Sabtu, 08 Oktober 2011

GAMBARAN INTENSITAS INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTES PADA SISWA KELAS 1 – 5 Sekolah Negeri XX

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumber daya manusia yang memiliki produktifitas tinggi adalah impian dari pembangunan nasional. Pembangunan nasional mempunyai tujuan untuk mewujudkan manusia yang sehat dan mempunyai daya saing yang tinggi. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah yang mempunyai derajat kesehatan yang tinggi.

Di Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan. Salah satunya adalah penyakit kecacingan. Kecacingan dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja juga dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya.

Penyakit cacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Angka infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi ( jumlah cacing dalam perut) berbeda. Hasil survei cacingan di sekolah dasar dibeberapa propinsi pada tahun 1986-1991 menunjukan prevalensi sekitar 60% - 80% sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40 %- 60 %. Hasil survey subdit diare pada tahun 2002 dan 2003 pada 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi berkisar antara 2,2% - 96,3%. (KEPMENKES 2006)

Tingginya angka prevalensi ini disebabkan oleh buruknya sanitasi lingkungan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan kebiasaaan manusia yang mencemari lingkungan dengan buang air besar di sembarang tempat, serta iklim yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan cacing soil transmitted helmintes.

Soil transmitted helmintes seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang merupakan cacing yang dapat menyebabkan gangguan pemasukan (intake), pencernaan (disgensif), dan penyerapan (absorsi) pada manusia, yang ditularkan melalui tanah yang mengandung telur infektif dan larva infektif.

Hasil penelitian yang telah dilakukan kepada siswa-siswi kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Kecamatan Natar, Lampung Selatan menunjukkan bahwa terjadi infeksi kecacingan dengan persentase sebesar 36,96% disebabkan oleh Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang. (Bramuli, 2010).

Desa Natar adalah sebuah desa yang berada di tengah-tengah kecamatan Natar. Di desa Natar terdapat sebuah Sekolah Dasar yaitu SDN 03 Natar yang terletak di dusun Margataqwa. Hasil survei yang telah dilakukan dapat dinyatakan bahwa Siswa SDN 03 Natar memiliki kebiasaan buruk dalam melakukan aktifitasnya di sekolah diantaranya berolahraga tanpa menggunakan alas kaki, tidak memotong kuku secara teratur, tidak mencuci tangan sebelum makan serta kurang terawatnya fasilitas toilet sekolah yang digunakan oleh siswa menjadi faktor pendukung terjadinya kecacingan.

Pemeriksaan penyakit kecacingan sangat penting dalam upaya pemberantasan penyakit kecacingan. Pemeriksaan penyakit cacingan dapat dilakukan dengan berbagai metode dengan metode langsung seperti dengan menggunakan lugol, eosin atau NaCl dan metode tak langsung dengan cara pengapungan, akan tetapi pemeriksaan ini belum dapat menentukan kepadatan infeksi atau berat ringannya penyakit yang disebabakan oleh cacing tersebut, karena kedua metode tersebut hanya melakukan pemeriksaan secara kualitatif saja.

Pemeriksaan untuk mengetahui intensitas infeksi cacing dengan mengetahui jumlah telur per gram tinja ( EPG = Eggs Per Gram) adalah pemeriksaan metode kato katz. Pemeriksaan ini tidak hanya melihat dari hasil positif atau negatif, tetapi juga dapat memberi tingkat klasifikasi intensitas infeksi menurut jenis cacing yang menginfeksi.

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis ingin menyusun karya tulis ilmiah dengan judul ”GAMBARAN INTENSITAS INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTES PADA SISWA KELAS 1 – 5 SDN 03 NATAR KECAMATAN NATAR LAMPUNG SELATAN”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apakah ditemukan telur soil transmitted helmintes pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan?

2. Berapakah jumlah telur soil transmitted helmintes yang ditemukan pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan?

3. Bagaimanakah klasifikasi intensitas infeksi menurut jenis telur cacing yang menginfeksi siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan?

4. Berapakah persentase klasifikasi intensitas infeksi menurut jenis telur cacing yang menginfeksi siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan?

1.3 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada gambaran intensitas infeksi soil transmitted helmintes (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang) dengan menggunakan metode kato katz pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Dusun Margataqwa Desa Natar Kecamatan Natar Lampung Selatan

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan umum

Mengetahui gambaran intensitas infeksi soil transmitted helmintes (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang) dengan menggunakan metode kato katz pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Dusun Margataqwa Desa Natar Kecamatan Natar Lampung Selatan.

1.4.2 Tujuan khusus

1. Mengetahui adanya telur soil transmitted helmintes pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan

2. Mengetahui jumlah telur soil transmitted helmintes yang ditemukan pada siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan

3. Mengetahui klasifikasi intensitas infeksi menurut jenis telur soil transmitted helmintes yang menginfeksi siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan.

4. Mengetahui persentase klasifikasi intensitas infeksi menurut jenis telur cacing yang menginfeksi siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar Lampung Selatan.

1.5 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :

1.Memberikan informasi kepada masyarakat desa Natar pada umumnya dan khususnya siswa kelas 1 - 5 SDN 03 Natar tentang tingkat infeksi kecacingan

2.Memberikan informasi kepada dinas kesehatan setempat tentang intensitas kecacingan agar dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk mengurangi penyebaran penyakit kecacingan.

3.Sebagai penambah wawasan dan penerapan ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam bidang analis kesehatan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Infeksi Kecacingan

Penyakit cacingan merupakan penyakit masyarakat luas. Hampir sebagian masyarakat kita pernah cacingan. Penyakit ini bukan hanya menyerang masyarakat yang kurang mampu dan bukan pula hanya terdapat di daerah pedesaan namun masyarakat perkotaan juga dapat terserang kecacingan.

Penyakit kecacingan disebabkan oleh banyak jenis cacing dan habitat hidupnya pun di dalam tubuh manusia berbeda antara satu jenis cacing dengan cacing lainnya. Cara penularannya juga berbagai macam ada yang melalui tanah, melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh telur cacing dan ada yang ditularkan melalui air.

Kecacingan tidak memiliki gejala klinis yang khas, sehingga sulit untuk melakukan pemberantasan penyakit ini karena penderita tidak sadar bahwa dirinya sedang mengidap cacingan. Penderita cacingan banyak mengalami kerugian akibat infeksi cacing seperti kehilangan gizi makanan, kehilangan darah dan gangguan sistem pencernaan. (Nadesul,1997)

2.1.1 Nematoda

Nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang, silindrik, tidak bersegmen dan tubuhnya bilateral simetrik. Tubuhnya sudah mempunyai saluran pencernaan. Panjang tubuh cacing ini bervariasi dari 2 millimeter hingga 1 meter. (Onggowaluyo, 2002). Nematoda memiliki jumlah spesies yang besar saat ini telah dikenal lebih dari 8.000 jenis cacing yang hidup sebagai parasit.

(Irianto, 2009)

Nematoda pada manusia digolongkan menjadi dua yaitu Nematoda intestinal/usus (soil transmitted helmintes) dan Nematoda jaringan/darah. Nematoda dapat ditularkan ke manusia dengan cara memakan telur infektif, larva menembus kulit, dan memakan larva kista dengan perantara hewan vektor (Arthropoda). (Onggowaluyo, 2002).

2.1.2 Soil Transmitted Helminted

Soil transmitted helmintes adalah cacing yang berhabitat di saluran pencernaan manusia dan hewan. Manusia merupakan hospes beberapa soil transmitted helmintes. Sebagian besar dari cacing ini adalah penyebab masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Soil transmitted helmintes ditularkan melalui tanah dan spesies yang sering ditemukan di tinja manusia adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichura, dan cacing tambang. (Margono, 2006).

2.1.3 Ascaris lumbricoides

Hospes satu-satunya Ascaris lumbricoides adalah manusia (KEMENKES, 2006). Prevalensi infeksi Ascaris lumbricoides pada masyarakat di Indonesia berkisar antara 20%-90%. Di Indonesia Ascaris lumbricoides dikenal sebagai cacing gelang. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini disebut ascariasis.

2.1.3.1 Klasifikasi Ascaris lumbricoides

Ascaris lumbricoides termasuk dalam :

Kingdom : Animalia

Filum : Nemathelminthes

Kelas : Nematoda

Sub-Kelas : Phasmida

Ordo : Rhabdidata

Sub-Ordo : Ascaridata

Familia : Ascaridoidae

Genus : Ascaris

Spesies : Ascaris lumbricoides

(Irianto,2009).

2.1.3.2 Morfologi

Cacing dewasa mempunyai ukuran paling besar di antara Jenis soil transmitted helmintes yang lain. Bentuknya silindris, dan ujung anterior lancip. Bagian anterior dilengkapi dengan tiga bibir (triplet) yang tumbuh dengan sempurna. Cacing betina panjangnya 20 - 35 cm, sedangkan cacing jantan panjangnya 15 - 31 cm. Pada cacing jantan ujung posteriornya lancip dan melengkung ke arah ventral, sedangkan pada cacing betina bagian posteriornya membulat dan lurus, dan 1/3 pada anterior tubuhnya terdapat cincin kopulasi, tubuhnya berwarna putih sampai kuning kecoklatan dan diselubungi oleh lapisan kutikula yang bergaris halus. (Onggowaluyo, 2002).


Gambar 1. Cacing Ascaris lumbricoides (perbesaran makroskopik)

A. Jantan,

B. Betina

( Prianto, 2002 )

Telur yang telah dibuahi berukuran panjang antara 60 - 75 mikron, sedangkan lebarnya berkisar antara 40 - 50 mikron, bulat oval dengan dinding telur terdiri tiga lapis yaitu : lapisan luar albuminoid, lapisan tengah hyalin, serta lapisan dalam selubung vitelin. Telur decortikasi adalah telur yang dibuahi berukuran 90x40 mikron dan berdinding tipis, berwarna coklat dengan lapisan albuminoid yang tidah teratur, pada telur yang tidak dibuahi tidak dijumpai rongga udara, dan telur yang berisi embrio. (Onggowaluyo, 2002).

B

A


Gambar 2. Telur Ascaris lumbricoides

A. Dibuahi (perbesaran 10x20)

B. Tidak Dibuahi (perbesaran 10x40)

( Prianto, 2002 )

2.1.3.3 Siklus Hidup

Pada waktu telur yang dibuahi yang dikeluarkan bersama tinja penderita. Dalam lingkungan yang sesuai, telur akan berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila telur tertelan oleh manusia, maka akan menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau limfe, lalu di alirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru, menembus dinding pembuluh darah ke dinding alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Larva ini menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan ini dan larva tertelan ke dalam esophagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih 2 bulan. (Margono, 2006)

Gambar 3. siklus hidup Ascaris lumbicoides

( Margono, 2006 )

2.1.3.4 Patogenesis dan Gejala Klinik

Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva, gangguan pada larva biasanya terjadi pada saat berada di paru - paru. Pada orang yang rentan, akan terjadi pendarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang di sertai batuk. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan seperti mual, nafsu makan berkurang serta diare. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi malabsopsi sehingga memperberat keadaan mal nutrisi, efek yang sering terjadi jika cacing-cacing ini menggumpal dalam usus adalah terjadinya obstiruksi usus (ileus).

(Margono, 2006).

2.1.3.5 Diagnosis

Selama fase intestinal, diagnosis dapat dibuat dengan menentukan telur dan cacing dewasa dalam tinja. Telur cacing ini dapat ditemukan dengan mudah pada sediaan basah langsung atau sediaan basah dari sedimen yang sudah di konsentrasikan. Cacing dewasa dapat ditemukan keluar dengan sendirinya melalui mulut karena

muntah atau melalui anus bersama dengan tinja. (Onggowaluyo, 2002).

2.1.4 Trichuris trichiura

Manusia adalah Hospes cacing Trichuris trichiura. Cacing ini bersifat kosmopolit, terutama ditemukan di daerah panas dan lembab. Seperti di Indonesia, penyakit yang disebabkan oleh cacing ini adalah trikuriasis. (Margono,2006).

2.1.4.1 Klasifikasi Trichuris trichiura

Kingdom : Animalia

Filum : Namathelminthes

Kelas : Nematoda

Sub-kelas : Aphasmida

Ordo : Enoplida

Super Famili : Trichuroidea

Famili : Trichuridea

Genus : Trichuris

Spesies : Trichuris trichiura

(irianto, 2009).

2.1.4.2 Morfologi

Cacing dewasa menyerupai cambuk, 3/5 bagian anterior tubuh halus seperti benang, pada ujungnya terdapat kepala, esofagus sempit, berdinding tipis, terdiri dari satu lapis sel. Bagian anterior ini akan menancapkan dirinya pada mukosa usus. 2/5 bagian posterior lebih tebal, berisi usus dan perangkat alat kelamin. Cacing jantan panjangnya 30 - 45 mm, bagian posterior melengkung ke depan sehingga membentuk satu lingkaran penuh. Cacing betina panjangnya 30 - 50 mm, ujung posterior tubuhnya membulat tumpul. (Natadisastra, 1999).

Gambar 4. Cacing Trichuris trichiura dewasa

A.Jantan, B. Betina (perbesaran makroskopik)

( Prianto, 2002 )

Telur dari Trichuris trichiura mempunya ukuran 50 x 25 mikron, berbentuk seperti tempayan, pada kedua kutubnya terdapat overculum semacam penutup yang jernih dan menonjol. Dindingnya terdiri atas dua lapis, bagian dalam jernih, bagian luar berwarna kecoklat-coklatan. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja, dalam keadaan belum membelah, tidak infektif.

Telur tersebut perlu pematangan pada tanah dalam waktu 3 - 6 minggu sampai telur terbentuknya telur infektif yang berisi embrio.

(Natadisastra, 1999).


Gambar 5. Telur Trichuris trichiura

(perbesaran 10x40)

( Prianto, 2002 )

2.1.4.3 Siklus Hidup

Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Telur tersebut menjadi matang dalam waktu 3 - 6 minggu dalam lingkungan yang sesuai. Telur matang adalah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk yang infektif. Cara infeksi langsung jika secara kebetulan hospes menelan telur matang. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk kedalam usus halus, setelah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon terutama sekum. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai cacing dewasa betina mengeluarkan telur kira-kira 30 - 90 hari. (Tambayong, 2000).

Gambar 6. Siklus hidup Trichuris trichiura.

( Margono, 2006 )

2.1.4.4 Patogenesis dan Gejala Klinis

Pada infeksi ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Pada infeksi berat, terutama pada anak- anak cacing tersebar diseluruh kolon dan rektum. Cacing ini memasukan kepalanya ke dalam mukosa usus hingga menimbulkan trauma serta iritasi dan peradangan pada mukosa usus. Di tempat perekatannya terjadi perdarahan disamping itu juga cacing ini juga menghisap darah hospesnya sehingga menyebabkan anemia

Penderita terutama anak – anak dengan infeksi trichuris yang berat dan menahun menunjukan gejala diare yang sering diselingi anemia dan berat badan turun.

(Supali, 2008)

2.1.4.5 Diagnosis

Gejala-gejala klinik tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa Trichuris trichiura oleh karena tidak memberikan gejala yang khas sehingga mirip dengan gejala infeksi lain. Diagnosa pasti dengan menemukan telur didalam tinja.

(Supali, 2008)

2.1.5 Epidemiologi Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura

Penyebaran geografis Ascaris lumbricoides sama dengan Trichuris trichiura. Sering kali kedua cacing ini ditemukan bersama-sama dalam dalam satu hospes. Frekuensinya tinggi di Indonesia berkisar antara 30-90%. Angka infeksi tertinggi ditemukan pada anak-anak. Faktor terpenting dalam penyebaran trikuriasis dan askariasis adalah kontaminasi tanah dengan tinja yang mengandung telur. Telur berkembang biak pada tanah liat, lembab dan teduh. (Onggowaluyo,2002).

Telur Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura tidak menetas di dalam tanah dan dapat hidup beberapa tahun khususnya telur Ascaris lumbricoides. (Margono, 2006). Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar halaman rumah, di bawah pohon, di tempat mencuci, dan di tempat pembuangan sampah. Laju infeksi dapat dicegah dengan pengobatan, pembuatan MCK (mandi, cuci, kakus) yang sehat dan teratur, penyuluhan pendidikan tentang hygiene dan sanitasi pada masyarakat, dan tidak mengggunakan tinja sebagai pupuk tanaman (Onggowaluyo, 2002).

2.1.6 Klasifikasi Cacing Tambang sp

Klasifikasi cacing Ancylostoma duodenale:

Filum : Namthelminthes

Kelas : Nematoda

Sub-kelas : Phasmidia

Ordo : Strongyuda

Super Famili : Ancylostomatidae

Famili : Ancylostomatidae

Genus : Ancylostoma

Spesies : Ancylostoma duodenale

(Natadisastra,2002)

Klasifikasi cacing Necator americanus:

Filum : Namthelminthes

Kelas : Nematoda

Sub-kelas : Phasmidia

Ordo : Strongyuda

Super Famili : Ancylostomatidae

Famili : Ancylostomatidae

Genus : Necator

Spesies : Necator americanus

(Natadisastra,2002)

2.1.6.1 Morfologi Cacing Tambang

Cacing dewasa berukuran kecil, silendrik, dan berwarna putih kelabu. Jika telah menghisap darah cacing segar berwarna kemerahan. Cacing betina berukuran (9-13) x (0,35- 60) mm dan cacing jantan (5-10) x (0,3-0,45) mm. Necator americanus mempunyai ukuran tubuh yang lebih kecil dari Ancylostoma duodenale. (Irianto, 2009)

Bentuk Necator americanus seperti huruf S, sedangkan Anchilostoma duodenale seperti huruf C. Rongga mulut kedua spesies ini lebar dan terbuka. Pada Necator americanus mulut dilengkapi dengan Gigi Kitin, sedangkan Anchilostoma duodenale dilengkapi dua pasang Gigi berbentuk lancip. Kedua cacing ini, yang jantan ujung ekornya mempunyai Bursa Kopulatriks, sedangkan yang betina ujung ekornya lurus dan lancip. (Onggowaluyo, 2002).

A B


Gambar 7. Cacing tambang dewasa

A. Cacing dewasa N.. americanus

B. Cacing Dewasa A. duodenale,

(perbesaran makroskopik)

( Prianto, 2002 )

2.1.6.2 Morfologi Telur Cacing

Telur cacing tambang mempunyai ukuran 60 x 40 mikron berbentuk oval dan tidak berwarna. Dinding luar dibatasi oleh lapisan vitelin yang halus. Terdapat ruang diantara ovum dan dinding telur yang jelas dan bening. Telur yang baru keluar bersama tinja mempunyai memiliki ovum yang mengalami segmentasi 2, 4, dan 8 sel. Telur yang keluar bersama tinja pada tanah yang cukup baik dengan suhu 23º sampai 33º C dalam waktu 24 sampai 48 jam. Setelah menetas akan keluar larva rabditiform yang berukuran (250 – 300) x 17 mikron, pada hari ke lima larva tersebut akan berubah menjadi larva filariform. (Natadisastra,1999).

Gambar 8. Telur cacing tambang

(perbesaran 10x40)

( Prianto, 2002 )

2.1.6.3 Siklus Hidup

Siklus hidup cacing tambang dimulai dengan telur cacing yang keluar bersama tinja, di dalam tanah akan menetas dalam waktu 1 - 2 hari menjadi larva rhabditiform yang tidak infektif, setelah mengalami dua kali pergantian kulit maka terbentuk larva filaform yang infektsius. Larva filariform dapat menembus kulit melalui folikel rambut, pori – pori atau kulit yang rusak. Larva yang masuk kemudian menuju ke pembulu darah vena menuju ke jantung, kemudian ke paru – paru. Larva yang berada di paru – paru akan melewati bronkus dan trakea larva tertelan masuk ke duodenum dan ileum bagian atas dalam waktu satu minggu. Setelah berganti kulit sebanyak 4 kali dalam jangka waktu 13 hari larva akan menjadi cacing dewasa. (Irianto, 2009).

Gambar 9. Siklus hidup cacing tambang

( Margono, 2006 )

2.1.6.4 Patologi Klinik

Patologi klinik cacing tambang dapat disebabkan oleh larva maupun cacing dewasanya. Larva yang masuk kedalam kulit akan menimbulkan gatal-gatal, infeksi cacing tambang dewasa akan mengakibatkan kehilangan darah, gangguan gizi, dan nekrosis jaringan usus. Seekor cacing dewasa Necator americanus sebanyak 0,1 cc per hari. Sedangkan Ancylostoma duodenale dapat menyebabkan kehilangan darah 0,34 cc per hari. Penderita yang biasanya menjadi anemia akan mengakibatkan daya tahan tubuhnya menurun. Penyakit infeksi cacing yang akut yang disertai dengan jumlah cacing yang banyak, penderita akan mengalami lemah badan, sakit perut, pucat, lesu dan terkadang disertai dengan diare yang berwarna merah sampai hitam (tergantung dengan jumlah darah yang keluar). Apabila jumlah cacing dewasa yang menginfeksi banyak maka dapat menimbulkan gejala hebat dan dapat menyebabkan kematian.

(Onggowaluyo, 2002).

2.1.6.5 Epidemiologi

Insiden tinggi ditemukan pada penduduk di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, khususnya di daerah perkebunan. Seringkali golongan pekerja perkebunan yang langsung berhubungan dengan tanah mendapat infeksi lebih dari 70%. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur dengan suhu optimum untuk N. Americanus 28oC-32oC, sedangkan untuk A. duodenale lebih rendah (23oC-25oC). Di daerah yang sangat endemik dapat dicegah dengan cara membuangan tinja dengan benar, pendidikan sanitasi dan kebersihan perseorangan perutama pada anak-anak dengan mencuci tangan sebelum makan, mencuci sayuran baik yang yang dimakan mentah atau setengah matang dan mengunakan alas kaki adalah baik untuk menghindari infeksi cacingan

(Supali, 2008).

2.1.7 Intensitas Infeksi Kecacingan

Intensitas infeksi kecacingan adalah jumlah cacing di dalam perut seseorang yang telah terinfeksi kecacingant. Intensias infeksi kecacingan dapat di klasifikasikan dalam beberapa tingkatan, yaitu klasifikasi ringan, sedang dan berat.

Setiap tingkat klasifikasi memiliki batasan yang berbeda pada setiap jenis cacing. Ascaris lumbricoides (cacing gelang) akan diklasifikasikan ringan jika jumlah telurnya 1 - 4.999 butir, diklasifikasikan sedang jika jumlah telurnya

5.000 – 49.999 butir, dan diklasifikasikan berat jika ditemukan telur lebih dari 50.000. Trichiuris trichura (cacing cambuk) akan diklasifikasikan ringan telur cacing yang ditemukan 1 – 999 butir, diklasifikasikan sedang jika jumlah telurnya 1.000 – 9.999 butir dan klasifikasi berat jika jumlah telur yang ditemukan lebih dari 10.000 butir. Cacing tambang akan dikatakan infeksi ringan telur yang ditemukan 1 – 1.999 butir, klasifikasi sedang jika jumlah telurnya 2.000 – 3.999 butir dan klasifikasi infeksi berat untuk cacing tambang bila ditemukan telur lebih dari 4000 butir telur. (KEPMENKES, 2006).

Pentingnya mengetahui intensitas infeksi kecacingan pada setiap penderita cacingan karena dapat mengetahui tingkat infeksinya. Tingkat infeksi kecacingan dapat menggambarkan bagaimana keadaan seorang penderita yang telah terinfeksi. Infeksi kecacingan pada umumnya akan mengakibatkan gangguan kesehatan mulai dari gangguan sistem pecernaan sampai anemia, sehingga makin banyak cacing yang terdapat dalam perut tentu akan mengakibatkan gejala semakin berat.

Klasifikasi intensitas kecacingan juga dapat menggambarkan distribusi epidemiologi infeksi kecacingan yang terjadi di daerah tersebut. Semakin banyak penduduk yang terinfeksi dan tingginya klasifikasi intensitas kecacingan maka akan menyebabkan meningkatnya distribusi epidemiologi.

Pemeriksaan untuk mengetahui intensitas kecacingan menggunakan metode kato katz. Metode ini dapat digunakan untuk pemeriksaan telur cacing secara langsung dengan tahap kualitatif dan kuantitatif, sehingga dapat mengetahui jumlah telur cacing soil transmitted helmintes yang ada di dalam perut penderita kemudian diklasifikasikan intensitas telurnya.

2.1.8 Metode Pemeriksaan Kato Katz

Pemeriksaan metode kato katz adalah suatu pemeriksaan sediaan tinja ditutup dan diratakan di bawah ”cellophane tape” yang telah direndam dalam larutan malactite green. Metode kato katz adalah salah satu metode pemeriksaan kecacingan secara kuantitatif.

Dari hasil perhitungan secara kuantitatif telur cacing dapat ditentukan klasifikasi intensitas infeksi ( ringan, sedang, atau berat) menurut jenis cacing yang menginfeksi dalam satuan EPG ( Eggs Per Gram), sehingga dapat menggambarkan keadaan infeksi kecacingan bahwa daerah tersebut. Pemeriksaan kuantitatif kecacingan menggunakan metode Kato Katz, lapangan pandang yang dihasilkan berwarna hijau malachite sehingga pemeriksaan ini lebih efisien untuk pemeriksaan dengan jumlah sampel yang banyak dan mempermudah dalam perhitungan telur cacing. Dalam pemeriksaan ini akan melihat lapangan pandang dengan kepekatan warna yang lebih rendah sehingga mudah untuk dilihat, dan tidak membuat mata cepat lelah.

2.2 Kerangka Teori

Soil transmitted helmintes seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang merupakan cacing yang dapat menyebabkan gangguan pemasukan (intake), pencernaan (disgensif), dan penyerapan (absorsi) pada manusia, yang ditularkan melalui tanah yang mengandung telur infektif dan larva infektif.

Telur cacing membutuhkan media tanah sebagai tempat perubahan dari telur yang dibuahi menjadi telur yang infektif. Pada cacing Ascaris lumbricoides membutuhkan waktu perubahan dari telur yang telah dibuahi menjadi infektif selama 3 minggu, cacing Trichuris trichiura membutuhkan waktu selama 3 sampai 6 minggu, sedangkan cacing tambang membutuhkan 1 – 1,5 hari untuk menetas menjadi larva rabditiform dan dalam waktu 3 hari larva rabditiform berubah menjadi larva filariform dan siap untuk meninfeksi manusia. Tanah yang lembab dengan suhu optimum lebih kurang 30o C dan tidak terkena cahaya matahari merupakan tempat yang paling cocok untuk perubahan tersebut.

Faktor penyebabkan terinfeksinya manusia oleh Soil transmitted helmintes adalah adanya sumber infeksi yang dekat dengan manusia, lingkungan sosial ekonomi, dan sanitasi lingkungan yang tidak baik seperti buang air besar di sembarang tempat, tidak mencuci tangan sebelum makan serta berjalan di tanah tanpa menggunakan alas kaki sehingga telur cacing yang infektif atau larva filariform dalan masuk ke dalam tubuh manusia.

Telur infektif jika tertelan akan menetas menjadi larva di dalam tubuh manusia dan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus halus dan menyebabkan banyak gangguan pada manusia yang merupakan hospesnya.

Para siswa sekolah dasar merupakan golongan yang paling rentan terhadap penyebaran Soil transmitted helmintes. Hal ini di buktikan dengan pemantauan terus menerus pada kelompok usia sekolah dasar di Jakarta menunjukan tingginya prevalensi cacingan pada kelompok ini, yang rata – rata mencapai 60% - 70%.

Proses infeksi terjadi jika manusia telah terinfeksi telur infektif, telur tersebut akan menetas, pada cacing Ascaris lumbricoides membutuhkan waktu 6 sampai 10 minggu, pada cacing Trichuris trichiura membutuhkan waktu 4 sampai 12 minggu dan pada cacing tambang membutuhkan 5 - 6 minggu dari proses infeksi sampai cacing dewasa betina mengeluarkan telur yang dikeluarkan bersama tinja. Telur cacing yang dikeluarkan bersama tinja adalah penanda seseorang telah terinfeksi, maka untuk menegakan diagnosa dapat dilakukan pemeriksaan kualitatif pada tinja. Jika infeksi diabaikan tentu akan membuat tingkat infeksi semakin berat karena cacing akan bertambah banyak di perut dan semakin banyak pula telur yang akan dikeluarkan, sehingga dilakukan pemeriksaan tinja kuantitatif metode Kato Katz.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan maka akan didapatkan intensitas kecacingan menurut jenis cacing dan menggambarkan infeksi yang dialami oleh penderita. (KEMENKES, 2006)

2.3 Kerangka Konsep

Berdasarkan teori yang ada, maka dapat digambarkan dalam bentuk kerangka konsep Gambaran Intensitas Infeksi Soil Transmitted Helmintes Pada Siswa Kelas 1 – 5 SDN 03 Natar Kecamatan Natar Lampung Selatan sebagai berikut.

Pemeriksaan infeksi soil transmitted helmintes secara kualitatif

Pemeriksaan infeksi soil transmitted helmintes secara kuantitatif

Klasifikasi intensitas kecacingan menurut jenis cacing soil transmitted helmintes



2.4 Definisi Operasional

No

Variabel

Definisi

Cara Ukur

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala Ukur

1.

2.

Variabel yang diteliti

Infeksi soil transmitted helmintes

Klasifikasi intensitas kecacingan

Ascaris lumbricoides

Infeksi ringan

Infeksi sedang

Infeksi berat

Trichuris trichiura

Infeksi ringan

Infeksi sedang

Infeksi berat

Cacing tambang

Infeksi ringan

Infeksi sedang

Infeksi berat

Suatu keadaan dimana ditemukan telur cacing nematodo usus (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichura, dan cacing tambang) dalam tinja.

Ditemukannnya telur cacing Ascaris lumbricoides di sampel tinja sebanyak 1-4.999 EPG

Ditemukannnya telur cacing Ascaris lumbricoides di sampel tinja sebanyak 5.000-49.999 EPG

Ditemukannnya telur cacing Ascaris lumbricoides di sampel tinja sebanyak

Infeksi berat adalah ≥ 50.000 EPG.

Ditemukan telur cacing trichuris trichura di sampel tinja sebanyak 1-999 EPG,

Ditemukan telur cacing trichuris trichura di sampel tinja sebanyak 1.000-9.999 EPG

Ditemukan telur cacing trichuris trichura di sampel tinja sebanyak ≥ 10.000 EPG.

Ditemukan telur cacing tambang di dalam sampel tinja sebanyak 1-1.999 EPG

Ditemukan telur cacing tambang di dalam sampel tinja sebanyak 2.000-3.999 EPG,

Ditemukan telur cacing tambang di dalam sampel tinja sebanyak ≥ 4.000 EPG.

Dengan pemeriksaan metode kato katz

Dengan pemeriksaan metode kato katz

Dengan pemeriksaan metode kato katz

Dengan pemeriksaan metode kato katz

Mikroskop

Mikroskop

Mikroskop

Mikroskop

1. positif

2. negatif

1. Infeksi ringan

2. Infeksi sedang

3. Infeksi berat

1.Infeksi

ringan

2.Infeksi

sedang

3.Infeksi

berat

1.Infeksi

ringan

2.Infeksi

sedang

3.Infeksi

berat

Nominal

Ordinal

Ordinal

Ordinal

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Rangcangan Penelitian

Jenis penelitian ini dilakukan secara deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang digunakan untuk memberikan gambaran tentang suatu keadaan secara objektif, Variabel yang diteliti adalah Infeksi soil transmitted helmintes dan klasifikasi intensitas kecacingan oleh cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang.

3.2 Populasi dan Sampel

3.2.1 Populasi

Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah siswa kelas 1 sampai dengan kelas 5 SDN 03 Natar dusun Margataqwa kecamatan Natar Lampung Selatan tahun 2011 yang berjumlah 104 siswa.

3.2.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi dengan kreteria ditemukan bentuk telur soil transmitted helmintes pada tinja.

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian.

3.3.1 Tempat

Penelitian ini dilakukan di SDN 03 Natar, kecamatan Natar Lampung Selatan dan pemeriksaan dilakukan di laboratorium parasitologi jurusan Analis Kesehatan.

3.3.2 Waktu

Politeknik Kesehatan Kemenkes Tanjung Karang, pada bulan April sampai Juni 2011.

3.4 Alat dan Bahan

Peralatan yang akan digunakan pada penelitian ini adalah lidi atau tusuk gigi, kertas minyak 10 x 10 cm, kertas saring atau tissue, spidol, wadah sampel, gelas objek, cellophane tape atau selofan 2,5 x 3 cm (dalam penelitian ini digantikan dengan plastik jenis mika), kawat saring atau kawat kasa, tutup botol karet, karton setebal 1,5 mm yang dilubangi dengan perforator (diameter lubang ± 6mm diperkirakan dapat menampung atau setara dengan 40 mgr sampel), bingkai kecil, sarung tangan handshoen), Waskom kecil, mikroskop, beaker glass, spatula, cawan petridish, neraca elecktrik dan kapas alkohol 70 %. Reagensia yang dipergunakan adalah larutan kato, malachite green 3%, aquadest dan glycerin. Bahan yang dipergunakan untuk pemeriksaan adalah feses atau tinja. (KEMENKES, 2006)

3.5 Prosedur Kerja Penelitian

3.5.1 Persiapan reagensia

Persiapan reagensia meliputi pembuatan larutan kato katz dan merendam selofan.

3.5.1.1 Pembuatan larutan kato

Larutan kato adalah cairan yang digunakan untuk merendam selofan atau untuk memulas cellophane tape (digantikan dengan plastik jenis mika) dalam pemeriksaan tinja. Untuk membuat larutan Kato diperlukan campuran dengan perbandingan : aquadest 100 bagian, glycerin 100 bagian, dan malacthite green 3% sebanyak 1 bagian. Cara pembuatannya adalah :

  1. Malachite green ditimbang sebanyak 3 gram, masukan kedalam beaker glass dan tambahkan aquadest 100 ml sedikit demi sedikit lalu diaduk dengan spatula hingga homogen, maka akan diperoleh malachite green 3%.
  2. Dimasukan 100 ml aquadest kedalam Waskom kecil, lalu tambahkan 100 ml glycerin sedikit demi sedikit dan tambahkan 1 ml larutan malachite green 3%, lalu diaduk sampai homogen, maka di dapatkan larutan kato 201 ml. (KEMENKES,2006)

3.5.1.2 Cara merendam cellophane tape (digantikan dengan plastik jenis mika).

Cara merendam cellophane tape (digantikan dengan plastik jenis mika), yaitu :

  1. Dibuat bingkai kayu segi empat sesuai dengan waskom plastik kecil
  2. Plastik mika dililitkan pada bingkai tersebut
  3. Direndam selama ± 18 jam dalam larutan Kato
  4. Pada waktu akan dipakai, guntinglah selofan (digantikan dengan plastik jenis mika) yang sudah direndam selama 2,5 x 3 cm.

(KEPMENKES, 2006)

3.5.2 Penanganan Sampel

Penangan sampel dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Disiapkan wadah sampel yang bersih, bermulut lebar dan bertutup rapat.
  2. Sampel dimasukan pada wadah yang disediakan.
  3. Wadah sampel dimasukan ke dalam termos es selama pengiriman ke laboratorium, untuk menghindari bau yang menyebar ke lingkungan

(KEMENKES, 2006)

3.5.3 Cara Pemeriksaan Kualitatif

Cara pemeriksaan kualitatif dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Digunakan sarung tangan ( handshoen ) untuk mengurangi infeksi berbagai penyakit.
  2. Objek glass dibersihkan dengan kapas alkohol 70% untuk menghilangkan lemak.
  3. Ditulis nomor kode pada objek glass dengan spidol sesuai dengan yang ditulis diwadah sampel.
  4. Tinja diambil dengan lidi sebesar kacang hijau, dan letakan di atas gelas objek.
  5. Ditutup dengan selofan yang direndam dalam larutan kato, dan ratakan tinja di bawah selofan (digantikan dengan plastik jenis mika) dengan tutup botol karet atau objek glass.
  6. Biarkan selama ± 20 sampai 30 menit.
  7. Diperiksa dengan perbesaran lemah 100 x (objektif 10 x dan okuler 10 x), bila perlu dapat dibesarkan menjadi 400 x ( objektif 40 x dan okuler 10 x).
  8. Baca hasil pemeriksaan tinja berupa hasil positif dan negatif tiap jenis telur cacing, tanpa menghitung jumlah telurnya (KEPMENKES,2006)

3.5.4 Cara Pemeriksaan Kuantitatif

Setelah didapatkan hasil positif pada pemeriksaan kualitatif kemudian dilanjutkan ke pemeriksaan kuantitatif, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Digunakan sarung tangan ( handshoen ) untuk mengurangi infeksi berbagai penyakit.
  2. Objek glass dibersihkan dengan kapas alkohol 70 % untuk menghilangkan lemak.
  3. Ditulis nomor kode pada glass objek dengan spidol sesuai dengan yang tertulis dengan wadah sampel
  4. Tinja disaring menggunakan kawat saring untuk mengurangi sisa makanan yang kasar, ditampung hasil saringan dengan cawan petridish.
  5. Tinja diletakan karton yang berlubang (setara dengan 40 mgr berat tinja) di atas slide kemudian masukan tinja yang sudah disaring pada lubang tersebut hingga permukaannya rata dengan karton.
  6. Diangkat karton yang berlubang tersebut dan tutuplah dengan selofan (digantikan dengan plastik jenis mika) yang sudah direndam dengan larutan kato.
  7. Ratakan dengan tutup karet hingga merata.
  8. Didiamkan lebih kurang sediaan selama 20 – 30 menit.
  9. Diperiksa dengan perbesaran lemah 100 x ( objektif 10 x dan okuler 10 x), bila diperlukan dapat dibesarkan 400 x ( objektif 40 x dan okuler 10 x)
  10. Hitung jumlah tiap jenis telur cacing ( Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang) yang ada pada sediaan tersebut.

(KEMENKES,2006)

3.6 Alur Penelitian

Kerangka penelitian ini terdiri dari :



3.7 Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan berupa data primer. Data primer berupa data yang didapat dari pemeriksaan laboratorium dan kuisoner.

3.8 Analisis Data

Data yang diperoleh diklasifikasikan intensitas infeksinya dan dilakukan perhitungan persentase terhadap intensitas infeksi soil transmitted helmintes yang terjadi. Kemudian data hasil quisioner dan data kecacingan di analisis dengan Chi Square.

3.8.1 Cara Menghitung Telur

Hasil pemeriksaan secara kuantitatif merupakan intensitas infeksi, yaitu jumlah telur merupakan jumlah telur per gram tinja (EPG) tiap jenis cacing. Dengan rumus :

  1. Intensitas Ascaris lumbricoides = jumlah telur A. lumbricoides x 1000 mgr

40 mgr

  1. Intensitas trichuris trichiura = jumlah telur Trichuris trichiura x 1000 mgr

40 mgr

  1. Intensitas cacing tambang = jumlah telur cacing tambang x 1000 mgr

40 mgr

(KEMENKES, 2006)

3.8.2 Klasifikasi Intensitas Telur

Infeksi Ringan : Ascaris lumbricoides : 1 – 4.999 EPG

Trichuris Trichiura : 1 – 999 EPG

Cacing tambang : 1 – 1.999 EPG

Infeksi Sedang : Ascaris lumbricoides : 5.000 – 49.999 EPG

Trichuris Trichiura : 1.000 – 9.999 EPG

Cacing tambang : 2.000 – 3.999 EPG

Infeksi Berat : Ascaris lumbricoides : ≥ 50.000 EPG

Trichuris Trichiura : ≥ 10.000 EPG

Cacing tambang : ≥ 4.000 EPG

(KEMENKES, 2006)

3.8.3 Persentase Klasifikasi Intensitas Infeksi

Rumus perhitungan persentase Soil Transmitted Helmintes (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan Cacing tambang) klasifikasi infeksi per seluruh sampel yang diperiksa, dengan rumus:

Infeksi ringan = Jumlah sampel dalam klasifikasi ringan x 100%

Jumlah seluruh sampel

Infeksi sedang = Jumlah sampel dalam klasifikasi sedang x 100%

Jumlah seluruh sampel

Infeksi berat = Jumlah sampel dalam klasifikasi berat x 100%

Jumlah seluruh sample

(KEMENKES, 2006)

Reaksi:

0 komentar: