnya (polip serviks).
3. IVA positif = ditemukan bercak putih (aceto white
epithelium). Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan skrining
kanker serviks dengan metode IVA karena temuan ini
mengarah pada diagnosis Serviks-pra kanker (dispalsia ringansedang-
berat atau kanker serviks in situ).
4. IVA-Kanker serviks
Pada tahap ini pun, untuk upaya penurunan temuan stadium
kanker serviks, masih akan bermanfaat bagi penurunan
kematian akibat kanker serviks bila ditemukan masih pada
stadium invasif dini (stadium IB-IIA).

HASIL TEMUAN
Tentu saja ada keraguan pada metode yang lebih sederhana,
namun telah pula dibuktikan pada beberapa penelitian,
bahwa metode skrining IVA cukup sensitif dan spesifik dalam
upaya skrining kanker serviks, sebagaimana hasil temuan kajian
yang telah dilakukan di Indonesia di bawah ini (walau kajian
di bawah ini dengan bantuan pembesaran Gineskopi).
Kanker serviks adalah masalah kesehatan wanita di
Indonesia, karena jumlahnya yang banyak dan >70% didiagnosis
pada stadium lanjut. Telah ada metode skrining Tes Pap
yang telah diakui sebagai metode skrining yang handal, dengan
berbagai keterbatasannya dalam penemuan kanker serviks pada
tahap pra-kanker.
Namun untuk Indonesia masalah pelaksanaan skrining
massal kanker serviks dengan menggunakan Tes Pap terkait
dengan banyak kendala antara lain luasnya wilayah Indonesia,
penyediaan dana dan keterbatasan SDM.
Karena itu perlu diupayakan suatu terobosan untuk melakukan
skrining kanker serviks, walaupun dengan sensitivitas
dan spesifisitas yang diduga lebih rendah di banding Tes Pap
tapi mempunyai cakupan yang lebih luas. Metode yang dimaksud
adalah inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).
Metode ini sangat mungkindilakukan oleh semua tenaga kesehatan
bidan, dokter umum, tentu saja oleh dokter spesialis.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 29 Juni 2011

Pencegahan Dini Kanker Serviks



Pengetahuan kita tentang kanker serviks saat ini menunjukkan bahwa penyakit ini
berkembang secara bertahap dan bukan eksplosif. Keadaan dini yang mendahuluinya
berupa perubahan intraepitel yang dapat dideteksi dan disembuhkan dengan pengobatan
yang tepat. Pemeriksaan sitologi (tes Pap) merupakan metode praktis dalam skrining
kanker serviks. Hasil tes Pap abnormal harus didukung oleh pemeriksaan kolposkopi
dan histopatologik sebelum diobati secara definitif. Prosedur pemeriksaan skrining dan
deteksi dini akan menghemat waktu dan biaya dibandingkan dengan merawat pasien
dengan kanker stadium lanjut.
Masalah primer dan pengawasan komunitas (community control) kanker serviks,
bukan saja masalah teknik dan fasilitas, akan tetapi juga menyangkut masalah organisasi
dalam masyarakat serta motivasinya.
Kanker serviks merupakan penyebab kematian utama
kanker pada wanita di negara-negara sedang berkembang. Setiap
tahun diperkirakan terdapat 500.000 kasus kanker serviks
baru di seluruh dunia, 77 % di antaranya ada di negara-negara
sedang berkembang. Di Indonesia diperkirakan sekitar 90-100
kanker baru di antara 100.000 penduduk pertahunnya, atau
sekitar 180.000 kasus baru pertahun, dengan kanker serviks
menempati urutan pertama di antara kanker pada wanita. Studi
epidemiologik menunjukkan bahwa faktor-faktor risiko terjadinya
kanker serviks meliputi hubungan seksual pada usia dini
(<20 tahun), berganti-ganti pasangan seksual, merokok, trauma
kronis pada serviks uteri dan higiene genitalia.
Lebih dari separuh penderita kanker serviks berada dalam
stadium lanjut yang memerlukan fasilitas khusus untuk pengobatan
seperti peralatan radioterapi yang hanya tersedia di beberapa
kota besar saja. Di samping mahal, pengobatan terhadap
kanker stadium lanjut memberikan hasil yang tidak memuaskan
dengan harapan hidup 5 tahun yang rendah.
Mengingat beratnya akibat yang ditimbulkan oleh kanker
serviks dipandang dari segi harapan hidup, lamanya penderitaan,
serta tingginya biaya pengobatan, sudah sepatutnya apabila
kita memberikan perhatian yang lebih besar mengenai latar
belakang dari penyakit yang sudah terlalu banyak meminta
korban itu, dan segala aspek yang berkaitan dengan penyakit
tersebut serta upaya-upaya preventif yang dapat dilakukan.

FAKTOR RISIKO
Perilaku seksual
Banyak faktor yang disebut-sebut mempengaruhi terjadinya
kanker serviks. Telaah pada berbagai penelitian epidemiologi
menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai melakukan
hubungan seksual pada usia < 20 tahun atau mempunyai
pasangan seksual yang berganti-ganti lebih berisiko
untuk menderita kanker serviks. Tinjauan kepustakaan mengenai
etiologi kanker leher rahim menunjukkan bahwa faktor
risiko lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan
wanita tuna susila (WTS) dan dari sumber itu membawa penyebab
kanker (karsinogen) kepada isterinya. Data epidemiologi
yang tersusun sampai akhir abad 20, menyingkap kemungkinan
adanya hubungan antara kanker serviks dengan
agen yang dapat menimbulkan infeksi. Karsinogen ini bekerja
8 Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001
di daerah transformasi, menghasilkan suatu gradasi kelainan
permulaan keganasan, dan paling berbahaya bila terpapar
dalam waktu 10 tahun setelah menarche. Keterlibatan peranan
pria terlihat dari adanya kolerasi antara kejadian kanker serviks
dengan kanker penis di wilayah tertentu. Lebih jauh meningkatnya
kejadian tumor pada wanita monogami yang
suaminya sering berhubungan seksual dengan banyak wanita
lain menimbulkan konsep “Pria Berisiko Tinggi” sebagai
vektor dari agen yang dapat menimbulkan infeksi.
Banyak penyebab yang dapat menimbulkan kanker serviks,
tetapi penyakit ini sebaiknya digolongkan ke dalam
penyakit akibat hubungan seksual (PHS). Penyakit kelamin dan
keganasan serviks keduanya saling berkaitan secara bebas, dan
diduga terdapat korelasi non-kausal antara beberapa penyakit
akibat hubungan seksual dengan kanker serviks.

Kontrasepsi
Kondom dan diafragma dapat memberikan perlindungan.
Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih
dari 5 tahun dapat meningkatkan risiko relatif 1,53 kali. WHO
melaporkan risiko relatif pada pemakaian kontrasepsi oral
sebesar 1,19 kali dan meningkat sesuai dengan lamanya
pemakaian.

Merokok
Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogen baik
yang dihisap sebagai rokok/sigaret atau dikunyah. Asap rokok
menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon heterocyclic
nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada
getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum.
Efek langsung bahan-bahan tersebut pada serviks adalah menurunkan
status imun lokal sehingga dapat menjadi kokarsinogen
infeksi virus.

Nutrisi
Banyak sayur dan buah mengandung bahan-bahan antioksidan
dan berkhasiat mencegah kanker misalnya advokat,
brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat.
Dari beberapa penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic
acid), vitamin C, vitamin E, beta karoten/retinol dihubungkan
dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin E, vitamin
C dan beta karoten mempunyai khasiat antioksidan yang kuat.
Antioksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh
buruk radikal bebas yang terbentuk akibat oksidasi karsinogen
bahan kimia. Vitamin E banyak terdapat dalam minyak nabati
(kedelai, jagung, biji-bijian dan kacang-kacangan). Vitamin C
banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan.

FAKTOR ETIOLOGIK
Infeksi protozoa, jamur dan bakteri tidak potensial onkogenik
sehingga penelitian akhir-akhir ini lebih memfokuskan
virus sebagai penyebab yang penting. Tidak semua virus
dikatakan dapat menyebabkan kanker, tetapi paling tidak,
dikenal kurang lebih 150 juta jenis virus yang diduga memegang
peranan atas kejadian kanker pada binatang, dan
sepertiga di antaranya adalah golongan virus DNA. Pada proses
karsinogenesis asam nukleat virus tersebut dapat bersatu ke
dalam gen dan DNA sel tuan rumah sehingga menyebabkan
terjadinya mutasi sel.
Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2. Pada awal tahun
1970 virus herpes simpleks tipe 2 merupakan virus yang paling
banyak didiskusikan sebagai penyebab timbulnya kanker
serviks; tetapi saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan
bahwa virus ini berperan besar, oleh karena itu diduga hanya
sebagai ko-faktor atau dapat dianggap sama dengan karsinogen
kimia atau fisik.
Human papillomavirus (HPV). Sejak 15 tahun yang lalu,
virus HPV ini telah banyak diperbincangkan sebagai salah satu
agen yang berperan. HPV adalah anggota famili Papovirida,
dengan diameter 55 um. Virus ini mempunyai kapsul isohedral
yang telanjang dengan 72 kapsomer, serta mengandung DNA
sirkuler dengan untaian ganda. Berat molekulnya 5 x 106
Dalton. Dikenal beberapa spesies virus papilloma, yaitu spesies
manusia, kelinci, sapi dan lain-lain. Saat ini telah diidentifikasi
sekitar 70 tipe HPV dan mungkin akan lebih banyak lagi di
masa mendatang
Masing-masing tipe mempunyai sifat tertentu pada kerusakan
epitel dan perubahan morfologi lesi yang ditimbulkan.
Kurang lebih 23 tipe HPV dapat menimbulkan infeksi pada alat
genitalia eksterna wanita atau laki-laki, yang meliputi tipe HPV
6,11,16, 18, 30, 31, 33, 34, 35, 39, 40, 42, 45, 51-58.
Keterlibatan HPV pada kejadian kanker dilandasi oleh
beberapa faktor, yaitu :
1) timbulnya keganasan pada binatang yang diinduksi dengan virus papilloma;
2) dalam pengamatan terlihat adanya perkembangan menjadi karsinoma pada kondiloma akuminata;
3) pada penelitian epidemiologik infeksi HPV ditemukan angka kejadian kanker serviks yang meningkat;
4)DNA HPV sering ditemukan pada LIS (lesi intraepitel serviks)

Walaupun terdapat hubungan yang erat antara HPV dan
kankers erviks, tetapi belum ada bukti-bukti yang mendukung
bahwa HPV adalah penyebab tunggal. Perubahan keganasan
dari epitel normal membutuhkan faktor lain, hal ini didukung
oleh berbagai pengamatan, yaitu
1) perkembangan suatu infeksi HPV untuk menjadi kanker serviks berlangsung lambat dan membutuhkan waktu lama;
2) survai epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi infeksi HPV adalah 10-30 %, sedangkan risiko wanita untuk mendapatkan kanker serviks lebih kurang 1%;
3) penyakit kanker adalah monoklonal, artinya penyakit ini berkembang dari satu sel.

Oleh karena itu, hanya satu atau beberapa saja dari sel-sel epitel yang terinfeksi HPV mampu lepas dari kontrol pertumbuhan sel normal.
Perkembangan teknologi hibridasi DNA telah memperkaya
pengetahuan kita tentang hubungan HPV dan kanker serviks.
Pada analisis risiko didapatkan perbedaan yang besar antara
HPV 16/18 yang menyebabkan NIS 1; bila dibandingkan
dengan HPV 6/11 didapat risiko relatif hampir 1212 kali lebih
besar. Pada NIS 2 risiko relatif yang disebabkan HPV 16/18
mencapai 1515 kali dibandingkan kontrol. Pada NIS 3 semuanya
disebabkan oleh HPV 16/18 dan risiko relatif untuk berkembang
menjadi kondiloma invasif secara prospektif
sebanyak 70 % selama pengamatan 12 tahun.
Rangkuman dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001 9
HPV tipe 6 dan 11 ditemukan pada 35 % kondiloma akuminata
dan NIS 1, 10 % pada NIS 2-3, dan hanya 1% ditemukan pada
kondiloma invasif. HPV tipe 16 dan 18 ditemukan pada 10 %
kondiloma akuminata dan NIS 1,51% pada NIS 2-3, dan pada
63 % karsinoma invasif. Dari penelitian tersebut disimpulkan
bahwa terdapat 3 golongan tipe HPV dalam hubungannya
dengan kanker serviks, yaitu :
1) HPV risiko rendah, yaitu HPV tipe 6 dan 11, 46 jarang ditemukan pada karsinoma invasif;
2)HPV risiko sedang, yaitu HPV 33, 35, 40, 43, 51, 56, dan 58;
3) HPV risiko tinggi, yaitu HPV tipe 16, 18, 31.

PERUBAHAN FISIOLOGIK EPITEL SERVIKS
Epitel serviks terdiri dari 2 jenis, yaitu epitel skuamosa dan
epitel kolumnar; kedua epitel tersebut dibatasi oleh sambungan
skuamosa-kolumnar (SSK) yang letaknya tergantung pada
umur, aktivitas seksual dan paritas. Pada wanita dengan aktivitas
seksual tinggi, SSK terletak di ostium eksternum karena
trauma atau retraksi otot oleh prostaglandin.
Pada masa kehidupan wanita terjadi perubahan fisiologis pada
epitel serviks; epitel kolumnar akan digantikan oleh epitel
skuamosa yang diduga berasal dari cadangan epitel kolumnar.
Proses pergantian epitel kolumnar menjadi epitel skuamosa
disebut proses metaplasia dan terjadi akibat pengaruh pH
vagina yang rendah. Aktivitas metaplasia yang tinggi sering
dijumpai pada masa pubertas. Akibat proses metaplasia ini
maka secara morfogenetik terdapat 2 SSK, yaitu SSK asli dan
SSK baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel
skuamosa baru dengan epitel kolumnar. Daerah di antara kedua
SSK ini disebut daerah transformasi.

PERUBAHAN NEOPLASTIK EPITEL SERVIKS
Proses terjadinya kanker serviks sangat erat hubungannya
dengan proses metaplasia. Masuknya mutagen atau bahanbahan
yang dapat mengubah perangai sel secara genetik pada saat
fase aktif metaplasia dapat menimbulkan sel-sel yang berpotensi
ganas. Perubahan ini biasanya terjadi di SSK atau
daerah transformasi. Mutagen tersebut berasal dari agen-agen
yang ditularkan secara hubungan seksual dan diduga bahwa
human papilloma virus (HPV) memegang peranan penting. Sel
yang mengalami mutasi tersebut dapat berkembang menjadi sel
displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia.
Dimulai dari displasia ringan, displasia sedang, displasia
berat dan karsinoma in-situ dan kemudian berkembang menjadi
karsinoma invasif. Tingkat displasia dan karsinoma in-situ
dikenal juga sebagai tingkat pra-kanker.
Displasia mencakup pengertian berbagai gangguan maturasi
epitel skuamosa yang secara sitologik dan histologik
berbeda dari epitel normal, tetapi tidak memenuhi persyaratan
sel karsinoma. Perbedaan derajat displasia didasarkan atas tebal
epitel yang mengalami kelainan dan berat ringannya kelainan
pada sel. Sedangkan karsinoma in-situ adalah gangguan
maturasi epitel skuamosa yang menyerupai karsinoma invasif

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan