Kanker servik jadi pembunuh wanita

Tahukah Anda, bahwa dalan setiap jam wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks atau lebih dikenal dengan kanker mulut rahim. Bahkan dalam setiap menit wanita di seluruh dunia meninggal karna kanker yang mematikan ini.

Beda Hormon LH dan FSH

FSH dan LH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior, sebuah kelenjar kecil yang hadir di bagian bawah otak. FSH pada dasarnya menyebabkan pematangan sel telur di dalam folikel dalam tubuh wanita.

Manfaat Bawang Putih

Khasiat atau manfaat bawang putih ternyata tidak hanya untuk menyedapkan atau sebagai bumbu masakan saja, namun ternyata banyak hal lain yg dapat di manfaatkan dari bawang puth tersebut terutamanya untuk dunia kesehatan.

Toko Kayumanis

Selamat datang di Toko Kayumanis version Online Shop Kami menjual T-shirt, kaos oblong dan jaket T-shirt, kaos oblong dan jaket yang kami jual menggunakan bahan yang berkualitas tinggi, kelebihan dari T-shirt, kaos oblong dan jaket di Toko kami dapat anda tentukan sendiri desainnya, pola ataupun grafisnya sesusai keinginan anda sehingga dapat dipastikan tidak ada T-shirt, kaos oblong dan jaket dari Toko kami yang mempunyai motif yang sama.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 28 Maret 2011

Apa itu demam berdarah ?

Penyakit demam berdarah adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Dikenal bermacam-macam jenis virus penyebab penyakit demam berdarah, tetapi di Indonesia hanya terdapat 2 jenis virus penyebab demam berdarah yaitu virus dengue dan virus chikungunya. Diantara kedua jenis virus yang terdapat di negeri kita, virus dengue merupakan penyebab terpenting dari demam berdarah. Oleh karena itu, penyakit demam berdarah yang kita kenal tepatnya bernama demam berdarah dengue, sesuai dengan nama virus penyebab.
Virus dengue sebagai penyebab penyakit demam berdarah dengue, merupakan mikroorganisme yang sangat kecil hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Virus hanya dapat hidup di dalam sel hidup, maka demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel manusia yang ditempati terutama untuk kebutuhan protein. Apabila daya tahan tubuh seseorang yang terkena infeksi virus tersebut rendah, sebagai akibatnya sel jaringan akan semakin rusak bila virus tersebut berkembang banyak maka fungsi organ tubuh tersebut baik, maka akan sembuh dan timbul kekebalan terhadap virus dengue yang pernah masuk ke dalam tubuhnya.
Penyakit demam berdarah dengue mengenai seseorang melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk yang menularkan penyakit adalah nyamuk betina dewasa. Nyamuk betina memerlukan darah manusia atau binatang untuk hidup dan berkembang biak. Apabila di sekitar tempat bersarang nyamuk tersebut dijumpai seseorang yang sedang sakit demam berdarah penyakit demam berdarah dengue ringan atau berat. Bila daya tahan tubuh baik dan virus tidak ganas, maka derajat penyakit tidak berat. Sebaliknya apabila daya tahan tubuh rendah seperti pada anak-anak, penyakit infeksi dengue ini dapat menjadi berat bahkan dapat mematikan.
Seperti halnya virus yang lain (misalnya influenza, campak) sebagian besar penderita anak sembuh dengan sendirinya, baik diobati maupun tidak diobati oleh karena penyakit virus bersifat self limiting disease. Jadi, penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus mempunyai keunikan yaitu datang mendadak, penyakit akan berjalan terus walaupun diobati, dan akhirnya akan sembuh dengan sendirinya tergantung dari ketahanan tubuh orang yang terkena. Jadi, apa gunanya diobati? Sebenarnya yang diobati adalah gejala yang timbul sebagai ‘akibat ulah’ virus yang berakhir timbul gejala demam, syok, maupun perdarahan, oleh karena sampai sekarang belum ada obat yang dapat membunuh virus dengue, maka harapan lainnya adalah dibuatnya vaksin dengue, yang sampai saat ini masih dalam taraf penelitian dan belum beredar.
Siapa Saja yang Terkena Demam Berdarah Dengue?
Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang senantiasa ada sepanjang tahun di negeri kita, oleh karena itu disebut penyakit endemis. Penyakit ini menunjukkan peningkatan jumlah orang yang terserang setiap 4-5 tahun. Kelompok umur yang sering terkena adalah anak-anak umur 4-10 tahun, walaupun dapat pula mengenai bayi dibawah umur 1 tahun. Akhir-akhir ini banyak juga mengenai orang dewasa muda umur 18-25 tahun. Laki-laki dan perempuan sama-sama dapat terkena tanpa terkecuali.
Cara hidup nyamuk terutama nyamuk betina yang menggigit pada pagi dan siang hari, kiranya menjadi sebab mengapa anak balita mudah terserang demam berdarah. Nyamuk Aedes yang menyenangi tempat teduh, terlindung matahari, dan berbau manusia, oleh karena itu balita yang masih membutuhkan tidur pagi dan siang hari seringkali menjadi sasaran gigitan nyamuk. Sarang nyamuk selain di dalam rumah, juga banyak dijumpai di sekolah, apalagi bila keadaan kelas gelap dan lembab. Sasaran berikutnya adalah anak sekolah yang pada pagi dan siang hari berada di sekolah. Disamping nyamuk Aedes aegypti yang senang hidup di dalam rumah, juga terdapat nyamuk Aedes albopictus yang dapat menularkan penyakit demam berdarah dengue. Nyamuk Aedes albopictus hidup di luar rumah, di kebun yang rindang, sehingga anak usia sekolah dapat juga terkena gigitan oleh nyamuk kebun tersebut di siang hari tatkala sedang bermain. Faktor daya tahan anak yang belum sempurna seperti halnya orang dewasa, agaknya juga merupakan faktor mengapa anak lebih banyak terkena penyakit demam berdarah dengue dibandingkan orang dewasa.
Di perkotaan, nyamuk sangat mudah terbang dari satu rumah ke rumah lainnya dari rumah ke kantor, atau tempat umum seperti tempat ibadah, dan lain-lain. Oleh karena itu, orang dewasa pun menjadi sasaran berikutnya setelah anak-anak. Terutama dewasa muda (18-25 tahun) sesuai dengan kegiatan kelompok ini pada siang hari di luar rumah. Walaupun demikian, pada umumnya penyakit demam berdarah dengue dewasa lebih ringan daripada anak.
Gejala Awal
Gejala klinis demam berdarah dengue pada saat awal penyakit (hari demam 1-3) dapat menyerupai penyakit lain seperti radang tenggorokan, campak, dan tifus. Gejala yang membedakan satu dengan yang lain yaitu gejala yang menyertai gejala demam berdarah seperti tertera di atas.
a. Demam
Demam pada penyakit demam berdarah ini secara mendadak dan berkisar antara 38,50C-400C, Pada anak-anak terjadi peningkatan suhu yang mendadak. Pagi hari anak masih dapat sekolah dan bermain, mendadak sore harinya mengeluh demam sangat tinggi. Demam akan terus menerus baik pada pagi maupun malam hari dan hanya menurun sebentar setelah diberikan obat penurun panas. Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa pada saat gejala awal seringkali tidak begitu dihiraukan oleh karena demam datang dengan tiba-tiba. Mereka tetap melakukan kegiatan seperti biasanya dan baru merasakan sakit bila timbul gejala berikutnya yaitu lesu, tidak enak makan dan lain sebagainya.
b. Lesu
Disamping demam tinggi dan mendadak penderita demam berdarah dengue akan mengeluh atau terlihat lesu dan lemah. Seluruh badan lemah seolah tidak ada kekuatan, pada anak yang masih kecil tidak dapat mengeluh tetapi anak yang biasanya aktif kali ini tidak mau bermain lagi dan lebih senang diam duduk atau tiduran. Badan akan makin bertambah lemah oleh karena nafsu makan menghilang sama sekali baik minum maupun makan, rasa mual dan rasa tidak enak di perut dan didaerah ulu hati menyebabkan semua makanan dan minuman yang dimakan keluar lagi. Rasa mual, muntah dan nyeri pada ulu hati akan makin bertambah bila penderita minum obat penurun panas yang dapat merangsang lambung (lihat Bagian 3 mengenai Pengobatan). Pada anak kecil dapat disertai mencret 3-5 kali sehari, cair, tanpa lendir. Jadi, bila seorang anak menderita mencret disertai demam tinggi kita harus waspada demam berdarah apalagi terjadi pada bayi atau anak kecil di bawah umur 2 tahun. Demam berdarah dengue sebagai penyakit virus sering menyebabkan muka dan badan anak kemerahan seperti “udang rebus” (flushing) dan bila dipegang badan sangat panas.
c. Nyeri Perut
Nyeri perut merupakan gejala yang penting pada demam berdarah dengue. Gejala ini tampak jelas pada anak besar atau dewasa oleh karena mereka telah dapat merasakan. Nyeri perut dapat dirasakan di daerah ulu hati dan daerah di bawah lengkung iga sebelah kanan. Nyeri perut di bawah lengkung iga sebelah kanan lebih mengarah pada penyakit demam berdarah dengue dibandingkan nyeri perut pada ulu hati. Penyebab dari nyeri perut di bawah lengkung iga sebelah kanan ini adalah pembesaran hati (liver) sehingga terjadi peregangan selaput yang membungkus hati. Pada gejala selanjutnya dapat diikuti dengan perdarahan pembuluh darah kecil pada selaput tersebut. Sedangkan nyeri perut di daerah ulu hati yang menyerupai gejala sakit lambung (sakit maag) dapat juga disebabkan oleh rangsangan obat penurun panas khususnya obat golongan aspirin atau asetosal. Untuk memastikan adanya nyeri perut ini dapat dilakukan penekanan (perabaan disertai penekanan) pada daerah ulu hati dan di bawah lengkung iga sebelah kanan, terutama pada anak yang belum dapat mengeluh. Perlu diperhatikan bahwa nyeri perut dapat menyerupai gejala radang usus buntu. Letak usus buntu pada daerah perut sebelah kanan bawah dekat pangkal paha kanan. Jadi bila terdapat peradangan usus buntu akan terasa sakit bila ditekan di daerah perut sebelah kanan bawah, tetapi pada anak-anak perasaan nyeri perut dapat menjalar dan dirasakan pada daerah pusar sehingga kadangkala sulit dibedakan dengan nyeri perut pada demam berdarah dengue. Apalagi gejala radang usus buntu juga disertai dengan demam, muntah, dan nyeri perut. Pada pengalaman kami sekitar 2/3 penderita demam berdarah dengue pada anak besar dan dewasa mengeluh nyeri perut, oleh karena itu bila terdapat nyeri perut disertai demam tinggi harus waspada.
d. Tanda Perdarahan
Pada awal penyakit demam berdarah dengue, tanda perdarahan yang terjadi adalah perdarahan yang tergolong ringan. Perdarahan kulit merupakan perdarahan yang terbanyak ditemukan. Bintik kemerahan sebesar ujung jarum pentul menyerupai bintik gigitan nyamuk. Maka, untuk membedakan bintik merah yang disebabkan oleh karena perdarahan pada demam berdarah dengan bintik karena gigitan nyamuk, carilah juga di daerah yang terlindung pakaian (misalnya dada dan punggung) sehingga hampir dapat dipastikan terlindung dari gigitan nyamuk. Kemudian coba tekan bintik merah tersebut: bila menghilang itu berarti gigitan nyamuk dan sebaliknya bila menetap itu adalah perdarahan kulit, juga pada perabaan pada gigitan nyamuk akan teraba menonjol sedangkan pada demam berdarah bintik tersebut rata dengan permukaan kulit. Hal ini karena pada gigitan nyamuk bintik merah disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah sebagai akibat dari reaksi terhadap “racun” yang terdapat di dalam kelenjar liur nyamuk dan bukan karena perdarahan kulit. Bintik merah pada demam berdarah tidak bergerombol seperti halnya bintik merah pada campak, tetapi terpisah satu-satu.
Perdarahan lain yang sering ditemukan adalah mimisan. Terutama pada anak perlu diperhatikan apakah anak sering menderita mimisan sebelumnya. Mimisan, terbanyak disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di daerah selaput lendir hidung yang disebabkan oleh rangsangan baik dari dalam ataupun dari luar tubuh seperti demam tinggi, udara yang terlampau dingin, udara yang terlampau panas, terlampau letih sehingga kurang istirahat atau makan kurang teratur, dan sebagainya. Bila anak pernah menderita mimisan sebelumnya, maka mimisan mungkin tidak berbahaya; tetapi pada seorang anak yang belum pernah mimisan kemudian demam tinggi dan mimisan maka perlu diwaspadai. Gejala perdarahan lain yang dapat dijumpai adalah haid yang berlebihan pada anak perempuan atau lebam pada kulit bekas pengambilan darah, dan perdarahan gusi.
e. Gejala Lain
Seorang anak yang mempunyai riwayat kejang bila demam, pada saat demam tinggi dapat terjadi kejang. Walaupun harus difikirkan juga adanya penyakit infeksi lain seperti radang otak atau selaput otak, terutama bila anak setelah kejang tidak sadar kembali. Gejala lain yang sering dikeluhkan oleh anak besar atau orang dewasa menyertai penyakit demam berdarah dengue adalah nyeri kepala, nyeri di belakang mata, rasa pegal-pegal pada otot dan sendi. Keluhan-keluhan ini pada orang dewasa sangat mengganggu sehingga cepat mencari pengobatan, sedangkan anak-anak biasanya belum mengeluh atau keluhan tersebut tidak dirasakan mengganggu.
GEJALA LANJUTAN
Gejala selanjutnya terjadi pada hari sakit ke3-5, merupakan saat-saat yang berbahaya pada penyakit demam berdarah dengue. Suhu badan akan turun, jadi seolah-olah anak sembuh oleh karena tidak demam lagi. Yang perlu diperhatikan saat ini, adalah tingkah laku si anak. Apabila demam menghilang, anak tampak segar dan mau bermain serta mau makan/ minum biasanya termasuk demam dengue ringan; tetapi apabila demam menghilang tetapi anak bertambah lemah, ingin tidur, dan tidak mau makan/ minum apapun apalagi disertai nyeri perut, ini merupakan tanda awal terjadinya syok. Keadaan syok merupakan keadaan yang sangat berbahaya oleh karena semua organ tubuh akan kekurangan oksigen dan hal ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.
Tanda-tanda syok harus dikenali dengan baik bila kita merawat anak yang dicurigai menderita demam berdarah, atau anak yang telah demam tinggi selama 3 hari atau lebih. Anak tampak gelisah atau bila syok berat anak menjadi tidak sadarkan diri, nafas cepat seolah-olah sesak nafas. Seluruh badan teraba dingin dan lembab, perasaan dingin yang paling mudah dikenal bila kita meraba kaki dan tangan penderita. Bibir dan kuku tampak kebiruan menggambarkan pembuluh darah di bagian ujung mengkerut sebagai kompensasi untuk memompa darah yang lebih banyak ke jantung. Anak akan merasa haus, serta kencing berkurang atau tidak ada kencing sama sekali. Syok akan mudah terjadi bila anak sebelum terjadi syok, kurang atau tidak mau minum.
Apabila syok yang telah diterangkan sebelumnya tidak diobati dengan baik maka akan menyusul gejala berikutnya yaitu perdarahan dari saluran cerna. Perdarahan saluran cerna ini dapat ringan atau berat tergantung dari berapa lama syok terjadi sampai diobati dengan tepat. Penurunan kadar oksigen di dalam darah akan memicu terjadinya perdarahan, makin lama syok terjadi makin rendah kadar oksigen di dalam darah maka makin hebat perdarahan yang terjadi. Pada awalnya perdarahan saluran cerna tidak terlihat dari luar, oleh karena terjadi di dalam perut. Yang akan tampak hanya perut yang semakin lama semakin membuncit dan nyeri bila diraba. Selanjutnya akan terjadi muntah darah dan berak darah/ berak hitam. Pada saat terjadi perdarahan hebat penderita akan sangat kesakitan, tetapi bila syok sudah lama terjadi penderita pada umumnya sudah tidak sadar lagi. Perdarahan lain yang dapat terjadi adalah perdarahan di dalam paru. Anak akan lebih sesak lagi, maikn gelisah, dan sangat pucat. Kematian makin dipercepat dengan adanya perdarahan di dalam otak.
Pada hari sakit keenam dan seterusnya, merupakan saat penyembuhan. Saat ini demam telah menghilang dan suhu menjadi normal kembali, tidak dijumpai lagi perdarahan baru, dan nafsu makan timbul kembali. Pada umumnya, setelah seseorang sembuh dari sakitnya anak masih tampak lemah, muka agak sembab disertai perut agak tegang tetapi beberapa hari kemudian kondisi badan anak akan pulih kembali normal tanpa gejala sisa. Sebagai tanda penyembuhan kadangkala timbul bercak-bercak merah menyeluruh di kedua kaki dan tangan dengan bercak putih diantaranya, pada anak besar mengeluh gatal pada bercak tersebut. Jadi, bila telah timbul bercak merah yang sangat luas di kaki dan tangan anak itu pertanda anak telah sembuh dan tidak perlu dirawat lagi.
Pertolongan Pertama pada Penderita Demam Berdarah Dengue
Seorang yang menderita penyakit demam berdarah pada awalnya akan menderita demam tinggi. Dalam keadaan demam ini tubuh banyak kekurangan cairan oleh karena terjadi penguapan yang lebih banyak daripada biasa. Cairan tubuh makin berkurang bila anak terus menerus muntah atau tidak mau minum. Maka pertolongan pertama yang terpenting adalah memberikan minum sebanyak-banyaknya.
Berikanlah minum kirakira 2 liter (8 gelas) dalam satu hari atau 3 sendok makan setiap 15 menit. Minuman yang diberikan sesuai selera anak misalnya air putih, air teh manis, sirup, sari buah, susu, oralit, softdrink, dapat juga diberikan nutricious diet yang banyak beredar saat ini. Gunakan Hydroxygen Plus setiap jam (5 tetes didalam 1 gelas air) akan menjamin tercukupinya kebutuhan cairan tubuh dan menguatnya pertahan tubuh terhadap infeksi akibat virus teresebut. Dengan memberikan minum banyak diharapkan cairan dalam tubuh tetap stabil. Untuk memantau bahwa cairan tidak kurang, perhatikan jumlah kencing anak. Apabila anak banyak buang air kecil, minimal 6 kali dalam satu hari berarti jumlah cairan yang diminum anak mencukupi.
Demam yang tinggi demikian juga akan mengurangi cairan tubuh dan dapat menyebabkan kejang pada anak yang mempunyai riwayat kejang bila demam tinggi, oleh karena itu harus segera diberikan obat penurun panas. Untuk menurunkan demam, berilah obat penurun panas. Untuk jenis obat penurun panas ini harus dipilih obat yang berasal dari golongan parasetamol atau asetaminophen, jangan diberikan jenis asetosal atau aspirin oleh karena dapat merangsang lambung sehingga akan memperberat bila terdapat perdarahan lambung. Kompres dapat membantu bila anak menderita demam terlalu tinggi sebaiknya diberikan kompres hangat dan bukan kompres dingin, oleh karena kompres dingin dapat menyebabkan anak menggigil. Sebagai tambahan untuk anak yang mempunyai riwayat kejang demam disamping obat penurun panas dapat diberikan obat anti kejang.
Pada awal sakit yaitu demam 1-3 hari, seringkali gejala menyerupai penyakit lain seperti radang tenggorokan, campak, atau demam tifoid (tifus), oleh sebab itu, diperlukan kontrol ulang ke dokter apabila demam tetap tinggi 3 hari terus menerus apalagi anak bertambah lemah dan lesu. Untuk membedakan dengan penyakit lain seperti tersebut di atas, pada saat ini diperlukan pemeriksaan darah dapat dilakukan. Pemeriksaan darah diperlukan untuk mengetahui apakah darah cenderung menjadi kental atau lebih. Bila keadaan anak masih baik, artinya tidak ada tanda kegawatan dan hasil laboratorium darah masih normal, maka anak dapat berobat jalan. Kegawatan masih dapat terjadi selama anak masih demam, sehingga pemeriksaan darah seringkali perlu diulang kembali.
Kapan Penderita Harus Dibawa ke Rumah Sakit ?
Seorang yang diduga menderita demam berdarah akan mengalami bahaya bila mendapat syok dan perdarahan hebat. Untuk mencegah hal-hal tersebut, maka penderita dianjurkan dirawat di rumah sakit. Seseorang harus dirawat apabila menderita dianjurkan dirawat di rumah sakit. Seseorang harus dirawat apabila menderita gejala-gejala di bawah ini:
Demam terlalu tinggi (lebih dari 390C atau lebih)
Muntah terus menerus
Tidak dapat atau tidak mau minum sesuai anjuran
Kejang
Perdarahan hebat, muntah atau berak darah
Nyeri perut hebat
Timbul gejala syok, gelisah atau tidak sadarkan diri, nafas cepat, seluruh badan teraba dan lembab, bibir dan kuku kebiruan, anak merasa haus, kencing berkurang atau tidak ada sama sekali
Hasil laboratorium menunjukkan peningkatan kekentalan darah dan atau penurunan jumlah trombosit.
Perlu diingatkan, pada saat mengantar penderita untuk dirawat; sesaat setelah tiba di rumah sakit segera beritahukan kepada perawat bahwa anak ini kemungkinan menderita demam berdarah. Pemberitahuan ini perlu disampaikan kepada perawat atau dokter yang menerima pertama kali untuk mendapat pertolongan lebih cepat. Penderita dalam keadaan kegawatan, memerlukan pertolongan segera dan makin cepat ditolong makin besar kemungkinan untuk sembuh kembali.
Apabila salah satu anggota keluarga menderita sakit demam berdarah, akan mudah menular melalui gigitan nyamuk (ingat sifat nyamuk yang dapat menggigit beberapa orang secara berturut-turut. Jadi, bila ada anggota keluarga lain yang menderita demam segera berobat untuk memastikan apakah tertular demam berdarah atau tidak.
PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE
Pencegahan penyakit demam berdarah mencakup
• Terhadap nyamuk perantara yaitu
o pemberantasan nyamuk Aedes aegypti induk dan telurnya
• Terhadap diri kita
o memperkuat daya tahan tubuh
o melindungi dari gigitan yamuk
• Terhadap lingkungan dengan tujuan mengubah perilaku hidup sehat terutama kesehatan lingkungan
Penyuluhan Bagi Masyarakat
Dasar pencegahan demam berdarah adalah memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat bagaimana cara memberantasan nyamuk dewasa dan sarang nyamuk yang dikenal sebagai pembasmian sarang nyamuk atau PSN. Demi keberhasilan pencegahan demam berdarah, PSN harus dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di rumah, di sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat umum seperti tempat ibadah, makam, dan lain-lain. Dengan demikian masyarakat harus dapat mengubah perilaku hidup sehat terutama meningkatkan kebersihan lingkungan.
Cara Memberantas Jentik
Cara memberantas jentik dilakukan dengan cara 3 M yaitu menguras, menutup, dan mengubur, artinya :
* Kuras bak mandi seminggu sekali (menguras),
* Tutup penyimpanan air rapat-rapat (menutup),
* Kubur kaleng, ban bekas, dll. (mengubur).
Kebiasaan-kebiasaan seperti mengganti dan bersihkan tempat minum burung setiap hari atau mengganti dan bersihkan vas bunga, seringkali dilupakan. Kebersihan di luar rumah seperti membersihkan tanaman yang berpelepah dari tampungan air hujan secara teratur atau menanam ikan pada kolam yang sulit dikuras, dapat mengurangi sarang nyamuk.
Pada kolam atau tempat penampungan air yang sulit dikuras dapat diraburkan bubuk abate yang dapat ditaburkan bubuk abate yang dapat membunuh jentik. Bubuk abate ini dapat dibeli di apotek.
Pedoman Penggunaan Bubuk Abate (Abatisasi)
Satu sendok makan peres (10 gram) untuk 100 liter air
Dinding jangan disikat setelah ditaburi bubuk abate
Bubuk akan menempel di dinding bak/ tempayan/ kolam
Bubuk abate tetap efektif sampai 3 bulan
Cara Memberantas Nyamuk Dewasa
* Untuk memberantas nyamuk dewasa, upayakan membersihkan tempat-tempat yang disukai oleh nyamuk untuk beristirahat.
* Kurangi Tempat Untuk Nyamuk Beristirahat
* Jangan menggantung baju bekas pakai (nyamuk sangat suka bau manusia)
* Pasang kasa nyamuk pada ventilasi dan jendela rumah
* Lindungi bayi ketika tidur di pagi dan siang hari dengan kelambu
* Semprot obat nyamuk rumah pagi & sore (jam 8.00 dan 18.00)
* Perhatikan kebersihan sekolah, bila kelas gelap dan lembab, semprot dengan obat nyamuk terlebih dahulu sebelum pelajaran mulai
* Pengasapan (disebut fogging) hanya dilakukan bila dijumpai penderita yang dirawat atau menginggal.
* Untuk pengasapan diperlukan laporan dari rumah sakit yang merawat.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Minggu, 27 Maret 2011

Peningkatan Teknologi di bidang pangan.


Makanan adalah hal yang sangat di butuhkan manusia demia kelangsungan hidupnya. Makan memang hampir keseluruhannya berasal dari alam. Alam memang telah menyidiakannya untuk kita namun tidak semua makanan dapat langsung kita makan ada mekanisme yang harus dilalui.
Makanan yang ada dan hanya itu-itu saja tentu membuat kita jenuh, namun teknologi kembali memberi solusinya. Pada jaman dahulu siapa sangka kacang kedelai dapat berubah menjadi banyak jenis makanan ataupun minuman, sebut saja tempe, kecap, dan sari kedelai, yang dapat kita nikmati saat ini. Tempe adalah hasil teknologi yang ada di bidang makanan dimana teknologi menggunakan jamur untuk membantu pembuatannya nya. Selain itu jamur juga digunakan dalam pembuatan tape dan minuman beralkohol.
Banyak lagi jenis makanan lain yang menggunakan teknologi dapat cara pembuatannya tapi tahukan kamu bahwa teknologi pangan juga dapat memnyebabkan gangguan kesehatan. Zat pewarnaan makanan dan pengawet makan adala contohnya terlihat seram ya apalagi menggunakan zat pengawet dan pewarna yang tidak sesuai dengan apa yang terlah ditetapkan. Tetap saja terjadi kemudahan yang diberikan teknogi akan menimbulkan efk baik dan buruk. Jadi kita tetap harus waspada

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 26 Maret 2011

PENYAKIT KECACINGAN MASIH DIANGGAP SEPELE

Penyakit kecacingan atau biasa disebut cacingan masih dianggap sebagai hal sepele oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal jika dilihat dampak jangka panjangnya, kecacingan menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi penderita dan keluarganya.

Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, Prof. Tjandra Yoga Aditama, Sp. P (K), MARS, DTM & H saat menghadiri acara sosialisasi penyakit Kecacingan yang diselenggarakan oleh Johnson & Johnson, Kamis (8/7/2010) di Jakarta.

Prof. Tjandra mengatakan kerugian akibat kecacingan tidak terlihat secara langsung, karena itu penyakit ini sering dianggap sepele oleh masyarakat. Kecacingan dapat menyebabkan anemia (kurang darah), berat bayi lahir rendah, gangguan ibu bersalin, lemas, mengantuk, malas belajar, IQ menurun, prestasi dan produktivitas menurun.

Menurut Prof. Tjandra, jenis cacing yang banyak menyerang adalah cacing gelang (Ascaris Lumbricoides), cacing tambang (Ankylostoma Duodenale dan Necator Americanus), dan cacing cambuk (Trichuris Trichuria). Penyakit ini pada umumnya menyerang pada anak-anak karena daya tahan tubuhnya masih rendah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah iklim tropis, kesadaran akan kebersihan yang masih rendah, sanitasi yang buruk, kondisi sosial ekonomi yang rendah, serta kepadatan penduduk.

Dikatakan lebih lanjut, satu ekor cacing dapat menghisap darah, karbohidrat dan protein dari tubuh manusia. Cacing gelang menghisap 0,14 gram karbohidrat & 0,035 gram protein, cacing cambuk menghisap 0,005 mL darah, dan cacing tambang menghisap 0,2 mL darah. Sekilas memang angka ini terlihat kecil, tetapi jika sudah dikalkulasikan dengan jumlah penduduk, prevalensi, rata-rata jumlah cacing yang mencapai 6 ekor/orang, dan potensi kerugian akibat kehilangan karbohidrat, protein dan darah akan menjadi sangat besar.

Kerugian akibat cacing gelang bagi seluruh penduduk Indonesia dalam kehilangan karbohidrat diperkirakan senilai Rp 15,4 milyar/tahun serta kehilangan protein senilai Rp 162,1 milyar/tahun. Kerugian akibat cacing tambang dalam hal kehilangan darah senilai 3.878.490 liter/tahun, serta kerugian akibat cacing cambuk dalam hal kehilangan darah senilai 1.728.640 liter/tahun, ujar Prof. Tjandra.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Kementerian Kesehatan melakukan kebijakan operasional berupa kerjasama lintas program seperti kemitraan dengan pihak swasta dan organisasi profesi. Tujuannya untuk memutuskan rantai penularan, menurunkan prevalensi kecacingan menjadi <20% pada tahun 2015, serta meningkatkan derajat kesehatan dan produktivitas kerja. Kegiatan yang dilakukan antara lain sosialisasi dan advokasi, pemeriksaan tinja minimal 500 anak SD per kabupaten/kota, intervensi melalui pengobatan dan promosi kesehatan, meningkatkan kemitraan, integrasi program, pencatatan dan pelaporan serta monitoring-evaluasi. 60% Penduduk Indonesia Cacingan, Kerugian Capai Rp 0,5 T Cacingan jelas tidak boleh disepelekan. Sebab, selain menggerogoti gizi, cacingan menjadikan daya tahan tubuh merosot sehingga penderita mudah terserang beragam penyakit. Serangan cacingan berpengaruh terhadap asupan karbohidrat dan gizi penderita. Kerugian akibat cacingan mencapai sekitar Rp 0,5 triliun atau setara dengan 20 juta liter darah/tahun. Sebagian besar penduduk Indonesia atau 60% dari sekitar 220 juta orang ternyata cacingan alias beternak cacing di dalam usus. Dari angka prevalensi 60% itu, 21% di antaranya cacingan menyerang anak usia sekolah dasar dengan kandungan cacing enam ekor per orang. Data tersebut, diperoleh melalui survei dan penelitian di beberapa provinsi pada 2006. Namun, hasil penelitian sebelumnya (2002-2003), pada 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi antara 2,2% hingga 96,3%,ujar Guru Besar Bidang Ilmu Parasitologi Klinik Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang Prof Dr dr Teguh Wahju Sardjono di Jakarta, kemarin. Ironisnya, menurut Prf Teguh, penyakit yang masuk kategori parasit ini tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Padahal, kerugian akibat infeksi cacing tersebut cukup tinggi. apalagi kalau melihat kondisi masyarakat Indonesia yang lebih dari 30 juta jiwa berada dibawah garis kemiskinan. Cacing sesungguhnya tidak memandang bulu untuk menginfeksi manusia. Dengan bermacam perantara, cacing dapat mudah masuk ke tubuh manusia yang kebanyakan melalui makanan yang tidak higienis dalam penyajiannya. Meski menginfeksi manusia, cacing tidak meninggalkan sifat aslinya yang senang dengan lingkungan yang kotor dan lembab. Hal inilah yang menyebabkan infeksi cacing kerap ditemukan pada lingkungan masyarakat yang kumuh dan lembab. Namun demikian, mereka yang selalu menjaga kebersihan akan bebas cacing 100 %. Karena, manusia tidak dapat menghindari kontak dengan orang lain yang mungkin membawa telur cacing. Pada kasus ringan, cacingan tidak menimbulkan gejala nyata, namun pada kasus-kasus infeksi berat bisa berakibat fatal. Ascaris pada cacing dapat bermigrasi ke organ lain yang menyebabkan peritonitis, akibat perforasi usus dan ileus obstruksi akibat bolus yang dapat berakhir dengan kematian. Infeksi usus akibat cacingan, juga berakibat menurunnya status gizi penderita yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun, sehingga memudahkan terjadinya infeksi penyakit lain, termasuk HIV/AIDS, tuberculosis, dan malaria. Pantat gatal, merupakan salah satu gejala untuk infeksi dari jenis cacing enterobius vermicularis. Pada spesies cacing ini, indung cacing keluar dari lubang anus biasanya di malam hari ketika kita tidur, dan meletakkan telurnya di daerah sekeliling anus (peri-anal). Dengan menggunakan selotip, contoh telur-telur dapat di ambil dan dapat dilihat dengan bantuan mikroskop untuk diagnosa. Cacingan dapat dicegah dengan mencuci badan, terutama tangan dan kaki dengan air dan sabun dengan bersih. Apabila salah satu anggota keluarga terkena cacingan, maka semua orang di rumah harus dirawat. Seprai, handuk dan pakaian yang dipakai pada 2 hari sebelumnya harus dicuci dengan dengan air hangat dan detergen.


Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Jumat, 25 Maret 2011

Keamanan dan teknologi


Keamanan adalah keinginan yang dimiliki setiap orang. Bahkan tak tanggung-tanggung banyak orang yang membayar mahal untuk memperolehnya. Namun saat ini lagi-lagi akan membantu kita sebut saja wabcam atau spycam yang dapat membantu mengawasi setiap sudut tempat yang kita inginkan dan merekamnya. Sangat efisien bukan?
Kecanggihan selanjutnya adalah pintu yang menggunakan kunci kartu sampai sidik jari. Semua itu di buat untuk memperoleh rasa aman yang tinggi. Dalam penyimpanan arsippun kita tidak perlu repot-repot menyusun kertas yang banyak cukup dengan bank data kita dapat menyimpannya , dan masih banyak kemajuan dan kemudahan lainnya. Tapi lagi-lagi kemajuan teknolagi disalah gunakan kenapa? Ada pihak-pahak yang tidak bertanggung jawab untuk mencuri arsip-arsip rahasia untuk kepentinag dirinya sendiri, hal yang sering terjadi pada penggunaan ATM yang memakai magnet. Hal ini sering terjadi, tidak hanya di Indonesia banyak Negara lain pula yang terkena masalah ini. Berita yang paling hangat adalah pembobolan situs rahasia milik Negara yang dilakukan oleh suatu pihak, dan lagi-lagi teknologi digunakan untuk aksinya tersebut.
Jadi menurut kalian apakah teknologi membantu keamanan atau merusaknya?


Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Kamis, 24 Maret 2011

Internet membantu kehidupan kita

Ada beragam macam masalah dalam kehidupan ini mulai dari yang berbau financial sampai yang non financial. Tentunya kita butuh bantuan dari seseorang atau sesuatu untuk membantu mencarikan jalan keluarnya.
Tapi sadar kah anda bahwa teknologi saat ini mungkin bisa sedikit memberikan solusi. Untuk masalah non financial ataupun financial kita. Internet adalah salah satu bentuk teknologi saat ini yang dapat diandalakan untuk mencari solusinya.
Kita dapat bertanya tentang masalah kita melalui forum-forum yang tersedia juga dapat mencari peluang bisnis disini. Jangan takut untuk mencoba walau pada awalnya mungkin akan bigung namun ketika mengerti anda akan mengetahui sangat berguna selalu internet untuk kita.
Sebut saja facebook dan twitter adalah forum atau situs yang berguna untuk mencari teman. Kemudahan nya kita tidak perlu pergi jauh untu mendapatkan teman yang beda propinsi bahkan Negara. Kemudian banyak peluang bisnis yang disediakan disini mulai dari situs jual beli online sampai situs-situs artikel uang komersial.
Anada bisa mendapatkan teman, uang atau apapun yang anda inginkan di internet.
So internet can help our problem

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 23 Maret 2011

Teknologi itu selalu berkembang

Teknologi adalah suatu cabang ilmu yang bergerak di bidang teknik. Teknik membantu kita dalam berbadai hal contoh kecilnya adalah saat kita menimba air jika ilmu teknik tidak menemukan mekanisme kantrol mungkin sampai saat ini kita masih kerepotan hanya untuk menimba air.
Ilmu teknolagi berkembang saat pesat mulai dari teknologi elektronik yang mengembangkan banyak jenis ponsel, dan alat elektronik laennya sampai teknologi kesehatan yang dapat mendiagnosa penyakit yang sulit sekalipun.
Dengan berkembangnya ilimu teknolagi setiap waktu tentunya harus diimbangi juga dengan kemajuan pengetahuan SDM nya. Jika tidak kita akan dibodohi dengan teknologi itu sendiri.
Teknologi yang maju dapat menolong kita atau menyulitakan kita baca artikel………..untuk lebuh jelasnya. Tentu dengan sulitnya menyesuaikan diri dengan teknolagi akan membuat kita selalu ketinggalan lalu bagaimana kiatnya ?..
1. hal yang sangat mudah tapi terkadang sangat disepelakan yaitu membaca user guide atau buku pentunjuk pemakaian suatu produk atau alat.
2. jangan malu bertanya jika anda tidak mengerti
3. harus berani mencoba.

mungkin itu itu sedikit artikel saya jka ada ang kurang tolong diberi masukan ya.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Selasa, 22 Maret 2011

Kemoterapi Ajuvan

Pemberian kemoterapi dosis tunggal telah dapat dibuktikan dan kemudian diperbaiki dengan kemoterapi secara kombinasi, seperti penggunaan kombinasi obat – obat antineoplastik dengan cara kerja yang berbeda dan efek samping terbatas (limited overlapping), dilanjutkan dengan interval masa istirahat. Hasil yang dicapai dengan menggunakan kombinasi kemoterapi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti heterogenitas tumor, sensitifitas terhadap obat dan efek sinergis dari obat – obatan kombinasi tersebut. Walaupun dengan kemoterapi kontrol terhadap tumor telah dapat diperlihatkan secara klinis, namun secara klinis penggunaan kombinasi kemoterapi telah memperlihatkan pengaruh yang besar dengan menunjukkan tidak adanya residual tumor setelah pemberian pengobatan awal. Setelah operasi reseksi total, sebagian besar penyakit kanker mempunyai kemungkinan metastase ke bagian lain jika tidak diberikan kemoterapi profilaksis. Kombinasi kemoterapi pada cara ini disebut kemoterapi ajuvan (adjuvant chemotherapy).
Manfaat pengobatan kemoterapi ajuvan telah diperlihatkan pada sejumlah penelitian prospektif secara acak (random) pada tumor anak dan menunjukkan tidak adanya mikrometastase pada saat operasi 3. Efektifitas / keberhasilan kemoterapi ajuvan mungkin berhubungan dengan perbedaan antara mikrometastase dan metastase yang nyata secara klinis ;
1. Berkurangnya sel – sel tumor
2. Sebagian besar sel – sel berada dalam siklus sehingga peka terhadap kemoterapi (Salmon 1979)
3. Semua sel terkena dengan konsentrasi obat yang adekuat (tidak berhubungan dengan vaskularisasi tumor)
4. Resistensi berkurang (Goldie dan Coldman 1979) 3


Kemoterapi Pre-operatif
Terapi prabedah atau neoadjuvant telah banyak digunakan untuk mencegah / mengatasi beberapa masalah operasi seperti ruptur dari tumor Wilms di tengah – tengah operasi. Pemberian kemoterapi neoajuvan diikuti dengan terapi standar pasca operasi telah memperlihatkan hasil yng lebih baik daripada cara standar sebelumnya (Lemerle dan kawan - kawan 1983) 3. Suatu keuntungan yang besar adalah operasi akan lebih mudah dilaksanakan dan sering tumor dapat diangkat secara utuh, dengan rendahnya insidens sekuele akibat operasi. Yang menarik pada tumor Wilms adalah mengecilnya ukuran tumor dan rendahnya insidens penyebaran setelah diberikan kemoterapi serta memperbaiki prognosis dengan meningkatnya proporsi tumor stadium I (Lamerle dan kawan - kawan 1983). Respons terhadap pengobatan biasanya berdasarkan pada digunakannya lebih dari satu macam obat dan dapat dievaluasi pada pasien secara perorangan sehingga baik digunakan untuk pengobatan pasca operasi. Namun demikian, manfaat dari berbagai obat tunggal terhadap kemoterapi kombinasi belum diketahui. Penelitian aktivitas suatu obat antineoplastik tunggal dapat dilakukan dengan memberikan untuk waktu yang pendek pada tumor kemudian dievaluasi sebelum pemberian kemoterapi kombinasi.

Kemoterapi Dosis Tinggi
Secara eksperimen, sistem trasplantasi tumor serta pengalaman klinis memperkuat kentungan pengobatan kemoterapi dosis tinggi pada tumor padat yang sensitif 3. Namun demikian, definisi kemoterapi dosis tinggi dengan cepat berubah dan tetap merupakan konsep yang dinamis. Sebagai salah satu cara penanganan pasien kanker, telah menjadi lebih komprehensif dan efektif terutama dengan diperkenalkannya faktor – faktor pertumbuhan hematopoeitik. Bila penggunaan kemoterapi dosis tinggi digabung dengan transplantasi sumsum tulang atau bersamaan dengan penanganan sel – sel muda darah perifer (peripheral blood stem cell support), maka disebut kemoterapi megadose.
Agen alkilasi merupakan bahan yang terbaik untuk digunakan dengan dosis yang ditingkatkan selama toksisitas ekstrameduler pada dosis tinggi relatif rendah. Diketahui bahwa tumor yang residif setelah pemberian kemoterapi dosis tinggi merupakan masalah yang penting dan perlu pengobatan. Tumor yang kemosensitif yang tidak diterapi dengan dosis konvensional merupakan calon untuk kemoterapi megadose. Sekarang ini kemoterapi dosis tinggi diikuti dengan infus berulang sumsum tulang autolog atau PSBC pada anak – anak sangat penting terutama untuk pengobatan metastase neuroblastoma, sarkoma Ewing stadium lanjut, tumor otak yang residif dan limfoma yang refrakter. Transplantasi sumsum tulang alogenik dilakukan terutama untuk mengobati leukemia atau setelah induksi pengobatan pasien pada saat risiko tinggi kekambuhan.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Senin, 21 Maret 2011

Kemoterapi

Kemoterapi adalah pengobatan penyakit yang disebabkan oleh agen kimia yang biasanya digunakan untuk terapi kanker. Dasar pengobatan yaitu perbedaan antara sel kanker dan sel normal terhadap reaksi pengobatan sitostatika yang diberikan sendiri – sendiri atau secara kombinasi. Perbedaan tersebut adalah perbedaan sifat biologis, biokimia, reaksi farmakokinetik dan sifat proliferatif. Sebelum membahas mengenai cara kerja masing – masing golongan obat antineoplasma, perlu diketahui dulu hubungan kerja obat antineoplasma dengan siklus sel kanker. Sel tumor dapat berada dalam 3 keadaan yaitu :
1. Yang sedang membelah (siklus proliferatif).
2. Yang dalam keadaan istirahat (tidak membelah, G0).
3. Yang secara permanen tidak membelah. 1
Sel tumor yang sedang membelah terdapat dalam beberapa fase yaitu :
- fase mitosis (M)
- fase pramitosis (G1)
- fase sintesis DNA (S)
- fase pascamitosis (G2) 1

Pada akhir fase G1 terjadi peningkatan RNA disusul dengan fase S yang merupakan saat terjadinya replikasi DNA. Setelah fase S berakhir sel masuk dalam fase pramitosis (G2) dengan ciri – ciri :
- sel berbentuk tetraploid
- mengandung DNA lebih banyak daripada sel fase lain
- masih berlangsungnya sintesis RNA dan protein
Sewaktu mitosis berlangsung (fase M) sintesis protein dan RNA berkurang secara tiba – tiba, dan terjadi pembelahan menjadi 2 sel. Setelah itu sel dapat memasuki interfase untuk kembali memasuki fase G1, saat sel berproliferasi atau memasuki fase istirahat (G0). Sel dalam fase G0 yang masih potensial untuk berproliferasi disebut sel klonogenik atau sel induk (stem cell). Jadi yang menambah jumlah sel kanker adalah sel dalam siklus proliferasi dan dalam fase G0 1.
Ditinjau dari siklus sel, obat dapat digolongkan dalam 2 golongan yaitu :


1. Yang memperlihatkan toksisitas selektif terhadap fase – fase tertentu dari siklus sel (cell cycle specific), misalnya vinkristin, vinblastin, merkaptopurin, metotreksat, asparaginase. Zat ini terbukti efektif terhadap kanker yang berproliferasi tinggi misalnya kanker sel darah.


2. Zat cell cycle nonspecific, misalnya zat alkilator, antibiotik antikanker, sisplatin. 1
Perbedaan kerja tersebut lebih bersifat relatif daripada absolut karena banyak zat yang tergolong cell cycle nonspecific lebih efektif terhadap sel yang berproliferasi dan terhadap sel – sel yang sedang dalam fase tertentu siklusnya. Misalnya bila DNA sel klonogenik yang telah teralkilasi diperbaiki sebelum sel memasuki fase S, maka sel tersebut tidak dipengaruhi oleh zat alkilator.
. Obat – obat untuk terapi kanker terdiri dari beberapa kelas obat, yaitu golongan antibiotika, hormon, antimetabolit, alkaloid nabati / alkaloid vinka dan agen alkilasi 4.

Mekanisme kerja masing – masing golongan adalah sebagai berikut :
I. Alkilator (Agen Alkilasi)
Cara kerja : melalui pembentukan ion karbonium yang sangat reaktif  alkilasi DNA. Yang termasuk golongan alkilator adalah :
1.1. Mekloretamin
1.2 .Siklofosfamid
1.3. Klorambusil
1.4. Busulfan

II. Antimetabolit
Cara kerja : menggantikan purin / pirimidin dalam pembentukan nukleosida  menghambat sintesis DNA. Yang termasuk golongan antimetabolit adalah :
2.1. Sitarabin
2.2. Metotreksat (MTX)
2.3. Merkaptopurin


III. Alkaloid Nabati (Alkaloid Vinka)
Cara kerja : berikatan dengan tubulin (komponen protein mikrotubulus), yang merupakan bagian penting dari micotic spindle  mitosis terhenti dalam metafase. Yang termasuk golongan alkaloid nabati adalah :
3.1. Vinkristin
3.2. Vinblastin


IV. Antibiotika
4.1. Daunorubisin dan Doksorubisin (Adriamisin)
Cara kerja :
a. Interkalasi dengan DNA  rantai DNA putus.
b. Bereaksi dengan sitokrom p450 reduktase  reaksi dengan O2  menghasilkan radikal bebas  sel hancur
4.2. Aktinomisin-D (Daktinomisin)
Cara kerja :
Interkalasi antara guanin dan sitosin pada 2 rantai DNA (double stranded DNA)
Menghambat sintesis RNA yang dependen terhadap DNA (terutama ribosomal DNA)
4.3. Bleomisin
Cara kerja : membentuk kompleks dengan Fe  berikatan dengan DNA  terbentuk radikal bebas  rantai DNA putus (single and double stranded) dan sintesis DNA terhambat.


V. Hormon
Cara kerja : hormon berikatan dengan reseptor protein pada sel kanker. Kanker yang sensitif terhadap hormon tertentu mempunyai reseptor spesifik untuk hormon tersebut, misalnya reseptor estrogen, progesteron dan kortikosteroid. Keberhasilan terapi dengan hormon tertentu ditentukan oleh banyaknya reseptor hormon tersebut pada sel kanker itu. Yang termasuk golongan hormon dan yang banyak digunakan pada kasus tumor pada anak adalah kortikosteroid.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Minggu, 20 Maret 2011

Kanker itu adalah

Kanker ialah suatu penyakit sel dengan ciri gangguan atau kegagalan mekanisme pengatur multiplikasi dan fungsi homeostasis lainnya pada organisme multiseluler 1. Sifat umum dari kanker ialah sebagai berikut :
1. Pertumbuhan berlebihan umumnya berbentuk tumor.
2. Gangguan diferensiasi dari sel dan jaringan sehingga mirip jaringan mudigah.
3. Bersifat invasif, mampu tumbuh di jaringan sekitarnya (perbedaan pokok dengan jaringan normal).
4. Bersifat metastatik, menyebar ke tempat lain dan menyebabkan pertumbuhan baru.
5. Memiliki hereditas bawaan (acquired heredity) yaitu turunan sel kanker juga dapat menimbulkan kanker.
6. Pergeseran metabolisme ke arah pembentukan makromolekul dari nukleosida dan asam amino serta peningkatan katabolisme karbohidrat untuk energi sel.
Sel kanker mengganggu tuan rumah karena menyebabkan :
1. Desakan akibat pertumbuhan tumor.
2. Penghancuran jaringan tempat tumor berkembang atau bermetastasis.
3. Gangguan sistemik lain akibat sekunder dari pertumbuhan sel kanker.
Umumnya keganasan pada anak dapat disembuhkan 2. Tetapi penatalaksanaan keganasan pada anak sangatlah kompleks dan membutuhkan suatu kerjasama tim spesialis onkologi yang terdiri dari dokter anak, penyakit dalam, radiologi dan gizi.
Pengembangan terapi yang efektif dan aman terbatas. Oleh karena kesulitan memahami mekanisme transformasi molekuler sel, resistensi terhadap pengobatan, kurangnya pilihan terapi yang tersedia untuk sel malignan dan non-malignan dan toksisitas.
Terapi lokal dengan pembedahan dan / atau radiasi merupakan komponen penting terapi untuk kebanyakan tumor padat, tapi kemoterapi multiagen sistemik kadang diperlukan pada kasus dengan metastasis. Demikian pula, kemoterapi sendirian biasanya tidak cukup untuk melenyapkan tumor sisa yang besar. Sehingga kadang pada anak dengan tumor ganas, diperlukan ketiga terapi. Sayangnya, kebanyakan kemoterapi efektif punya indeks terapeutik yang sempit (rasio kemanjuran terhadap toksisitas), sehingga toksisitas akut dan kronis dapat diminimalkan.
Kemoterapi adalah cara pengobatan dengan menggunakan bahan / alat kimia yang akan menyebabkan kerusakan atau kematian sel kanker. Obat – obat kimia tersebut dikenal sebagai sitostatika.
Kemoterapi merupakan dasar pengobatan kanker yang penting pada anak dan dengan diikuti dengan peningkatan cure rate.
Berdasarkan pengaruhnya terhadap kinetika sel, sitostatika digolongkan, yaitu obat – obatan tidak spesifik, obat - obatan yang spesifik untuk golongan tertentu dan obat – obatan yang spesifik untuk siklus sel.
Dalam klinis, kemoterapi diberikan dengan tujuan menyembuhkan, paliasi atau pencegahan.
Kemampuan kemoterapi dalam mengontrol perkembangan ini ditentukan oleh beberapa faktor antara lain jenis obat, dosis, cara pemberian, farmakokinetik, sifat biologis, kinetika sel dan toleransi penderita.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 19 Maret 2011

Aspergillus fumigatus

1. Klasifikasi
• Superkingdom : Eukaryota
• Kingdom : Fungi
• Phylum : Ascomycota
• Subphylum : Pezizomycotina
• Class : Eurotiomycetes
• Order : Eurotiales
• Family : Trichocomaceae
• Genus : Aspergillus
• Species : Aspergillus fumigates

2. Morfologi Aspergillus fumigatus Gambaran mikroskopik dari Aspergillus fumigatus memiliki tangkai – tangkai panjang (conidiophores) yang mendukung kepalan ya yang besar (vesicle). Di kepala ini terdapat spora yang membangkitkan sel hasil dari rantai panjang spora. Jamur ini mampu tumbuh pada suhu 37 ° C/99 ° F (suhu tubuh normal manusia), dan dapat tumbuh pada suhu sampai 50 ° C/122 ° F, dengan konidia bertahan hidup pada suhu 70 ° C/158 ° F-kondisi itu pertemuan secara teratur dalam tumpukan kompos pemanasan sendiri. Pada rumput kering Aspergillus fumigatus dapat tumbuh pada suhu di atas 50oC.

3. Epidomologi A. fumigatus adalah saprotroph atau saprofit yang tersebar luas di alam, Hampir semua bahan dapat ditumbuhi jamur tersebut, terutama di daerah tropik dengan kelembaban yang tinggi dan ia juga memainkan peranan penting dalam karbon dan daur ulang nitrogen. Sifat ini memudahkan jamur aspergillus menimbukan penyakit bila terdapat faktor presdisposisi. Koloni jamur dari ribuan konidiofor menghasilkan konidia abu-abu-hijau menit (2-3 pM) yang siap menjadi udara. Selama bertahun-tahun fumigatus A. diperkirakan hanya bereproduksi secara aseksual, selama tidak kawin atau meiosis yang pernah diamati. Namun, pada tahun 2008 itu menunjukkan bahwa A. fumigatus memiliki siklus berfungsi penuh reproduksi seksual, 145 tahun setelah deskripsi awal oleh Fresenius. Meskipun aspergillus terdapat lebih dari 100 spesies, jenis yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia ialah Aspergillus fumigates, Aspergillus niger, Aspergillus flavus dan Aspergillus clavatus yang semuanya menular dengan transmisi inhalasi.

4. Siklus hidup Aspegillus fumigatus mempunyai suatu haploid genome yang stabil, dengan tidak mengalami siklus seksual. A. fumigatus bereproduksi dengan pembentukan conidiospores yang dilepaskan ke dalam lingkungan. Spesies Aspergillus secara alamiah ada dimana-mana, terutama pada makanan, sayuran basi, pada sampah daun atau tumpukan kompos. Konidia biasanya terdapat di udara baik di dalam maupun di luar ruangan dan sepanjang tahun. Aspergillus juga bisa tumbuh di daun-daun yang telah mati, gandum yang disimpan, kotoran burung, tumpukan pupuk dan tumbuhan yang membusuk lainnya.

5. Penyebaran Melalui inhalasi konidia yang ada di udara.

6. Penyakit Penyakit yamg ditimbulkan oleh jamur ini adalah Aspergilosis Bronkopulmoner Alergika (ABPA), Chronic Necrotizing Pneumonia Aspergillosis (CNPA), .ABPA terjadi karena terdapat reaksi hipersensitivitas terhadap kolonisasi aspergilosis di daerah pohon trakeobronkial dan terjadi berkaitan dengan asma dan fibrosis kistik . aspergillus fumigatus akibat pemakaian kortikosteroid terus menerus. Akibatnya akan terjadi produksi mukus yang berlebih karena kerusakan fungsi silia pada saluran pernapasan. Mukus ini berbentuk sumbatan yang mengandung spora Aspergillus fumigatus dan eosinofil di lumen saluran napas. Akan terjadi presipitasi antibodi IgE dan IgG melalui reaksi hipersensitivitas tipe I menyebabkan deposit kompleks imun dan sel-sel inflamasi di mukosa bronkus. Deposit ini nantinya akan menghasilkan nekrosis jaringan dan infiltrat eosinofil (reaksi hipersensitivitas tipe III) hingga membuat kerusakan dinding bronkus dan berakhir menjadi bronkiektasis. Tak jarang ditemui spora pada mukus penderita aspergilosis paru. Pada sinusitis alergik akibat jamur juga dapat terjadi sendiri atau bersama dengan ABPA. Adapun aspergiloma merupakan fungus ball (misetoma) yang terjadi karena terdapat kavitas di parenkim akibat penyakit paru sebelumnya. Penyakit yang mendasarinya bisa berupa TB (paling sering) atau proses infeksi dengan nekrosis, sarkoidosis, fibrosis kistik, dan bula emfisema. Fungus ball ini dapat bergerak di dalam kavitas tersebut namun tidak menginvasi dinding kavitas. Adanya fungus ball menyebabkan terjadinya hemoptisis yang berulang. CNPA merupakan proses subakut yang biasanya terdapat pada pasien imunosupresi, terutama berkaitan dengan penyakit paru sebelumnya, alkoholisme, atau terapi kortikosteroid kronik. Sering kejadian ini terlewat karena sulit dikenali hingga akhirnya terbentuk infiltrat paru dengan kavitas. Aspergilosis invasis juga terjadi karena imunosupresi dengan gejala progresif yang cepat dan fatal meliputi invasi ke pembuluh darah dengan berakibat infiltrat multifokal yang lebar dan berkavitas di sekitar pleura, menjalar hingga ke sistem saraf. Status imunosupresi yang sering menyebabkan aspergilosis invasif ialah AIDS, penyakit granulomatosa kronik, netropenia, tranplantasi sumsum tulang atau organ padat. aspergilosis invasif relatif umum terjadi pada pasien dengan status imunokompromais berat, terutama AIDS dan transplantasi organ. Spora jamur akan berproliferasi di saluran udara paru dan pada keadaan imunokomprais berat spora akan masuk ke pembuluh darah transbronkial menyebabkan infark hemoragik. Di area ini akan terbentuk kavitas yang mengandung sekuestrum paru yang terinfeksi, terlihat sangat mirip misetoma.

7. Gejala penyakit ABPA terjadi pada pasien asma dan fibrosis kistik sehingga bermanifestasi dengan demam, batuk berdahak, dengan mengi pada auskultasi.dan infiltrat paru yang tidak responsif dengan terapi antibakterial. Penderita mengeluh batuk produktif dengan gumpalan mukus yang dapat membentuk kerak di bronkus., kadang menyebabkan hemoptisis. ABPA juga bisa terjadi berbarengan dengan sinusitis fungal alergik, dengan gejala sinusitis di dalamnya dengan drainase sinus yang purulen. Gejala CNPA yang meliputi demam, batuk, keringat malam, dan penurunan berat badan, sehingga menyebabkan kavitas selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Aspergilosis invasif mengalami gejala yang sangat bervariasi, yakni demam, batuk, sesak napas, nyeri pleura, dan kadang-kadang menimbulkan hemoptisis pada pasien dengan prolong neutropenia atau keadaan imunosupresi.

8. Diagnosa Dari berbagai pemeriksaan diperoleh hasil sebagai berikut : •Jumlaheosinofilmeningkat • Rontgen dada menunjukkan adanyain filtrasi dan bayangan yang menyerupai jari tangan • CAT scan dada menunjukkan adanyab ronkiektasis sentral atau sumbatan lendir •Bronkoskopi disertai pembiakan dan biopsi transbronkial • Biopsi paru (jarang dilakukan). adanya reaksi benjolan merah di kulit jika dilakukan skarifikasi atau suntikan intradermal dengan antigen Aspergillus, adanya sumbatan bronchus yang menahun, terbentuknya antibodi presipitasi serum terhadap Aspergillus, peningkatan kadar IgE dalam serum dan adanya infiltrat paru yang bersifat transien (dengan atau tanpa bronkiektasis sentral). Kolonisasi endobronkial saprofitik didiagnosa dengan kultur atau ditemukannya Aspergillus mycelia pada sputum atau pada dahak ditemukan hyphae. Serum precipitin terhadap antigen spesies Aspergillus biasanya juga muncul. Cara mendiagnosa penyakit tersebut : Bola jamur dari paru biasanya dapat didiagnosa dengan foto toraks dan dari catatan medis. Diagnosa aspergillosis invasif ditegakkan dengan ditemukannya Mycelia Aspergillus dengan mikroskop dari jaringan yang terinfeksi; konfirmasi diagnosa dilakukan dengan kultur untuk membedakan dengan penyakit jamur lain yang gambaran histologinya mirip.

9.Pengobatan Prinsip pengobatan yang disebabkan oleh jamur Aspergillus fumigatus adalah dengan menghilangkan jamur dan sporanya yang terdapat dalam tubuh. ABPA diobati dengan corticosteroid suppression namun dengan oral, bukan lagi inhalasi dan biasanya membutuhkan terapi yang lama. Reseksi bedah, jika memungkinkan, adalah pengobatan paling tepat untuk aspergilloma. Amphotericin B (Fungizone® atau formasi lipid) IV dapat digunakan untuk infeksi jaringan bentuk invasif. Pemberian Itraconazole bermanfaat bagi penderita yang perkembangannya lebih lambat dan untuk penderita yang mempunyai masalah kekebalan. Terapi imunosupresif harus dihentikan atau dikurangi sebisa mungkin. Kolonisasi endobronkial harus diobati sedemikian rupa untuk memperbaiki drainase bronkopulmoner. ABPA yang berbarengan dengan sinusitis alergik fungal memerlukan tindakan operasi jika terdapat polip obstruktif. Kadang-kadang dapat juga dibilas dengan amfoterisin untuk mempercepat peyembuhan. Pengobatan CNPA terdiri dari terapi dengan voriconazole, atau bisa juga dengan itraconazole, caspofungin, atau keluarga amfoterisin. Jika respon antijamur sangat kurang, terapi CNPA ialah dengan pembedahan paru. Pembedahan ini ditujukan untuk lesi yang terlokalisasi yang tidak respon dengan antijamur, apalagi jika telah dibarengi dengan hemoptisis dan sumbatan mukus.

10. Cara Pencegahan
Udara ruangan yang disaring dengan High Efficiency Particulate Air (HEPA) dapat menurunkan infeksi aspergillosis invasive pada penderita yang dirawat di RS terutama penderita dengan netropenia. v Orang-orang dengan faktor predisposisi (asma, fibrosis kistik, dll), sebaiknya menghindari lingkungan dimana jamur aspergillus ditemukan.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Kamis, 17 Maret 2011

Rhizopus oryzae


Klasifikasi Rhizopus oryzaemenurut Germain (2006) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Divisio : Zygomycota
Class : Zygomycetes
Ordo : Mucorales
Familia : Mucoraceae
Genus : Rhizopus
Species : Rhizopus oryzae
Menurut Soetrisno (1996) sifat-sifat jamur Rhizopus oryzae yaitu koloni berwarna putih berangsur-angsur menjadi abu-abu; stolon halus atau sedikit kasar dan tidak berwarna hingga kuning kecoklatan; sporangiofora tumbuh dari stolon dan mengarah ke udara, baik tunggal atau dalam kelompok (hingga 5 sporangiofora); rhizoid tumbuh berlawanan dan terletak pada posisi yang sama dengan sporangiofora; sporangia globus atau sub globus dengan dinding berspinulosa (duri-duri pendek), yang berwarna coklat gelap sampai hitam bila telah masak; kolumela oval hingga bulat, dengan dinding halus atau sedikit kasar; spora bulat, oval atau berbentuk elips atau silinder; suhu optimal untuk pertumbuhan 350C, minimal 5-70C dan maksimal 440C. Berdasarkan asam laktat yang dihasilkan Rhizopus oryzae termasuk mikroba heterofermentatif (Kuswanto dan Slamet, 1989).
Peran Rhizopus oryzae sebagai Bahan Pangan dan Penghasil Enzim
Jamur Rhizopus oryzae merupakan jamur yang sering digunakan dalam pembuatan tempe (Soetrisno, 1996). Jamur Rhizopus oryzae aman dikonsumsi karena tidak menghasilkan toksin dan mampu menghasilkan asam laktat (Purwoko dan Pamudyanti, 2004). Jamur Rhizopus oryzae mempunyai kemampuan mengurai lemak kompleks menjadi trigliserida dan asam amino (Septiani, 2004). Selain itu jamur Rhizopus oryzae mampu menghasilkan protease (Margiono, 1992).
Rhizopus oryzae sebagai Starter
Jamur sering digunakan sebagai starter dalam pembuatan berbagai jenis keju. Agar tumbuh pada susu, kultur starter harus mampu untuk memfermentasikan laktosa, menghasilkan asam amino dari proses proteolisis (Widodo, 1992). Peran utama jamur dalam pembuatan keju adalah mempertajam cita rasa dan aroma, serta sedikit memodifikasi penampakan tekstur tahu keju (Daulay, 1991b).

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 16 Maret 2011

IMUNOKOMPETENSI PADA PENDERITA KANKER

Kelainan imunokompetensi terlihat pada penderita keganasan limforetikuler maupun tumor solid. Pada gangguan keganasan sel B seperti mieloma multipel dan leukemia mielositik kronik dijumpai gangguan sel B poliklonal, defisiensi sel Th, kelebihan sel Ts dan penurunan rasio sel T4 : T8 pada tumor solid seperti Ca (Carcinoma) ovarium jarang dijumpai kelainan sel B. Kelainan monosit dan sel T telah terlihat pada penderita karsinoma metastatik dan sarkoma, terutama stadium lanjut. Parahnya gangguan sel T bervariasi dari berbagai jenis tumor sesuai asalnya. Walaupun gangguan sistem imunitas lebih berat pada kasus lanjut dan pada pasien yang diperkirakan tumornya akan kambuh kembali, namun korelasinya tidak pasti untuk digunakan dalam penanganan klinis pasien.
1) Imunokompetensi pada penderita kanker dengan pembedahan Depresi sel T dan B sementara terlihat pada kasus postoperatif. Gangguan imunitas maksimal terjadi selama minggu pertama setelah pembedahan, biasanya fungsi sel T akan kembali normal 1 bulan. Lama dan intensitas imunosupresi berhubungan dengan jumlah trauma operasi, lama prosedur dan imunokompetensi sebelum operasi. Dari penelitian hewan ternyata bahwa prosedur pembedahan dan anestesia mempengaruhi sistem imun. Stress anestesia dan pembedahan dapat merangsang pelepasan hormon termasuk glukokortikoid. Sel supresor juga dapat dirangsang, mungkin sebagai respons terhadap produk nekrosis jaringan. Pembuangan jaringan limforetikuler dapat mengganggu fungsi imun. Penelitian pada pasien kanker menunjukkan bahwa, splenektomi dapat mempermudah timbulnya sepsis fulminan akibat bakteri. Peningkatan kerentanan terhadap infeksi ini berhubungan dengan umur, penyakit penyerta dan modalitas pengobatan kankernya. Tambahan radiasi kelenjar getah bening dan kemoterapi akan menyebabkan gangguan lebih besar terhadap fungsi sel B. Beberapa peneliti bahkan menggunakan injeksi Penisilin profilaksis, vaksin pneumokokus pada pasien post splenektomi sebelum diberi kemoterapi atau radioterapi. Kerentanan ini disebabkan oleh menurunnya kemampuan fagositosis dan gangguan pembentukan antibodi dini. Namun splenektomi pada model hewan meningkatkan ketahanan terhadap pertumbuhan tumor, mungkin dengan gangguan terhadap produksi antibodi antitumor spesifik atau dengan menghilangkan sumber utama sel T supresor.
2) Imunokompetensi pada penderita kanker dengan radioterapi Radiasi berpengaruh terhadap limfosit, sehingga akan mengalami kematian interfase dalam beberapa jam tanpa terjadinya mitosis. Sebelum rangsangan, antigen limfosit hanya menunjukkan kemampuan yang terbatas untuk memperbaiki kerusakan DNA akibat Radiasi. Setelah rangsangan antigen, sel plasma maupun sel reflektor menjadi lebih radioresisten. Limfopenia terjadi bukan hanya akibat radiasi terhadap jaringan limfoid, tapi juga akibat destruksi limfosit pada daerah tepi. Level sel T dan B dapat berkurang, tergantung bagian yang diradiasi. Walaupun terjadi penurunan kadar sel B, respons humoral biasanya tetap. Radiasi limfoid total dapat menyebabkan penurunan yang menetap pada kadar sel T. Respons proliferatif sel T terhadap mitogen atau antigen histokompatibilitas dapat tertekan selama bertahun-tahun. Radiasi total badan dengan dosis besar dapat menyebabkan penurunan yang hebat dari seluruh sel limforetikuler, sel I CD 3, sel T CD 8, pada daerah tepi dalam 1-2 minggu, tapi untuk mencapai kembali rasio normal T4 : T8 perlu lebih dari setahun. Level monosit tidak menurun secara bermakna selama radioterapi dan kebanyakan makrofag resisten terhadap radiasi.
3) Imunokompetensi pada penderita kanker dengan kemoterapi Kebanyakan sitostatika bersifat imunosupresif terkecuali Bleomisin dan Vincristin dalam dosis terapeutik. Kemoterapi intermiten biasanya kurang imunosupresif dibanding dengan tipe kontinu. Fungsi sel T dan B dapat kembali di antara seri pengobatan walaupun gangguan menetap dapat terlihat setelah pengobatan yang lama atau bila kemoterapi dan radiasi digabung. Glukokortikoid mempengaruhi fungsi dan resirkulasi pada darah tepi, level limfosit lebih dipengaruhi dibanding monosit. Level sel T lebih dipengaruhi dibanding sel B dan sel T CD 4 lebih terpengaruh dibanding sel T CD 8. Pada kemoterapi dosis tinggi glukokortikoid dapat menghambat setiap fungsi sel limforetikuler, namun faktor inhibisi makrofag tetap dihasilkan. Induksi sel supresor dapat dihambat glukokortikoid tapi sekali terpapar biasanya sel supresor akan relatif resisten terhadap steroid. Sel NK sensitif terhadap glukokortikoid, namun sel K resisten. Kemampuan respon makrofag dan monosit terhadap mediator terhambat jelas. Kemampuan fagositosis monosit dipertahankan sedangkan fungsi bakterisidalnya dihambat. Siklosfosfamid mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap sel B dibanding sel T, dalam dosis rendah menghambat sel supresor dan meningkatkan efek sel T CD 8 daripada sel T CD 4, pada dosis lebih tinggi sel T CD 8 dan sel T CD 4 menurun. Efek imunosupresif bahan pangalkil dan antimetabolit berhubungan sebagian dengan toksisitas terhadap sel yang berproliferasi. Bahan pengalkil seperti siklofosfamid dapat menekan produksi antibodi, sedangkan antimetabolit seperti 5 Fluorourasil, 6 Merkaptopurin dan Sitarabin, Metotreksat akan efektif setelah pemberian antigen dan bila sel B sedang berproliferasi. Bila sel telah berhenti berproliferasi dan limfosit sudah matur maka respons seluler maupun humoral menjadi resisten terhadap agen sitotoksik.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Selasa, 15 Maret 2011

IMMUNOLOGICAL ESCAPE

Walaupun ada sistim immunosurveillance, kanker dapat luput dari pengawasan sistem imun tubuh bila faktor-faktor yang menunjang pertumbuhan tumor lebih berpengaruh dibanding dengan faktor-faktor yang menekan tumor, sehingga terjadi apa yang dinamakan immunological escape kanker. Faktor-faktor yang mempengaruhi luputnya tumor dari pengawasan sistem imun tubuh sebagai berikut:
1) Tidak adanya antigen yang sesuai Antigen baru mungkin tidak disintesis oleh semua tumor, mungkin tidak diekspresikan pada semua permukaan sel atau tidak dipresentasikan dalam bentuk yang sesuai sehingga respon imun gagal mengenal antigen tersebut.
2) Kinetik tumor (sneaking through) Pada binatang yang diimunisasi, pemberian sel tumor dalam dosis kecil akan menyebabkan tumor tersebut dapat menyelinap (sneak through) yang tidak diketahui tubuh dan baru diketahui bila tumor sudah berkembang lanjut dan di luar kemampuan sistem imun untuk menghancurkannya. Mekanisme terjadinya tidak diketahui tapi diduga berhubungan dengan vaskularisasi neoplasme tersebut.
3) Modulasi antigenik Antibodi dapat mengubah atau memodulasi permukaan sel tanpa menghilangkan determinan permukaan.
4) Masking antigen Molekul tertentu, seperti sialomucin, yang sering diikat permukaan sel tumor dapat menutupi antigen dan mencegah ikatan dengan limfosit.
5) Shedding antigen/pelepasan antigen Antigen tumor yang dilepas dan larut dalam sirkulasi, dapat mengganggu fungsi sel T dengan mengambil tempat pada reseptor antigen. Hal itu dapat pula terjadi dengan kompleks imun antigen antibodi.
6) Toleransi Virus kanker mammae pada tikus disekresi dalam air susunya, tetapi bayi tikus yang disusuinya toleran terhadap tumor tersebut. Infeksi kongenital oleh virus yang terjadi pada tikus-tikus tersebut akan menimbulkan toleransi terhadap virus tersebut dan virus sejenis.
7) Limfosit yang terperangkap Limfosit spesifik terhadap tumor dapat terperangkap di dalam kelenjar limfe. Antigen tumor yang terkumpul dalam kelenjar limfe yang letaknya berdekatan dengan lokasi tumor, dapat menjadi toleran terhadap limfosit setempat, tetapi tidak terhadap limfosit kelenjar limfe yang letaknya jauh dari tumor.
8) Faktor genetik Kegagalan untuk mengaktifkan sel efektor T dapat disebabkan oleh karena faktor genetik.
9) Faktor penyekat Antigen tumor yang dilepas oleh sel dapat membentuk kompleks dengan antibodi spesifik yang membentuk pejamu. Kompleks tersebut dapat menghambat efek sitotoksitas limfosit pejamu melalui dua cara, yaitu dengan mengikat sel Th sehingga sel tersebut tidak dapat mengenal sel tumor dan memberikan pertolongan kepada sel Tc.
10) Produk tumor PG yang dihasilkan tumor sendiri dapat mengganggu fungsi sel NK dan sel K. Faktor humoral lain dapat mengganggu respons inflamasi, kemotaksis, aktivasi komplemen secara nonspesifik dan menambah kebutuhan darah yang diperlukan tumor padat.
11) Faktor pertumbuhan Respons sel T bergantung pada IL. Gangguan makrofag untuk memproduksi IL-1, kurangnya kerjasama di antara subset-subset sel T dan produksi IL-2 yang menurun akan mengurangi respons imun terhadap tumor.
12) Vaskularisasi Tumor mungkin mencapai diameter 1-2 mm sebelum terbentuk vaskularisasi. Pertumbuhan vaskuler merupakan pertumbuhan sel pejamu sendiri, sehingga endotel tumor dikenal sebagai self dan tidak ditolak, sehingga pada beberapa keganasan terus berproliferasi dengan antigen tersembunyi dibalik endotel vaskuler.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Senin, 14 Maret 2011

IMMUNOSURVEILLANCE KANKER

Immunosurveillance adalah suatu mekanisme yang digunakan oleh tubuh untuk bereaksi melawan setiap antigen yang diekspresikan oleh neoplasma. Fungsi primer dari sistem imun adalah untuk mengenal dan mendegradasi antigen asing (nonself) yang timbul dalam tubuh. Dalam immunosurveillance, sel mutan dianggap akan mengekspresikan satu atau lebih antigen yang dapat dikenal sebagai nonself. Sel mutan dianggap sering timbul dalam tubuh manusia dan tetapi secara cepat dihancurkan oleh mekanisme imunologis. Pada tikus yang kehilangan imunitas seluler dan terpapar agen onkogenik akan lebih cepat timbul tumor. Ini dianggap merupakan bukti mekanisme immunosurveillance. Pasien dengan stadium lanjut lebih sering dalam keadaan imunosupresi dibanding pasien stadium awal. Pasien yang memakan obat imunosupresif setelah transplantasi renal mengalami peningkatan insidensi keganasan (100 kali lebih besar dari kontrol). Hampir 50% tumor pada pasien imunosupresi berasal dari jaringan mesenkim, contohnya sarkoma sel retikulum, tapi insiden neoplasia intraepitelial seperti CIN (Cervical Intraepithelial Neoplasia) juga lebih banyak dilaporkan. Walaupun ada penjelasan bagaimana immunosurveillance mengatasi kanker, tapi kurang bukti bahwa mekanisme imun dapat menghalangi pertumbuhan kanker. Sel NK ternyata paling berperan dalam immunosurveillance tumor, ia dapat membunuh sel tumor langsung tanpa perlu disensitisasi terlebih dahulu. Dalam immunosurveillance dianggap ada keadaan imunosupresi yang menyertai keadaan tumbuhnya tumor, terutama depresi sel NK. Salah satu syarat induksi tumor dengan bahan karsinogenik pada hewan percobaan adalah adanya gangguan pada sistim imun terutama sel NK.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Minggu, 13 Maret 2011

RESPONS SISTEM IMUN TERHADAP SEL KANKER

Sel kanker dikenal sebagai nonself yang bersifat antigenik pada sistem imunitas tubuh manusia sehingga ia akan menimbulkan respons imun secara seluler maupun humoral.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 47 Respons sistem imun terhadap sel kanker dapat dibagi dua yaitu humoral dan seluler.
1)Sistem Imun Humoral
Peranan sistem imun humoral terhadap sel kanker Imunitas humoral lebih sedikit berperan daripada imunitas seluler dalam proses penghancuran sel kanker, tetapi tubuh
tetap membentuk antibodi terhadap antigen tumor.
Dua mekanisme antibodi diketahui dapat menghancurkan target kanker yaitu :
a) Antibody dependent cell mediated cytotoxicity (ADCC). Pada ADCC antibodi IgG spesifik berikatan terhadap Tumor Associated Antigen (TAA) dan sel efektor yang membawa reseptor untuk bagian Fc dari molekul Ig. Antibodi bertindak sebagai jembatan antara efektor dan target. Antibodi yang terikat dapat merangsang pelepasan superoksida atau peroksida dari sel efektor. Sel yang dapat bertindak sebagai efektor di sini adalah limfosit null (sel K), monosit, makrofag, Lekosit PMN (polimorfonuklear) dan fragmen trombosit. Ini akan mengalami lisis optimal dalam 4 sampai 6 jam
b) Complement Dependent Cytotoxicity, Di sini pengikatan antibodi ke permukaan sel tumor menyebabkan rangkaian peristiwa komplemen klasik dari C' 1,4,2,3,5,6,7,8,9. Komponen C' akhir menciptakan saluran atau kebocoran pada permukaan sel tumor. IgM lebih efisien dibanding IgM dalam merangsang proses complement dependent citotoxicity

2) Sistem Imun Seluler
Peranan sistem imun seluler sel kanker Pada pemeriksaan patologi-anatomik tumor, sering ditemukan infiltrat sel-sel yang terdiri atas sel fagosit mononuklear, limfosit, sedikit sel plasma dan sel mastosit. Meskipun pada beberapa neoplasma, infiltrasi sel mononuklear merupakan indikator untuk prognosis yang baik, pada umumnya tidak ada hubungan antara infiltrasi sel dengan prognosis. Sistem imun yang nonspesifik dapat langsung menghancurkan sel tumor tanpa sensitisasi sebelumnya. Efektor sistem imun tersebut adalah sel Tc, fagosit mononuklear, polinuklear, Sel NK ,Aktivasi sel T melibatkan sel Th dan Tc. Sel Th penting pada pengerahan dan aktivasi makrofag dan sel NK.
a) Sitotoksitas melalui sel T
Sitotoksitas melalui sel T Kontak langsung antara sel target dan limfosit T menyebabkan interaksi antara reseptor spesifik pada permukaan sel T dengan antigen membran sel target yang mencetuskan induksi kerusakan membran yang bersifat lethal. Peningkatan kadar cyclic Adenosine Monophosphate (cAMP) dalam sel T dapat menghambat sitotoksisitas dan efek inhibisi Prostaglandin (PG) E 1 dan PGE2 terhadap sitotoksisitas mungkin diperantarai cAMP. Mekanisme penghancuran sel tumor yang pasti masih belum diketahui walaupun pengrusakan membran sel target dengan hilangnya integritas osmotik merupakan peristiwa akhir. Pelepasan Limfotoksin (LT), interaksi membran-membran langsung dan aktifitas T cell associated enzyme seperti phospholipase diperkirakan merupakan penyebab rusaknya membran. Interleukin (IL), interferon (IFN) dan sel T mengaktifkan pul asel Natural Killer (NK). Sel ini berbentuk large granulocytic lymphocyte (LGL). Kebanyakan sel ini mengandung reseptor Fc dan banyak yang mengekspresikan antigen sel T. Lisis sel target dapat terjadi tanpa paparan pendahuluan dan target dapat dibunuh langsung. Sel NK menunjukkan beberapa spesifisitas yang lebih luas terhadap target tumor yang biasanya dibunuh lebih cepat dibanding sel normal. Kematian sel tumor dapat sebagai akibat paparan terhadap toxin yang terdapat dalam granula LGL, produksi superoksida atau aktivitas protease serine pada permukaan sel efektor. Sel NK diaktivasi IFN dan II-2 in vitro. Aktivitas NK dapat dirangsang secara in vitro dengan pemberian IFN, inducer atau imunostimulan seperti Bacille Calmette Guerin (BCG) dan Corynebacterium (C) parvum. Penghambatan aktivasi sel NK terlihat pada beberapa PG (PGE1, PGE2, PGA1 dan PGA2), phorbol ester, glukokortikoid dan siklofosfamid. Pada banyak kasus, agen ini langsung mempengaruhi aktivitas NK, sel supresor juga dapat mempengaruhi sel NK. Sel NC (Natural Cytotoxic) juga teridentifikasi menghancurkan sel tumor. Berbeda dengan sel NK, sel NC kelihatannya distimulasi oleh IL-3 dan relatif tahan terhadap glukokortikoid dan siklofosfamid. Populasi LAK (lymphocyte activated killer) cell dapat tumbuh di bawah pengaruh IL-2.

b) Sitotoksisitas melalui makrofag
Makrofag yang teraktivasi berikatan dengan sel neoplastik lebih cepat dibanding dengan sel normal. Pengikatan khusus makrofag yang teraktivasi ke membran sel tumor adalah melalui struktur yang sensitif terhadap tripsin. Pengikatan akan bertambah kuat dan erat dalam 1 sampai 3 jam dan ikatan ini akan mematikan sel. Sekali pengikatan terjadi, mekanisme sitotoksisitas melalui makrofag berlanjut dengan transfer enzim lisosim, superoksida, protease, faktor sitotoksis yang resisten terhadap inhibitor protease dan yang menyerupai LT.Sekali teraktivasi, makrofag dapat menghasilkan PG yang dapat membatasi aktivasinya sendiri. Makrofag yang teraktivasi dapat menekan proliferasi limfosit, aktivitas NK dan produksi mediator. Aktivasi supresi dapat berhubungan dengan pelepasan PG atau produksi superoksida. Sebagai tambahan, makrofag dapat merangsang dan juga menghambat pertumbuhan sel tumor, yang bergantung dengan bagian yang rentan dari sel tumor, ratio makrofag dengan sel target dan status fungsional makrofag. Indometasin dapat menghambat efek perangsangan makrofag pada pertumbuhan tumor ovarium yang diperkirakan prostaglandin mungkin berperan sebagai mediatornya. Macrophage derived factor dapat merangsang pertumbuhan tumor dan menekan imunitas sel T. Akumulasi makrofag dalam tumor mungkin menggambarkan interaksi makrofag kompleks dari beberapa faktor dan juga kinetik produksi monosit oleh sumsum tulang. Jadi status fungsional makrofag dalam tumor juga berperan selain jumlahnya. Makrofag bila diaktifkan oleh limfokin, endotoksin, RNA dan IFN akan menunjukkan aktivasi berupa adanya perubahan morfologik, biokimiawi dan fungsi sel. Makrofag yang diaktifkan biasanya menjadi sitotoksik nonspesifik terhadap sel tumor in vitro. Makrofag dapat pula berfungsi sebagai efektor pada ADCC terhadap tumor. Di samping itu makrofag dapat menimbulkan efek negatif berupa supresi yang disebut makrofag supresor. Hal tersebut dapat disebabkan oleh tumor itu sendiri atau akibat pengobatan

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 12 Maret 2011

imunologi kanker

Selama dekade terakhir ini perkembangan imunologi berjalan sangat pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Segala sesuatu yang tidak dapat diterangkan dalam dunia kedokteran
sekarang dicoba untuk dihubungkan dengan gangguan sistem imun manusia. Dugaan ini menyebabkan dilakukannya berbagai penelitian di bidang imunologi yang menghasilkan
banyak temuan yang menyokong adanya keterlibatan sistem imun dan etiologi dan patogenesis berbagai kelainan yang terjadi. Dalam onkologi telah pula dikembangkan cabang ilmu imunologi kanker. Sebenarnya ilmu ini mulai berkembang sejalan dengan berkembangnya imunologi transplantasi, yang menganggap sel kanker sebagai benda asing yang berimplantasi ke tubuh dan menimbulkan reaksi imunologis.
Sesuai dengan apa yang dinyatakan Paul Ehrlich dalam hipotesanya yang menyebutkan bahwa neoplasma ganas adalah bersifat antigenik yang dikenal sebagai benda asing oleh pejamu, sel kanker dikenal sebagai nonself dan sel normal dikenal sebagai self.
Beberapa dugaan adanya keterlibatan sistim imun dalam kanker antara lain sebagai berikut: Regresi spontan kanker, melanoma yang sembuh sendiri, regresi metastasis setelah reseksi neoplasma primer, regresi kanker setelah dosis nonsitotoksik kemoterapi, munculnya kembali metastasis setelah periode laten yang lama, kegagalan sel kanker yang bersirkulasi dalam darah untuk membentuk daerah metastasis, infiltrasi kanker oleh sel mononuklear, insidensi kanker yang lebih tinggi pada penderita imunodefisiensi, setelah imunosupresi klinis, dan peningkatan kejadian keganasan pada usia tua. Sedangkan pembuktian secara klinis pada hewan
dilakukan oleh Gross yang mendapatkan bahwa tikus yang mendapat imunisasi bahan sel kanker
ternyata menolak menerima transplantasi sel kanker yang sama sedangkan yang tidak mendapat imunisasi mengalami pertumbuhan kanker. Sedang Prehn dan Main melaporkan pengguna Methylcholantrene untuk merangsang terjadinya fibrosarcoma. Mereka mengamati tikus yang diimunisasi dengan sel kanker yang ditransplantasikan lagi ternyata tidak dapat tumbuh, sedangkan bila dilakukan imunisasi dengan sel normal ternyata tidak menimbulkan kekebalan terhadap kanker tersebut.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Jumat, 11 Maret 2011

Mengintip Kesehatan Pria Berdasarkan Usia (USIA 40-an)




Kondisi Umum : Pada usia ini, pria mengalami penurunan sedikit kemampuan, yaitu tak seenergik pria yang berusia 20 tahun, misalnya. Jika seumpama seorang pria sejak muda punya kebiasaan kurang tidur, di usia 40 tahun ia biasanya sudah mengalami kelelahan.
Dalam melakukan olahraga mesti perhatikan beberapa hal, apalagi jika memiliki hipertensi atau penyakit jantung. Pria yang bertubuh gemuk pada usia 40 tahun ke atas sebaiknya mengurangi olahraga beban. Karena ada kemungkinan sudah ada masalah dengan otot atau persendian. Jadi jangan terlalu memaksakan untuk melakukan suatu kegiatan olahraga yang cukup berat.
Ada beberapa penyakit yang harus diwaspadai, yaitu penyakit-penyakit degeneratif (penyakit yang terjadi karena bertambahnya usia). Penyakit-penyakit ini terjadi terutama karena pola hidup yang kurang sehat, misalnya tidak memperhatikan makan (kandungan asam urat, kolesterol, garam). Maka bisa saja di atas 40 tahun akan mengalami berbagai penyakit, apalagi jika didukung faktor risiko lain seperti kegemukan.
Beberapa penyakit atau konsekuensi yang mungkin muncul:
- Serangan jantung koroner. Penyebabnya antara lain rokok, hipertensi, kegemukan, peningkatan kekentalan darah, kencing manis, kurang olah raga, dan stres yang berat.
- Peningkatan kolesterol. Kolesterol yang berlebihan akan menumpuk di pembuluh darah terutama di pembuluh darah otak dan jantung koroner. Jika memiliki faktor lain seperti kegemukan, merokok, dan kencing manis, risiko terjadinya serangan jantung atau stroke makin meningkat.
- Kadar asam urat tinggi. Mengakibatkan terjadinya peradangan pada sendi kaki. Sendi membengkak dan menimbulkan nyeri yang hebat. Bisa menumpuk di ginjal menyebabkan terbentuknya pasir dan batu ginjal.
Seks :
Pada usia 45 tahun ke atas, penurunan fungsi tubuh semakin nyata. Kadar hormon testosteron semakin menurun, demikian juga hormon yang lain. Massa otot dan kekuatan otot mulai menurun, lemak tubuh meningkat, dan berbagai penyakit muncul yang dapat mengganggu fungsi seksual, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, serta kolesterol tinggi.
Faktor psikis juga dapat mengganggu fungsi seksual, misalnya kejenuhan dengan suasana sehari-hari, hilangnya kemesraan dengan pasangan, hilangnya daya tarik pasangan, kekecewaan, dan kejengkelan.
Di samping fungsi seksual, kesuburan pria juga menurun. Kuantitas dan kualitas sel spermatozoa juga menurun. Jadi, tidak benar anggapan yang menyatakan kesuburan pria tetap tinggi walaupun usia sudah lanjut. Karena itu dianjurkan pada usia di atas 40 tahun, pria dan perempuan sebaiknya tidak mempunyai anak lagi.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Kamis, 10 Maret 2011

ASAM URAT

Asam urat adalah serangan radang persendian yang berulang, yang disebabkan oleh penimbunan kristal asam urat di dalam persendian. Bagian tubuh yang terkena adalah bagian sendi yang berada pada ujung tubuh seperti ibu jari kaki, siku, lutut, pergelangan kaki dan tangan. Gejala asam urat berupa nyeri di satu atau lebih sendi, persendian bengkak, kulit menjadi merah atau keunguan, demam dan detak jantung cepat. Penyakit asam urat banyak ditemui pada pria danbr /br / wanita usia di atas 40 tahun, pola makan merupakan penyebab utama misal, mengkonsumsi makanan berprotein tinggi (hati, ginjal, paru dan limpa).

Asam Urat Mulai Mengancam Pria!
Lebih dari lima tahun, Deni (40 tahun) sering mengalami rasa pegal dan nyeri, yang biasanya hilang setelah dipijat atau dibalur dengan obat gosok. Memang selang beberapa saat, rasa tersebut berkurang. Namun kembali muncul dan semakin parah, dengan rasa pegal dan nyeri hampir di seluruh persendian. Sayangnya Deni tidak menyadari penyakit yang dideritanya. Sampai akhirnya ia memutuskan ke dokter dan melakukan pemeriksaan darah. Saat itu ia baru mengetahui bahwa rasa nyeri yang ia rasakan adalah akibat tingginya kadar asam urat (10mg/dl), padahal kadar normal asam urat adalah 3.4-7mg/dl (pria) dan 2.4-5.7mg/dl (wanita).
Apakah sebenarnya asam urat dan bagaimana bahayanya?
Asam urat/gout/pirai dikenal sejak zaman Yunani kuno, sebagai penyakit orang kaya. Gout sendiri berasal dari bahasa Latin: “guttan” yang berarti tetesan, karena diduga berasal dari tetesan racun yang jatuh satu per satu pada persendian. Tingginya kadar asam urat yang ditemukan dalam darah penderita gout sendiri sebenarnya baru diketahui pada abad ke-18, berdasarkan penelitian Sir Alfred Garrod melalui isolasi asam urat dari batu ginjal. Hingga kini, gout sering disebut penyakit asam urat atau arthritis gout yang merupakan salah satu jenis penyakit rematik atau radang sendi.
Apakah itu Asam Urat?
Asam urat merupakan bagian normal dalam darah dan urin, tepatnya hasil pemecahan sel tubuh. Setelah sel tubuh mati, maka purin yang terdapat dalam inti sel akan mengalami metabolisme lanjutan, dengan hasil akhir asam urat dan akan dikeluarkan tubuh melalui ginjal.
Pada metabolisme normal, kadar asam urat selalu diatur dalam batasan normal. Asupan makanan yang terlalu banyak mengandung purin, kelainan metabolisme tubuh seperti pemecahan sel yang terlalu banyak (dengan prevalensi penderita 20-30%) atau adanya kelainan fungsi ginjal (dengan prevalensi 75%) dapat menyebabkan kadar asam urat meningkat.
Selain itu, penyakit asam urat juga dapat terjadi akibat obesitas dan komplikasi penyakit diabetes melitus, hipertensi dan arteriosclerosis (penyempitan pembuluh darah oleh kolesterol jahat), yang dapat merusak pembuluh darah dan syaraf pada organ tubuh, termasuk ginjal. Dengan rusaknya ginjal, maka sistem pengeluaran asam urat pun menjadi terganggu, sehingga kadarnya meningkat.
Pria Lebih Beresiko?
Berdasarkan sumber yang dapat dipercaya, sekitar 40% penduduk Indonesia berusia di atas 40 tahun mengalami keluhan nyeri sendi dan otot seperti pada gout arthritis. Angka ini meningkat dari tahun ke tahun, yang tidak saja didominasi oleh usia lanjut, tapi juga diderita kaum muda.
Penyakit gout paling banyak diderita oleh kelompok usia produktif antara 30-50 tahun, dan didominasi pria, mungkin termasuk Anda!
Bagaimana Gejalanya?
Pada stadium awal, penyakit gout ditandai oleh hiperurisemia asimptomatis. Pada stadium ini, kadar asam urat meningkat tanpa disertai arthritis (rasa nyeri), tofi (endapan keras seperti batu karang) dan batu ginjal.
Sedang pada stadium selanjutnya, penderita asam urat akan mulai merasakan radang sendi disertai dengan rasa nyeri yang hebat, bengkak, merah dan rasa panas pada sendi kaki. Serangan akan hilang sendiri dalam waktu ±10 hari atau ±3 hari (jika diberi obat).
Jika hal ini terus dibiarkan, maka dalam waktu kurang lebih 1-2 tahun, penderita akan merasakan interval serangan yang bertambah pendek. Lalu terbentuk tofi atau terjadi perubahan bentuk pada sendi yang tidak dapat kembali ke bentuk semula, dengan rasa sakit yang lebih hebat. Inilah yang disebut arthritis gout kronis.
Endapan kristal natrium urat yang berlebihan dan mengendap pada persendian, selain menimbulkan nyeri dan linu juga dapat menyebabkan tubuh sulit bergerak. Selain itu pengendapan ini dapat pula terjadi pada pembuluh darah jantung dan ginjal. Komplikasi terakhir inilah yang paling berbahaya, karena adanya endapan kristal natrium urat pada ginjal dapat menyebabkan terbentuknya batu asam urat yang sering disebut batu ginjal.
Bagaimana Pencegahannya?
Kendalikan gout/asam urat dari sumber penyakit itu berasal. Pola makan tidak sehat yang menjadi sumber penyakit degeneratif sebaiknya mulai dihindari. Berikut tips singkat yang dapat Anda jalankan:
1. Batasi konsumsi karbohidrat sederhana seperti gula pasir dan olahannya (permen atau kue yang terbuat dari gula pasir), yang dapat beresiko terhadap peningkatan kadar asam urat serum.
2. Hindari makanan tinggi lemak (kacang, gorengan, margarin, mentega dan makanan bersantan), yang dapat menghambat ekskresi asam urat melalui urin.
3. Hindari konsumsi makanan berlebihan yang beresiko terhadap obesitas dan sesuaikan dengan kebutuhan kalori tubuh. Ingatlah bahwa obesitas merupakan salah satu faktor resiko terjadinya asam urat!
4. Minum air putih minimal 2.5 liter (10 gelas) per hari untuk membantu mengeluarkan asam urat melalui urin.
Jadi untuk sumber makanan berprotein yang sangat disarankan bagi penderita asam urat, Anda dapat memilih susu, keju dan telur. Namun hati-hati dengan kadar lemaknya! Pilihlah yang rendah lemak.
Selain tips pola makan sehat di atas, berolahraga teratur akan membuat tubuh Anda selalu tampil bugar dan sehat. Berarti untuk mencegah penyakit asam urat dan komplikasinya, Anda cukup menjalankan pola hidup sehat, bukan?

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Rabu, 09 Maret 2011

macam - macam kemoterapi

Ada beberapa cara pemberian kemoterapi. Jika berfungsi membunuh sel kanker secara sistemik, obat diberikan melalui injeksi dan oral. Kemoterapi yang regional berfokus pada organ yang terkena kanker diberikan bersama dengan obat.

Terapi ini bisa berperan kuratif atau menyembuhkan. Kemoterapi dapat jadi pengendali kanker dengan mencegah penyebaran, memperlambat perkembangan, membunuh sel kanker yang menyebar, dan mengurangi ukuran tumor. Fungsi lain adalah paliatif atau mengurangi gejala kanker, terutama nyeri.

Beberapa jenis kemoterapi, antara lain, kemoterapi primer, kemoterapi adjuvan atau tambahan—diberikan setelah operasi atau radiasi untuk membunuh sel kanker, dan kemoterapi neoadjuvan yang diberikan sebelum operasi atau radiasi untuk mengecilkan ukuran tumor. ”Kemoterapi dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi dengan terapi lain, seperti pembedahan, radioterapi, dan terapi biologik,” kata Noorwati.

Terapi ini bisa mengendalikan kanker cukup lama, seperti penderita kanker ovarium, limfoma non-Hodgkin, kanker darah kronis yang merusak tulang (multiple myeloma), dan kanker endometrium.

Selain itu, kemoterapi bermanfaat untuk paliatif atau dapat mengurangi gejala pada kanker nasofaring, kanker prostat, kanker endometrium, kanker leher dan kepala, serta kanker paru stadium lanjut. ”Manfaat kemoterapi juga tergantung jenis kanker,” ujarnya.

Dengan kemoterapi, obat tak hanya membunuh sel kanker, tetapi sel normal yang membelah cepat seperti sel kanker, yaitu sel saluran cerna, sel kulit, sel rambut, dan sel sperma.

”Efek samping bersifat sementara,” kata Noorwati. Beberapa efek samping lain adalah rambut rontok, sariawan, fibrosis paru, mual-muntah, diare, nyeri otot toksik ke jantung, reaksi lokal, bahkan bisa gagal ginjal, dan menekan produksi darah.

Untuk itu, penderita dianjurkan makan dan minum sedikit tetapi sering; minum tiap muntah; serta hindari makanan berbau, berminyak, berlemak, pedas, terlalu manis, panas, dan beraroma sitrus. Penderita dianjurkan mengonsumsi makanan dingin dan kering, minum teh beraroma jahe, akupunktur, relaksasi otot, terapi musik, memakai pakaian longgar, dan tidak berbaring seusai makan.

Menimbang besarnya manfaat kemoterapi, efek samping yang muncul karena terapi ini diharapkan tidak mematahkan semangat para pasien untuk berjuang melawan kanker. Apalagi, sebagian besar efek samping bersifat sementara dan bisa diatasi dengan berbagai cara.
Kemoterapi Bisa Kurangi Sel Darah
Banyak orang masih berpikir kemoterapi yang kerap digunakan untuk pengobatan kanker merupakan tindakan yang sangat berbahaya. Sebenarnya untuk apa sih tindakan itu?

Dalam situs resmi Rumah Sakit Pusat Kanker Dharmais, Dr.dr.Noorwati S,SpPD.KHOM mengatakan, kemoterapi bertujuan untuk membunuh sel kanker atau menghentikan pertumbuhan sel kanker yang masih tertinggal.

Dengan pengobatan ini beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis kemoterapi atau beberapa jenis kemoterapi.

Manfaat lain, kata Noorwati untuk menghambat perkembangan kanker agar tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain. Dan manfaat terakhir, jika kemoterapi tidak dapat menghilangkan kanker, maka kemoterapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada pasien, seperti meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukuran sel kanker pada daerah yang diserang.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kemoterapi dapat diberikan dengan cara infus maupun suntikan langsung. Suntikan bisa dilakukan di otot, bawah kulit dan rongga tubuh. Cara yang lain adalah diminum karena bentuknya berupa tablet atau kapsul.

Perlu diketahui, ada beberapa efek samping kemoterapi, misalnya lemas, mual dan muntah, gangguan pencernaan, sariawan, rambut rontok, otot dan saraf, kulit menjadi kering dan bewarna merah, serta berefek pada darah.

Khusus pada darah ini, disebutkan Noorwati, beberapa jenis obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah. Akibatnya jumlah sel darah menurun.

Kasus yang kerap dijumpai adalah penurunan sel darah putih (leokosit). Penurunan ini terjadi pada setiap kemoterapi. Karena itu tes darah akan dilaksanakan sebelum kemoterapi berikutnya untuk memastikan jumlah sel darah telah kembali normal. Penurunan jumlah sel darah dapat mengakibatkan mudah penderita terkena infeksi, pendarahan dan anemia.

Yang jelas, katanya, setiap obat memiliki efek samping yang berbeda. Reaksi tiap orang pada tiap siklus juga berbeda. Setiap efek samping bersifat sementara dan berkurang bila terapi dihentikan.

Noorwati pun berpesan, pertimbangkan dan diskusikan dengan dokter Anda mengenai untung dan ruginya melakukan pengobatan kanker dengan cara kemoterapi

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Selasa, 08 Maret 2011

Efek Samping Kemoterapi


Sejumlah penderita kanker lain juga mengalami sejumlah efek samping kemoterapi, antara lain tangan dan kaki hitam, mengelupas, diare, dan mual-muntah.

Ancaman kematian

Ancaman kematian dan penurunan kualitas hidup membayangi jutaan penderita kanker. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, tahun 2005 sekitar 7,6 juta orang meninggal akibat kanker. Ini berarti 13 persen dari total jumlah kematian di dunia. Diperkirakan, 9 juta orang akan meninggal karena kanker pada tahun 2015.

Selama ini kematian akibat kanker lebih banyak dari jumlah kematian karena tuberkulosis, HIV, dan malaria. ”Lebih dari 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah atau menengah,” kata dr Noorwati Sutandyo dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Semua orang bisa terserang kanker, lebih-lebih usia di atas 40 tahun. Data 10 kanker terbanyak di RS Kanker Dharmais tahun 2007 adalah dari 1.348 jumlah kasus, 32,4 persen di antaranya kanker payudara, dan 18,8 persen kanker serviks.

Beberapa faktor penyebab kanker adalah genetik, diet, kegemukan, rokok, paparan bahan kimia, hormon, radiasi dan sinar ultraviolet, virus, serta sistem imunitas.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Senin, 07 Maret 2011

PENYAKIT KECACINGAN MASIH DIANGGAP SEPELE


Penyakit kecacingan atau biasa disebut cacingan masih dianggap sebagai hal sepele oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal jika dilihat dampak jangka panjangnya, kecacingan menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi penderita dan keluarganya.

Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, Prof. Tjandra Yoga Aditama, Sp. P (K), MARS, DTM & H saat menghadiri acara sosialisasi penyakit Kecacingan yang diselenggarakan oleh Johnson & Johnson, Kamis (8/7/2010) di Jakarta.

Prof. Tjandra mengatakan kerugian akibat kecacingan tidak terlihat secara langsung, karena itu penyakit ini sering dianggap sepele oleh masyarakat. Kecacingan dapat menyebabkan anemia (kurang darah), berat bayi lahir rendah, gangguan ibu bersalin, lemas, mengantuk, malas belajar, IQ menurun, prestasi dan produktivitas menurun.

Menurut Prof. Tjandra, jenis cacing yang banyak menyerang adalah cacing gelang (Ascaris Lumbricoides), cacing tambang (Ankylostoma Duodenale dan Necator Americanus), dan cacing cambuk (Trichuris Trichuria). Penyakit ini pada umumnya menyerang pada anak-anak karena daya tahan tubuhnya masih rendah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah iklim tropis, kesadaran akan kebersihan yang masih rendah, sanitasi yang buruk, kondisi sosial ekonomi yang rendah, serta kepadatan penduduk.

Dikatakan lebih lanjut, satu ekor cacing dapat menghisap darah, karbohidrat dan protein dari tubuh manusia. Cacing gelang menghisap 0,14 gram karbohidrat & 0,035 gram protein, cacing cambuk menghisap 0,005 mL darah, dan cacing tambang menghisap 0,2 mL darah. Sekilas memang angka ini terlihat kecil, tetapi jika sudah dikalkulasikan dengan jumlah penduduk, prevalensi, rata-rata jumlah cacing yang mencapai 6 ekor/orang, dan potensi kerugian akibat kehilangan karbohidrat, protein dan darah akan menjadi sangat besar.

Kerugian akibat cacing gelang bagi seluruh penduduk Indonesia dalam kehilangan karbohidrat diperkirakan senilai Rp 15,4 milyar/tahun serta kehilangan protein senilai Rp 162,1 milyar/tahun. Kerugian akibat cacing tambang dalam hal kehilangan darah senilai 3.878.490 liter/tahun, serta kerugian akibat cacing cambuk dalam hal kehilangan darah senilai 1.728.640 liter/tahun, ujar Prof. Tjandra.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Kementerian Kesehatan melakukan kebijakan operasional berupa kerjasama lintas program seperti kemitraan dengan pihak swasta dan organisasi profesi. Tujuannya untuk memutuskan rantai penularan, menurunkan prevalensi kecacingan menjadi <20% pada tahun 2015, serta meningkatkan derajat kesehatan dan produktivitas kerja.
Kegiatan yang dilakukan antara lain sosialisasi dan advokasi, pemeriksaan tinja minimal 500 anak SD per kabupaten/kota, intervensi melalui pengobatan dan promosi kesehatan, meningkatkan kemitraan, integrasi program, pencatatan dan pelaporan serta monitoring-evaluasi.
60% Penduduk Indonesia Cacingan, Kerugian Capai Rp 0,5 T
Cacingan jelas tidak boleh disepelekan. Sebab, selain menggerogoti gizi, cacingan menjadikan daya tahan tubuh merosot sehingga penderita mudah terserang beragam penyakit. Serangan cacingan berpengaruh terhadap asupan karbohidrat dan gizi penderita. Kerugian akibat cacingan mencapai sekitar Rp 0,5 triliun atau setara dengan 20 juta liter darah/tahun.

Sebagian besar penduduk Indonesia atau 60% dari sekitar 220 juta orang ternyata cacingan alias ‘beternak’ cacing di dalam usus. Dari angka prevalensi 60% itu, 21% di antaranya cacingan menyerang anak usia sekolah dasar dengan kandungan cacing enam ekor per orang.

Data tersebut, diperoleh melalui survei dan penelitian di beberapa provinsi pada 2006. �Namun, hasil penelitian sebelumnya (2002-2003), pada 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi antara 2,2% hingga 96,3%,� ujar Guru Besar Bidang Ilmu Parasitologi Klinik Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang Prof Dr dr Teguh Wahju Sardjono di Jakarta, kemarin.

Ironisnya, menurut Prf Teguh, penyakit yang masuk kategori parasit ini tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Padahal, kerugian akibat infeksi cacing tersebut cukup tinggi. apalagi kalau melihat kondisi masyarakat Indonesia yang lebih dari 30 juta jiwa berada dibawah garis kemiskinan.

Cacing sesungguhnya tidak memandang bulu untuk menginfeksi manusia. Dengan bermacam perantara, cacing dapat mudah masuk ke tubuh manusia yang kebanyakan melalui makanan yang tidak higienis dalam penyajiannya. Meski menginfeksi manusia, cacing tidak meninggalkan sifat aslinya yang senang dengan lingkungan yang kotor dan lembab.

Hal inilah yang menyebabkan infeksi cacing kerap ditemukan pada lingkungan masyarakat yang kumuh dan lembab. Namun demikian, mereka yang selalu menjaga kebersihan akan bebas cacing 100 %. Karena, manusia tidak dapat menghindari kontak dengan orang lain yang mungkin membawa telur cacing.

Pada kasus ringan, cacingan tidak menimbulkan gejala nyata, namun pada kasus-kasus infeksi berat bisa berakibat fatal. Ascaris pada cacing dapat bermigrasi ke organ lain yang menyebabkan peritonitis, akibat perforasi usus dan ileus obstruksi akibat bolus yang dapat berakhir dengan kematian.

Infeksi usus akibat cacingan, juga berakibat menurunnya status gizi penderita yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun, sehingga memudahkan terjadinya infeksi penyakit lain, termasuk HIV/AIDS, tuberculosis, dan malaria.

Pantat gatal, merupakan salah satu gejala untuk infeksi dari jenis cacing enterobius vermicularis. Pada spesies cacing ini, indung cacing keluar dari lubang anus biasanya di malam hari ketika kita tidur, dan meletakkan telurnya di daerah sekeliling anus (peri-anal). Dengan menggunakan selotip, contoh telur-telur dapat di ambil dan dapat dilihat dengan bantuan mikroskop untuk diagnosa.

Cacingan dapat dicegah dengan mencuci badan, terutama tangan dan kaki dengan air dan sabun dengan bersih. Apabila salah satu anggota keluarga terkena cacingan, maka semua orang di rumah harus dirawat. Seprai, handuk dan pakaian yang dipakai pada 2 hari sebelumnya harus dicuci dengan dengan air hangat dan detergen.

Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan

Sabtu, 05 Maret 2011

Olah raga itu banyak gunanya

Sebagian masyarakat Indonesia telat di manja oleh banyak fasilitas yang dapat di milikinya. Seperti kendaraan, banyaknya kendaraan pribadi membuat kita mudah dalam membolisasi setiap aktifitas kita.
Banyaknya kendaraan dan seringnya menggunakan kendaraan akan membuat kita melupakan sesuatau yang penting untuk kesehatan. Sebut saja berjalan kaki. Jalan kaki adalah aktifitas dasar manusia dalam bermobilisasi. Namun berjalan kaki pula tidak hanya untuk mobilisasinya saja, di dalam aspek kesehatan berjalan kaki banyak gunanya.
Salah satunya untuk melancarkan peredaran darah.
Jarangnya manusia saat ini berolah raga menimbulkan banyak masalah untuk kehidupan sang pemilik badan sendiri. Olahraga pada dasarnya berguna untuk memperlancar peredaran darah. Sabagaimana kita tahu darah membawa sari-sari makanan dan juga oksigen. Jika kita rutin berolah raga maka sirkulasi sari-sari makanan dan oksigen juga akan lancar sehingga organ tubuh tidak mengalami gangguan berarti.
Maka dari itu olah raga dianjurkan sebagai tindakan pencegahan penyakit.



Artikel lainnya di Analisis Dunia Kesehatan